Thursday, July 4, 2019

Mengenal Pendidikan Berbasis Fitrah - Ustadz Harry Santosa


Introduction of Fitrah based Education

Oleh : Ustadz Harry Santosa

Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi mani bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh dan seterusnya lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahiem dan menjadi sempurna. Kemudian ketika sempurna itulah ditiupkan ruh oleh Allah SWT. Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs).

Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian wa asyhadhum anfusihim, "alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna, bukankah Aku Robb kalian? benar ya Allah, kami bersaksi (QS 7:172)

Inilah peristiwa persaksian atau syahadah Rubbubiyatullah di alam rahiem atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah keimanan.  Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan inner guidance yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal-hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah.

Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih atau kosongan atau tabula rasa seperti pendapat John Locke, namun manusia telah di-install berbagai kebaikan bawaan (innate goodness) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci maksudnya bukan tanpa potensi, justru manusia lahir membawa berbagai potensi kebaikan.

Maka kita diminta utk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya.
tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS 30:30)

Konsep dan keyakinan bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah ini sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap pada diri kita, anak-anak kita, maupun masyarakat manusia secara keseluruhan.

Misalnya, pandangan bahwa anak lahir seperti kertas kosong, akan membuat kita berusaha menjejalkan berbagai hal kepada anak-anak kita. Begitupula pandangan bahwa anak lahir dengan membawa dosa atau keburukan, akan membuat kita pesimis dan serba cemas.

Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar rileks dan optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan berupa fitrah, jangan banyak intervensi, jangan banyak menjejalkan (too much teaching), jangan lebay namun jangan lalai.

Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (al-Hadits)

Perhatikan bahwa Nabi SAW tidak mengatakan orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Islam, karena sejak lahir anak-anak kita sudah Islam, sudah membawa kebaikan, tak perlu lebay dan lalai. Sementara untuk menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi perlu upaya dan program.

Ibarat membeli Gadget, sudah diinstal OS dan aplikasi-aplikasi yang baik, tinggal diaktivasi saja, tak perlu dan jangan banyak mengisi atau meng-install aplikasi yang aneh-aneh, nanti hang atau kena virus dan sebagainya.

Seorang Ulama mengatakan dalam bukunya:
Allahlah sesungguhnya Murobby (pendidik) sejati bagi anak anak kita, karena Allahlah alKholiq, Sang Pencipta, yang telah menciptakan manusia dengan membawa fitrah fitrahnya. Allah jualah yang telah menyediakan jalan agar fitrah itu tumbuh berkembang sesuai tahapannya. Dan Allah jualah yang menetapkan Syariah atau Kitabullah, untuk memandu fitrah itu agar tumbuh indah, sempurna dan berbahagia. Maka Wahai pendidik, wahai orangtua, jangan lebay dan jangan lalai, ikuti saja fitrah itu (just follow the fitrah), pandulah dengan Kitabullah maka ia akan menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Jadi mendidik fitrah itu bukan mengikuti maunya negara (ijasah, UN dll), atau mengikuti maunya orangtua (obsesi), namun mengikuti maunya Allah.

Fitrah itu ibarat benih, kita adalah petaninya, yang tidak boleh tergesa, rusuh, menggegas, semaunya dll tetapi mengikuti agenda dan kurikulum Allah, yaitu syukur dan shabar mengobservasi pola tumbuh kembangnya, pola keunikannya, membersamai dari hari ke hari, menerimanya apa adanya dengan penuh cinta dan telaten dan seterusnya, sehingga benih itu tumbuh menjadi pohon yang baik, yang akarnya menghunjam ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke langit, daunnya rimbun meneduhkan siapapun di bawahnya, bunga dan buahnya lebat sehingga menjadi berkah dan rahmat bagi semesta.

Banyak orangtua hari ini yang gagal paham tentang fitrah, mereka tidak mensyukuri fitrah sehingga banyak gelisah, galau obsesif, banding-bandingin anak dengan anak lain, tidak sabaran, tergesa ingin anak segera sholeh dengan menggegas sesuatu yang belum saatnya dan tak sesuai fitrahnya.

Bayangkan apabila benih baru meretas menjadi pohon yang kecil dengan beberapa helai daun, akar dan batangnya masih lemah dan rentah, lalu ingin segera berbuah, disiram dan dipupuk banyak-banyak, maka sudah pasti akarnya akan membusuk dan mati.

Begitupula para orangtua hari ini, banyak merusak fitrah anak anaknya karena obsesi ingin mencetak anak sholeh semaunya dengan target-target yang menggegas tanpa melihat pola keunikan fitrah anak termasuk fitrah perkembangannya walhasil kita jumpai berbagai penyimpangan fitrah seperti malas sholat, tak bergairah pada agamanya walau mampu hafal ilmu agama, tak bergairah pada ilmu tak punya aktifitas produktif atas bakatnya, melambai atau tomboy bahkan gejala LGBT, peragu atau egois, mager alias males gerak, suka membully atau mudah dibully dan seterusnya.

Maka sesungguhnya mendidik fitrah itu bukan banyak menjejalkan, drilling, membiasakan mekanistik, over stimulus, over conditioning dan lain-lain ( outside in ), tetapi lebih banyak membangkitkan, menumbuhkan, menyadarkan, mempesonakan, menggairahkan (inside out)

Pendidikan berbasis fitrah misinya adalah mengantarkan anak anak kita generasi peradaban (jailul hadhoriyah) dari fitrahnya kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) terbaiknya dengan semulia mulia adab.

Bagaimana Mendidik sesuai Fitrah
1. Lakukan Tazkiyatunnafs (mu'ahadah, muroqobah, muhasabah, muaqobah, mujahadah)
2. Bangun Keyakinan
3. Pahami Framework FBE
4. Pahami teknik merancang kegiatan sesuai fitrah
5. Pahami teknik Observasi Fitrah dan membuat jurnal kegiatan/portfolio anak
6. Mulai dari kegiatan yang sederhana sehari hari namun dirancang.
7. Temukan bahagia dan meminta banyak pertolongan kepada Allah ketika menjalankannya

Membangun Keyakinan
1. Yakinlah, bahwa setiap anak sudah membawa kebaikan berupa fitrahnya, sehingga tugas kita bukan banyak mengajarkan atau banyak intervensi yang melelahkan, namun lebih banyak membersamai

2. Yakinlah, jika mensyukuri fitrah, maka Allah akan permudah segalanya. Jika ingin shabar dalam mendidik, banyaklah mensyukuri fitrah ananda

3. Yakinlah Allah tidak pasif tetapi aktif, Dia tegak berdiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Mintalah kepada Allah agar senantiasa membantu kita menumbuhkan fitrah ananda

4. Yakinlah bahwa dalam diri Ayah Bunda juga ada fitrah, yang Allah juga instal agar menjadi ayah dan ibu yang baik. Maka sambutlah fitrah keayahbundaan kita.

5. Yakinlah bahwa dengan menumbuhkan fitrah anak-anak kita, maka fitrah kita juga akan tumbuh indah paripurna.

6. Yakinlah bahwa setiap anak sudah punya jalan fitrahnya masing masing, optimislah dan rilekslah, tak perlu lebay, lalai, panik apalagi galau. Allah akan sediakan jalannya, sepanjang kita senantiasa mengikuti fitrah anak-anak kita.

7. Yakinlah, tiada anak yang nakal dan jahat, karena fitrah itu kebaikan semata. Kenakalan sesungguhnya adalah jeritan hati krn ada fitrah yg terhambat atau potensi fitrah yang belum nampak buahnya.

8. Yakinlah bahwa jika ananda tumbuh fitrahnya dengan baik sehingga menjadi peran peradaban maka Allah akan curahkan rezekinya.

9. Yakinlah, ananda akan mudah menerima Kitabullah apabila fitrahnya tumbuh baik. Ibnu Taimiyah menyebut fitrah dalam diri manusia sebagai fitrah algharizah sementara beliau menyebut Kitabullah sebagai fitrah almunzalah. Artinya, fitrah dan kitabullah keduanya cahaya dari Allah sehingga compatible.

10. Yakinlah bahwa jika tahapannya benar, maka buahnya dan adabnya juga benar

deraskan maknamu
bukan tinggikan suara
karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
bukan petir dan guruhnya

Semoga bermanfaat.
Jazakumullah atas perhatiannya, mohon maaf jika ada tulisan yang tak berkenan.

Sumber : Ringkasan Kulgram Milenial Parenting (dengan beberapa penyesuaian)

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.