Monday, July 15, 2019

Tugas Langit = Amal Shalih Yang Allah Ridhai


By. Ust. Harry Santosa

Kita hadir di dunia bukanlah kebetulan, namun ada Tugas Langit yang harus kita temukan dan tuntaskan selama di dunia. Sesungguhnya bukan hanya manusia biasa, para Nabi alaihumusalaam pun termasuk Nabi Muhammad SAW mendapatkan Tugas Langitnya masing masing yaitu Misi Kenabian.

Bagaimana jika kita gagal menemukan dan menyelesaikan Tugas Langit kita? Itu menurut arRumi, ibarat seorang Raja menyuruh kita ke sebuah negeri dengan membawa Tugas, lalu di negeri itu kita melakukan seratus pekerjaan namun melupakan Tugas dari Raja, maka dipastikan ketika kembali kepada Raja itu, kemungkinan besar kita akan terkena murka.

Begitupula Allah SWT, menghadirkan kita ke dunia bukan kebetulan, tetapi dengan membawa tugas langit untuk ditemukan dan dituntaskan selama hidup di dunia. Bisa jadi amal shalih kita banyak, namun itu bukan amal shalih yang Allah tugaskan sehingga Allah menjadi tidak ridha.

Pandangan ini berlaku untuk diri kita dalam menjalani kehidupan, juga dalam mendidik anak-anak kita agar mengantarkan diri mereka untuk menjemput tugas langitnya atau misi hidupnya atau dalam fitrah based education disebut dengan menjemput takdir peran peradabannya sesuai fitrahnya.

Karenanya kita semua, meminta minimal 17 kali dalam sehari, jalan yang lurus (shirothol mustaqiem), para mufasir mengatakan sebagai jalan yang cepat dan lapang untuk menuju Allah SWT. Maka mari temukan tugas langit ini, dan jangan pernah kembali ke Allah tanpa menunaikan Tugas Langit ini.

Amal Shalih yang Berlainan

Ada dalam alQuran, QS alFathir ayat 47, digambarkan bahwa ada penghuni neraka berteriak meminta kembali ke dunia untuk melakukan "Amal Shalih yang berlainan" dengan yang pernah dilakukan selama di dunia.

Ini tersirat bahwa selama di dunia mereka beramal shalih namun bukan amal shalih yang Allah maksudkan atau yang berlainan dari tugas yang ditentukan baginya.

Lalu Allah mengatakan, bukankah telah diberikan waktu yang cukup selama di dunia. Para mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "waktu yang cukup" adalah usia 40 tahun.

Batas Akhir, Usia 40 tahun

Mengapa 40 tahun? Karena Rasulullah SAW mengatakan bahwa usia ummatku berkisar antara 60 dan 70 tahun. Dengan demikian pada usia 40 tahun hidup kita tinggal sepertiga lagi sisanya. Melewati usia 40 tahun, kegalauan seolah mereda tetapi sebenarnya tidak, mereka  menjalani kehidupan hanya rutinitas menunggu kematian, di bawah permukaan sesungguhnya semakin tak bahagia dan tak menentu orientasinya. Sepertiga akhir kehidupan Mukmin seharusnya adalah pacuan amal eksponensial menuju syurganya dengan tugas langitnya itu.

Itulah mengapa kegalauan terjadi pada rentang usia sebelum 40 tahun, sebagai cara Allah berbicara kepada kita, untuk segera memaknai kehidupan dan menemukan amal shalih yang Allah ridhai atau Misi Hidup, dan puncak kegalauannya terjadi pada jelang usia 40 tahun.

Amal Shalih yang Allah Ridhai

Karenanya rentang menemukan Tugas Langit atau Misi Hidup dimulai pada usia 15, lalu usia 40 tahun sebagai batas akhirnya.

AlQuran berbicara tentang usia 40 tahun di QS alAhqaf 46 ayat 15, Allah SWT berwasiat kepada kita untuk berbuat baik pada kedua orangtua, lalu menyuruh kita berdoa meminta dibimbing, dikuatkan, dimotivasi, didorong dan seterusnya untuk melakukan 3 hal, mensyukuri nikmat pada diri dan orangtua, meminta amal shalih yang Allah ridhai, dan memperbaiki diri untuk keturunan kita.

Sampai disini kita bisa memahami bahwa Amal Shalih yang Allah ridhai sesungguhnya adalah tugas langit kita atau misi hidup kita.

Lalu Apa Ukurannya bahwa kita telah menemukan Tugas Langit kita sebagai Amal Shalih yang Allah Ridhai?

Ukurannya adalah kepuasan jiwa atau jiwa yang mencapai ketenangan (Ithminan) karena menjadikan orientasi seluruh amalnya untuk langit, untuk menyeru kebenaran, untuk menolong agama Allah, untuk memberi manfaat sebesar besar bagi ummat dengan semua kompetensi dan aset (jiwa dan harta) yang kita miliki, bukan cuma untuk mencari uang dan mengejar kesenangan sesaat.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴿٢٧﴾ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴿٢٨﴾فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! [QS Al-Fajr 89:27-30]

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Sumber : Kulgram Milenial Parenting

Thursday, July 4, 2019

Mengenal Pendidikan Berbasis Fitrah - Ustadz Harry Santosa


Introduction of Fitrah based Education

Oleh : Ustadz Harry Santosa

Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi mani bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh dan seterusnya lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahiem dan menjadi sempurna. Kemudian ketika sempurna itulah ditiupkan ruh oleh Allah SWT. Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs).

Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian wa asyhadhum anfusihim, "alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna, bukankah Aku Robb kalian? benar ya Allah, kami bersaksi (QS 7:172)

Inilah peristiwa persaksian atau syahadah Rubbubiyatullah di alam rahiem atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah keimanan.  Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan inner guidance yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal-hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah.

Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih atau kosongan atau tabula rasa seperti pendapat John Locke, namun manusia telah di-install berbagai kebaikan bawaan (innate goodness) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci maksudnya bukan tanpa potensi, justru manusia lahir membawa berbagai potensi kebaikan.

Maka kita diminta utk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya.
tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS 30:30)

Konsep dan keyakinan bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah ini sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap pada diri kita, anak-anak kita, maupun masyarakat manusia secara keseluruhan.

Misalnya, pandangan bahwa anak lahir seperti kertas kosong, akan membuat kita berusaha menjejalkan berbagai hal kepada anak-anak kita. Begitupula pandangan bahwa anak lahir dengan membawa dosa atau keburukan, akan membuat kita pesimis dan serba cemas.

Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar rileks dan optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan berupa fitrah, jangan banyak intervensi, jangan banyak menjejalkan (too much teaching), jangan lebay namun jangan lalai.

Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (al-Hadits)

Perhatikan bahwa Nabi SAW tidak mengatakan orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Islam, karena sejak lahir anak-anak kita sudah Islam, sudah membawa kebaikan, tak perlu lebay dan lalai. Sementara untuk menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi perlu upaya dan program.

Ibarat membeli Gadget, sudah diinstal OS dan aplikasi-aplikasi yang baik, tinggal diaktivasi saja, tak perlu dan jangan banyak mengisi atau meng-install aplikasi yang aneh-aneh, nanti hang atau kena virus dan sebagainya.

Seorang Ulama mengatakan dalam bukunya:
Allahlah sesungguhnya Murobby (pendidik) sejati bagi anak anak kita, karena Allahlah alKholiq, Sang Pencipta, yang telah menciptakan manusia dengan membawa fitrah fitrahnya. Allah jualah yang telah menyediakan jalan agar fitrah itu tumbuh berkembang sesuai tahapannya. Dan Allah jualah yang menetapkan Syariah atau Kitabullah, untuk memandu fitrah itu agar tumbuh indah, sempurna dan berbahagia. Maka Wahai pendidik, wahai orangtua, jangan lebay dan jangan lalai, ikuti saja fitrah itu (just follow the fitrah), pandulah dengan Kitabullah maka ia akan menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Jadi mendidik fitrah itu bukan mengikuti maunya negara (ijasah, UN dll), atau mengikuti maunya orangtua (obsesi), namun mengikuti maunya Allah.

Fitrah itu ibarat benih, kita adalah petaninya, yang tidak boleh tergesa, rusuh, menggegas, semaunya dll tetapi mengikuti agenda dan kurikulum Allah, yaitu syukur dan shabar mengobservasi pola tumbuh kembangnya, pola keunikannya, membersamai dari hari ke hari, menerimanya apa adanya dengan penuh cinta dan telaten dan seterusnya, sehingga benih itu tumbuh menjadi pohon yang baik, yang akarnya menghunjam ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke langit, daunnya rimbun meneduhkan siapapun di bawahnya, bunga dan buahnya lebat sehingga menjadi berkah dan rahmat bagi semesta.

Banyak orangtua hari ini yang gagal paham tentang fitrah, mereka tidak mensyukuri fitrah sehingga banyak gelisah, galau obsesif, banding-bandingin anak dengan anak lain, tidak sabaran, tergesa ingin anak segera sholeh dengan menggegas sesuatu yang belum saatnya dan tak sesuai fitrahnya.

Bayangkan apabila benih baru meretas menjadi pohon yang kecil dengan beberapa helai daun, akar dan batangnya masih lemah dan rentah, lalu ingin segera berbuah, disiram dan dipupuk banyak-banyak, maka sudah pasti akarnya akan membusuk dan mati.

Begitupula para orangtua hari ini, banyak merusak fitrah anak anaknya karena obsesi ingin mencetak anak sholeh semaunya dengan target-target yang menggegas tanpa melihat pola keunikan fitrah anak termasuk fitrah perkembangannya walhasil kita jumpai berbagai penyimpangan fitrah seperti malas sholat, tak bergairah pada agamanya walau mampu hafal ilmu agama, tak bergairah pada ilmu tak punya aktifitas produktif atas bakatnya, melambai atau tomboy bahkan gejala LGBT, peragu atau egois, mager alias males gerak, suka membully atau mudah dibully dan seterusnya.

Maka sesungguhnya mendidik fitrah itu bukan banyak menjejalkan, drilling, membiasakan mekanistik, over stimulus, over conditioning dan lain-lain ( outside in ), tetapi lebih banyak membangkitkan, menumbuhkan, menyadarkan, mempesonakan, menggairahkan (inside out)

Pendidikan berbasis fitrah misinya adalah mengantarkan anak anak kita generasi peradaban (jailul hadhoriyah) dari fitrahnya kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) terbaiknya dengan semulia mulia adab.

Bagaimana Mendidik sesuai Fitrah
1. Lakukan Tazkiyatunnafs (mu'ahadah, muroqobah, muhasabah, muaqobah, mujahadah)
2. Bangun Keyakinan
3. Pahami Framework FBE
4. Pahami teknik merancang kegiatan sesuai fitrah
5. Pahami teknik Observasi Fitrah dan membuat jurnal kegiatan/portfolio anak
6. Mulai dari kegiatan yang sederhana sehari hari namun dirancang.
7. Temukan bahagia dan meminta banyak pertolongan kepada Allah ketika menjalankannya

Membangun Keyakinan
1. Yakinlah, bahwa setiap anak sudah membawa kebaikan berupa fitrahnya, sehingga tugas kita bukan banyak mengajarkan atau banyak intervensi yang melelahkan, namun lebih banyak membersamai

2. Yakinlah, jika mensyukuri fitrah, maka Allah akan permudah segalanya. Jika ingin shabar dalam mendidik, banyaklah mensyukuri fitrah ananda

3. Yakinlah Allah tidak pasif tetapi aktif, Dia tegak berdiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Mintalah kepada Allah agar senantiasa membantu kita menumbuhkan fitrah ananda

4. Yakinlah bahwa dalam diri Ayah Bunda juga ada fitrah, yang Allah juga instal agar menjadi ayah dan ibu yang baik. Maka sambutlah fitrah keayahbundaan kita.

5. Yakinlah bahwa dengan menumbuhkan fitrah anak-anak kita, maka fitrah kita juga akan tumbuh indah paripurna.

6. Yakinlah bahwa setiap anak sudah punya jalan fitrahnya masing masing, optimislah dan rilekslah, tak perlu lebay, lalai, panik apalagi galau. Allah akan sediakan jalannya, sepanjang kita senantiasa mengikuti fitrah anak-anak kita.

7. Yakinlah, tiada anak yang nakal dan jahat, karena fitrah itu kebaikan semata. Kenakalan sesungguhnya adalah jeritan hati krn ada fitrah yg terhambat atau potensi fitrah yang belum nampak buahnya.

8. Yakinlah bahwa jika ananda tumbuh fitrahnya dengan baik sehingga menjadi peran peradaban maka Allah akan curahkan rezekinya.

9. Yakinlah, ananda akan mudah menerima Kitabullah apabila fitrahnya tumbuh baik. Ibnu Taimiyah menyebut fitrah dalam diri manusia sebagai fitrah algharizah sementara beliau menyebut Kitabullah sebagai fitrah almunzalah. Artinya, fitrah dan kitabullah keduanya cahaya dari Allah sehingga compatible.

10. Yakinlah bahwa jika tahapannya benar, maka buahnya dan adabnya juga benar

deraskan maknamu
bukan tinggikan suara
karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
bukan petir dan guruhnya

Semoga bermanfaat.
Jazakumullah atas perhatiannya, mohon maaf jika ada tulisan yang tak berkenan.

Sumber : Ringkasan Kulgram Milenial Parenting (dengan beberapa penyesuaian)

Wednesday, July 3, 2019

CV Ustadz Harry Santosa


Identitas Diri:
Nama : Harry Santosa, S.Si.
TTL : Jakarta, 18 January 1969 M / 10 Syawal 1388H
Status : Ayah dari 5 anak, suami dari 1 istri
Suku : Sunda Ciamis

Bidang:
Integrator pemikiran pendidikan
Knowledge Management expert consultant
Program Management expert consultant
Penulis Buku Fitrah based Education dan Fitrah based Life

Aktifitas terkait pendidikan:
Founder dan research Fitrah based Family Life Coaching - 2018 - sekarang
Pembicara dan fasilitator Workshop FBE 2014 - sekarang
Co founder dan SME HEbAT Community 2014
Perintis Perkuliahan FBE 2012 - sekarang
Dewan Penasehat Save Street Child 2014
Konsultan Pertamina Soccer School 2011
Pendiri Millennial Learning Center 2009
Trainer Knowledge Management for Edu 2009 - 2010
Pendiri Sekolah Alam Depok 2004
Pendiri Aulade Kids Center 2001
Komunitas Sekolah Alam Ciganjur 2000
Ketua Bintal TPKK 1999 - 2004
Dosen tamu dan tak tetap di berbagai PT 1990 - 2014
Ketua bidang Pendidikan Yayasan Bina Anak Indonesi 2005
Ketua Senat Mahasiswa FMIPA UI Bidang Riset dan Pendidikan 1991
Pengajar Matematika Bimbel Nurul Fikir 1988 - 1998

Monday, July 1, 2019

Paket Combo


Sebagai orang tua di dunia yang serba tergesa-gesa dan instant, orang tua cenderung menyukai paket 'combo'.
Semua sekaligus. Ajak satu, ajak semua. Sekalian beres. Keluar sekeluarga, pilih tempat makan bareng, belanja sebentar. Sudah.

Combo

Padahal kita tahu, setiap anak adalah pertemuan unik antara satu sel telur yang mempunyai gen tertentu dan sperma yang khas. Oleh sebab itu, terciptalah seorang anak, yang walau kembar sekalipun, distinktif. Berbeda. Mempunyai keunikan masing-masing. Hal tersebut, bukan melulu perlu dihapuskan dengan membandingkannya dengan saudaranya yang lain; tuh lihat! Kakak aja, waktu seusiamu, sudah bisa puasa sampai sore. Adik sudah tidak nangis lagi, dsb.

Tapi justru, keunikan dan keisitimewaan tersebut perlu sesekali di 'highlight', dihargai. Caranya?

Waduh, gak akan mudah ya. Terutama buat ibu yang beranak 3 atau lebih. Full time mom, yang sedang mengais-ngais waktu untuk bisa 'me-time' barang 30 menit aja.

Tapi kan gak ada yang gak mungkin?
Bisa kalau kita mau. Iya kan?

Cara simple, ajaklah masing-masing anak dating sendiri-sendiri dengan masing-masing orang tua.

Wah..Kapan waktunya? Berapa biayanya?

Percayalah, ada waktunya, dan gak besar biayanya. Coba dulu, kalau sudah coba, kan baru tahu?

Terkadang, ketika sudah pergi berdua saja sama anak itu, baru kita tahu, ternyata kita juga sangaat teramat menikmatinya! Bahkan bisa menjadi me-time yang sangat berkualitas. Karena kita gak harus melayani semua anak. Hanya kita dan dia. Daann, ternyata, bahagia itu sederhana. Sesederhana makan es krim cone yang ada di salah satu fastfood ternama di mall terdekat.

Ada juga 'discovery' bahwa ada anak yang suka makannya nyicil-nyicil, takut makanan yang enak habis, walau sudah kita persilahkan pesan lagi. Ada juga anak yang ternyata suka mencampur antara makan ikan dan sesuap oreo es krim kesukaannya. Salah? gak kan? Kita aja yang gregetan lihatnya.

Itulah tujuannya mengajak masing masing anak dating berdua saja. Pastikan Ada waktu berdua sama ibunya aja, dan ayahnya saja. Tentunya semuanya gak mesti di satu weekend, tapi bisa dibagi-bagi...

Then what?

Enjoy the uniqueness of each and every child

-Wina Risman-