Sunday, June 16, 2019

Senyum dan Syurga


Puasa hari ke 9. Adaptasi pasti sudah ada, tapi tetep aja susah. Apalagi buat anak usia 7 dan sekitarnya yang baru pertama kali tahun ini berpuasa penuh hingga azan maghrib berkumandang.

Rengekkan pasti ada walau sudah jauh berkurang. Pada setiap rengekkan tersebutlah menjadi golden momen buat saya untuk menjelaskan makna sebenarnya tentang puasa. Setelah meminjamkan telinga untuk mendengarkan 'kisah lapar dan efeknya' di hari ke 9 ini, sayapun mengalihkan dengan bertanya; bagaimana.. jika tidak ada waktu berbuka?. Anak terdiam. Bagaimana jika, waktu berbuka tiba, tidak ada satupun yang bisa dimakan untuk mengisi kekosongan perut yang sudah kelaparan parah?. Anakku mulai mengkhayal, 'hmm.. bagaimana ya?'. Lalu keluarlah beragam ide unik, lucu dan nyeleneh. Lalu saya melanjutkan dengan : itulah nak, salah satu tujuan utama berpuasa, adalah agar;

1. Kita bisa merasa apa yang dirasa si miskin tiap harinya. Buat mereka, Ramadhan hanya seperti bulan bulan lainnya dalam setahun. Tidak ada jaminan makanan ada, tidak pernah merasa kenyang.

2. Bersyukur. Makanan kita alhamdulillah banyak sekali, walau tidak berlebih. Tapi kita sering lupa untuk mensyukuri, bahkam terkadang tidak habis dan membuangnya tanpa rasa sedih. Ingat makanan yang sering tidak habis dipiringmu? Betapa nikmatnya itu sekarang, ketika lapar mendera. Apa saja bolehlah, asal bisa mengurangi perut yang sudah keroncongan sedari tadi. Ya kan?

Lalu masuklah saya (yang juga sedang keroncongan berat) kepada cerita ttg syukur. Mengajak sang ananda menghitung rezeki yang telah Allah limpahkan kepada kami setiap hari. Kebanyakannya adalah hal kecil, yang sering lupa disyukuri, hingga didatangkan sakit pada hal itu, baru teringat nikmatnya lagi. Dimulai dari membuka mata di pagi hari.. masih dikasih hidup sehari lagi. Wajib bagi saya membaca doa bangun tidur, bersyukur padaNYA atas rezeki bangun pagi ini. Mata yang mengedip automatically, oksigen yang gratis, paru paru yang tidak sakit ketika harus menghirup udara pagi, dan masih ribuan hal lagi. Saya kemudian bertanya pada anak, "ayo.. apalagi rezeki Allah pada kita setiap hari?".

Lalu, saya ajak mereka berfikir, bagaimana jika kita seperti si miskin, dimana puasanya tidak berakhir di azan maghrib?

Bagaimana jika setiap lapar, tapi tidak ada makanan?

Apa yang bisa kita lakukan ketika berada di situasi seperti itu?

Karena percayalah nak, ratusan juta manusia masih mengalaminya, bukan hanya krisis pangan, krisis air bersih, krisis kasih sayang.

Cukup sudah saya menggali sisi emosi dan fikiran mereka, kini.. saya ajak mereka membayangkan pintu Ar-Rayyan.
Pintu syurga bagi yang berpuasa. Bagaimana agaknya? Setinggi apa? Apa warnanya?

Senyumpun mulai tersungging di bibir bibir kering mereka, membayangkan bayaran Allah pada hambanya yang berpuasa.

"Coba bayangin, nanti di depan pintu itu, kira-kira, sebesar apa ya?. Terus, ada malaikat yang jaga. Pas kita mau masuk, malaikat menyetop kita dan bertanya: tunggu! Siapa namamu? Aku harus cari dulu dalam daftar ini. Apakah kamu termasuk penghuni syurga yang ini?. Lalu, kamu mengucapkan namamu dengan rasa was -was dan takut 'Abdul Malik Faisal'. Malaikatpun dengan cepat mengecek daftar nama yang ada. Lalu sebentar menatap mukamu nak. Engkau tegang luar biasa. Lalu, malaikat bilang : silahkan Abdul Malik Faisal. Kamu boleh masuk syurga ini, karena kamu dulu berpuasa!"

Sekarang, senyum itu benar-benar terkembang luas. Ia sangat menikmati ceritanya.

Tapi, apakah ini cuma cerita?
Bukan, ini janji Allah. Insha Allah kita bisa kesana! Amin ya rabbal alamin.

Demikianlah saya mengusir rasa lapar diri sendiri, dan terutama anak saya. Semoga Allah berkenan dan meridhoi usaha saya melatih titipan-titipanNYA, agar kuat beribadah dan menuntut ilmunya.

Sungguh nak, syurga itu tidak mudah.
Tapi Allah mempersilahkan kita menggapainya. Bahkan yang tertinggi sekalipun. Sabarlah buah hatiku, Insha Allah kita masuk syurga bersama ya nak. Memang bagi seorang muslim, dunia ini ibarat penjara bagi kita. Banyak sekali larangan, banyak kesusahan. Tapi ini tidak abadi, bersabarlah, karena kebahagiaan yang abadi, Insha Allah menanti.

Wallahu a'lam bis shawab.

Wina Risman.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.