Tuesday, June 18, 2019

Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam yang Dicintai Allah (Bagian 2)


Oleh : Iin Savitry, Bunda Bidadari

(Lanjutan)

Hanya 1 kiatnya:
Latih anak melakukan #SEMUA TUGAS KERUMAHTANGGAAN#  di rumah

Prinsip dasarnya, anak tak boleh bermain dan belajar di luar rumah JIKA tugas rumah tangganya belum selesai.

Saya menegaskan prinsip dasar mengasuh anak di rumah kami:

a. Sekolah ga wajib, yang wajib adalah belajar . Belajar paling utama ada di lingkup rumah. Dalam bentuk pekerjaan rumah. Pahami fakta bahwa 75 % keterampilan hidup dan karakter utama anak dilatih dari rumah. Sekolah dan pendidikan luar rumah hanya berkontribusi 25% atas pembentukan karakter pemimpin seorang manusia.

b. Inner circle, outer circle . Lingkaran kecil di rumah harus selesai, baru silakan buat lingkaran besar di luar rumah. Analoginya seperti kambium. Usia pohon ditentukan dari jumlah lingkarannya.
Kenapa pohon jadi contoh? Karena dalam Alquran pun seorang mukmin diibaratkan sebagai pohon. Jadi, anak harus belajar langsung dari proses  tumbuhnya sebuah pohon.

c. First things First.  Skala prioritas dalam beraktivitas. Apa yang harus ia lakukan agar bisa bermain/belajar ke luar rumah.
Unsur wajib, sunnah, mubah, makruh, haram...terus dilatih untuk disematkan di setiap kegiatan. Hal ini membantu anak untuk mengambil keputusan apa yang harus didahulukan jika ada banyak pilihan kegiatan

Semua latihan harus sesuai dengan tahapan usia, dan terus bertambah seiring usia. Jadi, makin sibuk anak dengan kegiatan belajar di luar rumahnya, ia akan makin dilatih untuk makin sigap dan cekatan menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.

Ini salah satu contoh tahapannya:

 • ~ Dimulai sejak usia 2,5 tahun-5 tahun, biasakan anak LELAKI MEMILIH satu dari dua opsi yang kita sodorkan.
Misal pakaian, arahkan dia memilih satu dari dua baju/sepatu/celana/kaus kaki/tas yang ingin ia pakai.
Makanan, ajak ia menentukan mau makan apa hari ini. Misal untuk lauk, ikan atau ayam. Sayur bayam atau sayur sop.
Main/belajar, ajak dia mau main apa. Tiap main kita setting  2-3 kegiatan yang berbeda secara bersamaan. Pastikan aktivitas membacakan buku dan  berkisah masuk di setiap permainan.
Misal membaca buku sambil main boneka/lego dan bernyanyi. Main masak-masakan sambil membacakan buku dan bernyanyi.Olahraga sembari berpuisi dan berdendang.
Mencabut rumput sembari berhitung dan membuat kolase/menggambar di tanah.

~• Usia 5-7 tahun , ajak anak LELAKI mulai merencanakan kegiatan esok hari, dan menu untuk 3 hari kedepan.
Latih anak untuk menyuguhkan makanan dan minuman untuk ayahbunda dan adik.
Beri tugas2 kerumahtanggaan sederhana. Membersihkan kamar sendiri, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Belanja bahan makanan DAN menyortirnya untuk disimpan di kulkas/dapur.
Kita TEMANI dia ketika melakukannya.
Puji walau pekerjaannya (pasti) tak sempurna.
JANGAN kita sempurnakan pekerjaannya di depan matanya. Itu akan membuat dirinya down dan merasa percuma mengerjakannya. Hingga akhirnya membuatnya malas-malasan ketika diminta melakukannya lagi. Karena hasil kerjanya tidak dihargai.

Khusus Silmi, putra kami, karena ia ingin sekolah TK, di usia 3,5 tahun,  saya beri opsi: boleh sekolah TK asal dia mau menyiapkan bekal makanannya sendiri dan mengurus pakaian sekolahnya sendiri. Kamar harus rapi. Jika tidak, berarti dia BELUM SIAP belajar di luar rumah.

Jadi, sejak usia 4 tahun, Silmi sudah biasa membuat puding sendiri untuk snack, saya ajak menyiapkan seragam selama sepekan. Menyusunnya secara berurutan di lemari agar mudah ia ambil. Saya bantu membuat checklist pekerjaan harian dan pekanannya.

Itu sebabnya ketika kelas 1 SD (usia 6,5 tahun)  dan ia mulai rutin kemping, ia sudah mandiri menyiapkannya sendiri. Saya bantu dua kali cara packing yang efektif dan efisien, selanjutnya ia lakukan sendiri. Saya tinggal memberi evaluasi tepat atau tidak tepatnya.

~ • Usia 7-10 tahun , anak lelaki wajib diberi tugas menjaga kebersihan rumah SEBELUM ia keluar rumah.
Ia yang bertugas mencatat apa yang kurang di rumah, membeli kekurangannya.
Sebelum magrib ia yang bertugas menutup semua pintu dan jendela rumah, menutup wadah air/sayuran berkuah di dapur. Memastikan rumah sudah bersih sebelum maghrib.
Memasukkan hewan peliharaan ke kandang.  Menyalakan lampu.
Sebelum tidur memastikan rumah terkunci. Ini semua bagian dari menghidupkan sunnah nabi. Ada haditsnya, silakan dicari sendiri.

Untuk urusan sandang, anak lelaki usia 10 tahun ke atas harus sudah selesai terbiasa mengurus kebutuhan diri sendiri ( menjaga kebersihan tubuh, pakaian, barang-barangnya, keperluan sekolah dll), dilatih mengurus/membersihkan  pakaian keluarga, khususnya pakaian dalam sendiri dan orangtua.

Ini penting, karena memang sejak usia 9 tahun anak-anak wajib dilatih mengurus kebutuhan internal dirinya, walau memiliki pembantu di rumah.

Di rumah kami, anak-anak saya wajibkan mencuci pakaian dalamnya sendiri sejak usia 9 tahun. Sejak usia 10 tahun saya mulai latih Silmi (anak lelaki kami) untuk mencucikan pakaian dalam kami, menjemurnya, mengangkatnya, melipatnya dan meletakkannya ke lemari kami masing-masing.

Dalam urusan  pangan, anak lelaki dilatih melayani ayah bunda dan adik-adiknya ketika makan. Ia dilatih menyediakan alat makan, menyuguhkan makanan dan kalau perlu belajar menyuapi ortu dan adik, sebelum ia sendiri makan.

Bisa kita tantang untuk saling menyuapi bersama kita.

Kalau saya, saya demonstrasi suami menyuapi saya di depan anak-anak. Lalu suami balas menyuapi saya.
Dan sejak anak usia 7 tahun, suami yang rutin menyediakan makanan bagi kami. Walau saya yang sering menentukan mau makan apa/menu dan mengajarkan cara memasaknya.Jadi anak MENYAKSIKAN proses belajar kedua orangtuanya secara langsung.

~• Anak lelaki usia 12 tahun harus  sudah bisa diberi tugas menyusun menu untuk keluarga, berbelanja dan mencatat kekurangan sembako yang ada di rumah, mengusahakannya ada.

Satu peraturan khusus di rumah, mereka TIDAK BOLEH BERKEGIATAN DI LUAR RUMAH jika target interaksi Alquran dan pekerjaan rumahnya  belum selesai. Karena
berlaku prinsip skala prioritas dalam beramal, inner circle outer circle.
Aturan ini berlaku tegas sejak anak berusia 10 tahun, setelah dilatih secara intensif sejak mereka berusia 4 tahun.

Jika anak kita sangat enjoy dengan aktivitas luar ruangnya, ia akan berusaha keras menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya agar bisa 'bebas' bermain di luar rumah.

Berbagai fakta membuktikan, anak-anak lelaki yang terbiasa dilatih bertanggung jawab terhadap pekerjaan di rumahnya, akan tumbuh menjadi lelaki yang tangguh, berani bertanggung jawab, mudah mengambil keputusan bahkan di saat sulit, DAN PEDULI dengan sesama.

Anak-anak lelaki yang terlatih otot jiwa, fisik dan akalnya di rumah, akan tumbuh menjadi lelaki yang PEDULI dengan kesejahteraan orangtua, wanita dan anak-anak.

Mereka akan MENSYUKURI dan MENGHARGAI jerih payah para orangtua dan wanita yang ada di sekelilingnya, karena keberadaan orangtua dan wanita itu adalah HADIAH Allah baginya. Mempermudah tugasnya sebagai pemimpin umat di luar rumah.

Mereka akan bertumbuh menjadi lelaki yang memiliki HARGA DIRI, pekerja keras dan cerdas untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya dengan optimal.

Mereka akan BANGGA bisa membahagiakan dan memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya, bukannya malah merasa terbebani apalagi masa bodoh.

Pada akhirnya, jika anak lelaki kita terlatih untuk melayani di rumah, kita sendiri yang akan merasa lega. Ikatan cinta dan saling menghargai di antara ayahbunda-anak akan makin kuat.

Maka, fase DEKAT dan LEKAT antar ortu-anak akan mudah kita bangun dengan mengantarkan mereka menjadi qowwam belia di surga mungil kita.

Allahu a'lam bishshawab.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.