Thursday, June 20, 2019

Hikmah di Balik Pendidikan Orang Tua kepada Anak


Seorang anak tidak suka tinggal di rumah, karena Ayah dan Ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila Ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini. . .

"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."

“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton.

“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja. . .

“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tidak akan ada lagi omelan Ibu dan Ayah," begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, Ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri. . .” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara.

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, grendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel. Dia geser grendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tidak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area Resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan Ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang". Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tidak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"

Dia terkejut dan berpikir, "Apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?" Dia bingung.

"Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang Boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini."
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat  grendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "Selamat Datang" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu.

Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”

Hatinya terharu, dia ingat Ayahnya. Dia yang selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan Ibu dan Ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yang ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahan pada Ayahnya seketika sirna.

"Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang Manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini."

Ayah, ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kepada Ayahnya, dia akan ajak Ayahnya melihat tempat kerjanya. Dia pulang ke rumah dengan bahagia.

Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!

"Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tidak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya".

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

Tetapi Ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.

Ayah dan Ibu adalah pahlawan
yang kasih sayangnya, seperti layaknya guru yang mendampingi anak didiknya sepanjang kehidupan..

Perlakukanlah orang tua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber : Grup WA Anonim

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.