Saturday, June 29, 2019

Rasulullah dan Anak-anak


Jika kita ingin mencari teladan bagaimana menghadapi anak-anak, maka jawabannya adalah Rasulullah. Beliau adalah sebaik-baiknya teladan manusia, tak kecuali sebagai teladan dalam berhadapan dengan anak-anak. Rasulullah merupakan panutan paling utama ketika menghadapi dan berinteraksi dengan anak-anak.

Rasulullah, dalam interaksinya dengan anak-anak selalu mencontohkan kesabaran dan tidak mudah marah. Maka, malulah kita jika dalam menghadapi anak-anak sering tidak sabar sedangkan Rasulullah tidaklah mencontohkan demikian.

Rasulullah sangat menyayangi anak kecil dan menghargainya sebagai individu yang memiliki hati. Hal inilah yang menjadikan Rasulullah sangat mengedepankan sikap lemah lembut dan sabar jika berhadapan dengan anak-anak. Sikap lemah lembut adalah fondasi utama yang diperlukan saat mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Dalam mendidik anak, tentu kita memahami bahwa anak-anak memiliki karakter, pola pikir dan keunikan yang berbeda dengan kita, orang tua. Meskipun demikian, terkadang tingkah polah anak-anak sering kali menguji kesabaran, menguras emosi dan energi kita yang jika tidak dihadapi dengan tenang dapat mendatangkan amarah.

Rasulullah sendiri telah mencontohkan kepada kita bagaimana memahami anak dan kepolosan mereka dalam memandang dunia ini. Diriwayatkan dari Syaddad Ra, bahwa suatu ketika Rasulullah datang ke Masjid untuk shalat Isya, Dzuhur, atau Ashar sambil membawa salah satu cucunya, Hasan atau Husein. Lalu, Rasulullah maju ke depan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya kemudian Rasulullah memulai shalat dengan mengucap takbiratul ihram. Ketika sujud, Rasulullah bersujud sangat lama dan tidak seperti biasanya, maka Syaddad Ra diam-diam mengangkat kepalanya untuk melihat kejadian itu.

Syaddad Ra pun kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, "Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau baginda sedang menerima Wahyu."

Rasulullah menjawab, "Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, tadi cucuku mengendaraiku, dan aku tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya."

(HR. Nasa'i dan Hakim)

By : Enny Star
Sumber : ISLAMIC MONTESSORI, Zahra Zahira, 2019

Wednesday, June 26, 2019

Kumpulan Quote Parenting #1


"Ketika aku melampiaskan amarah pada anak-anak, aku khawatir itu yang terakhir mereka ingat."

Ustadz Felix Siauw

Pendidikan Anak di Tangan Orang Tua


"Kamu nggak wajib pintar nak, tapi kamu wajib punya akhlak dan adab untuk hidupmu"

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kami-lah yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Jaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada

#mutiaraqolbu

Sumber : catatanamanda.com

Tuesday, June 25, 2019

Ayah dan Raport Anak

Akhir pekan ini ada satu event penting di seluruh Indonesia yaitu pembagian laporan pendidikan anak (raport). Beberapa tahun lalu sebuah foto viral di medsos menggambarkan seorang ayah, yang juga menjabat sebagai gubernur waktu itu mengambil raport anaknya sendiri di sebuah SMA negeri. Saya tidak akan membahas latar belakang gubernur yang saya hormati tersebut apalagi dari sisi politik, bukan pula kerelaan bapak gubernur tersebut untuk antri mengambil raport, tetapi ketika saya perhatikan foto pembagian raport tersebut, sangat memprihatinkan bahwa pak gubernur adalah satu-satunya bapak-bapak di antara ibu-ibu yang antri ambil raport .

Walaupun mungkin foto kegiatan pak gubernur tidak bisa di generalisir tapi paling tidak pemandangan seperti itu lazim terlihat di banyak sekolah di Indonesia, kemana bapak-bapak yang lain? Kurang pentingkah laporan pendidikan anak-anak? Guru-guru sudah mendidik anak-anak setiap hari kerja sepanjang semester, tidak kah seharusnya bapak-bapak sebagai kepala keluarga yang diamanahi Allah untuk paling tidak hadir dua kali setahun?

Saya teringat cerita seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal yaitu Umar bin Abdil Aziz, yang secara nasab adalah cucu Umar Ibn Khattab Radhiyallahu anhu, yang sangat memeperhatikan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya, sehingga di samping meluangkan waktunya untuk langsung mendidik anak-anaknya setiap hari beliau juga secara constant berkomunikasi dengan pengajar anak-anak nya.

Sebagaimana sudah dicontohkan dengan baik di atas, insya Allah bapak-bapak yang tidak sempat mengambil raportnya semester ini, bisa menyempatkan diri semester atau bahkan caturwulan depan.

@faisalsundani

#Fatherhood #TarbiyahPubertas

Sumber : Fb Grup Parenting with Rumah Keluarga Risma

Thursday, June 20, 2019

Hikmah di Balik Pendidikan Orang Tua kepada Anak


Seorang anak tidak suka tinggal di rumah, karena Ayah dan Ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila Ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini. . .

"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."

“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton.

“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja. . .

“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tidak akan ada lagi omelan Ibu dan Ayah," begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, Ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri. . .” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara.

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, grendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel. Dia geser grendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tidak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area Resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan Ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang". Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tidak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"

Dia terkejut dan berpikir, "Apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?" Dia bingung.

"Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang Boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini."
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat  grendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "Selamat Datang" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu.

Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”

Hatinya terharu, dia ingat Ayahnya. Dia yang selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan Ibu dan Ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yang ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahan pada Ayahnya seketika sirna.

"Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang Manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini."

Ayah, ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kepada Ayahnya, dia akan ajak Ayahnya melihat tempat kerjanya. Dia pulang ke rumah dengan bahagia.

Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!

"Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tidak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya".

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

Tetapi Ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.

Ayah dan Ibu adalah pahlawan
yang kasih sayangnya, seperti layaknya guru yang mendampingi anak didiknya sepanjang kehidupan..

Perlakukanlah orang tua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber : Grup WA Anonim

Wednesday, June 19, 2019

Tips Agar Tidak Menjadi Orang yang Rugi


Berikut adalah beberapa tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi :

1.Hilangkan kebiasaan menunda-nunda

Perbuatan suka menunda tidaklah baik, namun bila menunda suatu pekerjaan untuk melakukan ibadah wajib kepada Allah seperti shalat, maka hal tersebut diperbolehkan. Dalam Sya’ir Arab disebutkan : “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Jangan sering menunda-nunda sesuatu, terlebih jika hal yang ditunda adalah dalam perihal ibadah dan amalan baik lainnya, karena dikhawatirkan umur kita tidak sampai pada detik berikutnya. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hambanya kembali, oleh karena itu sebaiknya jangan menunda-nunda sesuatu yang merupakan amalan baik, terlebih amalan yang merupakan ibadah.

2.Dahulukan yang wajib
Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bertakwa kepadanya, dan ketakwaan tersebut berada pada perbuatan yang diwajibkan dan diharamkan oleh Allah. Dan untuk menjadi orang yang tidak merugi, alangkah baiknya jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim. Apabila amalan-amalan yang wajib telah terpenuhi, barulah kita boleh mengerjakan amalan-amalan sunnah dan mubah lainnya yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kita.

3.Selesaikan pekerjaan tepat waktu
Jika kita memiliki sebuah pekerjaan yang waktu penyelesaiannya dapat diselesaikan pada saat itu juga, maka akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut diselesaikan tepat waktu, dan tidak mengulur-ulur waktu penyelesaiannya.

4.Buat batasan waktu
Untuk mengatur waktu yang ada agar tidak sia-sia, maka sebaiknya buat batasan waktu pada setiap kegiatang yang dilakukan. Misalnya : tidur dari jam sekian hingga jam sekian, belajar berapa jam dalam sehari dan pada jam berapa saja, dan lain sebagainya.

5.Meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, bagi seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya : menonton tv secara berlebihan, bermain ponsel seharian, tidur seharian, dan lain-lainnya. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut sebaiknya dikurangi dan dihilangkan karena masih ada banyak hal bermanfaat lainnya yang dapat kita lakukan.

6.Membuat jadwal kegiatan
Agar waktu yang kita miliki dapat berguna dan terisi dengan hal yang bermanfaat, ada baiknya jika kita membuat daftar kegiatan tentang apa saja yang harus kita lakukan setiap hari.

Kurangi bersantai-santai
Allah akan memberikan manusia hasil kehidupan berdasarkan pada usaha hambanya. Apabila ia berusaha dengan keras dan giat, maka Allah akan memberikan hasil yang setimpal dengan perbuatannya. Namun apabila seseorang hanny bersantai-santai sepanjang waktu yang dia miliki, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahanya.

7.Jangan terjebak dalam masa lalu
Seseorang yang tidak ingin waktunya sia-sia, maka ia harus terus berjalan kedepan dan tidak terjebak pada masa lalunya.

Belajar fokus pada sesuatu
Apabila seseorang mempunyai banyak target dalam hidupnya, maka ia haruslah fokus pada satu hal dahulu, agar apa yang telah didapatkannya tidak terlepas dan waktu yang dia miliki tidak terbuang sia-sia.

8.Niatkan berubah menjadi yang lebih baik
Untuk menjadi orang yang dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka yang paling pertama adalah adanya niat dari orang tersebut. Apabila tidak ada niat dan keinginan untuk berubah, maka bagaimana bisa orang tersebut mengatur waktunya dan menjalankannnya dengan bermanfaat.

Jadi, sebagai muslim yang baik kita haruslah senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar kelak kita tidak menjadi orang yang merugi. Karena sesungguhnya, orang yang merugi dapat kehilangan kesempatan untuk menempati surga milik Allah SWT.

Sumber : Dari Pesan Grup WhatsApp Parenting Islami

Tuesday, June 18, 2019

Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam yang Dicintai Allah (Bagian 2)


Oleh : Iin Savitry, Bunda Bidadari

(Lanjutan)

Hanya 1 kiatnya:
Latih anak melakukan #SEMUA TUGAS KERUMAHTANGGAAN#  di rumah

Prinsip dasarnya, anak tak boleh bermain dan belajar di luar rumah JIKA tugas rumah tangganya belum selesai.

Saya menegaskan prinsip dasar mengasuh anak di rumah kami:

a. Sekolah ga wajib, yang wajib adalah belajar . Belajar paling utama ada di lingkup rumah. Dalam bentuk pekerjaan rumah. Pahami fakta bahwa 75 % keterampilan hidup dan karakter utama anak dilatih dari rumah. Sekolah dan pendidikan luar rumah hanya berkontribusi 25% atas pembentukan karakter pemimpin seorang manusia.

b. Inner circle, outer circle . Lingkaran kecil di rumah harus selesai, baru silakan buat lingkaran besar di luar rumah. Analoginya seperti kambium. Usia pohon ditentukan dari jumlah lingkarannya.
Kenapa pohon jadi contoh? Karena dalam Alquran pun seorang mukmin diibaratkan sebagai pohon. Jadi, anak harus belajar langsung dari proses  tumbuhnya sebuah pohon.

c. First things First.  Skala prioritas dalam beraktivitas. Apa yang harus ia lakukan agar bisa bermain/belajar ke luar rumah.
Unsur wajib, sunnah, mubah, makruh, haram...terus dilatih untuk disematkan di setiap kegiatan. Hal ini membantu anak untuk mengambil keputusan apa yang harus didahulukan jika ada banyak pilihan kegiatan

Semua latihan harus sesuai dengan tahapan usia, dan terus bertambah seiring usia. Jadi, makin sibuk anak dengan kegiatan belajar di luar rumahnya, ia akan makin dilatih untuk makin sigap dan cekatan menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.

Ini salah satu contoh tahapannya:

 • ~ Dimulai sejak usia 2,5 tahun-5 tahun, biasakan anak LELAKI MEMILIH satu dari dua opsi yang kita sodorkan.
Misal pakaian, arahkan dia memilih satu dari dua baju/sepatu/celana/kaus kaki/tas yang ingin ia pakai.
Makanan, ajak ia menentukan mau makan apa hari ini. Misal untuk lauk, ikan atau ayam. Sayur bayam atau sayur sop.
Main/belajar, ajak dia mau main apa. Tiap main kita setting  2-3 kegiatan yang berbeda secara bersamaan. Pastikan aktivitas membacakan buku dan  berkisah masuk di setiap permainan.
Misal membaca buku sambil main boneka/lego dan bernyanyi. Main masak-masakan sambil membacakan buku dan bernyanyi.Olahraga sembari berpuisi dan berdendang.
Mencabut rumput sembari berhitung dan membuat kolase/menggambar di tanah.

~• Usia 5-7 tahun , ajak anak LELAKI mulai merencanakan kegiatan esok hari, dan menu untuk 3 hari kedepan.
Latih anak untuk menyuguhkan makanan dan minuman untuk ayahbunda dan adik.
Beri tugas2 kerumahtanggaan sederhana. Membersihkan kamar sendiri, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Belanja bahan makanan DAN menyortirnya untuk disimpan di kulkas/dapur.
Kita TEMANI dia ketika melakukannya.
Puji walau pekerjaannya (pasti) tak sempurna.
JANGAN kita sempurnakan pekerjaannya di depan matanya. Itu akan membuat dirinya down dan merasa percuma mengerjakannya. Hingga akhirnya membuatnya malas-malasan ketika diminta melakukannya lagi. Karena hasil kerjanya tidak dihargai.

Khusus Silmi, putra kami, karena ia ingin sekolah TK, di usia 3,5 tahun,  saya beri opsi: boleh sekolah TK asal dia mau menyiapkan bekal makanannya sendiri dan mengurus pakaian sekolahnya sendiri. Kamar harus rapi. Jika tidak, berarti dia BELUM SIAP belajar di luar rumah.

Jadi, sejak usia 4 tahun, Silmi sudah biasa membuat puding sendiri untuk snack, saya ajak menyiapkan seragam selama sepekan. Menyusunnya secara berurutan di lemari agar mudah ia ambil. Saya bantu membuat checklist pekerjaan harian dan pekanannya.

Itu sebabnya ketika kelas 1 SD (usia 6,5 tahun)  dan ia mulai rutin kemping, ia sudah mandiri menyiapkannya sendiri. Saya bantu dua kali cara packing yang efektif dan efisien, selanjutnya ia lakukan sendiri. Saya tinggal memberi evaluasi tepat atau tidak tepatnya.

~ • Usia 7-10 tahun , anak lelaki wajib diberi tugas menjaga kebersihan rumah SEBELUM ia keluar rumah.
Ia yang bertugas mencatat apa yang kurang di rumah, membeli kekurangannya.
Sebelum magrib ia yang bertugas menutup semua pintu dan jendela rumah, menutup wadah air/sayuran berkuah di dapur. Memastikan rumah sudah bersih sebelum maghrib.
Memasukkan hewan peliharaan ke kandang.  Menyalakan lampu.
Sebelum tidur memastikan rumah terkunci. Ini semua bagian dari menghidupkan sunnah nabi. Ada haditsnya, silakan dicari sendiri.

Untuk urusan sandang, anak lelaki usia 10 tahun ke atas harus sudah selesai terbiasa mengurus kebutuhan diri sendiri ( menjaga kebersihan tubuh, pakaian, barang-barangnya, keperluan sekolah dll), dilatih mengurus/membersihkan  pakaian keluarga, khususnya pakaian dalam sendiri dan orangtua.

Ini penting, karena memang sejak usia 9 tahun anak-anak wajib dilatih mengurus kebutuhan internal dirinya, walau memiliki pembantu di rumah.

Di rumah kami, anak-anak saya wajibkan mencuci pakaian dalamnya sendiri sejak usia 9 tahun. Sejak usia 10 tahun saya mulai latih Silmi (anak lelaki kami) untuk mencucikan pakaian dalam kami, menjemurnya, mengangkatnya, melipatnya dan meletakkannya ke lemari kami masing-masing.

Dalam urusan  pangan, anak lelaki dilatih melayani ayah bunda dan adik-adiknya ketika makan. Ia dilatih menyediakan alat makan, menyuguhkan makanan dan kalau perlu belajar menyuapi ortu dan adik, sebelum ia sendiri makan.

Bisa kita tantang untuk saling menyuapi bersama kita.

Kalau saya, saya demonstrasi suami menyuapi saya di depan anak-anak. Lalu suami balas menyuapi saya.
Dan sejak anak usia 7 tahun, suami yang rutin menyediakan makanan bagi kami. Walau saya yang sering menentukan mau makan apa/menu dan mengajarkan cara memasaknya.Jadi anak MENYAKSIKAN proses belajar kedua orangtuanya secara langsung.

~• Anak lelaki usia 12 tahun harus  sudah bisa diberi tugas menyusun menu untuk keluarga, berbelanja dan mencatat kekurangan sembako yang ada di rumah, mengusahakannya ada.

Satu peraturan khusus di rumah, mereka TIDAK BOLEH BERKEGIATAN DI LUAR RUMAH jika target interaksi Alquran dan pekerjaan rumahnya  belum selesai. Karena
berlaku prinsip skala prioritas dalam beramal, inner circle outer circle.
Aturan ini berlaku tegas sejak anak berusia 10 tahun, setelah dilatih secara intensif sejak mereka berusia 4 tahun.

Jika anak kita sangat enjoy dengan aktivitas luar ruangnya, ia akan berusaha keras menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya agar bisa 'bebas' bermain di luar rumah.

Berbagai fakta membuktikan, anak-anak lelaki yang terbiasa dilatih bertanggung jawab terhadap pekerjaan di rumahnya, akan tumbuh menjadi lelaki yang tangguh, berani bertanggung jawab, mudah mengambil keputusan bahkan di saat sulit, DAN PEDULI dengan sesama.

Anak-anak lelaki yang terlatih otot jiwa, fisik dan akalnya di rumah, akan tumbuh menjadi lelaki yang PEDULI dengan kesejahteraan orangtua, wanita dan anak-anak.

Mereka akan MENSYUKURI dan MENGHARGAI jerih payah para orangtua dan wanita yang ada di sekelilingnya, karena keberadaan orangtua dan wanita itu adalah HADIAH Allah baginya. Mempermudah tugasnya sebagai pemimpin umat di luar rumah.

Mereka akan bertumbuh menjadi lelaki yang memiliki HARGA DIRI, pekerja keras dan cerdas untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya dengan optimal.

Mereka akan BANGGA bisa membahagiakan dan memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya, bukannya malah merasa terbebani apalagi masa bodoh.

Pada akhirnya, jika anak lelaki kita terlatih untuk melayani di rumah, kita sendiri yang akan merasa lega. Ikatan cinta dan saling menghargai di antara ayahbunda-anak akan makin kuat.

Maka, fase DEKAT dan LEKAT antar ortu-anak akan mudah kita bangun dengan mengantarkan mereka menjadi qowwam belia di surga mungil kita.

Allahu a'lam bishshawab.

Monday, June 17, 2019

Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam yang Dicintai Allah (Bagian 1)


Oleh : Iin Savitry, Bunda Bidadari

Bagi ayah bunda yang sudah tersadarkan akan peran penting kita dalam menanamkan ADAB kepada anak, maka akan mudah menemukan 'kesalahan asuh' generasi zaman kita. Mudah? Ya. Sangat mudah. Karena kita mungkin salah satu 'korbannya'.

Kita bisa menemukan fakta menyedihkan bahwa di zaman sekarang kaum wanita jauh lebih sigap, tegas, cekatan, cerdas, tangguh dan lebih luwes berkiprah menjadi pemimpin di segala bidang. Bahkan dalam pengambilan keputusan  di level perusahaan dan negara pun, kaum wanita terbukti jauh kuat dan fokus. Belum lagi di lingkup negara terkecil, di rumah. Fakta zaman now, sebagian besar kehidupan berumah tangga ditentukan keputusan dan arahnya oleh kaum ibu. Kaum bapak sebagian besar sekedar manut, bahkan ada yang masa bodoh dengan kebutuhan dasar rakyatnya di rumah. Sehingga para ibu merasa wajib turun gunung ke ranah publik secara berlebihan dan melelahkan jiwa. Efeknya? Anak-anak pun menjadi saksi hidup proses kehidupan itu dan akhirnya...benang kusut itu menjadi makin kusut. Sang anak yang diharap menjadi lebih baik, ternyata hanya menjadi sosok yang sama seperti orangtuanya. Betapa sering kita mendengar kisah sedih  para orangtua yang tak diurus oleh anak-anaknya yang sudah dewasa? Bahkan para orangtua masih sibuk memikirkan kesejahteraan anaknya?

DAN, itu SALAH! Karena itu tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadits.
Kejadian di atas adalah bukti dari peringatan Allah di surah Annisa QS An Nisa':9.

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesehahterannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan  tutur kata yang benar."

Allah sudah memberi petunjuk yang sangat jelas akan tugas seorang lelaki beriman di ayat ke-34 surah yang sama. Ayat yang sangat populer dan sering disalahmaknakan oleh kebanyakan kita.

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)  atas sebagian  yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya."  (QS 4 : 34)

Nah, terus bagaimana cara kita agar bisa memperbaiki kondisi umat ini MELALUI RUMAH KITA?
Khususnya bagi orangtua yang dikaruniai ANAK LELAKI?
Bagaimana CARA kita mengasuh mereka dalam keseharian agar  tumbuh kuat peran kelelakiannya seperti yang Allah perintahkan?

Sebelumnya, pahami dahulu, apa saja ranah nafkah yang harus ditanggung oleh kaum lelaki, menurut Islam?

Saya mempermudah penjelasannya ke keluarga dengan membuat istilah SP3K.

Ada 5 ranah nafkah yang WAJIB dipenuhi oleh lelaki  kepada keluarganya. Yaitu:

1. Sandang  : Kebutuhan berpakaian. Berarti semua jalur dari hulu hingga hilir seluruh kebutuhan berpakaian anggota keluarga wajib dipersiapkan oleh kaum lelaki (dalam hal ini suami). Dari menentukan pakaian takwa seperti apa yng harus dikenakan anggota, jenis bahan yang nyaman untuk masing-masing anggota, cara mendapatkannya, menyediakannya, mencuci dan menyeterikanya...sejatinya kewajiban itu ada di kaum ayah.

2. Pangan  : Allah sudah banyak memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya memperhatikan sumber makanan bagi keluarga.
Kaidah makanan minuman yang  Halal dan Baik  harus dipenuhi agar kita jauh lebih mudah beribadah. Berarti kaum ayah harus menguasai :
• ilmu halal haram plus
• ilmu nutrisi makanan yang cukup.
Kaum ayah pula yang harus menyusun menu makanan apa yang cocok untuk masing-masing anggota keluarga, sesuai kebutuhan masing-masing. Menyediakan bahannya, mengolahnya, menyuguhkannya, kalau perlu menyuapinya, hingga membersihkan wadah kotornya.

3. Papan : Kebutuhan tempat tinggal yang nyaman, memenuhi kebutuhan belajar anggota keluarga dan melindungi anggota.Qowwam harus paham kebutuhan papan masing-masing anggota. Dari orangtua, istri, anak lelaki dan anak perempuan memiliki kebutuhan papan yang berbeda. Rumah harus dalam kondisi bersih dan aman, juga ketika qowwam harus pergi keluar rumah. Jadi kewajiban menjaga kebersihan rumah pun menjadi tugas para suami/ayah.

4. Pendidikan : tanggung jawab pendidikan anggota keluarga ada di pundak kaum ayah/suami. Di akhirat nanti, mereka yang akan ditanyakan oleh Allah, bagaimana perlakuannya terhadap anggota keluarga, apa yang telah diajarkan, dll.
Begitu penting peran ayah dalam mengasuh anak, sehingga kita bisa temukan banyak kisah para Nabi  yang super sibuk itu, berbicara khusus tentang keluarga. Contohnya adalah kisah Nabi Zakaria as ( surah Maryam)  dan Nabi Ayyub as ( surah Yusuf). Tak ada satupun kisah tentang tugas dakwah kedua nabi di atas kepada umatnya di Alquran. Allah khusus menekankan kejadian penting dalam rumah tangga mereka. Belum lagi kisah penting di surah Luqman, yang berisi bahan ajar tauhid seorang ayah kepada anak-anaknya.

Dari 16 ayat pengasuhan anak di Alquran, 14 ayatnya khusus untuk kaum ayah. 2 ayatnya diperuntukkan bagi pasutri. Jadi, tugas berat mengasuh anak BUKAN di pundak ibu.
Allah mengajarkan kepada kita bahwa para ayahlah yang wajib mengajarkan anak-anaknya untuk santun dan menghargai ibunya ( baca  dan renungi surah Luqman), jika ia memgaku beriman.

5. Kesehatan : Tugas penting para ayah ini pun menentukan kualitas kehidupan keluarga. Dari
• kesehatan fisik (asupan makanan bernutrisi cukup, cara pengolahan makanan,  cara dan waktu makan ; olah tubuh seperti cara dan waktu tidur, cara duduk, berdiri berjalan, asah fisik di minimal 3 bidang olahraga sunnah, menjaga waktu shalat, dll) hingga ke
• kesehatan akal (menuntut ilmu dengan cara yang benar, perhatikan cara nabi mendidik anak-anak di buku siroh Muhammad saw Teladanku terbitan Sygma. Di situ dijelaskan cukup lengkap dialog Rasul kepada sahabat-sahabt ciliknya.) dan ke
• kesehatan jiwa ( dengan memperhatikan proses menjaga waktu shalat, khususnya shalat subuh cara menghargai waktu utama. Simak perintah Allah di surah Al Muddatsir, apa yang harus ortu latih bagi anak di tengah malam).

Kelima bidang nafkah itu WAJIB dipenuhi oleh para qowwam bagi keluarganya. Hanya dengan  melatihnya di rumah, baru ia bisa kuat melakukan tugas besarnya memimpin umat di luar rumah.

Lalu, apa kiat praktis kita agar anak lelaki kita SIAP bertumbuh menjadi LELAKI YANG ALLAH CINTAI? Menjadi lelaki yang didoakan oleh malaikat? Menjadi lelaki yang dibanggakan oleh Rasulullaah saw? Menjadi lelaki yang dirindukak oleh umat?

(Bersambung)

Sumber : Grup WA Parenting Islami

Sunday, June 16, 2019

Senyum dan Syurga


Puasa hari ke 9. Adaptasi pasti sudah ada, tapi tetep aja susah. Apalagi buat anak usia 7 dan sekitarnya yang baru pertama kali tahun ini berpuasa penuh hingga azan maghrib berkumandang.

Rengekkan pasti ada walau sudah jauh berkurang. Pada setiap rengekkan tersebutlah menjadi golden momen buat saya untuk menjelaskan makna sebenarnya tentang puasa. Setelah meminjamkan telinga untuk mendengarkan 'kisah lapar dan efeknya' di hari ke 9 ini, sayapun mengalihkan dengan bertanya; bagaimana.. jika tidak ada waktu berbuka?. Anak terdiam. Bagaimana jika, waktu berbuka tiba, tidak ada satupun yang bisa dimakan untuk mengisi kekosongan perut yang sudah kelaparan parah?. Anakku mulai mengkhayal, 'hmm.. bagaimana ya?'. Lalu keluarlah beragam ide unik, lucu dan nyeleneh. Lalu saya melanjutkan dengan : itulah nak, salah satu tujuan utama berpuasa, adalah agar;

1. Kita bisa merasa apa yang dirasa si miskin tiap harinya. Buat mereka, Ramadhan hanya seperti bulan bulan lainnya dalam setahun. Tidak ada jaminan makanan ada, tidak pernah merasa kenyang.

2. Bersyukur. Makanan kita alhamdulillah banyak sekali, walau tidak berlebih. Tapi kita sering lupa untuk mensyukuri, bahkam terkadang tidak habis dan membuangnya tanpa rasa sedih. Ingat makanan yang sering tidak habis dipiringmu? Betapa nikmatnya itu sekarang, ketika lapar mendera. Apa saja bolehlah, asal bisa mengurangi perut yang sudah keroncongan sedari tadi. Ya kan?

Lalu masuklah saya (yang juga sedang keroncongan berat) kepada cerita ttg syukur. Mengajak sang ananda menghitung rezeki yang telah Allah limpahkan kepada kami setiap hari. Kebanyakannya adalah hal kecil, yang sering lupa disyukuri, hingga didatangkan sakit pada hal itu, baru teringat nikmatnya lagi. Dimulai dari membuka mata di pagi hari.. masih dikasih hidup sehari lagi. Wajib bagi saya membaca doa bangun tidur, bersyukur padaNYA atas rezeki bangun pagi ini. Mata yang mengedip automatically, oksigen yang gratis, paru paru yang tidak sakit ketika harus menghirup udara pagi, dan masih ribuan hal lagi. Saya kemudian bertanya pada anak, "ayo.. apalagi rezeki Allah pada kita setiap hari?".

Lalu, saya ajak mereka berfikir, bagaimana jika kita seperti si miskin, dimana puasanya tidak berakhir di azan maghrib?

Bagaimana jika setiap lapar, tapi tidak ada makanan?

Apa yang bisa kita lakukan ketika berada di situasi seperti itu?

Karena percayalah nak, ratusan juta manusia masih mengalaminya, bukan hanya krisis pangan, krisis air bersih, krisis kasih sayang.

Cukup sudah saya menggali sisi emosi dan fikiran mereka, kini.. saya ajak mereka membayangkan pintu Ar-Rayyan.
Pintu syurga bagi yang berpuasa. Bagaimana agaknya? Setinggi apa? Apa warnanya?

Senyumpun mulai tersungging di bibir bibir kering mereka, membayangkan bayaran Allah pada hambanya yang berpuasa.

"Coba bayangin, nanti di depan pintu itu, kira-kira, sebesar apa ya?. Terus, ada malaikat yang jaga. Pas kita mau masuk, malaikat menyetop kita dan bertanya: tunggu! Siapa namamu? Aku harus cari dulu dalam daftar ini. Apakah kamu termasuk penghuni syurga yang ini?. Lalu, kamu mengucapkan namamu dengan rasa was -was dan takut 'Abdul Malik Faisal'. Malaikatpun dengan cepat mengecek daftar nama yang ada. Lalu sebentar menatap mukamu nak. Engkau tegang luar biasa. Lalu, malaikat bilang : silahkan Abdul Malik Faisal. Kamu boleh masuk syurga ini, karena kamu dulu berpuasa!"

Sekarang, senyum itu benar-benar terkembang luas. Ia sangat menikmati ceritanya.

Tapi, apakah ini cuma cerita?
Bukan, ini janji Allah. Insha Allah kita bisa kesana! Amin ya rabbal alamin.

Demikianlah saya mengusir rasa lapar diri sendiri, dan terutama anak saya. Semoga Allah berkenan dan meridhoi usaha saya melatih titipan-titipanNYA, agar kuat beribadah dan menuntut ilmunya.

Sungguh nak, syurga itu tidak mudah.
Tapi Allah mempersilahkan kita menggapainya. Bahkan yang tertinggi sekalipun. Sabarlah buah hatiku, Insha Allah kita masuk syurga bersama ya nak. Memang bagi seorang muslim, dunia ini ibarat penjara bagi kita. Banyak sekali larangan, banyak kesusahan. Tapi ini tidak abadi, bersabarlah, karena kebahagiaan yang abadi, Insha Allah menanti.

Wallahu a'lam bis shawab.

Wina Risman.

Saturday, June 15, 2019

Islamic Montessori - Tiga Tahun Pertama (Bab 1)


Pada usia ini, anak-anak membutuhkan perlindungan dan rasa aman di lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, perlu adanya ikatan yang kuat antara anak usia 0-3 tahun dengan caregiver yang ada disekitarnya.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan caregiver, baik orang tua, guru maupun keluarga dekat di rumah terhadap anak usia 0-3 tahun dalam rangka menguatkan ikatan, antara lain:
·       - Mengusahakan berbicara dengan sering menatap mata anak.
·       -  Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak
·       -  Berbicara dengan bahasa yang baik dan benar. Hindari bahasa bayi atau bahasa yang bukan bahasa sebenarnya, seperti berkata ‘mamam’ daripada ‘makan', dan lain sebagainya.
·       -  Sediakan lingkungan yang sesuai dengan kemampuan anak serta bagikan kegiatan yang tingkat pemahamannya mudah baginya.
- Saat anak melakukan kegiatan sehari-hari, hindari intervensi berlebihan.

Sumber : Buku Islamic Montessori karangan Zahra Zahira

Friday, June 14, 2019

3 Hal yang Bisa Mengundang Kesuksesan


Coach Fitra dalam video motivasinya membagikan hal yang bisa mengundang kesuksesan. Ketiga hal itu adalah be, do, dan have.

Be artinya menjadi. Setiap diri hendaknya menempa diri dan pribadinya untuk menjadi "SESUATU"  yang bernilai. Ini bisa melalui belajar (membaca, pelatihan, menuntut ilmu) dan latihan (praktek) sehingga punya banyak pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Ini akan membuat seseorang menjadi semakin bernilai, baik sebagai pebisnis, ibu rumah tangga, penulis, atau lainnya sesuai dengan profesinya masing-masing.

Hal Kedua adalah Do. Do artinya melakukan. Setiap diri hendaknya membiasakan dirinya untuk senantiasa melakukan kebaikan. Berbuat sesuatu yang bermanfaat tidak hanya bagi dirinya tapi juga orang lain. Melakukan kebaikan di mana saja dan kepada siapa saja dengan TULUS dan Ikhlas.

Dua hal di ataslah yang seharusnya menjadi titik fokus bagi setiap orang yang ingin sukses dan maju. Terus meningkatkan kualitas dirinya dan melakukan kebaikan sepanjang waktu.

Bila dua hal di atas dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, maka DENGAN SENDIRInya, ia akan mendapatkan hasil yang ia mau (HAVE). Have artinya seseorang akan memiliki, mendapatkan dan meraih apa yang ia impikan dan cita-citakan. Berkat dari kerja kerasnya pada BE dan DO yang POSITIVE.

Bapak Sandiaga Uno dalam bukunya pun pernah menyampaikan agar setiap orang fokus saja mengejar VISI hidup atau usahanya, maka kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu.

Bila selama ini, diantara kita masih ada yang belum tepat mindsetnya dengan berfokus pada hasil (have) sementara ia mengabaikan be dan have, maka kesuksesan hanya ia raih sementara saja. Bisa saja orang dengan mindset yang salah akan melakukan cara-cara yang "instan" untuk meraih suksesnya. Tentu ini akan mengurangi nilainya sebagai manusia dan makhluk Allah.

Penjelasan di atas tadi tentang tiga konsep sukses itu bukan teori semata. Dalam QS Al-Bayyinah : 7-8, Allah menegaskan bahwa Ketika seorang hamba menjadikan dirinya termasuk bagian dari ORANG BERIMAN (be) dan MELAKUKAN KEBAIKAN (do) maka Allah akan membalas untuknya balasan terbaik yakni SURGA 'ADN.

Masya Allah
Semoga bisa menjadil ilmu yang bermanfaat dan menginspirasi u ntuk kita bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

By: Sukmadiarti Perangin-angin

#parentingschool #sekolahkepribadian #positiveconsulting

Wednesday, June 12, 2019

Manjurnya Doa Ibu



Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter  tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.

Isi twitternya sebagai berikut:
"Aku menyumpahmu demi Allah wahai setiap Ibu, agar jangan tidur tiap malam sebelum engkau memohon pertolongan Allah dan mengabari-Nya bahwa engkau Ridho atas anak-anakmu seridho-ridhonya, dan aku menyumpahmu demi Allah agar engkau tidak menghijab/menghalangi Ridho-Nya kepada anak-anakmu. Dan aku memintamu wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada-Nya bahwa engkau ridho atas mereka masing-masing."

Begini doanya:
اللهم إني أُشهدك أني راضية عن إبني/إبنتي (.....) تمام الرضا وكمال الرضا ومنتهي الرضا
 فاللهم انزل رضوانك عليهم برضائي عنهم                                                                     
"Allahumma innii usyhiduka annii roodhiyah 'an ibnii/ibnatii (sebut nama anak-anakmu satu persatu) tamaamarridho wa kamaalarridho wa muntahayirridho. Fallahumma anzil ridhwaanaka 'alaihim biridhooii 'anhum"

(Ya Allah aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku ridho kepada anak-anakku (....) dengan ridho paripurna, ridho yang sempurna dan ridho yang paling komplit. Maka turunkan ya Allah keridhoan-Mu kepada mereka demi ridhoku kepada mereka).

Kemudian setelah berselang beberapa minggu setelah Twitter tersebut tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang ibu yang berkata bahwa aku telah mengubah kehidupannya secara total, dan sekarang dia merasa dalam kenikmatan yang tak terlukiskan karena akibat doa itu terhadap dia dan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun.

Maka berceritalah si Ibu :
Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya. Dia tak pernah sholat dan bahkan jarang mandi , dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.

Maka ketika membaca twittermu aku berkata : "Mungkinkah omongan ini benar? tampaknya masuk akal??" dan seterusnya. Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba anjuranmu walaupun aku tak yakin bahkan mentertawaimu.

Lalu setelah seminggu mulai berubah nada suara putraku kepadaku, dan pertamakali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian, dan didalam diriku ada sedikit syok? Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya.

Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu, ia membukakan pintu untukku dan menyapaku "Apa kabar ibu?" dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu. Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya samasekali.

4 jam kemudian aku menelponnya di ponselnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya : "Bu, aku disamping masjid dan aku baru akan sholat waktu ibu menelponku”

Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah sholat bisa mulai sholat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar?
Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai sholat? Jawabnya; “Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku didekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk sholat”

Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagian seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.

Ibu adalah harta karun yang kita sia-siakan. Betapa tidak? Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya. Padahal justru Doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat.

Jangan pernah bilang : "Ah anakku masih kecil , ngapain didoakan?" Bagaimana jika engkau menunggu mereka makin besar dan dewasa, dan menjadi tua, disaat mereka lebih butuh akan doa-doamu, padahal mungkin waktu itu engkau sudah di hadapan Ilahi?

Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah telah mengkaruniai kita para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka. Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintu-Nya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur.

#SeriParenting
#OneHomeOneHafizh

Sumber : Grup Parenting Islami (dengan beberapa penyesuaian)

Tuesday, June 11, 2019

Cara Berbakti kepada Orangtua yang Telah Tiada


Ada enam hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk berbakti dengan orang tua ketika mereka berdua atau salah satunya telah meninggal dunia:

1. Mendo’akan kedua orang tua.
2. Banyak meminta ampunan pada Allah untuk kedua orang tua.
3. Memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia.
4. Menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga dekat keduanya yang tidak pernah terjalin.
5. Memuliakan teman dekat keduanya.
6. Bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Ibnu Dinar meriwayatkan, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata bahwa ada seorang lelaki Badui bertemu dengan Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju Makkah. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledainya serta memberikan sorban yang dipakai di kepalanya. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan sebenarnya ia diberi sedikit saja sudah senang.” ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sesungguhnya ayah Badui tersebut adalah kenalan baik (ayahku) Umar bin Al-Khattab. Sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 24: 314]

Semoga bisa diamalkan. Selama masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga.

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Bakti pada orang tua adalah pintu terbaik dan paling tinggi untuk masuk surga. Maksudnya, sarana terbaik untuk masuk surga dan yang mengantarkan pada derajat tertinggi di surga adalah lewat mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu tersebut adalah melakukan kewajiban kepada orang tua.’ (Tuhfah Al-Ahwadzi, 6: 8-9).

Kalau orang tua kita masih hidup, manfaatkanlah kesempatan berbakti padanya walau sesibuk apa pun kita. Baca: Kapan Disebut Durhaka pada Orang Tua?

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : rumaysho.com