Wednesday, March 27, 2019

Jika Anak Berbeda Pendapat dengan Orang Tuanya


Oleh : Fariq Gasim Anuz

Di kota Riyadh, tepatnya di negara Saudi Arabia, ada seorang janda yang memiliki dua anak laki-laki yang bekerja sebagai sopir taksi. Dua pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Mereka menabung untuk membayar kontrak apartemen yang harga sewa pertahunnya mencapai 24 rIbu real atau sekitar 80 juta rupiah. Susah payah keduanya menabung, sampai terkumpul uang sepuluh ribu real (sekitar tiga puluh delapan juta rupiah). Uang tersebut mereka ikat dengan karet, lalu mereka masukkan kedalam plastik, setelah itu direkatkan dengan lakban hingga benar-benar rapat dan tertutup, kemudian bungkusan uang tersebut disimpan di bawah bantal kamar mereka berdua.

Ketika keduanya pergi bekerja, si Ibu merapikan kamar anaknya. Tanpa sengaja beliau menemukan bungkusan tadi di bawah bantal. Ia terkejut, mukanya langsung memerah dan alisnya mengerut.

“Baru beberapa hari lalu Ibu marah kepada kedua anaknya karena ketahuan main kartu di kamar! Ini dia benda yang sudah membuat mereka lalai!” ucapnya dengan kesal sambil menggenggam erat bungkusan yang ternyata beliau kira itu adalah kumpulan kartu domino.
Meskipun tanpa uang dan bukan judi, tapi bermain kartu itu melalaikan waktu. Masih banyak kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh anak-anak, seperti shalat lima waktu, belajar islam, berbakti kepada orang tua, dan kebajikan lainnya.

Ketika anak yang bungsu pulang ke rumah, langsung saja Ibunya menumpahkan amarahnya karena merasa perintahnya telah diacuhkan. Pemuda ini termenung, ia merasa tidak bersalah karena ia sudah meninggalkan kebiasaan main kartu. Ia menunduk diam tidak membantah saat dimarahi ibunya karena ia sangat memuliakan dan menghormati Ibunya.

Si anak rupanya menyadari bahwa hak orang tua adalah sesuatu yang agung setelah hak Allah untuk diibadahi semata dan tidak dipersekutukan dengan apapun.

Setelah Ibu selesai memarahinya, lalu si bungsu bertanya, "Ibu menemukan kartu dimana?"
 "Dibawah bantal!" jawab Ibunya dengan mantap.
"Dimana sekarang kartu tersebut?" tanya anaknya.
 "SUDAH IBU BAKAR!" Jawab Ibunya dengan rasa puas telah menghukum anaknya.

Menurut pembaca, kira-kira bagaimana respon anaknya? Apakah ia akan menyalahkan Ibunya? memprotes Ibunya dengan suara yang tinggi bahwa Ibunya telah memfitnah dirinya? Atau apakah anak tersebut akan menjelaskan bahwa yang dibakar oleh Ibunya itu bukan kartu melainkan UANG yang telah susah payah mereka tabung?!

TIDAK!

Si bungsu menundukkan kepalanya, dengan suara perlahan ia meminta maaf kepada Ibunya dan berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Amarah Ibu pun mereda lalu beliau melanjutkan kesibukan lainnya di rumah.

Ketika anak pertama pulang ke rumah, si adik langsung menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya bersama ibunya.
Kakaknya bertanya, "Apakah kau ceritakan bahwa yang dibakar oleh Ibu adalah uang?!"
Si adik menjawab, "Tidak! Saya hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak main kartu lagi."
"Bagus! Jangan kau ceritakan hal itu agar Ibu tidak bersedih yang akan mengganggu pikirannya."

Allah Akbar! Betapa halusnya perasaan kedua anak itu. Meskipun terlihat jelas bahwa Ibu yang salah tapi kedua anaknya tidak ingin mengeruhkan perasaannya, tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dan sedih serta menyesali ketergesaannya dalam memvonis.

Kedua pemuda ini hasil didikan orang tua yang shalih. Keduanya memiliki kepekaan hati dan perasaan yang halus. Kedua anak ini tahu betapa berat perjuangan seorang ibu. Keletihan demi keletihan saat mengandung, fisik yang melemah, mual yang berkepanjangan, muntah-muntah dan dahsyatnya pengorbanan ibu saat melahirkan. Keduanya menyadari bahwa pengorbanan dan kasih sayang orang tua sangat besar, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbanan mereka mengumpulkan uang itu.Mereka memahami bahwa jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan berbakti dan memuliakan kedua orang tua.

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Israa  23)

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu berkata,
‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Ibumu.’  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Ibumu’.  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Kemudian Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai anak-anakku segeralah minta maaf dan minta ridha orang tua. Jangan sampai anda menyesal jika orang tua wafat tapi masih belum ridha dan belum memaafkan kesalahan anaknya. Apapun perbedaan anda dengan orang tua, selama orang tua tidak memerintahkan anda untuk maksiat atau melarang dari kewajiban- maka silakan anda bernegoisasi dengan cara yang baik. Tapi jika tidak ada titik temu ikutilah pendapat orang tua. In sya Allah pendapat orang tua akan mendatangkan kebarakahan.

Kepada orang tua, jadilah orang tua yang bijaksana, tidak menekan jiwa anak. Berkatalah kepada anak-anak dengan santun dan lemah lembut. Sabarlah menghadapi kesalahan-kesalahan mereka. Bimbinglah anak-anak dengan penuh kasih sayang. Ajaklah mereka untuk bermusyawarah. Janganlah gengsi untuk menerima pendapat yang baik dari mereka.

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."



Cirebon, 6 Rajab 1440 H /
13 Maret 2019 M

Sharing Tips MPASI Travelling


Tips MPASI Traveling 
by Mama Aiman
(Perjalanan darat kurang dari 12 jam. Dari pagi sampai malam)
1. Sebelum berangkat beri makan dulu di rumah
2. Siapkan cooler bag/cooler box/sejenisnya, ice gell beku sebanyak cooler bag bisa menampung
3. Bawa thermos isi air panas 500ml
4. Bawa mangkok, sendok minimal 2, slaber, cutter, plastik kotor
5. Bawa frozen food untuk 1x makan, tempatkan di toples, taruh di cooler bag
6. Saat makan, beri air panas biar frozen tidak terlalu panas. Air panas bisa minta di resto tempat kita makan. Sekalian minta 1 thermos jika air di thermos kita sudah tidak panas.
7. Bawa pisang, alpukat matang
8. Saat kita makan, sisihkan nasi, lauk, sayur untuk makan sore anak. Saat mau dimakan dilumatkan dulu (kalau saat itu saya tanpa saring karena pingin ringkas). Lauk sengaja pesan ikan, tahu, diambilkan bagian dalamnya.
9. Beri makan nasi, ikan, tahu. Lalu selang 30 menit kemudian diberi pisang atau alpukat.
10. Pisang atau alpukat dibawa untuk alternatif jika baby menolak makanan
11. Bawa makanan instan untuk jaga-jaga (tapi krn anak saya tidak cocok instan, tidak dimakan)

Tips MPASI Traveling 
by Gita

Perjalanan dengan pesawat berangkat malam, lama perjalanan 1 jam, dilanjut jalan darat 3 jam. Lama di tempat tujuan 3 hari 2 malam, pulang dengan pesawat di siang hari. Berikut tips secara umum berdasarkan pengalaman kami.

1. Tentukan dulu mau berapa hari di tempat wisata, berangkat pakai apa, kemana saja, pulang jam berapa dan pakai apa.
2. Buat daftar menu untuk traveling mulai dari makan besar sampai cemilan. Menu dibuat disesuaikan dengan itinerary (rencana) selama perjalanan. Misal, saat itu kami berangkat malam pakai pesawat artinya ada MPASI sore dan cemilan yang mesti dibawa saat nunggu di bandara.
3. Cobakan menu pada anak sebelum hari H jadi tau menunya suka atau tidak agar badai GTM (Gerakan Tutup Mulut) tak melanda di tempat wisata.
4. Persiapkan barang-barang pelengkap MPASI yang dibawa sesuai menu dan itinerary-nya. Misal karena usia 8 m, saya bawa mini electric pot, beras, gravy beku, quiche beku, kentang, pisau, lunch jar yang tahan panas lama, bib, ziplock, baby cubes.
5. Cek tempat menginap disana apakah:

  • Bisa menerima titipan menyimpan MPASI di kulkas dapur hotel, tanya ada costnya atau tidak
  • Tanya fasilitas kulkas dalam kamar pastikan menyala dengan baik, paling aman nyimpen di kulkas dapur ya
  • Tanya ada menu nasi tim,bubur,mashed potato atau menu yang sekiranya bisa kita pakai untuk MPASI anak kita dan bisa customized gulgar dan merica serta micinnya. Umumnya pada mau dan bisa.

6. Bawa MPASI instan sebagai jaga-jaga, kalau-kalau MPASI kita basi
7. Bawa cemilan bayi yang tahan lama seperti biskuit, buah-buah yang tinggal kupas atau kerok seperti pisang atau alpukat.

Semoga bermanfaat

Tips MPASI Traveling 
by Bunda Arsy

Jadi, waktu liburan ke Jogja 1 minggu, aku siapin MPASI jagung manis, brokoli, bayam, wortel, edamame, buncis dan 7 botol stok kaldu sapi dan ayam kampung. Tetep anak sehat ya walaupun liburan. Makanan 4 bintang tak tergantikan hehehe. Semua sayuran aku potong-potong seukuran 3x makan atau 1 hari makan dan sayurannya dimasukin ke plastik zipper.

Misal:
Day 1,  jagung, brokoli, wortel, beras dan kaldu sapi 1 botol ASI.
Day 2, edamame, bayam, wortel, beras dan kaldu ayam kampung 1 botol ASI.
Day 3, buncis, brokoli, wortel, beras dan kaldu sapi 1 botol ASI.
Dan seterusnya di variasikan.

Kenapa tidak bawa daging utuh? Karena takut bau terus nggak kemakan jadi sayang banget kan.  Yaudah deh, aku bikin kaldu sebelum pergi. Si sayur jangan lupa dicuci bersih ya Bund. Terus tirisin airnya sekering-keringnya. Kalau aku pakai tisu serap minyak itu loh, biar tidak busuk. Langsung dimasukin plastik zipper.

Trus kagak dibekuin ya Bund. Taruh di chiller aja sebelum dibawa. Terus pas mau dibawa masukin ke cooler bag plus kasih Ice gel. Karena kalau pas beku si sayurnya, bakalan lembek sampe Jogja. Kandungan airnya ikut ilang mencair bareng es. Tidak lupa bawa slow cooker buat masak karena di hotel tidak ada kompor. Hahahha, jadi bangun shubuh, langsung deh semua di cemplungin jam 7 kelar langsung berangkat ke tempat wisata.

Nah untuk buah, aku blend trio berries. Masukin plastik ASI. Bikin 7 pack. Nitip di bagian dapur hotel karena pasti mereka punya box freezer. Kalo hotelnya ada kulkas bisa si ditaruh kulkas hotel tapi aku belum pernah coba. Karena 1 minggu makan buah harusnya 14x dan aku cuma bawa 7 pack jadi aku selingin kalau ada melon, ya aku kasih, atau pisang dan pepaya. Tapi alhamdulillah pupy lancaar jayaa Bund. Oh iya, jangan lupa bawa parutan khusus makanan bayi atau saringan ya Bund. Soalnya anakku waktu itu baru 7 bulan.

Udah sih gitu aja kalo aku. Jadi sedikit repot di rumah aja Bund, kalo di Jogja enggak repot karena udah disiapin. Semoga manfaat yang mau liburan ya.

Tips MPASI Traveling 
by Mama Atha

1. Googling catering bayi di tempat tujuan, pastikan testimoninya bagus dan order.
2. Bawa saringan, talenan, pisau, slabber, alat makan bayi, sabun cuci peralatan dan box besar buat steril
3. Untuk camilan saya waktu ke jogja cari supermarket/pasar deket hotel untuk beli buah-buahan.

Simple, nggak ribet, cenderung males heboh 😂

Sumber : WAG GIM TIPSMENYUSUI MPASI

Friday, March 1, 2019

Kisah Nabi Ibrahim AS



Adalah keturunan Nabi Nuh AS. Ayahnya bernama Azar, seorang pembuat berhala. Nabi Ibrahim hidup pada masa kepemimpinan raja yang dholim bernama Namrud. Sejak kecil ia tidak menyukai perbuatan kaumnya yang menyembah berhala, ia pun mencari Tuhannya dengan memperhatikan alam sekitarnya.

Ketika ia melihat binatang, ia menduga itu Tuhan tetapi ketika pagi hari bintang itu tenggelam maka ia yakin bukan itu Tuhan karena Tuhan tidak mungkin hilang. Saat ia melihat bulan hatinya bersorak "Ini pasti Tuhan, ini lebih besar", tapi di pagi hari bulan pun tenggelam. Lantas ia melihat matahari "Ini pasti Tuhan lebih besar dari sebelumnya", sore hari mataharipun tenggelam. Dari semua itu, Ibrahim menyimpulkan bahwa Tuhan bukan bintang, bulan, atau matahari tetapi adalah yang menciptakan dan mengendalikan mereka.

Allah SWT memberi petunjuk kepada Nabi Ibrahim AS bahwa Allah SWT-lah Dzat yang Maha Pencipta. Nabi Ibrahim segera menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala. Sebagian besar kaumnya tidak mau mendengar ajakannya. Pada suatu hari Nabi Ibrahim AS masuk rumah peribadatan meraka dan menghancurkan berhala-berhala dengan kapar, kecuali sebuah berhala yang paling besar. Oleh Ibrahim berhala besar tadi dikalungi kapak tersebut.

Raja Namrud curiga pada Ibrahim, segera diperintahkan Ibrahim untuk ditangkap. "Hai Ibrahim apakah kami yang menghancurkan berhala-berhala ini?" Ibrahim menjawab "Bukan, mungkin berhala yang besar itu, bukankah kapaknya masih disana?". Raja Namrud-pun marah seraya berkata "Mana mungkin patung yang tidak bisa apa-apa ini yang melakukannya" Ibrahim menjawab "Kalau tidak bisa apa-apa kenapa kalian semua menyembahnya?". Mendengar jawaban tersebut raja Namrud murka dan memerintahkan untuk membakar Nabi Ibrahim.

Maka merekapun membakar Nabi Ibrahim, tapi Allah SWT menjadikan api tersebut dingin sehingga beliau selamat dari api tersebut. Melihat kejadian itu selutuh mata yang menyaksikan heran, bahkan di antara kaum tersebut tidak sedikit yang kemudian percaya dan beriman kepada Allah SWT.

Tidak lama setelah itu Nabi Ibrahim pergi ke Palestina untuk berdakwah di sana. Sementara Raja Namrud disiksa oleh Allah SWT dengan datangnya nyamuk yang sangat banyak. Akhirnya raja Namrud mati karena nyamuk-nyamuk tadi memasuki telinganya.

Sumber : Buku Pengetahuan Islam Anak Muslim