Tuesday, January 29, 2019

Kisah Nabi Nuh AS


Nabi Nuh AS adalah keturunan kesepuluh dari Nabi Adam AS. Beliau diutus di sebuah wilayah yang bernama Armenia pada kaum yang bertindak sewenang-wenang, sombong, dan dzolim. Mereka menyembah berhala.

Nabi Nuh AS mengajak mereka agar beribadah kepada Allah SWT tetapi mereka menolak bahkan dicemooh sertan menantang datangnya siksa Allah SWT. Karena semakin hari mereka justru semakin jauh dari kebenaran. Nabi Nuh AS berdoa kepada Allah SWT agar segera menurunkan siksa. Allah SWT mendengar doanya dan memerintahkan Nabi Nuh AS untuk membuat perahu.

Saat melihat Nabi Nuh AS membuat perahu, mereka menertawakannya dan menganggapnya gila. Maka Allah SWT menurunkan hujan sangat deras dan bersemburanlah mata air di bumi hingga terjadi banjir besar. Kaum Nabi Nug AS berlarian mencari tempat tinggi, tetapi air bah tetap menenggelamkan mereka. Sedang pengikut Nabi Nuh AS bersama hewan bepasang-pasangan yang ikut menaiki perahu selamat.

Akhirnya orang-orang durhaka itu binasa, termasuk putra Nabi Nuh AS (Kan'an) yang tidak mau beriman kepada Allah SWT. Ketika air bah surut, Nabi Nuh AS dan pengikutnya mulai membangun kehidupan baru yang jauh dari kemusyrikan dan kesesatan. Nabi Nuh AS wafat pada usia 950 tahun.

Sumber: Buku Pengetahuan Islam Anak Muslim
Gambar : www.dirhamdelapan.com

Saturday, January 19, 2019

Pesan Indah dari Ustadz Arifin Ilham



Assalamu'alaikum..

Cerdasnya orang yang beriman adalah, dia yang mampu mengolah hidupnya yang sesaat & yang sekejap untuk hidup yang panjang. Hidup bukan untuk hidup, tetapi hidup untuk Yang Maha Hidup. Hidup bukan untuk mati, tapi mati itulah untuk hidup.

Kita jangan takut mati, jangan mencari mati, jangan lupakan mati, tapi rindukan mati. Karena, mati adalah pintu berjumpa dengan Allah SWT.

Mati bukanlah akhir cerita dalam hidup, tapi mati adalah awal
cerita sebenarnya, maka sambutlah kematian dengan penuh ketakwaan.

Hendaknya kita selalu menjaga tujuh sunnah Nabi setiap hari. Ketujuh sunnah Nabi SAW itu adalah:

●🌹 Pertama
Tahajjud karena kemuliaan seorang mukmin terletak pada tahajjudnya.

●🌹 Kedua,
Membaca Al-Qur’an sebelum terbit matahari. Alangkah baiknya sebelum mata melihat dunia, sebaiknya mata membaca Al-Qur’an terlebih dahulu dengan penuh pemahaman.
.
●🌹  Ketiga,
Jangan tinggalkan masjid terutama di waktu subuh. Sebelum melangkah kemana pun langkahkan kaki ke masjid, karena masjid merupakan pusat keberkahan, bukan karena panggilan muadzin tetapi panggilan Allah yang memanggil orang beriman untuk memakmurkan masjid Allah.
.
●🌹 Keempat,
Jaga Shalat Dhuha karena kunci rezeki terletak pada shalat dhuha
.
●🌹 Kelima,
Jaga sedekah setiap hari. Allah menyukai orang yang suka bersedekah, dan malaikat Allah selalu mendoakan kepada orang yang bersedekah setiap hari.
.
●🌹 Keenam
Jaga wudhu terus menerus karena Allah menyayangi hamba yang berwudhu.
Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, “Orang yang selalu berwudhu senantiasa ia akan merasa selalu shalat walau ia sedang tidak shalat, dan dijaga oleh malaikat dengan dua doa, "ampuni dosa dan sayangi dia Ya Allah”.
.
● 🌹 Ketujuh,
Amalkan istighfar setiap saat.
Dengan istighfar masalah yang terjadi karena dosa kita akan dijauhkan oleh Allah.

Tiga doa yang janganlah kau lupakan dalam sujud:

🌹1. Mintalah diwafatkan dalam keadaan husnul khotimah
Allahumma inni as'aluka husnal khotimah
Artinya : " Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah "

🌹2. Mintalah agar kita diberikan kesempatan Taubat sebelum wafat
Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut
Artinya: " Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat "

🌹3. Mintalah agar hati kita ditetapkan di atas Agamanya
Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi 'ala diinika
Artinya: "Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU "

Kemudian saya sampaikan, jika kau sebarkan perkataan ini & kau berniat baik maka kami doakan menjadikan kemudahan urusan urusanmu di dunia & akhirat.

Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah kau ketahui amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke syurga.

Kirim ini semampumu dan seikhlasmu kepada sesama Muslim, sampaikanlah walau hanya pada 1 orang.

Sumber tulisan : Grup WhatsApp
Sumber gambar : sujanews.com

Monday, January 14, 2019

Berbicaralah Sebagai Sesama Lelaki


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sesekali, ajaklah anak pergi. Berdua saja. Pergi sebagai sesama laki-laki dewasa; yang satu telah memikul tanggung-jawab sebagai seorang suami, ayah dan kepala keluarga, sementara yang satu adalah sosok pemuda. Ia harus mempersiapkan diri untuk mengemban tiga amanah tersebut dan pintu awalnya adalah kesiapan orientasi, selain tentu saja ilmu.
.
Ini bukan tentang jalan-jalan menikmati keindahan. Juga bukan tentang bersenang-senang. Apalagi hanya untuk urusan selfie di tepi pantai. Ini adalah tentang mengambil kesempatan untuk berbincang sejenak menata pikiran dan mengarahkan orientasi hidup, termasuk orientasi berkeluarga. Tetapi bukan berarti perjalanan menjadi garing, kaku karena sepanjang jalan hanya berisi nasehat.
.
Bukan. Bukan itu.
.
Kaidah dasar nasehat justru qalla wa dalla. Ringkas, padat, mudah dimengerti. Nasehat terbaik juga perlu disampaikan penuh kesabaran dan kasih-sayang. Maka ngobrol dan bincang akrab, membangun suasana menyenangkan, justru lebih penting. Di sela-sela itu, kita dapat mengambil waktu singkat untuk memberi nasehat sehingga lebih melekat dalam dirinya. Bukan sekedar berkelebat. In sya Allah.
.
Sebagian orangtua mengajak anak bepergian untuk menasehati dan mengoreksi kesalahan. Tetapi nasehat diberikan semenjak melangkah keluar rumah hingga tiba kembali. Judulnya jalan-jalan, tetapi isinya penjejalan. Maka anak pun merasakan kebosanan tiada tara sehingga lain waktu enggan diajak bepergian, bahkan meskipun ke tempat yang paling menyenangkan. Mereka tak tahan duduk berdekatan dengan emak atau bapaknya, meski sambil makan coklat. Sementara dengan temannya, mereka betah berlama-lama. Ini bukan karena mereka remaja, tetapi karena mereka telah merasakan pahitnya perjalanan dan komunikasi dengan orangtua.
.
Jadi, kapan jalan-jalan akrab dengan anak? Berdua saja. Ya, berdua saja.

Friday, January 11, 2019

Anak dengan Sindrom Tamu



"Salim.."

"Aduh nak kamu kok gitu sih...kamu kan tahu kalau mama sedang ada tamu. Jangan ganggu mama dulu dong nak. Masuk ke dalam dulu ya...".

Si anak bukan malah masuk ke dalam, justru tingkahnya semakin menjadi-jadi,

"Ma, aku boleh minta kuenya gak? ".

"Aduh...kamu ini...di dalam kan ada....sudah mama sediakan buat kamu".

"Tapi aku maunya yang ini ma...",sambil tangannya mengambil kue yang  di hidangkan.

Bunda ayah,
Pernah tidak bunda ayah merasa kesal sama si kecil karena berbagai polahnya justru pada saat bunda dan ayah kedatangan tamu? Ada yang ngelendotin bunda ayah sehingga susah untuk berkonsentrasi dalam obrolan. Ada yang ngambilin kue yang disajikan padahal di dalam sudah disediakan untuk dia. Ada yang merengek-rengek minta sesuatu seolah tidak bisa ditunda. Sampai terkadang bunda ayah harus menariknya ke dalam dan memberikan sedikit ancaman,

"Awas ya, sekali lagi kamu gangguin mama, mama gak akan beliin lagi coklat kesukaan kamu". 

Keluar juga akhirnya jurus pamungkas untuk mengakhiri perseteruan di ruang tamu. Si kecil terdiam dengan wajah tertekuk.

Aman...kita pun kembali ke ruang tamu dan meminta maaf,

"Maaf ya bu, anak saya itu kalau ada tamu memang suka aneh-aneh kelakuannya".

Si tamu pun menimpali, "...yah...emang gitu bu, namanya juga anak-anak. Di mana-mana sama, anak-anak di rumah juga gitu".

Hmm..senasib dong..

Mengubah Tamu Sindrom Menjadi Potensi Positif Bagi Anak

Bunda ayah,
Baik kita sedang menerima tamu, atau pun pada saat kita bertamu, kita sering mengalami peristiwa seperti ini. Terutama di kalangan keluarga muda yang memiliki anak relatif masih kecil-kecil. Tanpa sadar terkadang kita kehilangan kesempatan emas untuk mengubah sebuah suasana yang kita anggap menyebalkan ini menjadi kuatnya hubungan emosional kita dengan anak. Atau bahkan kesempatan untuk membangun kekuatan interaksi sosial anak dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Merupakan sebuah pemandangan yang menarik ketika Anas yang mendampingi Rasulullah SAW sejak ia berusia sepuluh tahun itu bercerita,

عَنْ أَنَسٍ  أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَزُورُ الأَنْصَارَ ، وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

Dari Anas, Rasulullah mengunjungi shahabat-shahabat Anshar, mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka.

Bunda ayah,
Anas menceritakan kepada kita sebuah peristiwa di mana saat itu Nabi Shalallahu'alaihi wasallam mengunjungi para shahabat Anshar. Yang sangat menarik adalah fokus cerita Anas itu bukan pada kunjungan Rasulullah  kepada para shahabat Anshar tapi ia justru menyoroti sebuah kejadian antara Rasulullah dengan anak- anak mereka.

وَيُسَلِّمُ عَلَى صِبْيَانِهِمْ ، وَيَمْسَحُ رُءُوسَهُمْ

"Mengucapkan salam kepada anak-anak  mereka dan mengusap-usap kepala mereka."

Ada yang Terlewatkan

Bunda Ayah,
Ada yang seringkali terlewatkan oleh kita ketika bertamu. Ketika kita mengunjungi sahabat atau kolega kita. Pada saat di sana kita temui ada anak-anak, kita sering melewatkan mereka. Fokus kita hanya kepada teman kita, hanya kepada urusan kita dan inilah pertanyaan kita kepada mereka, "Papanya ada dik ?". Bahkan salam dan sapaan sederhana pun sering tidak kita berikan kepada mereka.

Muhammad itu seorang Rasul, pemimpin tertinggi  kaum muslimin, begitu banyak urusan umat yang ia harus selesaikan. Tapi ketika ia bertamu ke para shahabat Anshar, urusan penting itu tidak membuat perhatian terhadapa anak-anak mereka terlewatkan. Mengucapkan salam kepada mereka dan memberik sentuhan usapan di kepala mereka bukanlah merupakan sesuatu yang membuang-buang waktu. Tapi Rasulullah tahu betul bahwa ucapan salam dan usapan itu akan memberikan efek dan kesan yang luar biasa terhadap mereka.

Bukankah dalam memberikan salam Rasulullah memberikan kepada kita sebuah kaidah,

يُسَلِّمُ الصَّغِيْرُ عَلَى الْكَبِيْرِ، وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيْلُ عَلَى الْكَثِيْرِ

“(Hendaklah) yang lebih muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan memberi salam kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh al-Bukhori, no. 6231).

"Yang muda memberi salam lebih dulu kepada yang tua". Untuk anak-anak ternyata Rasulullah tidak demikian, Rasulullah memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang sedang memberikan contoh dalam proses pembelajaran kepada mereka. Rasulullah pun mengucapkan salam lebih dulu kepada anak-anak Anshar yang ia temui. Lalu Rasulullah mengusap-usap kepala mereka. Abdulllah bin Ja'far bahkan sangat ingat jumlah bilangan usapan pada saat Rasulullah mengusap-usap kepalanya.

وعن عبد الله بن جعفر - رَضِيَ اللهُ عَنْهُما- قال: مسح رسول الله -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ- بيده على رأسي، قال: أظنه قال ثلاثاً، فلما مسح قال: (اللهم اخلف جعفراً في ولده).  أخرجه الحاكم في المستدرك،  وقال الذهبي: صحيح

Dari Abdullah bin Ja'far Radhiallahu'anhuma, Rasulullah shalallahu'alaihi wasallam mengusap rambutku dengan tangannya, lalu ia di tanya,"Berapa kali?", ia menjawab, "Tiga Kali". Setelah itu ia berdo'a, "Ya Allah! Tinggalkan (kebaikan-kebaikan) Ja`far pada anaknya (Abdillah)". (Di keluarkan oleh Al Hakim dalam mustadraknya, berkata Dzahabi Hadits ini Shohih.)

Inilah Kesempatan itu ?

Bunda ayah,
Ya..memang ada yang terlewatkan oleh kita pada saat kita bertamu atau menerima tamu. Sebuah perhatian dan sedikit sentuhan kepada anak.

Bunda ayah,
Sungguh Rasulullah memberikan contoh yang luar biasa. Ia datang, menyapa anak-anak lebih dahulu, mengucapkan salam kepada mereka, mengusap-usap kepala mereka. Setelah semua urusan itu selesai, baru Rasulullah berurusan dengan para Shahabatnya. Kenapa ketika kita kehadiran seorang tamu dan melihat anak kita mencoba mencari perhatian kita, tidak kita selesaikan dulu urusan mereka?

Bunda ayah,
Anak kita cuma ingin mengetahui siapa tamu bunda dan ayahnya. Ia ingin secuil perhatian. Akan lebih bijak ketika dia muncul kita memanggil dia, "Kemari nak....sini Mama kenalkan sama teman mama. Om tante....ini anak sholeh mau kenalan sama om dan tante...ayo nak...beri ucapan salam ..ke om Ilham dan tante Aisyah..".

Bukankah kita yang bertamu akan lebih menarik kalau menyapa mereka, "Subhanallah, Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakaatuh, wah...anak sholeh yang ganteng ini siapa namanya...sini nak salaman dulu dong....". Setelah bersalaman sambil mengusap kepalanya, "Nama mu siapa nak ? Udah sekolah belum..?"...dan seterusnya....

Bunda ayah,
Kalau itu yang kita lakukan pada saat kita bertamu atau menerima tamu, maka kita akan melihat sebuah efek yang sangat luar biasa....insya-Allah ia tidak akan mengganggu kita dan ia akan kembali asyik dengan aktivitasnya.

Bunda ayah,
Apa yang sudah kita ajarkan kepada mereka dalam sesi yang sangat singkat ?
Kita telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan menghormati tamu
Kita pun telah mengajarkan kepada mereka tentang keutamaan mengucapkan salam
Kita juga telah mengajarkan kepada mereka untuk berani berinteraksi dengan orang dewasa dan itu sangat membangun kepercayaan diri mereka.

Dan kita pun menjadi tidak terganggu selama bertamu atau menerima tamu. Subhanallah, semakin terasa bagi kita kemulian seorang Muhammad.

Sumber : Grup Parenting Islami

Wednesday, January 9, 2019

Cara Membuat Anak Bisa Mendengarkan Kita



Tak mudah membuat anak-anak mendengarkan permintaan atau larangan dari orangtuanya. Terlebih lagi, kebanyakan anak bahkan lebih keras kepala dibandingkan orangtuanya.

Lantas, bagaimana caranya agar anak-anak mau mendengarkan kita. Orang tua atau gurunya?

1. Jangan berteriak
Tak perlu berteriak dan memaksa anak untuk mendengarkan Anda, (meskipun mereka harus melakukannya). Berteriak pada anak hanya akan membuat mereka khawatir, lebih agresif, dan menjadi lebih keras kepala dengan cara mereka. Lepaskan ketegangan Anda dan bicaralah dengan tenang agar mereka pun juga tenang menanggapinya.

2. Lebih ekspresif
Berusahalah untuk bersikap lebih terbuka dan ekspresif. Dengan demikian, anak-anak lebih mengerti maksud dan cara pengasuhan yang kita terapkan. Gunakan sentuhan agar anak lebih mendengarkan, misalnya daripada hanya memerintahkan anak untuk membereskan mainannya, sentuhlah pundaknya atau usap kepalanya, lalu sampaikan permintaan kita dengan jelas.

3. Jangan membanding-bandingkan
Jangan pernah melakukan hal ini. Kita harus memahami bahwa setiap anak memiliki kepribadian dan kemampuan yang berbeda-beda. Ini termasuk soal mau mendengarkan orangtua atau tidak. Membanding-bandingkan orang yang satu dengan yang lain adalah hal yang sangat menyakitkan untuk anak.

4. Gunakan perintah sederhana
Kesalahan utama orangtua saat bicara dengan anaknya adalah memulainya dengan kalimat yang bertele-tele. Ketika meminta mereka mendengarkan ucapan kita, pastikan untuk memakai kalimat yang sederhana sehingga mereka mengerti inti dari ucapan kita.

5. Bersikaplah seperti teman seusianya
Jika kita ingin si kecil mendengarkan ucapan kita, maka satu-satunya jalan adalah mengerti jalan pikiran mereka. Ingat bahwa anak-anak sangat mudah terpengaruh oleh teman-teman sebayanya. Oleh karenanya, menjadi "teman sebayanya" dan berpikir dengan logika anak adalah cara yang paling baik untuk berkomunikasi.

6. Gantilah kata-kata "tidak" dan "jangan" dengan kata-kata lain yang lebih halus
Misalnya, saat si kecil merengek minta mainan, kita bisa menolaknya dengan cara yang lebih halus. "Kemarin kakak baru dibelikan mobil-mobilan, jadi kita tunda membeli yang baru ya."

7. Berikan fakta
Jangan pernah melarang anak tanpa alasan yang tepat. Sekalipun masih kecil, mereka tetap bisa berpikir dan tak suka dilarang tanpa alasan jelas. Berikan mereka fakta-fakta mengapa kita melarang mereka.

8. Puji mereka
Tak selamanya anak selalu melakukan hal-hal yang salah. Mereka juga pasti sering melakukan hal yang baik. Ketika mereka melakukan hal-hal yang baik, jangan ragu untuk memuji mereka. Ini juga akan memudahkan jalinan komunikasi di antara kita dan anak.

9. Dengarkan mereka.
Hubungan timbal balik. Jangan hanya minta didengarkan, sebaliknya dengarkan keinginan mereka juga.

Penulis : Christina Andhika Setyanti
Sumber : Grup WA Parenting Islami

Saturday, January 5, 2019

Pondok Ban Tan dan Surin Pitsuwan


Oleh: Anies Baswedan

Ya Nabi salam alaika…
Ya Rasul salam alaika…
Ya habibie salam alaika…
Shalawatullah alaika…

Sekitar seribu anak-anak menghampar di lapang rumput depan pondok. Lautan kerudung dan peci putih, melafalkan shalawat, khusuk dan menggema.

Suasana pondok Pesantren Ban Tan malam ini terasa unik. Pondok kecil ini dibangun di pedalaman Thailand Selatan. Untuk mencapainya, kita harus terbang dari Bangkok, jaraknya sekitar 750 km ke kota kecil Nakhon Si Thammarat, lalu dari airport yang kecil itu, naik mobil kira-kira satu jam ke pedalaman.

Masuk di tengah-tengah desa-desa dan perkampungan umat Budha, di situ berdiri Pondok Ban Tan. Dibangun awal abad lalu dengan beberapa orang murid. Niatnya sederhana, menjaga aqidah umat Islam yang tersebar di kampung-kampung yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Melihat wajah anak-anak pondok, seperti kita sedang menatap masa depan. Anak-anak yang dititipkan orang tuanya untuk sekolah ke Pondok, untuk menjaga sejarah kehadiran Islam di kerajaan Budha ini. Di propinsi ini mereka berdampingan dengan damai. Sebuah tradisi yang harus dijaga terus.

Malam ini, setelah berliku perjalanannya, seakan jadi salah satu kegiatan puncak untuk keluarga pengasuh pondok ini.

Di awal tahun 1967 terjadi perdebatan panjang di antara para guru di Pondok ini. Anak tertua Haji Ismail, pemimpin pondok ini, jadi bahan perdebatan. Anak usia 17 tahun itu memenangkan beasiswa AFS untuk sekolah SMA setahun di Amerika Serikat. Pondok Ban Tan seakan goyah.

Tak terbayangkan bagi mereka, dari perkampungan Muslim yang kecil, jauh dari keramaian, dan di pedalaman Thailand di tahun 1960-an, cucu tertua pendiri Pondok akan dikirimkan ke Amerika. Umumnya santri-santri cerdas dikirim melanjutkan sekolah ke Jawa atau Kedah atau Kelantan; jika ada dana mereka akan dikirim ke Makkah atau Mesir. Tapi Amerika?
Tidak pernah terlintas di benak mereka akan mengirim santri belajar ke Amerika. Saat itu para guru di pondok terpecah pandangannya: separuh takut anak ini akan berubah bila dikirim ke negeri kufar (istilah yang digunakan dalam perdebatan itu), mereka tidak ingin kehilangan anak cerdas itu.

Setelah perdebatan panjang, Si Kakek, pendiri Pondok itu, mengatakan, “Saya sudah didik cucu saya ini, saya percaya dia istiqomah dan saya ikhlas jika dia berangkat”.

Ruang musyawarah di pondok itu jadi senyap. Tidak ada yang berani melawan fatwa Sang Guru. Haji Ismail, sang ayah, mengangguk setuju. Tidak lama kemudian berangkatlah anak muda tadi ke Amerika.

Tahun demi tahun lewat. Dan dugaan guru-guru Pondok itu terjadi: anak itu tidak pernah kembali jadi guru pondok. Dia tidak meneruskan mengelola warisan kakek dan ayahnya itu. Dia pergi jauh. Anak muda itu terlempar ke orbit lain.

Malam ini anak yang dulu diperdebatkan itu pulang. Dia pulang bukan sebagai orang asing, dia pulang membawa kebanggaan untuk seluruh keluarga, seluruh pondok dan seluruh rakyat di propinsi kecil ini.

Dia pulang sebagai Sekretaris Jenderal ASEAN. Pondok Ban Tan jadi terkenal, kampung halaman jadi perhatian dunia. Sebelumnya dia adalah menteri luar negeri Thailand, muslim pertama yang jadi Menteri Luar Negeri (Menlu) di Negara berpenduduk mayoritas Budha.

Namanya dikenal oleh dunia sebagai Surin Pitsuwan; di kampungnya dia dikenal sebagai Abdul Halim bin Ismail. Malam ini Surin pulang kampung membawa teman dan koleganya. Sekarang seluruh bangunan Pondok ini nampak megah. Setiap bangunan adalah dukungan dari berbagai negara.

Anak ini pulang dengan membawa dukungan dunia untuk Pondok mungil di pedalaman ini. Semua adiknya menjadi guru, meneruskan tradisi dakwah di kampung halamannya.

Saya menyaksikan bahwa sesungguhnya, Surin selalu “hadir” di sini, dia membawa dunia. Dia menjadi jembatan lintas peradaban, dia jadi duta Muslim Thailand di dunia.

Dia tidak pernah hilang seperti ditakutkan guru-gurunya. Dia masih persis seperti kata kakeknya. Ketika bertemu pertama kali dengan Surin tahun 2006 yang lalu di Hanoi, tutur kata dan pikirannya seakan mengatakan:isyhadu bi ana muslimin.

Ramadhan kemarin, saat kami makan malam – Ifthar bersama – di Bangkok, Surin cerita tentang ASEAN Muslim Research Organization Network (AMRON) conference di Walailak University dan ingin mengundang saya ke pondoknya awal Oktober.

Saya jawab tidak bisa karena ada rencana acara di Bandung. Sesudah itu, dia kirim beberapa SMS meyakinkan bahwa ke “Ban-Tan” lebih utama daripada ke “Ban-Dung”.

Saat duduk di Masjid Al-Khalid, bersama ratusan santri, bersyukur rasanya saya mengubah jadwal, dari ke Bandung jadi berangkat ke Ban Tan. Saya sholat Isya’ berjamaah duduk di samping Surin, selesai sholat ratusan tangan mengulur, semua berebut salaman dengannya.

Wajah takjub santri-santri itu tidak bisa disembunyikan, mereka semua seakan ingin bisa seperti Surin. Dia seakan jadi visualisasi nyata, dari mimpi-mimpi para santri di kampung kecil di pedalaman Thailand.

Malam itu, di pelataran Pondok Ban Tan dibuatkan panggung untuk menyambut. Santri-santri bergantian naik panggung. Mereka ragakan kemahiran bercakap Melayu, Inggris, dan Arab. Sebagai puncak acara mereka tampilkan Leke Hulu (Dzikir Hulu). Tradisi tarikat yang sudah dijadikan seni panggung. Seluruh santri ikut berdzikir, gemuruhnya menggetarkan dada.
Besok paginya Syaikhul Islam Thailand, pemimpin Muslim tertinggi di Thailand khusus datang dari Songklah, kota di sisi selatan, untuk sarapan pagi bersama di pondoknya. Kami ngobrol panjang dan saya tanya asal keturunannya, karena garis wajahnya berbeda; dia jawab kakeknya dari Sumatera, tapi dia keturunan Hadramauth.

Hari itu saya bersyukur. Saya katakan itu pada Surin bahwa ini perjalanan luar biasa. Tapi dia belum puas, Surin panggil salah satu alumni pondoknya (seorang doktor ilmu managemen) untuk antarkan saya ke Masjid di kampung-kampung pesisir pantai untuk dikenalkan dengan Ustadz keturunan Minang.

Setelah melewati kampung-kampung dan pasar yang sangat-sangat sederhana, saya sampai di rumahnya yang sangat sederhana, di belakang Madrasah yg dipimpinnya. Kami berdiskusi tentang suasana di sini, tentang Minang, dan tentang kemajuan.

Lalu dia ambil bingkai-bingkai dari lemari, dia tunjukkan beberapa foto-foto orangtuanya, ayahnya dipaksa hijrah dari Maninjau di Ranah Minang karena perlawanan pada Belanda. Kira-kira 90 tahun yang lalu, dia sampai di Thailand Selatan dan jadi guru agama.

Mengagumkan, anak-anak muda pemberani memang selalu jadi pilar kokohnya Dienul Islam. Mereka hadir dan hidup berdampingan penuh kedamaian.

Lengkap sudah perjalanan kali ini. Dalam satu rotasi ditemukan dengan komunitas yang kontras. Di Kuala Lumpur, berdialog dengan kalangan bisnis dan politik dalam ASEAN 100 Leadership Forum dengan suasana megah, di Thailand Selatan berdialog dengan kaum Muslim minoritas dengan suasana sederhana, sangat bersahaja.

Sekali lagi kita ditunjukkan betapa hebatnya efek pendidikan. Beri fondasi aqidah, bekali dengan modal akhlaqul karimah, lalu biarkan anak muda terbang mencari ilmu, membangun jaringan, merajut masa depan.

Anak muda tidak takut menyongsong masa depan. Kelak ia akan pulang, menjawab doa ibunya, menjawab doa ayahnya dengan membawa ilmu, membawa manfaat bagi kampung halamannya, bagi negerinya dan bagi umatnya.

Di airport kami berpisah. Saya pulang kampung ke Jakarta dan Surin berangkat ke Brussel, memimpin delegasi para kepala pemerintahan ASEAN dalam ASEAN-European Summit.
Hari ini anak yang dulu ditakutkan hilang itu akan memimpin delegasi pemimpin se-Asia Tenggara. Dan pada hari ini juga Ibunya masih tetap tinggal di pondok Ban Tan, sekitar 90 tahun, tetap mendoakan anaknya seperti saat melepasnya berangkat sekolah SMA ke Amerika dulu.

Barakallahu lakum

Sumber gambar : wikipedia.org