Monday, July 15, 2019

Tugas Langit = Amal Shalih Yang Allah Ridhai


By. Ust. Harry Santosa

Kita hadir di dunia bukanlah kebetulan, namun ada Tugas Langit yang harus kita temukan dan tuntaskan selama di dunia. Sesungguhnya bukan hanya manusia biasa, para Nabi alaihumusalaam pun termasuk Nabi Muhammad SAW mendapatkan Tugas Langitnya masing masing yaitu Misi Kenabian.

Bagaimana jika kita gagal menemukan dan menyelesaikan Tugas Langit kita? Itu menurut arRumi, ibarat seorang Raja menyuruh kita ke sebuah negeri dengan membawa Tugas, lalu di negeri itu kita melakukan seratus pekerjaan namun melupakan Tugas dari Raja, maka dipastikan ketika kembali kepada Raja itu, kemungkinan besar kita akan terkena murka.

Begitupula Allah SWT, menghadirkan kita ke dunia bukan kebetulan, tetapi dengan membawa tugas langit untuk ditemukan dan dituntaskan selama hidup di dunia. Bisa jadi amal shalih kita banyak, namun itu bukan amal shalih yang Allah tugaskan sehingga Allah menjadi tidak ridha.

Pandangan ini berlaku untuk diri kita dalam menjalani kehidupan, juga dalam mendidik anak-anak kita agar mengantarkan diri mereka untuk menjemput tugas langitnya atau misi hidupnya atau dalam fitrah based education disebut dengan menjemput takdir peran peradabannya sesuai fitrahnya.

Karenanya kita semua, meminta minimal 17 kali dalam sehari, jalan yang lurus (shirothol mustaqiem), para mufasir mengatakan sebagai jalan yang cepat dan lapang untuk menuju Allah SWT. Maka mari temukan tugas langit ini, dan jangan pernah kembali ke Allah tanpa menunaikan Tugas Langit ini.

Amal Shalih yang Berlainan

Ada dalam alQuran, QS alFathir ayat 47, digambarkan bahwa ada penghuni neraka berteriak meminta kembali ke dunia untuk melakukan "Amal Shalih yang berlainan" dengan yang pernah dilakukan selama di dunia.

Ini tersirat bahwa selama di dunia mereka beramal shalih namun bukan amal shalih yang Allah maksudkan atau yang berlainan dari tugas yang ditentukan baginya.

Lalu Allah mengatakan, bukankah telah diberikan waktu yang cukup selama di dunia. Para mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "waktu yang cukup" adalah usia 40 tahun.

Batas Akhir, Usia 40 tahun

Mengapa 40 tahun? Karena Rasulullah SAW mengatakan bahwa usia ummatku berkisar antara 60 dan 70 tahun. Dengan demikian pada usia 40 tahun hidup kita tinggal sepertiga lagi sisanya. Melewati usia 40 tahun, kegalauan seolah mereda tetapi sebenarnya tidak, mereka  menjalani kehidupan hanya rutinitas menunggu kematian, di bawah permukaan sesungguhnya semakin tak bahagia dan tak menentu orientasinya. Sepertiga akhir kehidupan Mukmin seharusnya adalah pacuan amal eksponensial menuju syurganya dengan tugas langitnya itu.

Itulah mengapa kegalauan terjadi pada rentang usia sebelum 40 tahun, sebagai cara Allah berbicara kepada kita, untuk segera memaknai kehidupan dan menemukan amal shalih yang Allah ridhai atau Misi Hidup, dan puncak kegalauannya terjadi pada jelang usia 40 tahun.

Amal Shalih yang Allah Ridhai

Karenanya rentang menemukan Tugas Langit atau Misi Hidup dimulai pada usia 15, lalu usia 40 tahun sebagai batas akhirnya.

AlQuran berbicara tentang usia 40 tahun di QS alAhqaf 46 ayat 15, Allah SWT berwasiat kepada kita untuk berbuat baik pada kedua orangtua, lalu menyuruh kita berdoa meminta dibimbing, dikuatkan, dimotivasi, didorong dan seterusnya untuk melakukan 3 hal, mensyukuri nikmat pada diri dan orangtua, meminta amal shalih yang Allah ridhai, dan memperbaiki diri untuk keturunan kita.

Sampai disini kita bisa memahami bahwa Amal Shalih yang Allah ridhai sesungguhnya adalah tugas langit kita atau misi hidup kita.

Lalu Apa Ukurannya bahwa kita telah menemukan Tugas Langit kita sebagai Amal Shalih yang Allah Ridhai?

Ukurannya adalah kepuasan jiwa atau jiwa yang mencapai ketenangan (Ithminan) karena menjadikan orientasi seluruh amalnya untuk langit, untuk menyeru kebenaran, untuk menolong agama Allah, untuk memberi manfaat sebesar besar bagi ummat dengan semua kompetensi dan aset (jiwa dan harta) yang kita miliki, bukan cuma untuk mencari uang dan mengejar kesenangan sesaat.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴿٢٧﴾ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴿٢٨﴾فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! [QS Al-Fajr 89:27-30]

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Sumber : Kulgram Milenial Parenting

Thursday, July 4, 2019

Mengenal Pendidikan Berbasis Fitrah - Ustadz Harry Santosa


Introduction of Fitrah based Education

Oleh : Ustadz Harry Santosa

Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi mani bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh dan seterusnya lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahiem dan menjadi sempurna. Kemudian ketika sempurna itulah ditiupkan ruh oleh Allah SWT. Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs).

Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian wa asyhadhum anfusihim, "alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna, bukankah Aku Robb kalian? benar ya Allah, kami bersaksi (QS 7:172)

Inilah peristiwa persaksian atau syahadah Rubbubiyatullah di alam rahiem atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah keimanan.  Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan inner guidance yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal-hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah.

Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih atau kosongan atau tabula rasa seperti pendapat John Locke, namun manusia telah di-install berbagai kebaikan bawaan (innate goodness) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci maksudnya bukan tanpa potensi, justru manusia lahir membawa berbagai potensi kebaikan.

Maka kita diminta utk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya.
tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS 30:30)

Konsep dan keyakinan bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah ini sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap pada diri kita, anak-anak kita, maupun masyarakat manusia secara keseluruhan.

Misalnya, pandangan bahwa anak lahir seperti kertas kosong, akan membuat kita berusaha menjejalkan berbagai hal kepada anak-anak kita. Begitupula pandangan bahwa anak lahir dengan membawa dosa atau keburukan, akan membuat kita pesimis dan serba cemas.

Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar rileks dan optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan berupa fitrah, jangan banyak intervensi, jangan banyak menjejalkan (too much teaching), jangan lebay namun jangan lalai.

Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (al-Hadits)

Perhatikan bahwa Nabi SAW tidak mengatakan orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Islam, karena sejak lahir anak-anak kita sudah Islam, sudah membawa kebaikan, tak perlu lebay dan lalai. Sementara untuk menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi perlu upaya dan program.

Ibarat membeli Gadget, sudah diinstal OS dan aplikasi-aplikasi yang baik, tinggal diaktivasi saja, tak perlu dan jangan banyak mengisi atau meng-install aplikasi yang aneh-aneh, nanti hang atau kena virus dan sebagainya.

Seorang Ulama mengatakan dalam bukunya:
Allahlah sesungguhnya Murobby (pendidik) sejati bagi anak anak kita, karena Allahlah alKholiq, Sang Pencipta, yang telah menciptakan manusia dengan membawa fitrah fitrahnya. Allah jualah yang telah menyediakan jalan agar fitrah itu tumbuh berkembang sesuai tahapannya. Dan Allah jualah yang menetapkan Syariah atau Kitabullah, untuk memandu fitrah itu agar tumbuh indah, sempurna dan berbahagia. Maka Wahai pendidik, wahai orangtua, jangan lebay dan jangan lalai, ikuti saja fitrah itu (just follow the fitrah), pandulah dengan Kitabullah maka ia akan menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Jadi mendidik fitrah itu bukan mengikuti maunya negara (ijasah, UN dll), atau mengikuti maunya orangtua (obsesi), namun mengikuti maunya Allah.

Fitrah itu ibarat benih, kita adalah petaninya, yang tidak boleh tergesa, rusuh, menggegas, semaunya dll tetapi mengikuti agenda dan kurikulum Allah, yaitu syukur dan shabar mengobservasi pola tumbuh kembangnya, pola keunikannya, membersamai dari hari ke hari, menerimanya apa adanya dengan penuh cinta dan telaten dan seterusnya, sehingga benih itu tumbuh menjadi pohon yang baik, yang akarnya menghunjam ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke langit, daunnya rimbun meneduhkan siapapun di bawahnya, bunga dan buahnya lebat sehingga menjadi berkah dan rahmat bagi semesta.

Banyak orangtua hari ini yang gagal paham tentang fitrah, mereka tidak mensyukuri fitrah sehingga banyak gelisah, galau obsesif, banding-bandingin anak dengan anak lain, tidak sabaran, tergesa ingin anak segera sholeh dengan menggegas sesuatu yang belum saatnya dan tak sesuai fitrahnya.

Bayangkan apabila benih baru meretas menjadi pohon yang kecil dengan beberapa helai daun, akar dan batangnya masih lemah dan rentah, lalu ingin segera berbuah, disiram dan dipupuk banyak-banyak, maka sudah pasti akarnya akan membusuk dan mati.

Begitupula para orangtua hari ini, banyak merusak fitrah anak anaknya karena obsesi ingin mencetak anak sholeh semaunya dengan target-target yang menggegas tanpa melihat pola keunikan fitrah anak termasuk fitrah perkembangannya walhasil kita jumpai berbagai penyimpangan fitrah seperti malas sholat, tak bergairah pada agamanya walau mampu hafal ilmu agama, tak bergairah pada ilmu tak punya aktifitas produktif atas bakatnya, melambai atau tomboy bahkan gejala LGBT, peragu atau egois, mager alias males gerak, suka membully atau mudah dibully dan seterusnya.

Maka sesungguhnya mendidik fitrah itu bukan banyak menjejalkan, drilling, membiasakan mekanistik, over stimulus, over conditioning dan lain-lain ( outside in ), tetapi lebih banyak membangkitkan, menumbuhkan, menyadarkan, mempesonakan, menggairahkan (inside out)

Pendidikan berbasis fitrah misinya adalah mengantarkan anak anak kita generasi peradaban (jailul hadhoriyah) dari fitrahnya kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) terbaiknya dengan semulia mulia adab.

Bagaimana Mendidik sesuai Fitrah
1. Lakukan Tazkiyatunnafs (mu'ahadah, muroqobah, muhasabah, muaqobah, mujahadah)
2. Bangun Keyakinan
3. Pahami Framework FBE
4. Pahami teknik merancang kegiatan sesuai fitrah
5. Pahami teknik Observasi Fitrah dan membuat jurnal kegiatan/portfolio anak
6. Mulai dari kegiatan yang sederhana sehari hari namun dirancang.
7. Temukan bahagia dan meminta banyak pertolongan kepada Allah ketika menjalankannya

Membangun Keyakinan
1. Yakinlah, bahwa setiap anak sudah membawa kebaikan berupa fitrahnya, sehingga tugas kita bukan banyak mengajarkan atau banyak intervensi yang melelahkan, namun lebih banyak membersamai

2. Yakinlah, jika mensyukuri fitrah, maka Allah akan permudah segalanya. Jika ingin shabar dalam mendidik, banyaklah mensyukuri fitrah ananda

3. Yakinlah Allah tidak pasif tetapi aktif, Dia tegak berdiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Mintalah kepada Allah agar senantiasa membantu kita menumbuhkan fitrah ananda

4. Yakinlah bahwa dalam diri Ayah Bunda juga ada fitrah, yang Allah juga instal agar menjadi ayah dan ibu yang baik. Maka sambutlah fitrah keayahbundaan kita.

5. Yakinlah bahwa dengan menumbuhkan fitrah anak-anak kita, maka fitrah kita juga akan tumbuh indah paripurna.

6. Yakinlah bahwa setiap anak sudah punya jalan fitrahnya masing masing, optimislah dan rilekslah, tak perlu lebay, lalai, panik apalagi galau. Allah akan sediakan jalannya, sepanjang kita senantiasa mengikuti fitrah anak-anak kita.

7. Yakinlah, tiada anak yang nakal dan jahat, karena fitrah itu kebaikan semata. Kenakalan sesungguhnya adalah jeritan hati krn ada fitrah yg terhambat atau potensi fitrah yang belum nampak buahnya.

8. Yakinlah bahwa jika ananda tumbuh fitrahnya dengan baik sehingga menjadi peran peradaban maka Allah akan curahkan rezekinya.

9. Yakinlah, ananda akan mudah menerima Kitabullah apabila fitrahnya tumbuh baik. Ibnu Taimiyah menyebut fitrah dalam diri manusia sebagai fitrah algharizah sementara beliau menyebut Kitabullah sebagai fitrah almunzalah. Artinya, fitrah dan kitabullah keduanya cahaya dari Allah sehingga compatible.

10. Yakinlah bahwa jika tahapannya benar, maka buahnya dan adabnya juga benar

deraskan maknamu
bukan tinggikan suara
karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
bukan petir dan guruhnya

Semoga bermanfaat.
Jazakumullah atas perhatiannya, mohon maaf jika ada tulisan yang tak berkenan.

Sumber : Ringkasan Kulgram Milenial Parenting (dengan beberapa penyesuaian)

Wednesday, July 3, 2019

CV Ustadz Harry Santosa


Identitas Diri:
Nama : Harry Santosa, S.Si.
TTL : Jakarta, 18 January 1969 M / 10 Syawal 1388H
Status : Ayah dari 5 anak, suami dari 1 istri
Suku : Sunda Ciamis

Bidang:
Integrator pemikiran pendidikan
Knowledge Management expert consultant
Program Management expert consultant
Penulis Buku Fitrah based Education dan Fitrah based Life

Aktifitas terkait pendidikan:
Founder dan research Fitrah based Family Life Coaching - 2018 - sekarang
Pembicara dan fasilitator Workshop FBE 2014 - sekarang
Co founder dan SME HEbAT Community 2014
Perintis Perkuliahan FBE 2012 - sekarang
Dewan Penasehat Save Street Child 2014
Konsultan Pertamina Soccer School 2011
Pendiri Millennial Learning Center 2009
Trainer Knowledge Management for Edu 2009 - 2010
Pendiri Sekolah Alam Depok 2004
Pendiri Aulade Kids Center 2001
Komunitas Sekolah Alam Ciganjur 2000
Ketua Bintal TPKK 1999 - 2004
Dosen tamu dan tak tetap di berbagai PT 1990 - 2014
Ketua bidang Pendidikan Yayasan Bina Anak Indonesi 2005
Ketua Senat Mahasiswa FMIPA UI Bidang Riset dan Pendidikan 1991
Pengajar Matematika Bimbel Nurul Fikir 1988 - 1998

Monday, July 1, 2019

Paket Combo


Sebagai orang tua di dunia yang serba tergesa-gesa dan instant, orang tua cenderung menyukai paket 'combo'.
Semua sekaligus. Ajak satu, ajak semua. Sekalian beres. Keluar sekeluarga, pilih tempat makan bareng, belanja sebentar. Sudah.

Combo

Padahal kita tahu, setiap anak adalah pertemuan unik antara satu sel telur yang mempunyai gen tertentu dan sperma yang khas. Oleh sebab itu, terciptalah seorang anak, yang walau kembar sekalipun, distinktif. Berbeda. Mempunyai keunikan masing-masing. Hal tersebut, bukan melulu perlu dihapuskan dengan membandingkannya dengan saudaranya yang lain; tuh lihat! Kakak aja, waktu seusiamu, sudah bisa puasa sampai sore. Adik sudah tidak nangis lagi, dsb.

Tapi justru, keunikan dan keisitimewaan tersebut perlu sesekali di 'highlight', dihargai. Caranya?

Waduh, gak akan mudah ya. Terutama buat ibu yang beranak 3 atau lebih. Full time mom, yang sedang mengais-ngais waktu untuk bisa 'me-time' barang 30 menit aja.

Tapi kan gak ada yang gak mungkin?
Bisa kalau kita mau. Iya kan?

Cara simple, ajaklah masing-masing anak dating sendiri-sendiri dengan masing-masing orang tua.

Wah..Kapan waktunya? Berapa biayanya?

Percayalah, ada waktunya, dan gak besar biayanya. Coba dulu, kalau sudah coba, kan baru tahu?

Terkadang, ketika sudah pergi berdua saja sama anak itu, baru kita tahu, ternyata kita juga sangaat teramat menikmatinya! Bahkan bisa menjadi me-time yang sangat berkualitas. Karena kita gak harus melayani semua anak. Hanya kita dan dia. Daann, ternyata, bahagia itu sederhana. Sesederhana makan es krim cone yang ada di salah satu fastfood ternama di mall terdekat.

Ada juga 'discovery' bahwa ada anak yang suka makannya nyicil-nyicil, takut makanan yang enak habis, walau sudah kita persilahkan pesan lagi. Ada juga anak yang ternyata suka mencampur antara makan ikan dan sesuap oreo es krim kesukaannya. Salah? gak kan? Kita aja yang gregetan lihatnya.

Itulah tujuannya mengajak masing masing anak dating berdua saja. Pastikan Ada waktu berdua sama ibunya aja, dan ayahnya saja. Tentunya semuanya gak mesti di satu weekend, tapi bisa dibagi-bagi...

Then what?

Enjoy the uniqueness of each and every child

-Wina Risman-

Saturday, June 29, 2019

Rasulullah dan Anak-anak


Jika kita ingin mencari teladan bagaimana menghadapi anak-anak, maka jawabannya adalah Rasulullah. Beliau adalah sebaik-baiknya teladan manusia, tak kecuali sebagai teladan dalam berhadapan dengan anak-anak. Rasulullah merupakan panutan paling utama ketika menghadapi dan berinteraksi dengan anak-anak.

Rasulullah, dalam interaksinya dengan anak-anak selalu mencontohkan kesabaran dan tidak mudah marah. Maka, malulah kita jika dalam menghadapi anak-anak sering tidak sabar sedangkan Rasulullah tidaklah mencontohkan demikian.

Rasulullah sangat menyayangi anak kecil dan menghargainya sebagai individu yang memiliki hati. Hal inilah yang menjadikan Rasulullah sangat mengedepankan sikap lemah lembut dan sabar jika berhadapan dengan anak-anak. Sikap lemah lembut adalah fondasi utama yang diperlukan saat mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Dalam mendidik anak, tentu kita memahami bahwa anak-anak memiliki karakter, pola pikir dan keunikan yang berbeda dengan kita, orang tua. Meskipun demikian, terkadang tingkah polah anak-anak sering kali menguji kesabaran, menguras emosi dan energi kita yang jika tidak dihadapi dengan tenang dapat mendatangkan amarah.

Rasulullah sendiri telah mencontohkan kepada kita bagaimana memahami anak dan kepolosan mereka dalam memandang dunia ini. Diriwayatkan dari Syaddad Ra, bahwa suatu ketika Rasulullah datang ke Masjid untuk shalat Isya, Dzuhur, atau Ashar sambil membawa salah satu cucunya, Hasan atau Husein. Lalu, Rasulullah maju ke depan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya kemudian Rasulullah memulai shalat dengan mengucap takbiratul ihram. Ketika sujud, Rasulullah bersujud sangat lama dan tidak seperti biasanya, maka Syaddad Ra diam-diam mengangkat kepalanya untuk melihat kejadian itu.

Syaddad Ra pun kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, "Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau baginda sedang menerima Wahyu."

Rasulullah menjawab, "Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, tadi cucuku mengendaraiku, dan aku tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya."

(HR. Nasa'i dan Hakim)

By : Enny Star
Sumber : ISLAMIC MONTESSORI, Zahra Zahira, 2019

Wednesday, June 26, 2019

Kumpulan Quote Parenting #1


"Ketika aku melampiaskan amarah pada anak-anak, aku khawatir itu yang terakhir mereka ingat."

Ustadz Felix Siauw

Pendidikan Anak di Tangan Orang Tua


"Kamu nggak wajib pintar nak, tapi kamu wajib punya akhlak dan adab untuk hidupmu"

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kami-lah yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Jaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada

#mutiaraqolbu

Sumber : catatanamanda.com

Tuesday, June 25, 2019

Ayah dan Raport Anak

Akhir pekan ini ada satu event penting di seluruh Indonesia yaitu pembagian laporan pendidikan anak (raport). Beberapa tahun lalu sebuah foto viral di medsos menggambarkan seorang ayah, yang juga menjabat sebagai gubernur waktu itu mengambil raport anaknya sendiri di sebuah SMA negeri. Saya tidak akan membahas latar belakang gubernur yang saya hormati tersebut apalagi dari sisi politik, bukan pula kerelaan bapak gubernur tersebut untuk antri mengambil raport, tetapi ketika saya perhatikan foto pembagian raport tersebut, sangat memprihatinkan bahwa pak gubernur adalah satu-satunya bapak-bapak di antara ibu-ibu yang antri ambil raport .

Walaupun mungkin foto kegiatan pak gubernur tidak bisa di generalisir tapi paling tidak pemandangan seperti itu lazim terlihat di banyak sekolah di Indonesia, kemana bapak-bapak yang lain? Kurang pentingkah laporan pendidikan anak-anak? Guru-guru sudah mendidik anak-anak setiap hari kerja sepanjang semester, tidak kah seharusnya bapak-bapak sebagai kepala keluarga yang diamanahi Allah untuk paling tidak hadir dua kali setahun?

Saya teringat cerita seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal yaitu Umar bin Abdil Aziz, yang secara nasab adalah cucu Umar Ibn Khattab Radhiyallahu anhu, yang sangat memeperhatikan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya, sehingga di samping meluangkan waktunya untuk langsung mendidik anak-anaknya setiap hari beliau juga secara constant berkomunikasi dengan pengajar anak-anak nya.

Sebagaimana sudah dicontohkan dengan baik di atas, insya Allah bapak-bapak yang tidak sempat mengambil raportnya semester ini, bisa menyempatkan diri semester atau bahkan caturwulan depan.

@faisalsundani

#Fatherhood #TarbiyahPubertas

Sumber : Fb Grup Parenting with Rumah Keluarga Risma

Thursday, June 20, 2019

Hikmah di Balik Pendidikan Orang Tua kepada Anak


Seorang anak tidak suka tinggal di rumah, karena Ayah dan Ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila Ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini. . .

"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."

“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton.

“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja. . .

“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tidak akan ada lagi omelan Ibu dan Ayah," begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, Ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri. . .” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara.

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, grendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel. Dia geser grendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tidak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area Resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan Ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang". Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tidak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"

Dia terkejut dan berpikir, "Apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?" Dia bingung.

"Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang Boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini."
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat  grendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "Selamat Datang" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu.

Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”

Hatinya terharu, dia ingat Ayahnya. Dia yang selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan Ibu dan Ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yang ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahan pada Ayahnya seketika sirna.

"Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang Manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini."

Ayah, ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kepada Ayahnya, dia akan ajak Ayahnya melihat tempat kerjanya. Dia pulang ke rumah dengan bahagia.

Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!

"Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tidak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya".

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

Tetapi Ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.

Ayah dan Ibu adalah pahlawan
yang kasih sayangnya, seperti layaknya guru yang mendampingi anak didiknya sepanjang kehidupan..

Perlakukanlah orang tua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber : Grup WA Anonim

Wednesday, June 19, 2019

Tips Agar Tidak Menjadi Orang yang Rugi


Berikut adalah beberapa tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi :

1.Hilangkan kebiasaan menunda-nunda

Perbuatan suka menunda tidaklah baik, namun bila menunda suatu pekerjaan untuk melakukan ibadah wajib kepada Allah seperti shalat, maka hal tersebut diperbolehkan. Dalam Sya’ir Arab disebutkan : “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Jangan sering menunda-nunda sesuatu, terlebih jika hal yang ditunda adalah dalam perihal ibadah dan amalan baik lainnya, karena dikhawatirkan umur kita tidak sampai pada detik berikutnya. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hambanya kembali, oleh karena itu sebaiknya jangan menunda-nunda sesuatu yang merupakan amalan baik, terlebih amalan yang merupakan ibadah.

2.Dahulukan yang wajib
Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bertakwa kepadanya, dan ketakwaan tersebut berada pada perbuatan yang diwajibkan dan diharamkan oleh Allah. Dan untuk menjadi orang yang tidak merugi, alangkah baiknya jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim. Apabila amalan-amalan yang wajib telah terpenuhi, barulah kita boleh mengerjakan amalan-amalan sunnah dan mubah lainnya yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kita.

3.Selesaikan pekerjaan tepat waktu
Jika kita memiliki sebuah pekerjaan yang waktu penyelesaiannya dapat diselesaikan pada saat itu juga, maka akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut diselesaikan tepat waktu, dan tidak mengulur-ulur waktu penyelesaiannya.

4.Buat batasan waktu
Untuk mengatur waktu yang ada agar tidak sia-sia, maka sebaiknya buat batasan waktu pada setiap kegiatang yang dilakukan. Misalnya : tidur dari jam sekian hingga jam sekian, belajar berapa jam dalam sehari dan pada jam berapa saja, dan lain sebagainya.

5.Meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, bagi seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya : menonton tv secara berlebihan, bermain ponsel seharian, tidur seharian, dan lain-lainnya. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut sebaiknya dikurangi dan dihilangkan karena masih ada banyak hal bermanfaat lainnya yang dapat kita lakukan.

6.Membuat jadwal kegiatan
Agar waktu yang kita miliki dapat berguna dan terisi dengan hal yang bermanfaat, ada baiknya jika kita membuat daftar kegiatan tentang apa saja yang harus kita lakukan setiap hari.

Kurangi bersantai-santai
Allah akan memberikan manusia hasil kehidupan berdasarkan pada usaha hambanya. Apabila ia berusaha dengan keras dan giat, maka Allah akan memberikan hasil yang setimpal dengan perbuatannya. Namun apabila seseorang hanny bersantai-santai sepanjang waktu yang dia miliki, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahanya.

7.Jangan terjebak dalam masa lalu
Seseorang yang tidak ingin waktunya sia-sia, maka ia harus terus berjalan kedepan dan tidak terjebak pada masa lalunya.

Belajar fokus pada sesuatu
Apabila seseorang mempunyai banyak target dalam hidupnya, maka ia haruslah fokus pada satu hal dahulu, agar apa yang telah didapatkannya tidak terlepas dan waktu yang dia miliki tidak terbuang sia-sia.

8.Niatkan berubah menjadi yang lebih baik
Untuk menjadi orang yang dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka yang paling pertama adalah adanya niat dari orang tersebut. Apabila tidak ada niat dan keinginan untuk berubah, maka bagaimana bisa orang tersebut mengatur waktunya dan menjalankannnya dengan bermanfaat.

Jadi, sebagai muslim yang baik kita haruslah senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar kelak kita tidak menjadi orang yang merugi. Karena sesungguhnya, orang yang merugi dapat kehilangan kesempatan untuk menempati surga milik Allah SWT.

Sumber : Dari Pesan Grup WhatsApp Parenting Islami

Tuesday, June 18, 2019

Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam yang Dicintai Allah (Bagian 2)


Oleh : Iin Savitry, Bunda Bidadari

(Lanjutan)

Hanya 1 kiatnya:
Latih anak melakukan #SEMUA TUGAS KERUMAHTANGGAAN#  di rumah

Prinsip dasarnya, anak tak boleh bermain dan belajar di luar rumah JIKA tugas rumah tangganya belum selesai.

Saya menegaskan prinsip dasar mengasuh anak di rumah kami:

a. Sekolah ga wajib, yang wajib adalah belajar . Belajar paling utama ada di lingkup rumah. Dalam bentuk pekerjaan rumah. Pahami fakta bahwa 75 % keterampilan hidup dan karakter utama anak dilatih dari rumah. Sekolah dan pendidikan luar rumah hanya berkontribusi 25% atas pembentukan karakter pemimpin seorang manusia.

b. Inner circle, outer circle . Lingkaran kecil di rumah harus selesai, baru silakan buat lingkaran besar di luar rumah. Analoginya seperti kambium. Usia pohon ditentukan dari jumlah lingkarannya.
Kenapa pohon jadi contoh? Karena dalam Alquran pun seorang mukmin diibaratkan sebagai pohon. Jadi, anak harus belajar langsung dari proses  tumbuhnya sebuah pohon.

c. First things First.  Skala prioritas dalam beraktivitas. Apa yang harus ia lakukan agar bisa bermain/belajar ke luar rumah.
Unsur wajib, sunnah, mubah, makruh, haram...terus dilatih untuk disematkan di setiap kegiatan. Hal ini membantu anak untuk mengambil keputusan apa yang harus didahulukan jika ada banyak pilihan kegiatan

Semua latihan harus sesuai dengan tahapan usia, dan terus bertambah seiring usia. Jadi, makin sibuk anak dengan kegiatan belajar di luar rumahnya, ia akan makin dilatih untuk makin sigap dan cekatan menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya.

Ini salah satu contoh tahapannya:

 • ~ Dimulai sejak usia 2,5 tahun-5 tahun, biasakan anak LELAKI MEMILIH satu dari dua opsi yang kita sodorkan.
Misal pakaian, arahkan dia memilih satu dari dua baju/sepatu/celana/kaus kaki/tas yang ingin ia pakai.
Makanan, ajak ia menentukan mau makan apa hari ini. Misal untuk lauk, ikan atau ayam. Sayur bayam atau sayur sop.
Main/belajar, ajak dia mau main apa. Tiap main kita setting  2-3 kegiatan yang berbeda secara bersamaan. Pastikan aktivitas membacakan buku dan  berkisah masuk di setiap permainan.
Misal membaca buku sambil main boneka/lego dan bernyanyi. Main masak-masakan sambil membacakan buku dan bernyanyi.Olahraga sembari berpuisi dan berdendang.
Mencabut rumput sembari berhitung dan membuat kolase/menggambar di tanah.

~• Usia 5-7 tahun , ajak anak LELAKI mulai merencanakan kegiatan esok hari, dan menu untuk 3 hari kedepan.
Latih anak untuk menyuguhkan makanan dan minuman untuk ayahbunda dan adik.
Beri tugas2 kerumahtanggaan sederhana. Membersihkan kamar sendiri, mencuci piring, menyapu dan mengepel lantai. Belanja bahan makanan DAN menyortirnya untuk disimpan di kulkas/dapur.
Kita TEMANI dia ketika melakukannya.
Puji walau pekerjaannya (pasti) tak sempurna.
JANGAN kita sempurnakan pekerjaannya di depan matanya. Itu akan membuat dirinya down dan merasa percuma mengerjakannya. Hingga akhirnya membuatnya malas-malasan ketika diminta melakukannya lagi. Karena hasil kerjanya tidak dihargai.

Khusus Silmi, putra kami, karena ia ingin sekolah TK, di usia 3,5 tahun,  saya beri opsi: boleh sekolah TK asal dia mau menyiapkan bekal makanannya sendiri dan mengurus pakaian sekolahnya sendiri. Kamar harus rapi. Jika tidak, berarti dia BELUM SIAP belajar di luar rumah.

Jadi, sejak usia 4 tahun, Silmi sudah biasa membuat puding sendiri untuk snack, saya ajak menyiapkan seragam selama sepekan. Menyusunnya secara berurutan di lemari agar mudah ia ambil. Saya bantu membuat checklist pekerjaan harian dan pekanannya.

Itu sebabnya ketika kelas 1 SD (usia 6,5 tahun)  dan ia mulai rutin kemping, ia sudah mandiri menyiapkannya sendiri. Saya bantu dua kali cara packing yang efektif dan efisien, selanjutnya ia lakukan sendiri. Saya tinggal memberi evaluasi tepat atau tidak tepatnya.

~ • Usia 7-10 tahun , anak lelaki wajib diberi tugas menjaga kebersihan rumah SEBELUM ia keluar rumah.
Ia yang bertugas mencatat apa yang kurang di rumah, membeli kekurangannya.
Sebelum magrib ia yang bertugas menutup semua pintu dan jendela rumah, menutup wadah air/sayuran berkuah di dapur. Memastikan rumah sudah bersih sebelum maghrib.
Memasukkan hewan peliharaan ke kandang.  Menyalakan lampu.
Sebelum tidur memastikan rumah terkunci. Ini semua bagian dari menghidupkan sunnah nabi. Ada haditsnya, silakan dicari sendiri.

Untuk urusan sandang, anak lelaki usia 10 tahun ke atas harus sudah selesai terbiasa mengurus kebutuhan diri sendiri ( menjaga kebersihan tubuh, pakaian, barang-barangnya, keperluan sekolah dll), dilatih mengurus/membersihkan  pakaian keluarga, khususnya pakaian dalam sendiri dan orangtua.

Ini penting, karena memang sejak usia 9 tahun anak-anak wajib dilatih mengurus kebutuhan internal dirinya, walau memiliki pembantu di rumah.

Di rumah kami, anak-anak saya wajibkan mencuci pakaian dalamnya sendiri sejak usia 9 tahun. Sejak usia 10 tahun saya mulai latih Silmi (anak lelaki kami) untuk mencucikan pakaian dalam kami, menjemurnya, mengangkatnya, melipatnya dan meletakkannya ke lemari kami masing-masing.

Dalam urusan  pangan, anak lelaki dilatih melayani ayah bunda dan adik-adiknya ketika makan. Ia dilatih menyediakan alat makan, menyuguhkan makanan dan kalau perlu belajar menyuapi ortu dan adik, sebelum ia sendiri makan.

Bisa kita tantang untuk saling menyuapi bersama kita.

Kalau saya, saya demonstrasi suami menyuapi saya di depan anak-anak. Lalu suami balas menyuapi saya.
Dan sejak anak usia 7 tahun, suami yang rutin menyediakan makanan bagi kami. Walau saya yang sering menentukan mau makan apa/menu dan mengajarkan cara memasaknya.Jadi anak MENYAKSIKAN proses belajar kedua orangtuanya secara langsung.

~• Anak lelaki usia 12 tahun harus  sudah bisa diberi tugas menyusun menu untuk keluarga, berbelanja dan mencatat kekurangan sembako yang ada di rumah, mengusahakannya ada.

Satu peraturan khusus di rumah, mereka TIDAK BOLEH BERKEGIATAN DI LUAR RUMAH jika target interaksi Alquran dan pekerjaan rumahnya  belum selesai. Karena
berlaku prinsip skala prioritas dalam beramal, inner circle outer circle.
Aturan ini berlaku tegas sejak anak berusia 10 tahun, setelah dilatih secara intensif sejak mereka berusia 4 tahun.

Jika anak kita sangat enjoy dengan aktivitas luar ruangnya, ia akan berusaha keras menyelesaikan pekerjaan rumah tangganya agar bisa 'bebas' bermain di luar rumah.

Berbagai fakta membuktikan, anak-anak lelaki yang terbiasa dilatih bertanggung jawab terhadap pekerjaan di rumahnya, akan tumbuh menjadi lelaki yang tangguh, berani bertanggung jawab, mudah mengambil keputusan bahkan di saat sulit, DAN PEDULI dengan sesama.

Anak-anak lelaki yang terlatih otot jiwa, fisik dan akalnya di rumah, akan tumbuh menjadi lelaki yang PEDULI dengan kesejahteraan orangtua, wanita dan anak-anak.

Mereka akan MENSYUKURI dan MENGHARGAI jerih payah para orangtua dan wanita yang ada di sekelilingnya, karena keberadaan orangtua dan wanita itu adalah HADIAH Allah baginya. Mempermudah tugasnya sebagai pemimpin umat di luar rumah.

Mereka akan bertumbuh menjadi lelaki yang memiliki HARGA DIRI, pekerja keras dan cerdas untuk menafkahi seluruh anggota keluarganya dengan optimal.

Mereka akan BANGGA bisa membahagiakan dan memenuhi kebutuhan hidup anggota keluarganya, bukannya malah merasa terbebani apalagi masa bodoh.

Pada akhirnya, jika anak lelaki kita terlatih untuk melayani di rumah, kita sendiri yang akan merasa lega. Ikatan cinta dan saling menghargai di antara ayahbunda-anak akan makin kuat.

Maka, fase DEKAT dan LEKAT antar ortu-anak akan mudah kita bangun dengan mengantarkan mereka menjadi qowwam belia di surga mungil kita.

Allahu a'lam bishshawab.

Monday, June 17, 2019

Kiat Praktis Melatih Anak Lelaki Menjadi Qowwam yang Dicintai Allah (Bagian 1)


Oleh : Iin Savitry, Bunda Bidadari

Bagi ayah bunda yang sudah tersadarkan akan peran penting kita dalam menanamkan ADAB kepada anak, maka akan mudah menemukan 'kesalahan asuh' generasi zaman kita. Mudah? Ya. Sangat mudah. Karena kita mungkin salah satu 'korbannya'.

Kita bisa menemukan fakta menyedihkan bahwa di zaman sekarang kaum wanita jauh lebih sigap, tegas, cekatan, cerdas, tangguh dan lebih luwes berkiprah menjadi pemimpin di segala bidang. Bahkan dalam pengambilan keputusan  di level perusahaan dan negara pun, kaum wanita terbukti jauh kuat dan fokus. Belum lagi di lingkup negara terkecil, di rumah. Fakta zaman now, sebagian besar kehidupan berumah tangga ditentukan keputusan dan arahnya oleh kaum ibu. Kaum bapak sebagian besar sekedar manut, bahkan ada yang masa bodoh dengan kebutuhan dasar rakyatnya di rumah. Sehingga para ibu merasa wajib turun gunung ke ranah publik secara berlebihan dan melelahkan jiwa. Efeknya? Anak-anak pun menjadi saksi hidup proses kehidupan itu dan akhirnya...benang kusut itu menjadi makin kusut. Sang anak yang diharap menjadi lebih baik, ternyata hanya menjadi sosok yang sama seperti orangtuanya. Betapa sering kita mendengar kisah sedih  para orangtua yang tak diurus oleh anak-anaknya yang sudah dewasa? Bahkan para orangtua masih sibuk memikirkan kesejahteraan anaknya?

DAN, itu SALAH! Karena itu tidak sesuai dengan tuntunan Alquran dan Hadits.
Kejadian di atas adalah bukti dari peringatan Allah di surah Annisa QS An Nisa':9.

"Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesehahterannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan  tutur kata yang benar."

Allah sudah memberi petunjuk yang sangat jelas akan tugas seorang lelaki beriman di ayat ke-34 surah yang sama. Ayat yang sangat populer dan sering disalahmaknakan oleh kebanyakan kita.

"Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)  atas sebagian  yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya."  (QS 4 : 34)

Nah, terus bagaimana cara kita agar bisa memperbaiki kondisi umat ini MELALUI RUMAH KITA?
Khususnya bagi orangtua yang dikaruniai ANAK LELAKI?
Bagaimana CARA kita mengasuh mereka dalam keseharian agar  tumbuh kuat peran kelelakiannya seperti yang Allah perintahkan?

Sebelumnya, pahami dahulu, apa saja ranah nafkah yang harus ditanggung oleh kaum lelaki, menurut Islam?

Saya mempermudah penjelasannya ke keluarga dengan membuat istilah SP3K.

Ada 5 ranah nafkah yang WAJIB dipenuhi oleh lelaki  kepada keluarganya. Yaitu:

1. Sandang  : Kebutuhan berpakaian. Berarti semua jalur dari hulu hingga hilir seluruh kebutuhan berpakaian anggota keluarga wajib dipersiapkan oleh kaum lelaki (dalam hal ini suami). Dari menentukan pakaian takwa seperti apa yng harus dikenakan anggota, jenis bahan yang nyaman untuk masing-masing anggota, cara mendapatkannya, menyediakannya, mencuci dan menyeterikanya...sejatinya kewajiban itu ada di kaum ayah.

2. Pangan  : Allah sudah banyak memberi petunjuk kepada kita akan pentingnya memperhatikan sumber makanan bagi keluarga.
Kaidah makanan minuman yang  Halal dan Baik  harus dipenuhi agar kita jauh lebih mudah beribadah. Berarti kaum ayah harus menguasai :
• ilmu halal haram plus
• ilmu nutrisi makanan yang cukup.
Kaum ayah pula yang harus menyusun menu makanan apa yang cocok untuk masing-masing anggota keluarga, sesuai kebutuhan masing-masing. Menyediakan bahannya, mengolahnya, menyuguhkannya, kalau perlu menyuapinya, hingga membersihkan wadah kotornya.

3. Papan : Kebutuhan tempat tinggal yang nyaman, memenuhi kebutuhan belajar anggota keluarga dan melindungi anggota.Qowwam harus paham kebutuhan papan masing-masing anggota. Dari orangtua, istri, anak lelaki dan anak perempuan memiliki kebutuhan papan yang berbeda. Rumah harus dalam kondisi bersih dan aman, juga ketika qowwam harus pergi keluar rumah. Jadi kewajiban menjaga kebersihan rumah pun menjadi tugas para suami/ayah.

4. Pendidikan : tanggung jawab pendidikan anggota keluarga ada di pundak kaum ayah/suami. Di akhirat nanti, mereka yang akan ditanyakan oleh Allah, bagaimana perlakuannya terhadap anggota keluarga, apa yang telah diajarkan, dll.
Begitu penting peran ayah dalam mengasuh anak, sehingga kita bisa temukan banyak kisah para Nabi  yang super sibuk itu, berbicara khusus tentang keluarga. Contohnya adalah kisah Nabi Zakaria as ( surah Maryam)  dan Nabi Ayyub as ( surah Yusuf). Tak ada satupun kisah tentang tugas dakwah kedua nabi di atas kepada umatnya di Alquran. Allah khusus menekankan kejadian penting dalam rumah tangga mereka. Belum lagi kisah penting di surah Luqman, yang berisi bahan ajar tauhid seorang ayah kepada anak-anaknya.

Dari 16 ayat pengasuhan anak di Alquran, 14 ayatnya khusus untuk kaum ayah. 2 ayatnya diperuntukkan bagi pasutri. Jadi, tugas berat mengasuh anak BUKAN di pundak ibu.
Allah mengajarkan kepada kita bahwa para ayahlah yang wajib mengajarkan anak-anaknya untuk santun dan menghargai ibunya ( baca  dan renungi surah Luqman), jika ia memgaku beriman.

5. Kesehatan : Tugas penting para ayah ini pun menentukan kualitas kehidupan keluarga. Dari
• kesehatan fisik (asupan makanan bernutrisi cukup, cara pengolahan makanan,  cara dan waktu makan ; olah tubuh seperti cara dan waktu tidur, cara duduk, berdiri berjalan, asah fisik di minimal 3 bidang olahraga sunnah, menjaga waktu shalat, dll) hingga ke
• kesehatan akal (menuntut ilmu dengan cara yang benar, perhatikan cara nabi mendidik anak-anak di buku siroh Muhammad saw Teladanku terbitan Sygma. Di situ dijelaskan cukup lengkap dialog Rasul kepada sahabat-sahabt ciliknya.) dan ke
• kesehatan jiwa ( dengan memperhatikan proses menjaga waktu shalat, khususnya shalat subuh cara menghargai waktu utama. Simak perintah Allah di surah Al Muddatsir, apa yang harus ortu latih bagi anak di tengah malam).

Kelima bidang nafkah itu WAJIB dipenuhi oleh para qowwam bagi keluarganya. Hanya dengan  melatihnya di rumah, baru ia bisa kuat melakukan tugas besarnya memimpin umat di luar rumah.

Lalu, apa kiat praktis kita agar anak lelaki kita SIAP bertumbuh menjadi LELAKI YANG ALLAH CINTAI? Menjadi lelaki yang didoakan oleh malaikat? Menjadi lelaki yang dibanggakan oleh Rasulullaah saw? Menjadi lelaki yang dirindukak oleh umat?

(Bersambung)

Sumber : Grup WA Parenting Islami

Sunday, June 16, 2019

Senyum dan Syurga


Puasa hari ke 9. Adaptasi pasti sudah ada, tapi tetep aja susah. Apalagi buat anak usia 7 dan sekitarnya yang baru pertama kali tahun ini berpuasa penuh hingga azan maghrib berkumandang.

Rengekkan pasti ada walau sudah jauh berkurang. Pada setiap rengekkan tersebutlah menjadi golden momen buat saya untuk menjelaskan makna sebenarnya tentang puasa. Setelah meminjamkan telinga untuk mendengarkan 'kisah lapar dan efeknya' di hari ke 9 ini, sayapun mengalihkan dengan bertanya; bagaimana.. jika tidak ada waktu berbuka?. Anak terdiam. Bagaimana jika, waktu berbuka tiba, tidak ada satupun yang bisa dimakan untuk mengisi kekosongan perut yang sudah kelaparan parah?. Anakku mulai mengkhayal, 'hmm.. bagaimana ya?'. Lalu keluarlah beragam ide unik, lucu dan nyeleneh. Lalu saya melanjutkan dengan : itulah nak, salah satu tujuan utama berpuasa, adalah agar;

1. Kita bisa merasa apa yang dirasa si miskin tiap harinya. Buat mereka, Ramadhan hanya seperti bulan bulan lainnya dalam setahun. Tidak ada jaminan makanan ada, tidak pernah merasa kenyang.

2. Bersyukur. Makanan kita alhamdulillah banyak sekali, walau tidak berlebih. Tapi kita sering lupa untuk mensyukuri, bahkam terkadang tidak habis dan membuangnya tanpa rasa sedih. Ingat makanan yang sering tidak habis dipiringmu? Betapa nikmatnya itu sekarang, ketika lapar mendera. Apa saja bolehlah, asal bisa mengurangi perut yang sudah keroncongan sedari tadi. Ya kan?

Lalu masuklah saya (yang juga sedang keroncongan berat) kepada cerita ttg syukur. Mengajak sang ananda menghitung rezeki yang telah Allah limpahkan kepada kami setiap hari. Kebanyakannya adalah hal kecil, yang sering lupa disyukuri, hingga didatangkan sakit pada hal itu, baru teringat nikmatnya lagi. Dimulai dari membuka mata di pagi hari.. masih dikasih hidup sehari lagi. Wajib bagi saya membaca doa bangun tidur, bersyukur padaNYA atas rezeki bangun pagi ini. Mata yang mengedip automatically, oksigen yang gratis, paru paru yang tidak sakit ketika harus menghirup udara pagi, dan masih ribuan hal lagi. Saya kemudian bertanya pada anak, "ayo.. apalagi rezeki Allah pada kita setiap hari?".

Lalu, saya ajak mereka berfikir, bagaimana jika kita seperti si miskin, dimana puasanya tidak berakhir di azan maghrib?

Bagaimana jika setiap lapar, tapi tidak ada makanan?

Apa yang bisa kita lakukan ketika berada di situasi seperti itu?

Karena percayalah nak, ratusan juta manusia masih mengalaminya, bukan hanya krisis pangan, krisis air bersih, krisis kasih sayang.

Cukup sudah saya menggali sisi emosi dan fikiran mereka, kini.. saya ajak mereka membayangkan pintu Ar-Rayyan.
Pintu syurga bagi yang berpuasa. Bagaimana agaknya? Setinggi apa? Apa warnanya?

Senyumpun mulai tersungging di bibir bibir kering mereka, membayangkan bayaran Allah pada hambanya yang berpuasa.

"Coba bayangin, nanti di depan pintu itu, kira-kira, sebesar apa ya?. Terus, ada malaikat yang jaga. Pas kita mau masuk, malaikat menyetop kita dan bertanya: tunggu! Siapa namamu? Aku harus cari dulu dalam daftar ini. Apakah kamu termasuk penghuni syurga yang ini?. Lalu, kamu mengucapkan namamu dengan rasa was -was dan takut 'Abdul Malik Faisal'. Malaikatpun dengan cepat mengecek daftar nama yang ada. Lalu sebentar menatap mukamu nak. Engkau tegang luar biasa. Lalu, malaikat bilang : silahkan Abdul Malik Faisal. Kamu boleh masuk syurga ini, karena kamu dulu berpuasa!"

Sekarang, senyum itu benar-benar terkembang luas. Ia sangat menikmati ceritanya.

Tapi, apakah ini cuma cerita?
Bukan, ini janji Allah. Insha Allah kita bisa kesana! Amin ya rabbal alamin.

Demikianlah saya mengusir rasa lapar diri sendiri, dan terutama anak saya. Semoga Allah berkenan dan meridhoi usaha saya melatih titipan-titipanNYA, agar kuat beribadah dan menuntut ilmunya.

Sungguh nak, syurga itu tidak mudah.
Tapi Allah mempersilahkan kita menggapainya. Bahkan yang tertinggi sekalipun. Sabarlah buah hatiku, Insha Allah kita masuk syurga bersama ya nak. Memang bagi seorang muslim, dunia ini ibarat penjara bagi kita. Banyak sekali larangan, banyak kesusahan. Tapi ini tidak abadi, bersabarlah, karena kebahagiaan yang abadi, Insha Allah menanti.

Wallahu a'lam bis shawab.

Wina Risman.

Saturday, June 15, 2019

Islamic Montessori - Tiga Tahun Pertama (Bab 1)


Pada usia ini, anak-anak membutuhkan perlindungan dan rasa aman di lingkungan sekitarnya. Oleh karenanya, perlu adanya ikatan yang kuat antara anak usia 0-3 tahun dengan caregiver yang ada disekitarnya.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan caregiver, baik orang tua, guru maupun keluarga dekat di rumah terhadap anak usia 0-3 tahun dalam rangka menguatkan ikatan, antara lain:
·       - Mengusahakan berbicara dengan sering menatap mata anak.
·       -  Bersikap responsif terhadap kebutuhan anak
·       -  Berbicara dengan bahasa yang baik dan benar. Hindari bahasa bayi atau bahasa yang bukan bahasa sebenarnya, seperti berkata ‘mamam’ daripada ‘makan', dan lain sebagainya.
·       -  Sediakan lingkungan yang sesuai dengan kemampuan anak serta bagikan kegiatan yang tingkat pemahamannya mudah baginya.
- Saat anak melakukan kegiatan sehari-hari, hindari intervensi berlebihan.

Sumber : Buku Islamic Montessori karangan Zahra Zahira

Friday, June 14, 2019

3 Hal yang Bisa Mengundang Kesuksesan


Coach Fitra dalam video motivasinya membagikan hal yang bisa mengundang kesuksesan. Ketiga hal itu adalah be, do, dan have.

Be artinya menjadi. Setiap diri hendaknya menempa diri dan pribadinya untuk menjadi "SESUATU"  yang bernilai. Ini bisa melalui belajar (membaca, pelatihan, menuntut ilmu) dan latihan (praktek) sehingga punya banyak pengalaman dan jam terbang yang tinggi. Ini akan membuat seseorang menjadi semakin bernilai, baik sebagai pebisnis, ibu rumah tangga, penulis, atau lainnya sesuai dengan profesinya masing-masing.

Hal Kedua adalah Do. Do artinya melakukan. Setiap diri hendaknya membiasakan dirinya untuk senantiasa melakukan kebaikan. Berbuat sesuatu yang bermanfaat tidak hanya bagi dirinya tapi juga orang lain. Melakukan kebaikan di mana saja dan kepada siapa saja dengan TULUS dan Ikhlas.

Dua hal di ataslah yang seharusnya menjadi titik fokus bagi setiap orang yang ingin sukses dan maju. Terus meningkatkan kualitas dirinya dan melakukan kebaikan sepanjang waktu.

Bila dua hal di atas dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, maka DENGAN SENDIRInya, ia akan mendapatkan hasil yang ia mau (HAVE). Have artinya seseorang akan memiliki, mendapatkan dan meraih apa yang ia impikan dan cita-citakan. Berkat dari kerja kerasnya pada BE dan DO yang POSITIVE.

Bapak Sandiaga Uno dalam bukunya pun pernah menyampaikan agar setiap orang fokus saja mengejar VISI hidup atau usahanya, maka kesuksesan hanya tinggal menunggu waktu.

Bila selama ini, diantara kita masih ada yang belum tepat mindsetnya dengan berfokus pada hasil (have) sementara ia mengabaikan be dan have, maka kesuksesan hanya ia raih sementara saja. Bisa saja orang dengan mindset yang salah akan melakukan cara-cara yang "instan" untuk meraih suksesnya. Tentu ini akan mengurangi nilainya sebagai manusia dan makhluk Allah.

Penjelasan di atas tadi tentang tiga konsep sukses itu bukan teori semata. Dalam QS Al-Bayyinah : 7-8, Allah menegaskan bahwa Ketika seorang hamba menjadikan dirinya termasuk bagian dari ORANG BERIMAN (be) dan MELAKUKAN KEBAIKAN (do) maka Allah akan membalas untuknya balasan terbaik yakni SURGA 'ADN.

Masya Allah
Semoga bisa menjadil ilmu yang bermanfaat dan menginspirasi u ntuk kita bisa meraih kesuksesan dunia dan akhirat.

By: Sukmadiarti Perangin-angin

#parentingschool #sekolahkepribadian #positiveconsulting

Wednesday, June 12, 2019

Manjurnya Doa Ibu



Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter  tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.

Isi twitternya sebagai berikut:
"Aku menyumpahmu demi Allah wahai setiap Ibu, agar jangan tidur tiap malam sebelum engkau memohon pertolongan Allah dan mengabari-Nya bahwa engkau Ridho atas anak-anakmu seridho-ridhonya, dan aku menyumpahmu demi Allah agar engkau tidak menghijab/menghalangi Ridho-Nya kepada anak-anakmu. Dan aku memintamu wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu persatu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada-Nya bahwa engkau ridho atas mereka masing-masing."

Begini doanya:
اللهم إني أُشهدك أني راضية عن إبني/إبنتي (.....) تمام الرضا وكمال الرضا ومنتهي الرضا
 فاللهم انزل رضوانك عليهم برضائي عنهم                                                                     
"Allahumma innii usyhiduka annii roodhiyah 'an ibnii/ibnatii (sebut nama anak-anakmu satu persatu) tamaamarridho wa kamaalarridho wa muntahayirridho. Fallahumma anzil ridhwaanaka 'alaihim biridhooii 'anhum"

(Ya Allah aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku ridho kepada anak-anakku (....) dengan ridho paripurna, ridho yang sempurna dan ridho yang paling komplit. Maka turunkan ya Allah keridhoan-Mu kepada mereka demi ridhoku kepada mereka).

Kemudian setelah berselang beberapa minggu setelah Twitter tersebut tiba-tiba aku dikejutkan oleh seorang ibu yang berkata bahwa aku telah mengubah kehidupannya secara total, dan sekarang dia merasa dalam kenikmatan yang tak terlukiskan karena akibat doa itu terhadap dia dan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun.

Maka berceritalah si Ibu :
Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya. Dia tak pernah sholat dan bahkan jarang mandi , dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.

Maka ketika membaca twittermu aku berkata : "Mungkinkah omongan ini benar? tampaknya masuk akal??" dan seterusnya. Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba anjuranmu walaupun aku tak yakin bahkan mentertawaimu.

Lalu setelah seminggu mulai berubah nada suara putraku kepadaku, dan pertamakali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian, dan didalam diriku ada sedikit syok? Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya.

Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu, ia membukakan pintu untukku dan menyapaku "Apa kabar ibu?" dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu. Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya samasekali.

4 jam kemudian aku menelponnya di ponselnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya : "Bu, aku disamping masjid dan aku baru akan sholat waktu ibu menelponku”

Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah sholat bisa mulai sholat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar?
Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai sholat? Jawabnya; “Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku didekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk sholat”

Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagian seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.

Ibu adalah harta karun yang kita sia-siakan. Betapa tidak? Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya. Padahal justru Doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat.

Jangan pernah bilang : "Ah anakku masih kecil , ngapain didoakan?" Bagaimana jika engkau menunggu mereka makin besar dan dewasa, dan menjadi tua, disaat mereka lebih butuh akan doa-doamu, padahal mungkin waktu itu engkau sudah di hadapan Ilahi?

Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah telah mengkaruniai kita para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka. Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintu-Nya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur.

#SeriParenting
#OneHomeOneHafizh

Sumber : Grup Parenting Islami (dengan beberapa penyesuaian)

Tuesday, June 11, 2019

Cara Berbakti kepada Orangtua yang Telah Tiada


Ada enam hal yang bisa kita lakukan sebagai bentuk berbakti dengan orang tua ketika mereka berdua atau salah satunya telah meninggal dunia:

1. Mendo’akan kedua orang tua.
2. Banyak meminta ampunan pada Allah untuk kedua orang tua.
3. Memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia.
4. Menjalin hubungan silaturahim dengan keluarga dekat keduanya yang tidak pernah terjalin.
5. Memuliakan teman dekat keduanya.
6. Bersedekah atas nama orang tua yang telah tiada.

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah As-Sa’idi, ia berkata,

بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِى سَلِمَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِىَ مِنْ بِرِّ أَبَوَىَّ شَىْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ « نَعَمِ الصَّلاَةُ عَلَيْهِمَا وَالاِسْتِغْفَارُ لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِى لاَ تُوصَلُ إِلاَّ بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا ».

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya, pen.). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya.” (HR. Abu Daud no. 5142 dan Ibnu Majah no. 3664. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Hibban, Al-Hakim, juga disetujui oleh Imam Adz-Dzahabi. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Ibnu Dinar meriwayatkan, ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah berkata bahwa ada seorang lelaki Badui bertemu dengan Ibnu Umar di tengah perjalanan menuju Makkah. Kemudian ‘Abdullah bin ‘Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledainya serta memberikan sorban yang dipakai di kepalanya. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar, “Semoga Allah memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan sebenarnya ia diberi sedikit saja sudah senang.” ‘Abdullah bin ‘Umar berkata, “Sesungguhnya ayah Badui tersebut adalah kenalan baik (ayahku) Umar bin Al-Khattab. Sedangkan saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبَرَّ الْبِرِّ صِلَةُ الْوَلَدِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ

“Sesungguhnya sebaik-baik bentuk berbakti (berbuat baik) adalah seseorang menyambung hubungan dengan keluarga dari kenalan baik ayahnya.” (HR. Muslim no. 2552)

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

أَنَّ سَعْدَ بْنَ عُبَادَةَ – رضى الله عنه – تُوُفِّيَتْ أُمُّهُ وَهْوَ غَائِبٌ عَنْهَا ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّى تُوُفِّيَتْ وَأَنَا غَائِبٌ عَنْهَا ، أَيَنْفَعُهَا شَىْءٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ بِهِ عَنْهَا قَالَ « نَعَمْ » . قَالَ فَإِنِّى أُشْهِدُكَ أَنَّ حَائِطِى الْمِخْرَافَ صَدَقَةٌ عَلَيْهَا

“Sesungguhnya ibu dari Sa’ad bin ‘Ubadah radhiyallahu ‘anhu meninggal dunia. Sedangkan Sa’ad pada saat itu tidak berada di sisinya. Kemudian Sa’ad mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal, sedangkan aku pada saat itu tidak berada di sampingnya. Apakah bermanfaat jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Iya, bermanfaat.’ Kemudian Sa’ad mengatakan pada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Kalau begitu aku bersaksi padamu bahwa kebun yang siap berbuah ini aku sedekahkan untuknya’.” (HR. Bukhari no. 2756)

Sedekah untuk mayit akan bermanfaat baginya berdasarkan kesepakatan (ijma’) kaum muslimin. [Lihat Majmu’ Al-Fatawa karya Ibnu Taimiyah, 24: 314]

Semoga bisa diamalkan. Selama masih hidup, itulah kesempatan kita terbaik untuk berbakti pada orang tua. Karena berbakti pada keduanya adalah jalan termudah untuk masuk surga.

Dari Abu Darda radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 3663 dan Ahmad 6: 445. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, “Bakti pada orang tua adalah pintu terbaik dan paling tinggi untuk masuk surga. Maksudnya, sarana terbaik untuk masuk surga dan yang mengantarkan pada derajat tertinggi di surga adalah lewat mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu tersebut adalah melakukan kewajiban kepada orang tua.’ (Tuhfah Al-Ahwadzi, 6: 8-9).

Kalau orang tua kita masih hidup, manfaatkanlah kesempatan berbakti padanya walau sesibuk apa pun kita. Baca: Kapan Disebut Durhaka pada Orang Tua?

Wallahu waliyyut taufiq, hanya Allah yang memberi taufik.

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal

sumber : rumaysho.com

Monday, May 27, 2019

Ajarkan Anakmu Adab


Oleh: Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Ada benarnya pendapat yang bilang: “Milenial kid zaman now memang tambah pintar tapi adabnya makin kurang”.

Hal ini sangat disayangkan, karena sebenarnya adab tak kalah utama dibanding ilmu. Seperti yang dikatakan seorang salaf kepada anaknya, “Wahai anakku! Belajarlah satu bab tentang adab, karena itu lebih aku senangi daripada kamu belajar tujuh puluh bab tentang ilmu!”

 Abu Zakaria Al-‘Anbari berkata, “Ilmu tanpa disertai adab, ibarat api tanpa kayu bakar. Dan adab tanpa ilmu bagaikan jiwa tanpa jasad.”

Jadi ilmu dan adab harus ada dalam karakter seorang anak. Pertanyaannya: adab dan tata krama seperti apa yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk diajarkan pada anak-anak?

Dikutip dari buku “Cara Nabi Mendidik Anak” karya Ir. Muhammad ibnu Abdul Hafidh Suwaid, ada setidaknya 9 adab yang jadi fokus Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam untuk ditanam di diri anak. Yaitu:

1. Adab Terhadap Orangtua
Adab ini meliputi tata krama dalam memanggil dan memandang orangtua.

2. Adab Terhadap Ulama
Para ulama harus dihormati karena mereka lebih sayang pada anak dari orangtua mereka. Kok begitu? Sebab orangtua menjaga anak dari panasnya api dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka dari panasnya api akhirat. Demikian pendapat Imam Al-Ghazali.

3. Adab Menghormati dan Memuliakan yang Lebih Tua
Intinya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam dalam hadis Shahih Bukhari: “Tidaklah termasuk golonganku orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.”

4. Adab Berukhuwah
Intinya adalah mengutamakan kasih sayang kepada sesama saudara dan menjauhi kekerasan.

5. Adab dengan Tetangga
Adab dengan tetangga penting karena tetangga mempunyai hak yang besar dalam syariat Islam.

6. Adab Meminta Izin
Terlihat sederhana, tetapi adab meminta izin sebenarnya sangat penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

7. Adab Makan dan Minum
Tingkat adab seorang anak terlihat saat ia sedang makan dan minum. Karena itu adab ini penting untuk diajarkan karena kita makan dan minum hampir setiap hari.

8. Adab dalam Penampilan Anak
Adab ini melingkupi cara berpakaian, menyisir rambut, bahkan berperilaku di jalan. Ini juga adab yang sangat penting karena sekarang banyak yang melanggarnya dengan alasan mode, tren dan gaya hidup.

9. Adab Mendengar Bacaan Al-Qur’an
Cinta kita pada Al-Qur’an terlihat dari seberapa besar adab kita saat mendengar dan membacanya.

Salam Smart Parents!

Wednesday, May 15, 2019

Protein Nabati dan Penyerapan Zat Besi


Oleh : dr. Gita Tiara Paramita

Membahas diskusi beberapa hari lalu bahwa protein nabati menghambat penyerapan zat besi. Dikatakan bahwa ada zat  fitat, asam oksalat dan polifenol akan menghambat penyerapan zat besi. Semua zat ini ada di legumes yang merupakan sumber protein nabati.

Setelah membaca referensi, diketahui zat tersebut akan menghambat penyerapan zat besi, namun zat besi yang berasal dari kandungan sayuran, dairy product dan susu. Nama zat besinya adalah non-heme iron.

Berdasarkan penelitian,  zat besi yang berasal dari daging tak dihambat. Penelitian menggunakan Heme iron murni tanpa globin, dan protein sereal serta protein legume (peas, lentils, soy). Hasil penelitian menunjukan tak signifikan protein sereal dan legumes menghambat penyerapan Heme Iron (zat besi dari daging) namun protein dari soy (kedelai) menunjukan hasil signifikan ia akan hambat penyerapan zat besi dari daging. Ingat hasil ini didapat dari heme iron yg dimurnikan bukan heme iron + globin yang jamak ditemukan di daging.

Namun, penelitian lain yang menggunakan Heme Iron+globin menunjukan soy (kedelai) tak menghambat penyerapan zat besi daging malah adanya globin meningkatkan penyerapan zat besi.

Penyerapan zat besi sendiri tergantung kondisi biologis tiap orang, baik itu dari gerakan usus, kurang oksigen atau tidak, infeksi atau tidak, anemia atau tidak. Penelitian yang dilakukan menggunakan subjek beragam, ada yang anemia ada yang tidak agar serupa dengan kondisi di lapangan.


Jadi, untuk mencegah anemia defisiensi besi protein nabati tetap bisa diberikan, dengan catatan :
1. Makan gizi lengkap seimbang libatkan sumber protein hewani di sana
2. Jika konsumsi dairy product dan sayuran tinggi zat besi sertai dengan 'prohe' + sumber yang memudahkan zat besi diserap seperti sumber vitamin C
3. Bagi vegetarian sebaiknya pastikan diri tidak anemia, karena sumber Fe yang digunakan berasal dari non heme Iron yang tak banyak diserap tubuh meski tak berbarengan dikonsumsi pengan 'prona'
4. Fitat, asam oksalat, polifenol akan hambat penyerapan NON HEME IRON alias zat besi yang bukan berasal dari daging
5. Zat besi ada heme iron yang berasal dari daging (daging juga ada non heme ironnya tapi tidak banyak), non heme iron yang berasal dari dairy product, telur, sayuran.

Semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/

Wednesday, March 27, 2019

Jika Anak Berbeda Pendapat dengan Orang Tuanya


Oleh : Fariq Gasim Anuz

Di kota Riyadh, tepatnya di negara Saudi Arabia, ada seorang janda yang memiliki dua anak laki-laki yang bekerja sebagai sopir taksi. Dua pemuda yang sangat berbakti kepada ibunya. Mereka menabung untuk membayar kontrak apartemen yang harga sewa pertahunnya mencapai 24 rIbu real atau sekitar 80 juta rupiah. Susah payah keduanya menabung, sampai terkumpul uang sepuluh ribu real (sekitar tiga puluh delapan juta rupiah). Uang tersebut mereka ikat dengan karet, lalu mereka masukkan kedalam plastik, setelah itu direkatkan dengan lakban hingga benar-benar rapat dan tertutup, kemudian bungkusan uang tersebut disimpan di bawah bantal kamar mereka berdua.

Ketika keduanya pergi bekerja, si Ibu merapikan kamar anaknya. Tanpa sengaja beliau menemukan bungkusan tadi di bawah bantal. Ia terkejut, mukanya langsung memerah dan alisnya mengerut.

“Baru beberapa hari lalu Ibu marah kepada kedua anaknya karena ketahuan main kartu di kamar! Ini dia benda yang sudah membuat mereka lalai!” ucapnya dengan kesal sambil menggenggam erat bungkusan yang ternyata beliau kira itu adalah kumpulan kartu domino.
Meskipun tanpa uang dan bukan judi, tapi bermain kartu itu melalaikan waktu. Masih banyak kewajiban lainnya yang harus ditunaikan oleh anak-anak, seperti shalat lima waktu, belajar islam, berbakti kepada orang tua, dan kebajikan lainnya.

Ketika anak yang bungsu pulang ke rumah, langsung saja Ibunya menumpahkan amarahnya karena merasa perintahnya telah diacuhkan. Pemuda ini termenung, ia merasa tidak bersalah karena ia sudah meninggalkan kebiasaan main kartu. Ia menunduk diam tidak membantah saat dimarahi ibunya karena ia sangat memuliakan dan menghormati Ibunya.

Si anak rupanya menyadari bahwa hak orang tua adalah sesuatu yang agung setelah hak Allah untuk diibadahi semata dan tidak dipersekutukan dengan apapun.

Setelah Ibu selesai memarahinya, lalu si bungsu bertanya, "Ibu menemukan kartu dimana?"
 "Dibawah bantal!" jawab Ibunya dengan mantap.
"Dimana sekarang kartu tersebut?" tanya anaknya.
 "SUDAH IBU BAKAR!" Jawab Ibunya dengan rasa puas telah menghukum anaknya.

Menurut pembaca, kira-kira bagaimana respon anaknya? Apakah ia akan menyalahkan Ibunya? memprotes Ibunya dengan suara yang tinggi bahwa Ibunya telah memfitnah dirinya? Atau apakah anak tersebut akan menjelaskan bahwa yang dibakar oleh Ibunya itu bukan kartu melainkan UANG yang telah susah payah mereka tabung?!

TIDAK!

Si bungsu menundukkan kepalanya, dengan suara perlahan ia meminta maaf kepada Ibunya dan berjanji tidak akan bermain kartu lagi. Amarah Ibu pun mereda lalu beliau melanjutkan kesibukan lainnya di rumah.

Ketika anak pertama pulang ke rumah, si adik langsung menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya bersama ibunya.
Kakaknya bertanya, "Apakah kau ceritakan bahwa yang dibakar oleh Ibu adalah uang?!"
Si adik menjawab, "Tidak! Saya hanya meminta maaf dan berjanji untuk tidak main kartu lagi."
"Bagus! Jangan kau ceritakan hal itu agar Ibu tidak bersedih yang akan mengganggu pikirannya."

Allah Akbar! Betapa halusnya perasaan kedua anak itu. Meskipun terlihat jelas bahwa Ibu yang salah tapi kedua anaknya tidak ingin mengeruhkan perasaannya, tidak ingin membuat Ibunya kepikiran dan sedih serta menyesali ketergesaannya dalam memvonis.

Kedua pemuda ini hasil didikan orang tua yang shalih. Keduanya memiliki kepekaan hati dan perasaan yang halus. Kedua anak ini tahu betapa berat perjuangan seorang ibu. Keletihan demi keletihan saat mengandung, fisik yang melemah, mual yang berkepanjangan, muntah-muntah dan dahsyatnya pengorbanan ibu saat melahirkan. Keduanya menyadari bahwa pengorbanan dan kasih sayang orang tua sangat besar, dan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbanan mereka mengumpulkan uang itu.Mereka memahami bahwa jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah dengan berbakti dan memuliakan kedua orang tua.

Allah berfirman,

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada Ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al Israa  23)

Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orangtuanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14)

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, beliau berkata,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « أُمُّكَ » . قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ « ثُمَّ أَبُوكَ »

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam lalu berkata,
‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau Shallallahu Alaihi Wasallam menjawab, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ ‘Ibumu.’  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Ibumu’.  ‘Kemudian siapa lagi?’  ‘Kemudian Ayahmu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wahai anak-anakku segeralah minta maaf dan minta ridha orang tua. Jangan sampai anda menyesal jika orang tua wafat tapi masih belum ridha dan belum memaafkan kesalahan anaknya. Apapun perbedaan anda dengan orang tua, selama orang tua tidak memerintahkan anda untuk maksiat atau melarang dari kewajiban- maka silakan anda bernegoisasi dengan cara yang baik. Tapi jika tidak ada titik temu ikutilah pendapat orang tua. In sya Allah pendapat orang tua akan mendatangkan kebarakahan.

Kepada orang tua, jadilah orang tua yang bijaksana, tidak menekan jiwa anak. Berkatalah kepada anak-anak dengan santun dan lemah lembut. Sabarlah menghadapi kesalahan-kesalahan mereka. Bimbinglah anak-anak dengan penuh kasih sayang. Ajaklah mereka untuk bermusyawarah. Janganlah gengsi untuk menerima pendapat yang baik dari mereka.

رَبِّ هَبْ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa."



Cirebon, 6 Rajab 1440 H /
13 Maret 2019 M

Sharing Tips MPASI Travelling


Tips MPASI Traveling 
by Mama Aiman
(Perjalanan darat kurang dari 12 jam. Dari pagi sampai malam)
1. Sebelum berangkat beri makan dulu di rumah
2. Siapkan cooler bag/cooler box/sejenisnya, ice gell beku sebanyak cooler bag bisa menampung
3. Bawa thermos isi air panas 500ml
4. Bawa mangkok, sendok minimal 2, slaber, cutter, plastik kotor
5. Bawa frozen food untuk 1x makan, tempatkan di toples, taruh di cooler bag
6. Saat makan, beri air panas biar frozen tidak terlalu panas. Air panas bisa minta di resto tempat kita makan. Sekalian minta 1 thermos jika air di thermos kita sudah tidak panas.
7. Bawa pisang, alpukat matang
8. Saat kita makan, sisihkan nasi, lauk, sayur untuk makan sore anak. Saat mau dimakan dilumatkan dulu (kalau saat itu saya tanpa saring karena pingin ringkas). Lauk sengaja pesan ikan, tahu, diambilkan bagian dalamnya.
9. Beri makan nasi, ikan, tahu. Lalu selang 30 menit kemudian diberi pisang atau alpukat.
10. Pisang atau alpukat dibawa untuk alternatif jika baby menolak makanan
11. Bawa makanan instan untuk jaga-jaga (tapi krn anak saya tidak cocok instan, tidak dimakan)

Tips MPASI Traveling 
by Gita

Perjalanan dengan pesawat berangkat malam, lama perjalanan 1 jam, dilanjut jalan darat 3 jam. Lama di tempat tujuan 3 hari 2 malam, pulang dengan pesawat di siang hari. Berikut tips secara umum berdasarkan pengalaman kami.

1. Tentukan dulu mau berapa hari di tempat wisata, berangkat pakai apa, kemana saja, pulang jam berapa dan pakai apa.
2. Buat daftar menu untuk traveling mulai dari makan besar sampai cemilan. Menu dibuat disesuaikan dengan itinerary (rencana) selama perjalanan. Misal, saat itu kami berangkat malam pakai pesawat artinya ada MPASI sore dan cemilan yang mesti dibawa saat nunggu di bandara.
3. Cobakan menu pada anak sebelum hari H jadi tau menunya suka atau tidak agar badai GTM (Gerakan Tutup Mulut) tak melanda di tempat wisata.
4. Persiapkan barang-barang pelengkap MPASI yang dibawa sesuai menu dan itinerary-nya. Misal karena usia 8 m, saya bawa mini electric pot, beras, gravy beku, quiche beku, kentang, pisau, lunch jar yang tahan panas lama, bib, ziplock, baby cubes.
5. Cek tempat menginap disana apakah:

  • Bisa menerima titipan menyimpan MPASI di kulkas dapur hotel, tanya ada costnya atau tidak
  • Tanya fasilitas kulkas dalam kamar pastikan menyala dengan baik, paling aman nyimpen di kulkas dapur ya
  • Tanya ada menu nasi tim,bubur,mashed potato atau menu yang sekiranya bisa kita pakai untuk MPASI anak kita dan bisa customized gulgar dan merica serta micinnya. Umumnya pada mau dan bisa.

6. Bawa MPASI instan sebagai jaga-jaga, kalau-kalau MPASI kita basi
7. Bawa cemilan bayi yang tahan lama seperti biskuit, buah-buah yang tinggal kupas atau kerok seperti pisang atau alpukat.

Semoga bermanfaat

Tips MPASI Traveling 
by Bunda Arsy

Jadi, waktu liburan ke Jogja 1 minggu, aku siapin MPASI jagung manis, brokoli, bayam, wortel, edamame, buncis dan 7 botol stok kaldu sapi dan ayam kampung. Tetep anak sehat ya walaupun liburan. Makanan 4 bintang tak tergantikan hehehe. Semua sayuran aku potong-potong seukuran 3x makan atau 1 hari makan dan sayurannya dimasukin ke plastik zipper.

Misal:
Day 1,  jagung, brokoli, wortel, beras dan kaldu sapi 1 botol ASI.
Day 2, edamame, bayam, wortel, beras dan kaldu ayam kampung 1 botol ASI.
Day 3, buncis, brokoli, wortel, beras dan kaldu sapi 1 botol ASI.
Dan seterusnya di variasikan.

Kenapa tidak bawa daging utuh? Karena takut bau terus nggak kemakan jadi sayang banget kan.  Yaudah deh, aku bikin kaldu sebelum pergi. Si sayur jangan lupa dicuci bersih ya Bund. Terus tirisin airnya sekering-keringnya. Kalau aku pakai tisu serap minyak itu loh, biar tidak busuk. Langsung dimasukin plastik zipper.

Trus kagak dibekuin ya Bund. Taruh di chiller aja sebelum dibawa. Terus pas mau dibawa masukin ke cooler bag plus kasih Ice gel. Karena kalau pas beku si sayurnya, bakalan lembek sampe Jogja. Kandungan airnya ikut ilang mencair bareng es. Tidak lupa bawa slow cooker buat masak karena di hotel tidak ada kompor. Hahahha, jadi bangun shubuh, langsung deh semua di cemplungin jam 7 kelar langsung berangkat ke tempat wisata.

Nah untuk buah, aku blend trio berries. Masukin plastik ASI. Bikin 7 pack. Nitip di bagian dapur hotel karena pasti mereka punya box freezer. Kalo hotelnya ada kulkas bisa si ditaruh kulkas hotel tapi aku belum pernah coba. Karena 1 minggu makan buah harusnya 14x dan aku cuma bawa 7 pack jadi aku selingin kalau ada melon, ya aku kasih, atau pisang dan pepaya. Tapi alhamdulillah pupy lancaar jayaa Bund. Oh iya, jangan lupa bawa parutan khusus makanan bayi atau saringan ya Bund. Soalnya anakku waktu itu baru 7 bulan.

Udah sih gitu aja kalo aku. Jadi sedikit repot di rumah aja Bund, kalo di Jogja enggak repot karena udah disiapin. Semoga manfaat yang mau liburan ya.

Tips MPASI Traveling 
by Mama Atha

1. Googling catering bayi di tempat tujuan, pastikan testimoninya bagus dan order.
2. Bawa saringan, talenan, pisau, slabber, alat makan bayi, sabun cuci peralatan dan box besar buat steril
3. Untuk camilan saya waktu ke jogja cari supermarket/pasar deket hotel untuk beli buah-buahan.

Simple, nggak ribet, cenderung males heboh 😂

Sumber : WAG GIM TIPSMENYUSUI MPASI

Friday, March 1, 2019

Kisah Nabi Ibrahim AS



Adalah keturunan Nabi Nuh AS. Ayahnya bernama Azar, seorang pembuat berhala. Nabi Ibrahim hidup pada masa kepemimpinan raja yang dholim bernama Namrud. Sejak kecil ia tidak menyukai perbuatan kaumnya yang menyembah berhala, ia pun mencari Tuhannya dengan memperhatikan alam sekitarnya.

Ketika ia melihat binatang, ia menduga itu Tuhan tetapi ketika pagi hari bintang itu tenggelam maka ia yakin bukan itu Tuhan karena Tuhan tidak mungkin hilang. Saat ia melihat bulan hatinya bersorak "Ini pasti Tuhan, ini lebih besar", tapi di pagi hari bulan pun tenggelam. Lantas ia melihat matahari "Ini pasti Tuhan lebih besar dari sebelumnya", sore hari mataharipun tenggelam. Dari semua itu, Ibrahim menyimpulkan bahwa Tuhan bukan bintang, bulan, atau matahari tetapi adalah yang menciptakan dan mengendalikan mereka.

Allah SWT memberi petunjuk kepada Nabi Ibrahim AS bahwa Allah SWT-lah Dzat yang Maha Pencipta. Nabi Ibrahim segera menyeru kaumnya agar beriman kepada Allah SWT dan meninggalkan berhala. Sebagian besar kaumnya tidak mau mendengar ajakannya. Pada suatu hari Nabi Ibrahim AS masuk rumah peribadatan meraka dan menghancurkan berhala-berhala dengan kapar, kecuali sebuah berhala yang paling besar. Oleh Ibrahim berhala besar tadi dikalungi kapak tersebut.

Raja Namrud curiga pada Ibrahim, segera diperintahkan Ibrahim untuk ditangkap. "Hai Ibrahim apakah kami yang menghancurkan berhala-berhala ini?" Ibrahim menjawab "Bukan, mungkin berhala yang besar itu, bukankah kapaknya masih disana?". Raja Namrud-pun marah seraya berkata "Mana mungkin patung yang tidak bisa apa-apa ini yang melakukannya" Ibrahim menjawab "Kalau tidak bisa apa-apa kenapa kalian semua menyembahnya?". Mendengar jawaban tersebut raja Namrud murka dan memerintahkan untuk membakar Nabi Ibrahim.

Maka merekapun membakar Nabi Ibrahim, tapi Allah SWT menjadikan api tersebut dingin sehingga beliau selamat dari api tersebut. Melihat kejadian itu selutuh mata yang menyaksikan heran, bahkan di antara kaum tersebut tidak sedikit yang kemudian percaya dan beriman kepada Allah SWT.

Tidak lama setelah itu Nabi Ibrahim pergi ke Palestina untuk berdakwah di sana. Sementara Raja Namrud disiksa oleh Allah SWT dengan datangnya nyamuk yang sangat banyak. Akhirnya raja Namrud mati karena nyamuk-nyamuk tadi memasuki telinganya.

Sumber : Buku Pengetahuan Islam Anak Muslim