Sunday, December 30, 2018

Hal-Hal Kecil Tapi Efeknya Besar untuk Anak


Ada hal-hal kecil yangg terkadang belum kita lakukan dalam keluarga namun efeknya besar untuk karakter dan sikap anak-anak ke depan. Contohnya seperti apa ya? Mari kita simak yang satu ini. Semoga bermanfaat.

Jadi ceritanya saya baru selesai mengikuti pelatihan untuk menangani adiksi pornografi minggu lalu. Dari banyak hal yang kita pelajari, salah satunya adalah kami kembali diingatkan bahwa otak menyerap kata2 positif lebih baik & lebih cepat daripada kata2 negatif. Orang dewasa aja begitu apalagi anak2. Salah satu hal baru dan menarik adalah tentang kata 'coba' . Selama ini, kita smua berpikir bahwa kata 'coba' adlh hal yg positif, tp ternyata di pelatihan itu kita tidak disarankan untuk menggunakan kata 'coba', karena kata 'coba' bisa mengakibatkan kemungkinan gagal, maka lebih baik menggunakan kata 'bisa' untuk memperkecil peluang kegagalan.

Banyak sekali dalam keseharian pengasuhan, kita menggunakan kata-kata negatif pada anak-anak. Walau seringkali orang tua mengakunya tidak dilakukan dengan sengaja namun hal tersebut tetap saja terjadi. Kata-kata negatif yang keluar dengan sengaja, biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan variasi kosakata yang dimiliki oleh orang tua dalam mengasuh, juga karena kata-kata negatif itu yang dulu mereka dapatkan dalam pengasuhan mereka dulu, oleh orangtua mereka masing-masing. Apalagi kalau anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu diasuh oleh asisten rumah tangga.Wis lah!

Kepercayaan diri memang terbentuk dari bahasa yang kita pakai dalam mengasuh anak kita sehari-hari, seperti misalnya mengatakan 'Kamu juga bisa kok, adik aja bisa, masa kalah sama adiknya?'. Kesannya memotivasi, tapi ternyata membandingkan. Dan membandingkan itu merusak bukan saja yang dibandingkan, tapi juga si pembanding. 'Jangan dilempar mainannya! Kalau rusak, Mama nggak beliin lagi lho!'. Padahal nantinya dibeliin. Ancaman pepesan kosong seperti ini membuat anak bukan hanya bisa minder karena terus diancam, tapi juga tidak takut lagi terhadap ancaman lain, serta meniru mengancam orang di kemudian hari.

Jadi orang tua sering sekali kontradiktif, di satu sisi ingin punya anak percaya diri, tapi disisi lain mereka terus-menerus menggunakan bahasa negatif dalam pengasuhannya sehari- hari. Mengasuhnya setiap hari, tapi belajar pengasuhannya sekali-kali, jadinya ya begini.

Jadi saya menghimbau untuk berlatih merubah kosakata dalam percakapan pada anak. Daripada bilang:

'Bisa diam nggak?!'

Coba tanya

'Apakah kamu bisa menggunakan suara yang sedikit lebih pelan?'

atau daripada:

'Berantakan banget sih!!'

kita ubah menjadi:

'Wah kayaknya lagi asyik main nih, tapi sekarang waktunya tidur. Gimana ya caranya biar ruang tamunya bisa rapi lagi?'

daripada:

'Itu nggak terlalu susah kok! Coba dulu...'

diubah menjadi:

'Ayah tahu kamu bisa melakukan hal-hal yang sulit, termasuk ini'

Lihat bagaimana saya menyisipkan kata "bisa" dalam setiap contoh. Memang diperlukan ekstra tenaga, waktu, latihan dan tentunya ilmu untuk terus menjadi ibu dan ayah yang lebih baik. Tapi dengan dititipkannya makhluk-makhluk kecil ini di dalam pelukan kita, tampaknya itu tugas utama dari Allah yang berdampak bahkan sampai kita tiada. Mengasuh memang susah, tapi sy\urga tidak murah. Seperti kata Bob Marley, anything that's amazing won't be easy, and if it's easy, it wont be amazing. Parenting is hard. If it's easy, then you're doing it wrong.

Teman-teman saya sudah mencoba perubahan dalam pemilihan kosakata ini, langsung melihat perubahan positif pada anak-anak mereka dalam hal kepercayaan terhadap kemampuan diri, Masy Allah! Kalau mereka bisa, Anda pasti juga bisa. Mari mengubah kata-kata kita sehari-hari agar dapat membentuk anak-anak dengan kekokohan jiwa yang lebih baik lagi.

You can change your world by changing your words. - Joel Osteen

#sarrarisman
#jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini.

Sumber : Grup Parenting Islami

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.