Monday, December 31, 2018

Bubur Daging 4 Bintang (7 Bulan)

By Tisa Felicia M.


Bahan : 
Daging sapi (blender) 
Buncis
Wortel (parut)
Brokoli (cincang)
Daun bawang (cincang)
Bawang bombay (cincang)
Bawang putih (cincang)
Tahu (cincang)
Daun salam
Nasi
Kaldu daging sapi 

Cara membuat : 
1. Masukkan kaldu, nasi, daging dan daun salam masak hingga kaldu mulai meresap
2. Masukkan bawang bombay, baput, tahu dan daun bawang
3. Tambahkan buncis cincang, brokoli dan parutan wortel tambahkan sedikit kaldu lagi masak hingga matang
4. Ambil secukupnya (2sdm)bejek2 d atas saringan kawat, kerok yg berada d bagian bawah saringan kemuadian campurkan sisa saringan yg msh berada d dlm/d atas saringan kawat (yg sudah agak lembut tapi sulit kluar dri saringan)
5. Sajikan

*Gambar hanya ilustrasi

Sunday, December 30, 2018

Hal-Hal Kecil Tapi Efeknya Besar untuk Anak


Ada hal-hal kecil yangg terkadang belum kita lakukan dalam keluarga namun efeknya besar untuk karakter dan sikap anak-anak ke depan. Contohnya seperti apa ya? Mari kita simak yang satu ini. Semoga bermanfaat.

Jadi ceritanya saya baru selesai mengikuti pelatihan untuk menangani adiksi pornografi minggu lalu. Dari banyak hal yang kita pelajari, salah satunya adalah kami kembali diingatkan bahwa otak menyerap kata2 positif lebih baik & lebih cepat daripada kata2 negatif. Orang dewasa aja begitu apalagi anak2. Salah satu hal baru dan menarik adalah tentang kata 'coba' . Selama ini, kita smua berpikir bahwa kata 'coba' adlh hal yg positif, tp ternyata di pelatihan itu kita tidak disarankan untuk menggunakan kata 'coba', karena kata 'coba' bisa mengakibatkan kemungkinan gagal, maka lebih baik menggunakan kata 'bisa' untuk memperkecil peluang kegagalan.

Banyak sekali dalam keseharian pengasuhan, kita menggunakan kata-kata negatif pada anak-anak. Walau seringkali orang tua mengakunya tidak dilakukan dengan sengaja namun hal tersebut tetap saja terjadi. Kata-kata negatif yang keluar dengan sengaja, biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan variasi kosakata yang dimiliki oleh orang tua dalam mengasuh, juga karena kata-kata negatif itu yang dulu mereka dapatkan dalam pengasuhan mereka dulu, oleh orangtua mereka masing-masing. Apalagi kalau anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu diasuh oleh asisten rumah tangga.Wis lah!

Kepercayaan diri memang terbentuk dari bahasa yang kita pakai dalam mengasuh anak kita sehari-hari, seperti misalnya mengatakan 'Kamu juga bisa kok, adik aja bisa, masa kalah sama adiknya?'. Kesannya memotivasi, tapi ternyata membandingkan. Dan membandingkan itu merusak bukan saja yang dibandingkan, tapi juga si pembanding. 'Jangan dilempar mainannya! Kalau rusak, Mama nggak beliin lagi lho!'. Padahal nantinya dibeliin. Ancaman pepesan kosong seperti ini membuat anak bukan hanya bisa minder karena terus diancam, tapi juga tidak takut lagi terhadap ancaman lain, serta meniru mengancam orang di kemudian hari.

Jadi orang tua sering sekali kontradiktif, di satu sisi ingin punya anak percaya diri, tapi disisi lain mereka terus-menerus menggunakan bahasa negatif dalam pengasuhannya sehari- hari. Mengasuhnya setiap hari, tapi belajar pengasuhannya sekali-kali, jadinya ya begini.

Jadi saya menghimbau untuk berlatih merubah kosakata dalam percakapan pada anak. Daripada bilang:

'Bisa diam nggak?!'

Coba tanya

'Apakah kamu bisa menggunakan suara yang sedikit lebih pelan?'

atau daripada:

'Berantakan banget sih!!'

kita ubah menjadi:

'Wah kayaknya lagi asyik main nih, tapi sekarang waktunya tidur. Gimana ya caranya biar ruang tamunya bisa rapi lagi?'

daripada:

'Itu nggak terlalu susah kok! Coba dulu...'

diubah menjadi:

'Ayah tahu kamu bisa melakukan hal-hal yang sulit, termasuk ini'

Lihat bagaimana saya menyisipkan kata "bisa" dalam setiap contoh. Memang diperlukan ekstra tenaga, waktu, latihan dan tentunya ilmu untuk terus menjadi ibu dan ayah yang lebih baik. Tapi dengan dititipkannya makhluk-makhluk kecil ini di dalam pelukan kita, tampaknya itu tugas utama dari Allah yang berdampak bahkan sampai kita tiada. Mengasuh memang susah, tapi sy\urga tidak murah. Seperti kata Bob Marley, anything that's amazing won't be easy, and if it's easy, it wont be amazing. Parenting is hard. If it's easy, then you're doing it wrong.

Teman-teman saya sudah mencoba perubahan dalam pemilihan kosakata ini, langsung melihat perubahan positif pada anak-anak mereka dalam hal kepercayaan terhadap kemampuan diri, Masy Allah! Kalau mereka bisa, Anda pasti juga bisa. Mari mengubah kata-kata kita sehari-hari agar dapat membentuk anak-anak dengan kekokohan jiwa yang lebih baik lagi.

You can change your world by changing your words. - Joel Osteen

#sarrarisman
#jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini.

Sumber : Grup Parenting Islami

Saturday, December 29, 2018

MPASI Daging Ayam Negeri (Potong), Amankah?



Ayah dan Bunda, kami ingin sedikit berbagi pengalaman tentang MPASI berupa daging ayam negeri atau biasa disebut daging ayam potong. Saat tulisan ini dibuat, umur anak kami hampir masuk 7 bulan, masa-masa diberikan makanan pendamping ASI (MPASI).

Suatu saat, kami berencana memberi asupan protein hewani kepada anak kami. Salah satu opsi yang kami pilih adalah daging ayam. Nah, kemudian kami belikan daging ayam di dekat rumah kami. Alhasil kami membelikan daging ayam negeri.

Tiba-tiba muncul pertanyaan, amankah daging ayam negeri jika diberikan kepada si kecil yang masih bayi? Kemudian kami coba cari artikel di internet tentang hal tersebut. Ketemulah salah satu artikel dari kompas.com (artikelnya kami share di postingan yang lain) yang intinnya boleh-boleh saja, tapi jangan keseringan. Walau bagaimanapun ayam kampung lebih alamiah daripada ayam negeri. Sehingga disarankan sebisa mungkin tetap memilih ayam kampung.

Salah satu kendala jika memilih ayam kampung adalah mencari yang sudah dipotong-potong per bagian, karena kebanyakan pedagang menjualnya utuh per ekor. Kalau terkendala biaya, maka harus “gerilya” mencari daging ayam kampung. Daging ayam kampung tentu harganya lebih mahal, bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan daging ayam negeri. Sesekali boleh lah, untuk membelikan daging ayam kampung buat si kecil. Mau lebih hemat? Bisa mencoba memelihara sendiri ayam kampung di rumah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Friday, December 28, 2018

Untuk Bayi, Pilihlah Ayam Kampung


Kompas.com - Daging ayam menjadi salah satu favorit para ibu sebagai campuran makanan pendamping ASI. Akan tetapi, sebaiknya Anda memilih ayam kampung, bukan ayam negeri. Pasalnya meski dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.

"Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya," kata dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO.

Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. "Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja," lanjut Dadang.

Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. "Tapi jangan terlalu sering, ya," pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja.

Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi. Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. "Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi," tutur Dadang.

Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.

"Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi," terang Dadang.

Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.

Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. "Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja." Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur.

Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. "Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam." Tapi jangan lupa, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.

Sumber : kompas.com

Nugget Tahu Sehat (9 Bulan)



by Ummi Nisak

Bahan :
☀​  1 bungkus Tahu Sutera Kongkee non salt
☀​  6 sendok makan tepung terigu (disini saya pakai tepung ladang lima yg gluten free)
☀​  1 wortel ukuran kecil
☀​  1 kentang ukuran sedang
☀​  1 siung bawang putih
☀​  2 siung bawang merah
☀​  5 lembar daun seledri
☀​  2 butir telur ayam kampung
☀​  100 ml kaldu homemade (bisa kaldu ayam, daging, atau jamur)
☀​  1 butir telur ayam kampung (untuk celupan)
☀​  tepung roti (untuk baluran)

Cara Membuat :
1. Blender semua bahan kecuali telur,  tepung terigu, &tepung panir
2. Campurkan 2 butir telur & tepung terigu
3. Masukkan Loyang (Loyang dilapisi plastik atau aluminium foil)
4. Setelah matang, dinginkan, baru potong-potong
5. Potongan nugget tahu di celupkan ke kocokan telur (1 butir), kemudian balurkan dalam
tepung panir
6. Masukkan kulkas supaya agak mengeras
7. Masak dengan minyak kelapa/minyak sayur/evoo/eloo
8. Sajikan

Sumber : WAG MPASI GIM

Thursday, December 27, 2018

Kisah Nabi Adam AS


Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dari tanah. Allah SWT menyempurnakannya sebagai makhluk yang paling sempurna dan mulia. Saat Allah SWT meminta para malaikat untuk bersujud kepadanya para malaikatpun bersujud, kecuali iblis yang mendurhakai perintah Allah SWT karena merasa dirinya lebih mulia dari Adam AS.

Di surga Allah SWT menciptakan Hawa untuk mendampingi Adam. Keduanya bebas makan minum di dalamnya, Allah SWT menggoda Adam supaya melanggar larangan Allah SWT. Akhirnya mereka terbujuk rayuan iblis dan berusaha mendekati pohon tersebut, maka lepaslah pakaian dan terbukalah aurat mereka.

Mereka segera menyadari keselahannya dan segera memohon ampunan Allah SWT. Allah SWT mengampuni keduanya, tetapi tetap mendapat hukuman yaitu turun ke bumi di tempat berbeda. Begitu pula iblis/syetan juga diturunkan di bumi dan berjanji akan menggoda anak cucu Adam sampai kiamat nanti.

Bertahun-tahun kemudian Adam dan Hawa bertemu di jabal rahmah padang Arofah. Keduanya bersama kembali sebagai suami istri dan dikaruniai anak kembar (laki-laki dan perempuan) tiap kelahirannya. Allah SWT mengangkat Nabi Adam AS sebagai Nabi dan Rosul serta manusia dijadikan khalifah di bumi. Nabi Adam meninggal dalam usia 1000 tahun.


Sumber Gambar : bhclip.com
Sumber Tulisan : Buku Pengetahuan Islam Anak Muslim

Monday, December 24, 2018

Bubur Daging Saus Bolognese (7 Bulan)

by Mama Atha



Bahan : 
Daging cincang 
Buncis Tomat Wortel (parut) 
Daun seledri (cincang) 
Bawang bombay (cincang) 
Bawang putih (cincang) 
Daun jeruk Sereh (geprek) 
Beras Putih

Cara membuat : 
1. Masak beras dengan daun jeruk hingga menjadi bubur, atur tekstur dan simpan diwadah kedap udara (sisihkan) - pisahkan menjadi 3 porsi
2. Rebus Tomat hingga empuk, kupas kulitnya dan saring (sisihkan) 
3. Kukus daging cincang dg sereh sampai stgh matang (sisihkan)
4. Tumis bombay, bawang putih hingga harum, masukkan daging tambahkan air rebusan tomat hingga empuk 
5. Tambahkan parutan wortel, buncis cincang, daun seledri dan daun jeruk tambahkan air saringan tomat masak hingga matang (atur tekstur) - pisah menjadi 3 porsi makan 
6. Sajikan bubur dg daging bumbu bolognese dg parutan keju di atasnya. 

Note : karbo sayur protein bs divariasikan tergantung selera

Sumber : WAG MPASI GIM

Ibu untuk Anak Kita


by Ustadz Fauzil Adhim

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang  tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim....

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak atau belum ada dalam diri kita.

Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi...

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.
Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, insya-Allah ia akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki energi yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya... ya... ya..., cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

Tuesday, December 18, 2018

Tips dari Ust. Budi Ashari untuk Para Pendidik di Rumah



1. Ayah dan ibu harus mempunyai amal shalih pilihan yang rutin. Baca Alquran, di depan anak, qiyamul lail (sering titipkan anak kepada Allah, dengan penjagaan-Nya insya Allah kita akan tenteram, berinfak di jalan Allah. Harus ada amal yang menjadi unggulan kita.

2. Ayah dan ibu boleh memilih amal unggulan. Ibu membacakan kisah para sahabat, ayah mengajak anak-anak ke masjid. Ayah hebat dalam amal tertentu, ibu hebat di amal yang lain.

3. Berdoalah dengan menyebut amal tersebut sebagai tawassul agar Allah menjaga anak-anak kita.

4. Kalau syahwat mendesak-desak untuk mengambil harta yang tidak halal, maka ingatlah anak-anak. Harta tidak halal hanya melahirkan anak-anak yang rusak.

Untuk melahirkan generasi yang shalih dan hebat harus dengan harta yang halal!

Sumber bacaan : Inspirasi dari Rumah Cahaya

Saturday, December 8, 2018

Mempersiapkan Generasi Aqil Baligh (Bagian 2)


Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.
Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama'ah Masjid.
1. Mencari nafkah
  • Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
  • Sekali lagi : belajar tega
  • Jangan penuhi 100 % permintaan
  • Berbisnis mulai dari rumah
  • Sharing pekerjaan pada anak
  • Mulai dari mencari uang jajan
2. Latihan berorganisasi
  • Berorganisasi adalah berkehidupan
  • Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
  • Mulai dari mengorganisir rumah
  • Menjadi EO acara keluarga
  • OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah
3. Pendidikan yang berani dan tega
  • Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
  • Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
  • Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
  • Hadirkan si Raja Tega
4. Membangun Tanggungjawab
  • Anak tak selemah yang dibayangkan
  • Consequential learning
  • Tangan mencencang – bahu memikul
  • “Membalas” perlakuan
  • Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
  • Berikan kebebasan
  • Serahkan amanah dan tanggungjawab
5. Memecahkan masalah
  • Anak bukan makhluk bodoh
  • Jangan sembunyikan masalah
  • Saling berbagi masalah
  • Menekan percepatan baligh
  • Bawa masalah kehidupan ke rumah
  • Rajinlah berdiskusi
  • Ajarkan problem solving

*) Dirangkum oleh Harry Santoso, dengan beberapa penyesuaian

Friday, December 7, 2018

Mempersiapkan Generasi Aqil Baligh (Bagian 1)


Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi Aqil Baligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi Aqil Baligh, menurut ustadz Adriano Rusfi:
Pendidikan Aqil Baligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang AqilBaligh.
Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh:
1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf
  • Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
  • Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
  • Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
  • Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah
2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya
  • Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
  • Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
  • Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan
3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya
  • Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
  • Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
  • Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.
4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat
  • Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
  • Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
  • Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.
5. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya
  • Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
  • Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi
6.Kehidupan adalah guru yang terbaik
  • Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
  • Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
  • Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.
7. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan
  • Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami
8. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
  • Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental

Bersambung
*) Dirangkum oleh Harry Santoso, dengan beberapa penyesuaian