Friday, November 9, 2018

Tujuan Pendidikan



Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Ayah dan Bunda, apa jawaban kita bila anak kita bertanya: Apa sih tujuan aku belajar bertahun-tahun di sekolah: 2 tahun di Taman Kanak-Kanak, 6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMU dan 4 tahun di Perguruan tinggi, 18 tahun belajar formal, belum lagi bila ditambah bertahun-tahun lagi mengejar gelar master dan doktoral? Untuk mencapai apa aku bersusah payah belajar seperti itu?

Kebanyakan kita akan menjawab, “Agar kamu menjadi pintar, Nak.”

Sudah tepatkah jawaban itu? Bila ingin tahu jawabannya simak kisah berikut ini ya:

Suatu hari di masa yang lalu, seorang orientalis berjalan melintasi gurun-gurun Afrika Utara. Ia bukan orang biasa di masyarakat barat, tetapi seorang bangsawan bergelar “Count”. Namanya Count Henry du Casterie, orang Perancis. Semua orang mengenalnya sebagai penganut Katholik yang tekun.

Apa sih orientalis itu? Orientalis adalah orang non muslim yang mengkaji dan meneliti aqidah, syariat, bahasa dan peradaban Islam dengan maksud membut keraguan terhadap agama ini. Jadi sudah terbayangkan, apa yang dilakukannya di Afrika Utara, tempat negeri-negeri Muslim berada? Tentu saja sedang melakukan pekerjaannya sebagai orientalis.

Sebagai orang asing, Count Henry du Casterie tentu tidak bisa menjelajah gurun pasir sendirian. Makanya ia menggaji beberapa orang pembantu dan pemandu dari penduduk setempat. Para asisten ini adalah orang-orang muslim.

Perjalanan masih jauh dan belum waktunya beristirahat, namun saat shalat tiba. Salah seorang muslim di rombongan itu yang tampaknya dituakan oleh yang lain berkata, “Sudah tiba waktu shalat, mari berhenti dan shalat.”

Tentu saja Count Henry terkejut, harga dirinya sedikit tersinggung karena ia merasa dirinyalah bos dalam rombongan ini. Maka ia pun memberikan protes spontan, “Hei, apa yang kalian lakukan? Aku tak memberi perintah untuk berhenti!”

Orang muslim yang dituakan itu menjawab, “Benar, tetapi Tuhan kami memberi perintah kepada kami untuk menghadap-Nya sejenak...”

Count Henry du Casterie hendak membuka mulut untuk membantah, tetapi saat itu ia teringat, “Aku ini seorang ilmuwan yang mempelajari agama dan budaya mereka, kenapa aku harus memaksakan kehendakku? Lagi pula aku juga seorang penganut agama, sama seperti mereka...”

Maka terpaksalah sejak itu dan selama perjalanan belum selesai, Sang Bangsawan Perancis harus mengalah dan berhenti sejenak setiap kali waktu shalat tiba. Kelak dalam bukunya, ia menulis, “Meski mereka anak buahku, tetapi aku harus bersabar menunggu mereka shalat karena saat ini mereka lepas dari perintahku. Betapa kecilnya aku di hadapan orang yang sedang menyembah Tuhannya....”

Memang benar, pendidikan bertujuan mengasah akal agar jadi pintar, tetapi apa gunanya akal yang pintar dan ilmu yang banyak bila akhirnya tidak mengantarkan pemiliknya kembali kepada Tuhan? Count Henry mengalami hal itu, betapapun pintarnya dirinya, ia tahu bahwa ia tak ada apa-apa di hadapan orang-orang yang sedang shalat.

Bahkan Prof. Huizinga, seorang filsuf bangsa Belanda berkata, “Tujuan setiap peradaban haruslah menuju Akhirat. Peradaban yang tidak menuju Akhirat, lebih baik dimusnahkan saja.”

Tujuan menajamkan akal terangkum dalam kutipan ayat Al-Qur’an ini: “Yu’minuuna billaahi wa bil yaumil aakhiri (Beriman kepada Allah dan pada hari Kemudian).”

Tujuan pendidikan sejati adalah “Ma’rifatullah” (Mengenali Allah). Inilah yang dimaksud Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam saat Beliau bersabda, “Akal itu terbagi pada tiga bagian: sepertiga untuk mengenal Allah, sepertiga untuk taat kepada Allah dan sepertiga lagi untuk sabar (dapat menahan hati) dari maksiat kepada Allah.”

Jadi, bila kita ditanya anak kita, “Ayah/Ibu, untuk apa sih aku harus belajar bertahun-tahun sampai meraih gelar sarjana?”

Jawabannya adalah: “Agar kamu pada akhirnya akan mengenal Tuhanmu dan mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya.”

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.