Friday, November 23, 2018

Tips Makanan Pendamping ASI


Materi Dasar MPASI
Sekapur sirih MPASI (REVISI)
by Lintang
๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ
MP ASI ada yang harus diperhatikan : AFATVAH

A: Age, pengelompokan usia bayi
F: Frekuensi  pemberian MP ASI
A: Amount, porsi sekali makan
T: Tekstur makanan
V: Variasi bahan makan
A: Aktif responsif, tidak kaku, baca respon anak, libatkan anak dalam proses belajar makan
H: Hygiene, kebersihan saat persiapan (masak) dan makan

Bahas satu-satu ya..

๐Ÿ’—AGE
Dibagi 4 kelompok usia:
๐Ÿ’—6 bulan/awal masa MP ASI
๐Ÿ’—6-9 bulan
๐Ÿ’—9-12 bulan
๐Ÿ’—12-24 bulan
-------------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š-----------
FREKUENSI, PORSI, TEKSTUR
Frekuensi makan/cemilan, Amount (porsi) dan Tekstur makannya berbeda-beda di tiap kelompok usia.Tapi, untuk Variasi, Aktif responsif dan Higienitas sama ya..

๐Ÿ’— FREKUENSI
๐Ÿ˜€ 6 bulan awal MPASI (1-2 minggu) : 2-3x makan
๐Ÿ˜€ 6-9 : 4x makan
2x makan besar + 2 snack
3x makan besar + 1 snack
๐Ÿ˜€ 9-12 : 5x makan
3x makan besar + 2 snack
4x makan besar + 1 snack
๐Ÿ˜€ >12 bln = 9-12 bulan
Ini biar gampang ngingetnya

๐Ÿ’— AMOUNT / PORSI
๐Ÿ˜€ 6 bln awal MPASI: 1-2 sdm
๐Ÿ˜€ 6-9 bln: Mulai dari 2-3 sdm bertahap ditingkatkan hingga 125ml
๐Ÿ˜€ 9-12 bln: Mulai dari 125 ml, bertahap ditingkatkan hingga 250ml
๐Ÿ˜€ >12 bln: 250ml ++

๐Ÿ’— TEKSTUR
Awal MPASI 6 bulan sampai 9 bulan dimulai dengan bubur lumat yang kental. Tidak terlalu cair. Cara ngeceknya: saat sendok dimiringkan, bubur tidak langsung jatuh.
Kalo terlalu cair, artinya terlalu banyak air ๐Ÿ‘‰ nutrisi kurang padat. Padahal lambung bayi masih keciil... Jadi makanan yang masuk harus efektif.
Perbedaan tekstur 6-9 bulan: bahan makanan lumat. Kukus/rebus, lalu saring dengan saringan kawat. Ambil ampas yang nempel di belakang saringan.
๐Ÿ˜€ 9-10 bln: Makanan ditumbuk/dienyet2, tidak perlu disaring lagi
๐Ÿ˜€ 11-12 bln: Cincang kasar
๐Ÿ˜€ >12 bln: Tekstur sama dengan dewasa
------------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š-------------

๐Ÿ’—VARIASI
Nah.. yang suka bingung soal variasi. Apa aja yang bisa diberikan ke bayi? Semua udah bisa dicobakan ๐Ÿ˜Š
Biar selalu inget, ada 4 bintang
⭐⭐⭐⭐
⭐ Bahan makanan pokok: Nasi, bihun, singkong, ketan, ubi, kentang, oat, pasta, dll
⭐ Lauk hewani/Fe hewani: Ikan, ayam, daging, telur, udang, ati, dll
⭐ Kacang2an/lauk nabati: Tahu, tempe, kacang tanah, kacang merah, kacang kedelai, kacang  ijo, edamame, dll
⭐ Sayur/ Buah: Bayam, wortel, kacang panjang, brokoli, pakcoy, sawi, labu siam, dll. Pepaya, mangga, jambu, nanas, pisang, alpukat, dll
➕ Tambahan: Minyak sayur, margarin, butter, yodium, keju, susu dan turunannya, dll.
Komposisi masing2 bahan
4⭐ ini sebaiknya ada di setiap waktu makan... Karena tidak ada makanan "dewa" yang memenuhi semua nutrisi yang dibutuhkan anak, sebaiknya bahan makanan divariasikan setiap hari.
Jadi, walaupun bayem, ati, wortel bagus... bukan berarti harus dikasih tiap hari ๐Ÿ˜€.
Coba berbagai bahan makanan... Biar perbendaharaan rasa anak semakin kaya.

-----------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š--------------

๐Ÿ’— AKTIF RESPONSIF
Lalu soal aktif responsif, ini maksudnya, MPASI ini bukan sekadar memasukkan nutrisi ke tubuh anak. Lebih dari itu, anak juga diajak untuk BELAJAR MAKAN, belajar mengenal rasa, belajar memegang makanannya sendiri, belajar perbedaan tekstur antara tahu yang empuk dengan wortel yang renyah, belajar mengenali rasa lapar dan kenyang.
Jadi buatlah kegiatan makan yang menyenangkan. Baca respon anak. Misal anak terlihat ogah-ogahan, rewel, ngantuk, jangan paksakan makan. Lebih baik geser waktu makannya. JIka anak tidak mau makanan yang disajikan, kenali penyebabnya, bujuk anak untuk mau makan, usahakan makan bersama dalam keluarga.

---------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š---------------

๐Ÿ’— HYGIENE
Perhatikan kebersihan saat mulai masak. Membersihkan bahan makanan. Menggunakan talenan berbeda antara daging mentah dengan bahan makanan yang langsung makan.
Jangan lupa cuci tangan saat mau menyuapi makan dan juga tangan anak.
=========☆☆☆☆=======
Gitu.. Jadi MPASI ini mudah.. tidak perlu bingung menu apa buat bayi.
Gampangnya, saat mau masak untuk keluarga di rumah. Pastikan menunya memenuhi 4⭐
(4 bintang tidak hanya berlaku untuk bayi, tapi juga Pedoman Gizi Seimbang /PGS untuk dewasa). Masak seperti biasa. Sebelum diberikan garam/gula dan cabe, sisihkan untuk bayi. Olah lagi sesuai dengan teksturnya (saring/blender/cincang).

Sumber :
FP: Tips Menyusui, A-Z ASI dan Menyusui
Twitter: @tipsmenyusui
IG: @tipsmenyusui
Web: www.menyusui.info

Thursday, November 22, 2018

Mengatasi Anak yang Mudah Marah


Marah merupakan hal naluriah seorang manusia, begitu juga bagi anak-anak. Menurut ilmu psikologi, marah merupakan perubahan emosi terjadi karena suatu penyebab. Seperti kekecewaan, agresi lahiriah atau pengekangan diri. Jika dilihat dari kebiasaan penyebab anak marah adalah karena merasa terkekang. Tidak boleh terlalu banyak bermain, tidak boleh terlalu berisik di dalam ruangan, tidak boleh membeli sesuatu yang ia inginkan, dan masih banyak lagi. Mungkin sebuah pengekangan adalah maksud baik bagi orang tua dalam mendidik, agar tumbuh secara lebih teratur. Dan bagi anak marah adalah hal yang naluriah, wajar terjadi.

Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat anak ayah-bunda sering marah. Jelaskan kepada anak bahwa ia boleh marah atau kesal, tetapi tidak boleh berlebihan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa anak kadang hanya meniru apa yang dilihatnya. .
Anda dan kita semua sebagai orangtua harus mampu mengendalikan marah apalagi di hadapan anak-anak. Hal ini bisa menjadi “inspirasi” bagi anak atau anak akan mengikuti apa yang orangtua lakukan. Jika anak melakukan kesalahan maka maafkan dan beri nasihat dengan bijak.

Dalam Alquran Allah berfirman,
"…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS.Ali ‘Imrรขn: 134).

Nabi memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai hal yang dapat menahan dan meredakan amarahnya. Dan beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.

Sumber : www.percikaniman.id

Sunday, November 11, 2018

Tips Bahagia Ala Aa Gym


Siapa sih yang gak kenal dengan kyai kondang Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab di sapa dengan Aa’ Gym. Pagi tadi selepas subuh tak sengaja mendengar dan menyimak kajian beliau di salah satu stasiun TV. Menurut beliau, yang namanya bahagia itu tipsnya hanya ada satu, apakah itu??
Bahagia adalah ketika kita bertaqwa dan beriman kepada Sang Pencipta yaitu Allah swt yang Maha segalanya, kurang lebih begitu ungkap beliau saat ditanya oleh salah satu jamaah yang hadir.
Beliau menuturkan, jika kita ingin hidup bahagia maka hal yang harus dilakukan adalah mentaati segala perintah Allah swt. Segala perintah yang ditetapkan oleh Allah swt untuk umat manusia sesungguhnya akan kembali kepada manusia itu sendiri atau semuanya untuk dan demi kebaikan manusia sendiri. Sebab, pada dasarnya Allah tidaklah butuh untuk kita taati, melainkan kitalah yang butuh untuk mentaati perintah Allah. Jika kita renungkan, semua apa-apa yang Allah perintahkan untuk kita adalah untuk kebaikan kita. Kita sajalah yang terkadang masih merasa angkuh untuk tidak mau mengakuinya atau hati ini telah tertutup.

Kunci bahagia yang lain ialah selalu bersyukur dan pasrah kepada-Nya.
Bersyukur dengan apa apa yang telah ditetapkan-Nya untuk kita. Dengan selalu bersyukur, maka hati ini akan tenang dan tidak mudah gelisah. Syukur atas ketentuannya juga akan membuat hati kita selalu terbuka akan adanya hikmah dibalik setiap peristiwa yang terjadi sehingga pikiran kita akan selalu mengarah ke hal postif alias positive thinking. Berfikiran selalu positif pun akan membuat aura diri menjadi cerah dan menyejukkan jika dipandang orang sehingga akan menebarkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain yang melihat.

Selanjutnya adalah pasrah. Pasrah berarti menyerahkan segala sesuatu yang terjadi pada kita hanya kepada Allah semata. Allah telah memberikan ketetapan-Nya kepada setiap makhluk ciptaan-Nya dengan seksama dan pastilah tiada yang meleset. Pasrah disini maksudnya bukan berarti kita berdiam diri dengan keadaan yang telah terjadi tanpa melakukan apapun, melainkan tetap ada tindakan atau reaksi terhadap suatu peristiwa yang terjadi namun tetap berfikir positif sehingga hati pun tetap terjaga dari keburukan.

Selain itu, Aa’ juga memberikan Rumus Bahagia yaitu “me-“ dan “di-“. Maksudnya, ketika kita berinteraksi dengan orang lain maka rumus yang kita pakai adalah “me-“ bukan “di-“ seperti misal lebih sering memberi bukan diberi, lebih suka memuji bukan dipuji, mengasihi bukan dikasihi, dan lain sebagainya. Jika hal ini kita lakukan, insyaAllah kebahagiaan akan kita rasakan dan kita dapatkan setiap saat. Namun, jika kita berinteraksi kepada Allah maka yang harus dilakukan adalah kebalikannya yaitu kita menggunakan rumus “di-“ yaitu mengharap pertolongan Allah dan mengharap balasan hanya dari Allah, misal memohon untuk di-kasihi, mengharap diberi rahmat, diberi karunia, ditolong Allah dalam segala keaadaan, dan lain sebaginya.

Tips selanjutnya ialah jangan memberikan kebahagiaan kepada orang dengan cara yang tidak diridhoi oleh Allah, misal ingin memberikan kebahagiaan kepada keluarga dari uang hasil curian atau yang lain, membuat bahagia saudara dengan membuat orang lain menderita. Hal ini sangat tidak dianjurkan karena kebahagiaan yang didapat tidaklah nyata melainkan hanya semu. Misal saja, kita memberikan hadiah kepada seseorang dari hasil mencuri, maka ketika nanti ketahuan maka seorang yang kita beri hadiah akan dikira penadah atau yang tadinya merasa bahagia akan menjadi membenci kita. Atau jika kita bermaksud membahagiakan seseorang dengan membuat sengsara orang lain maka hal ini dapat dikatakan sebagai mendzolimi orang. Padahal mendzolimi sesama merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, sehingga yang terjadi adalah kita akan dihukum oleh Allah baik secara langsung maupun tidak langsung. Minimal pelakunya tidak akan merasa tentram hidupnya yang berarti kebahagiaan itu sirna seketika.

So, sesungguhnya bahagia itu mudah dan murah asalkan kita selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah sehingga syukur dan pasrah pun mudah dilakukan. Maka marilah mulai saat ini kita belajar untuk bahagia. Tips terakhir dari Aa’ untuk berbuat kebaikan ialah 3M (mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini).

Demikian tips bahagia yang dapat mimin bagi. Wallahua’lam bishawab.
Kebenaran hanya datang dari Allah, kesalahan datangnya dari diri saya yang masih belajar ini.

Friday, November 9, 2018

Tujuan Pendidikan



Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Ayah dan Bunda, apa jawaban kita bila anak kita bertanya: Apa sih tujuan aku belajar bertahun-tahun di sekolah: 2 tahun di Taman Kanak-Kanak, 6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMU dan 4 tahun di Perguruan tinggi, 18 tahun belajar formal, belum lagi bila ditambah bertahun-tahun lagi mengejar gelar master dan doktoral? Untuk mencapai apa aku bersusah payah belajar seperti itu?

Kebanyakan kita akan menjawab, “Agar kamu menjadi pintar, Nak.”

Sudah tepatkah jawaban itu? Bila ingin tahu jawabannya simak kisah berikut ini ya:

Suatu hari di masa yang lalu, seorang orientalis berjalan melintasi gurun-gurun Afrika Utara. Ia bukan orang biasa di masyarakat barat, tetapi seorang bangsawan bergelar “Count”. Namanya Count Henry du Casterie, orang Perancis. Semua orang mengenalnya sebagai penganut Katholik yang tekun.

Apa sih orientalis itu? Orientalis adalah orang non muslim yang mengkaji dan meneliti aqidah, syariat, bahasa dan peradaban Islam dengan maksud membut keraguan terhadap agama ini. Jadi sudah terbayangkan, apa yang dilakukannya di Afrika Utara, tempat negeri-negeri Muslim berada? Tentu saja sedang melakukan pekerjaannya sebagai orientalis.

Sebagai orang asing, Count Henry du Casterie tentu tidak bisa menjelajah gurun pasir sendirian. Makanya ia menggaji beberapa orang pembantu dan pemandu dari penduduk setempat. Para asisten ini adalah orang-orang muslim.

Perjalanan masih jauh dan belum waktunya beristirahat, namun saat shalat tiba. Salah seorang muslim di rombongan itu yang tampaknya dituakan oleh yang lain berkata, “Sudah tiba waktu shalat, mari berhenti dan shalat.”

Tentu saja Count Henry terkejut, harga dirinya sedikit tersinggung karena ia merasa dirinyalah bos dalam rombongan ini. Maka ia pun memberikan protes spontan, “Hei, apa yang kalian lakukan? Aku tak memberi perintah untuk berhenti!”

Orang muslim yang dituakan itu menjawab, “Benar, tetapi Tuhan kami memberi perintah kepada kami untuk menghadap-Nya sejenak...”

Count Henry du Casterie hendak membuka mulut untuk membantah, tetapi saat itu ia teringat, “Aku ini seorang ilmuwan yang mempelajari agama dan budaya mereka, kenapa aku harus memaksakan kehendakku? Lagi pula aku juga seorang penganut agama, sama seperti mereka...”

Maka terpaksalah sejak itu dan selama perjalanan belum selesai, Sang Bangsawan Perancis harus mengalah dan berhenti sejenak setiap kali waktu shalat tiba. Kelak dalam bukunya, ia menulis, “Meski mereka anak buahku, tetapi aku harus bersabar menunggu mereka shalat karena saat ini mereka lepas dari perintahku. Betapa kecilnya aku di hadapan orang yang sedang menyembah Tuhannya....”

Memang benar, pendidikan bertujuan mengasah akal agar jadi pintar, tetapi apa gunanya akal yang pintar dan ilmu yang banyak bila akhirnya tidak mengantarkan pemiliknya kembali kepada Tuhan? Count Henry mengalami hal itu, betapapun pintarnya dirinya, ia tahu bahwa ia tak ada apa-apa di hadapan orang-orang yang sedang shalat.

Bahkan Prof. Huizinga, seorang filsuf bangsa Belanda berkata, “Tujuan setiap peradaban haruslah menuju Akhirat. Peradaban yang tidak menuju Akhirat, lebih baik dimusnahkan saja.”

Tujuan menajamkan akal terangkum dalam kutipan ayat Al-Qur’an ini: “Yu’minuuna billaahi wa bil yaumil aakhiri (Beriman kepada Allah dan pada hari Kemudian).”

Tujuan pendidikan sejati adalah “Ma’rifatullah” (Mengenali Allah). Inilah yang dimaksud Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam saat Beliau bersabda, “Akal itu terbagi pada tiga bagian: sepertiga untuk mengenal Allah, sepertiga untuk taat kepada Allah dan sepertiga lagi untuk sabar (dapat menahan hati) dari maksiat kepada Allah.”

Jadi, bila kita ditanya anak kita, “Ayah/Ibu, untuk apa sih aku harus belajar bertahun-tahun sampai meraih gelar sarjana?”

Jawabannya adalah: “Agar kamu pada akhirnya akan mengenal Tuhanmu dan mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya.”

Thursday, November 8, 2018

Pendidikan Anak Berbasis Fitrah


Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Pendidikan berbasis fitrah / Fitrah Based Education (FBE) pada dasarnya adalah mendidik anak sesuai dengan fitrah yang dimiliki. Sehingga sejatinya tugas orangtua dalam mendidik anak sangatlah sederhana, yaitu memelihara fitrah anak. Apa itu fitrah? Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir. Pengertian fitrah secara sistematik berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki. Ada empat fitrah utama yang diperhatikan dalam penerapan FBE, yaitu fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.

1. Fitrah Keimanan
Fitrah keimanan meliputi fitrah beragama, fitrah bertuhan, fitrah kesucian, fitrah “malu”, fitrah “harga diri”, fitrah spiritual, fitrah berakhlak dan fitrah moral. Masa keemasan fitrah ini adalah pada usia 0-7 tahun. Pada usia tersebut anak berada pada masa dimana imajinasi dan abstraksi berada pada puncaknya, alam bawah sadar masih terbuka lebar , sehingga imaji tentang Allah, tentang Rasulullah, tentang kebajikan mudah dibangkitkan pada usia ini. Tetapi tidak menggunakan metode doktrinisasi, melainkan melalui kisah inspiratif tentang gairah kemuliaan budi pekerti, semangat kepahlawan maupun rasa persaudaraan sesama manusia.

2. Fitrah Belajar
Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat. Usia emas fitrah belajar berada pada usia 7-12 tahun. Usia 7-12 tahun secara perkembangan anak berada pada masa dimana otak kanan dan otak kiri sudah tumbuh seimbang, ego sentris telah berkembang menuju sosiosentris sehingga mulai terbuka pada eksplorasi dunia luar. Perkembangan indera sensori sudah tumbuh dengan sempurna.

3. Fitrah Bakat
Setiap anak adalah unik, mereka memiliki sifat bawaan masing-masing. Sifat bawaan yang unik ini berkaitan dengan keperibadian karena sifatnya melekat dan menjadi karakter kinerja. Kepribadian yang produktif inilah yang disebut dengan bakat. Fitrah bakat mencapai puncak keemasan pada usia 10-14 tahun. Secara fitrah perkembangan usia 10-14 tahun anak berada pada masa menjelang dewasa.

4. Fitrah Seksualitas
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks. Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Sumber : @parenting_islam.id

Wednesday, November 7, 2018

Doa Untuk Ibu Hamil



Banyak metode yang digunakan dalam menjaga kesehatan janin selama kehamilan. Seperti olahraga untuk ibu hamil, mengatur pola makan yang disarankan oleh ahli medis berfungsi dalam kelangsungan janin dan mempersiapkan persalinan. Selain sang ibu harus menjaga kesehatannya, akan lebih sempurna jika sang ibu pun lebih banyak dengan doa-doa pada masa selama kehamilan atau mempersiapkan persalinan.. 

Sebagaimana Isteri `Imran adalah ibu Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata: “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdo’a kepada Allah agar memberinya seorang anak. Dan Allah pun mengabulkan do’a-nya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil.

Setelah benar-benar hamil, ia bernadzar agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan khusus untuk beribadah, berkhidmah ke Baitul Maqdis seraya berucap: Rabbi innii nadzaartu laka maa fii bath-nii muharraran fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Yakni Maha mendengar do’a yang kupanjatkan dan Maha mengetahui niatku. Dan ia belum mengetahui anak yang berada di dalam kandungannya itu, laki-laki atau perempuan. (lihat Surah Ali Imran 35-36)

Berdoa adalah senjata untuk menggapai harapan. Apalagi sang istri yang ingin hamil dan sang ibu yg ingin mendapatkan anak yang shalih dan berbakti kepada orangtua. Selain itu juga kiat dalam membentuk sang buah hati dengan membacakan ayat suci al-Quran dan membiasakan dalam perilaku kesehariannya (sang ibu dan ayah) dengan beradab Islam.

Semoga bermanfaat..

Sumber : @parenting_islam.id (dengan beberapa penyesuaian)

Monday, November 5, 2018

Bolehkah Menghukum Anak?


Dunia pendidikan kita hari ini benar benar sedang kebingungan. Selain itu keadaannya juga mengkhawatirkan. Di mana konsep menghukum anak di bawah umur, SD-SMP terdengar menakutkan.

Amerika sebagai negara adikuasa telah memegang kendali pendidikan di negara kita. Setelah di masa lalunya dunia barat sengaja memperlakukan anak-anak seperti binatang dan budak dengan cara kasarnya. Akhirnya saat ini bermunculan konsep konsep pendidikan yang terbilang lembut.

Namun pendidikan Islam tidak memiliki masa kelam. Dari dulu hingga sekarang konsep Islam tidak pernah berubah walaupun terjadi pergantian zaman dan keadaan. Masalahnya ada pada diri kita. Keyakinan yang telah bergeser membuat hasil pendidikan kita berubah sangat jauh dengan hasil pendidikan Islam di masa kebesarannya.

Sampai-sampai memunculkan konsep larangan memukul pada anak. Atau lebih parah lagi ada konsep "Jangan Berkata Jangan". Hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an. Dalam Islam, berkata "Jangan" itu diperbolehkan. Saat Luqman berkata kepada anaknya.
.
ูˆَุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ู„ُู‚ْู…َุงู†ُ ู„ِุงุจْู†ِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุนِุธُู‡ُ ูŠَุง ุจُู†َูŠَّ ู„َุง ุชُุดْุฑِูƒْ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ۖ ุฅِู†َّ ุงู„ุดِّุฑْูƒَ ู„َุธُู„ْู…ٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata sama anaknya, di waktu ia memberi nasihat kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Qs.Luqman:13)

Maka, "Tujuan dari hukuman pendidikan Islam adalah memberikan arahan dan perbaikan. Bukan balas dendam dan penguasaan diri. Untuk itulah harus diperhatikan kebiasaan anak dan karakternya sebelum menghukumnya. Memotivasi anak untuk berusaha memahami dan memperbaiki kesalahannya. kemudian kesalahan tersebut dimaafkan setelah diperbaiki."

Sumber : @parenting_islam.id .

Friday, November 2, 2018

4 Cara Mendidik Anak Supaya Mendengar Perintah Anda!


Berbagai teori cara mendidik anak sudah Anda terapkan, tetapi perintah Anda sering tidak digubris. Anda tidak sendiri.
Problem ini sepertinya menjadi masalah utama orang tua jaman sekarang. Jangan biarkan ini terjadi terus menerus, karena anak akan manja dan merasa semua keinginannya harus dipenuhi. Lalu, harus bagaimana cara mendidik anak agar mereka mau mendengar perintah Anda?

1. Dengarkan Mereka

Meski Anda memberi perintah, bukan berarti Anda tidak mendengar keluhan mereka. Mereka mungkin capek belajar, sedang tidak enak hati dengan suasana sekolah, misalnya, atau masalah apa saja yang mereka alami.
Mau mendengarkan, adalah kunci dari cara mendidik anak yang baik. Jika Anda menunjukkan sikap mau mendengar keluhan mereka, atau menangkap kesan bahwa mereka sedang kesal dengan masalah mereka, maka mereka pun akan mendengar perintah Anda.

2. Panggil Nama Mereka

Teriakan tidak pernah menjadi cara mendidik anak yang disarankan karena hanya akan membangkitkan emosi. Anda pun tidak ingin diteriakin oleh bos hanya karena Anda diminta melakukan hal sepele, kan?
Pastikan Anda memanggil nama mereka, di mana mereka bermain. Saat yang dipanggil menoleh dan memerhatikan Anda, katakan apa yang Anda mau dari mereka.

3. Tatapan Mata

Tatapan mata memiliki kekuatan untuk menunjukkan perasaan. Saat orang tua menatap mata anak, maka anak akan melihat bahwa orang tua mereka memberi perhatian, bukan amarah.
Dengan menatap mata anak, Anda paham apakah mereka benar-benar mendengar atau cuek dengan perintah Anda. Dengan menatap mata anak, Anda menunjukkan bahwa Anda peduli dengan mereka dan mendengar apa yang mereka rasakan.

4. Introspeksi diri

Terkadang orang tua lupa bahwa mereka pun sering ingkar janji. Dari semua teori cara mendidik anak, introspeksi diri sering terabaikan oleh orang tua. Bagaimana mungkin anak akan mendengar perintah orang tua, jika sang orang tua kerap tidak konsisten dengan ucapannya?
Kata-kata kita pun tidak sakti lagi. Kita sering memarahi anak karena melakukan suatu hal yang sebenarnya sering kita lakukan sendiri. Ini yang benar-benar harus diperhatikan orang tua dalam mengaplikasikan ragam teori cara mendidik anak.

Sumber : id.theasianparent.com