Wednesday, October 31, 2018

Menumbuhkan Keimanan Anak Lewat Kegiatan Sehari-hari (Usia 0-7 Tahun)



Sebelum kita dilahirkan ke bumi, kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al-A'raaf: 172.

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"

Inilah yang sudah Allah berikan di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir. Tugas orangtua untuk menumbuhkan benihnya agar tumbuh dengan paripurna. 

Menumbuhkan fitrah keimanan pada anak bukan hanya sekedar mengajari anak shalat, mengaji dan puasa. Lebih dari itu. Dan yang paling utama adalah menumbuhkan kecintaan anak kepada Rabb.

Bagian menumbuhkan kecintaan anak terhadap Rabb seringkali terlawati begitu saja. Padahal banyak cara dan mudah saja untuk menumbuhkannya lewat kegiatan sehari. Yang paling mudah adalah dengan mengajari anak membaca basmalah dan hamdalah ketika akan memulai dan mengakhiri pekerjaan.

Kegiatan apa saja yang bisa orangtua lakukan:

Usia 1 tahun:
1. Ketika mengajari anak sebuah kosakata baru, selalu tambahkan "Allah".
"Nak, ini pohon ciptaan Allah"

2. Mau makan, katakan:
"Nak, ini makanannya rezeki dari Allah. Yuk sebelum makan ucap bismillah"


Usia 2 tahun:
1. Ajak anak untuk selalu bertasbih.
Ketika sedang berjalan kaki bersama anak, ajak anak bertasbih, subhanallah subhanallah subhanallah.
Ini mengajari anak untuk mengisi waktu dengan mengingat Allah.

2. Biasakan anak menyebut kalimat thoyyibah.
Mengajarkan anak kalimat thoyyibah secara tidak langsung kita membiasakan anak untuk berkata yang baik dan menjauhkan dari perkataan yang sia-sia.

3. Ketika anak menginginkan sesuatu, ajari berdoa.
"Nak, kita berdoa dulu yah, agar Allah berkenan memberikan kita rezeki berupa roti".
Mengajari anak untuk selalu berdoa kepada Allah itu seperti kita mengajarkan anak sebuah harapan. Agar anak tak mudah putus asa.


Usia 3+ tahun:
1. Ajak anak untuk berdzikir di perjalanan. Jika jalanan menanjak, ucapkan takbir. Jika jalanan menurun maka bertasbih.
Ketika anak naik tangga, "Nak, kita mau naik tangga. Ayo sambil takbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar".
Kebayangkam perjalanan itu menyenangkan, tidak sia-sia, mengingat Allah, insya Allah bernilai ibadah.

2. Ketika anak mulai belajar tentang dunia lebih luas lagi selalu kaitkan dengan Allah dan Al Quran.
Anak belajar tentang awan. Ajak anak buka Al Quran. Cari ayat tentang awan. Jelaskan kepada anak.
Ingat, biasakan ketika anak bertanya sesuatu maka ambillah Al Quran sebagai acuan. Al Quran bukan ensiklopedia. Kenapa? Agar anak terbiasa dan tertanam bahwa semua persoalan hidup dan apa yang ingin diketahui anak ada jawabannya di dalam Al Quran. 

3. Kenalkan kasih sayang Allah. Buat anak sadar bahwa kasih sayang Allah padanya begitu dekat.
Jelaskan keistimewaan dan kesempurnaan penciptaan tubuh dan pancaindra anak.

4. Ajari anak tentang surga dan penghuni surga.
Sudahkah kita mengajari anak tentang karakteristik penghuni surga pada anak?
Beritahu anak, bahwa penghuni surga gemar melakukan kebaikan, berbicara lembut, beramal shalih, dan lain-lain.
Kadang kita menginginkan anak masuk surga tapi kita lupa memberitahu anak seperti apa penghuni surga itu. 

5. Jadikan alam sekitar anak sebagai laboratorium untuk mengenal Allah.
Ketika melihat tumbuhan. Jelaskan pada anak bagaimana Allah menumbuhkan tumbuhan. Katakan pula bahwa buah adalah rezeki yang Allah turunkan untuk manusia, dan sebagainya.

Menumbuhkan keimanan anak seperti membangun sebuah pondasi rumah. Tak nampak dari luar, tapi sungguh ia penyangga bagian lainnya. Butuh waktu dan proses yang lama agar menjadi pondasi yang kuat. Jika pondasinya kurang pas maka ubah lagi bangun lagi sampai bisa dibuat bagian rumah lainnya.

Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa dan merasa sia-sia ketika menumbuhkan keimanan untuk anak. Memang memerlukan pengorbanan orangtua. Tapi bukankah balasannya berupa doa anak shalih dan surga? Setimpal.

Materi ini disadur dari buku "Setetes Iman Untuk Ananda" (diedit beberapa ejaan oleh RumahBahagia.com)

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.