Wednesday, October 31, 2018

Menumbuhkan Keimanan Anak Lewat Kegiatan Sehari-hari (Usia 0-7 Tahun)



Sebelum kita dilahirkan ke bumi, kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al-A'raaf: 172.

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"

Inilah yang sudah Allah berikan di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir. Tugas orangtua untuk menumbuhkan benihnya agar tumbuh dengan paripurna. 

Menumbuhkan fitrah keimanan pada anak bukan hanya sekedar mengajari anak shalat, mengaji dan puasa. Lebih dari itu. Dan yang paling utama adalah menumbuhkan kecintaan anak kepada Rabb.

Bagian menumbuhkan kecintaan anak terhadap Rabb seringkali terlawati begitu saja. Padahal banyak cara dan mudah saja untuk menumbuhkannya lewat kegiatan sehari. Yang paling mudah adalah dengan mengajari anak membaca basmalah dan hamdalah ketika akan memulai dan mengakhiri pekerjaan.

Kegiatan apa saja yang bisa orangtua lakukan:

Usia 1 tahun:
1. Ketika mengajari anak sebuah kosakata baru, selalu tambahkan "Allah".
"Nak, ini pohon ciptaan Allah"

2. Mau makan, katakan:
"Nak, ini makanannya rezeki dari Allah. Yuk sebelum makan ucap bismillah"


Usia 2 tahun:
1. Ajak anak untuk selalu bertasbih.
Ketika sedang berjalan kaki bersama anak, ajak anak bertasbih, subhanallah subhanallah subhanallah.
Ini mengajari anak untuk mengisi waktu dengan mengingat Allah.

2. Biasakan anak menyebut kalimat thoyyibah.
Mengajarkan anak kalimat thoyyibah secara tidak langsung kita membiasakan anak untuk berkata yang baik dan menjauhkan dari perkataan yang sia-sia.

3. Ketika anak menginginkan sesuatu, ajari berdoa.
"Nak, kita berdoa dulu yah, agar Allah berkenan memberikan kita rezeki berupa roti".
Mengajari anak untuk selalu berdoa kepada Allah itu seperti kita mengajarkan anak sebuah harapan. Agar anak tak mudah putus asa.


Usia 3+ tahun:
1. Ajak anak untuk berdzikir di perjalanan. Jika jalanan menanjak, ucapkan takbir. Jika jalanan menurun maka bertasbih.
Ketika anak naik tangga, "Nak, kita mau naik tangga. Ayo sambil takbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar".
Kebayangkam perjalanan itu menyenangkan, tidak sia-sia, mengingat Allah, insya Allah bernilai ibadah.

2. Ketika anak mulai belajar tentang dunia lebih luas lagi selalu kaitkan dengan Allah dan Al Quran.
Anak belajar tentang awan. Ajak anak buka Al Quran. Cari ayat tentang awan. Jelaskan kepada anak.
Ingat, biasakan ketika anak bertanya sesuatu maka ambillah Al Quran sebagai acuan. Al Quran bukan ensiklopedia. Kenapa? Agar anak terbiasa dan tertanam bahwa semua persoalan hidup dan apa yang ingin diketahui anak ada jawabannya di dalam Al Quran. 

3. Kenalkan kasih sayang Allah. Buat anak sadar bahwa kasih sayang Allah padanya begitu dekat.
Jelaskan keistimewaan dan kesempurnaan penciptaan tubuh dan pancaindra anak.

4. Ajari anak tentang surga dan penghuni surga.
Sudahkah kita mengajari anak tentang karakteristik penghuni surga pada anak?
Beritahu anak, bahwa penghuni surga gemar melakukan kebaikan, berbicara lembut, beramal shalih, dan lain-lain.
Kadang kita menginginkan anak masuk surga tapi kita lupa memberitahu anak seperti apa penghuni surga itu. 

5. Jadikan alam sekitar anak sebagai laboratorium untuk mengenal Allah.
Ketika melihat tumbuhan. Jelaskan pada anak bagaimana Allah menumbuhkan tumbuhan. Katakan pula bahwa buah adalah rezeki yang Allah turunkan untuk manusia, dan sebagainya.

Menumbuhkan keimanan anak seperti membangun sebuah pondasi rumah. Tak nampak dari luar, tapi sungguh ia penyangga bagian lainnya. Butuh waktu dan proses yang lama agar menjadi pondasi yang kuat. Jika pondasinya kurang pas maka ubah lagi bangun lagi sampai bisa dibuat bagian rumah lainnya.

Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa dan merasa sia-sia ketika menumbuhkan keimanan untuk anak. Memang memerlukan pengorbanan orangtua. Tapi bukankah balasannya berupa doa anak shalih dan surga? Setimpal.

Materi ini disadur dari buku "Setetes Iman Untuk Ananda" (diedit beberapa ejaan oleh RumahBahagia.com)

Thursday, October 25, 2018

Pengembangan Rasa Percaya Diri dan Tanggung Jawab Dalam Diri Anak



Anak-anak sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka lakukan.

Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumah tangga yang sesuai untuknya. Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.

Termasuk pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang besar.

Sumber :
Team Mawaddah Center

Sunday, October 14, 2018

Mengajarkan Anak Mengenal Allah


Percakapan Marwan dan Umm Marwan

Marwan : “Ummi ada teman Marwan bertanya , bagaimana Allah (tuhan) muncul? kenapa tuhan ada dengan sendirinya?”

Umm Marwan : “Apakah Marwan beriman(percaya) kepada yang ghoib dan percaya Allah ada?”

Marwan : “Iya Ummi, Marwan beriman kepada Allah dan yang ghoib”.

Umm Marwan : “Dalam surah Albaqarah ayat 2-3 disebutkan bahwa landasan agama Islam ialah percaya kepada yang ghaib:

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib , yang mendirikan shalat , dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka".

Umm Marwan : "Apakah boleh kita membayangkan bentuk Allah, tangan Allah?”

Marwan : “Tidak boleh karena nanti akan menjadi mushrik”.

Umm Marwan : “Betul sekali tidak boleh membayangkan Allah serupa dengan dengan makhluknya seperti dalam surah Assyura ayat 11: Artinya, "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia".

Adapun sifat Allah diantaranya adalah :

Alhayyu (yang maha hidup) , Alqoyyum(Berdiri dengan sendirinya), Albaaqii (Yang Maha Kekal), Alwaahiid(Yang Maha Tunggal), dan Al Ahad (Yang Maha Esa).

Allah muncul dengan sendirinya tanpa sebab, dan juga tidak ada penyebab kemunculan, kalau Allah ada ayah dan ibu tidak ada bedanya dengan Marwan, kalau Allah ada penyebab munculnya berarti penyebabnya akan disembah karena lebih berkuasa dari Allah. Karena itu Allah ada dengan sendirinya karena dia maha kuasa..

Marwan : "Bagaimana kita mengenal Allah?”

Umm Marwan : “Dari Alquran, Allah mengenalkan diri Nya di surah Thoha ayat 14:
Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat Aku”.

“Dimana Allah?”

Marwan : “Bersemayam di Arsh (langit)”.

Umm Marwan : “Betul sekali Marwan,”Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi lalu bersemayam DI ATAS ‘ARSY”. (QS. Al-A‘raf: 54).

Tapi ada ayat lainnya yang menyatakan :
1.Ayat yang mengatakan Allah dekat.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” ( Al-Baqarah: 186)

2. Ayat yang mengatakan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada .
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

3. Ayat yang mengatakan Allah lebih dekat dari urat leher.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16)

“Apa makna firman Allah,“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada ?

Beliau menjawab di “Kitab Itsbat Sifatil ‘Uluw karangan Abdullah Ahmad bin Qudaamah“, yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”

Bagaimana kita mengenal kekuasan Allah?”

Marwan : “Melihat ciptaan Allah dengan melihat diri kita, Matahari , bulan, bumi, Langit, hewan hewan dan tumbuhan”.

Umm Marwan : “Ahsanta betul , bila ingin lebih mengenal Allah, maka fahamilah Alquran didalamnyalah kita akan lebih mengenalnya”.

Terima kasih kepada admin yang telah mengizinkan tulisan ini di posting.

Sumber: FB Umm Marwan (dengan beberapa penyesuaian)

Saturday, October 13, 2018

10 Rahasia Parenting Nabi ibrahim.



Bagaimana menghadirkan anak seperti Nabi Ismail ‘alaihis salam? Ayah Bunda perlu belajar dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Bunda Hajar. Ini 10 Rahasia Parenting Nabi Ibrahim.

Ayah Bunda yang baik hatinya, setiap orangtua pasti ingin memiliki anak seperti Nabi Ismail ‘alaihis salam. Yang shalih, patuh pada orangtua dan penuh karakter mulia. Bayangkan, di usianya yang masih 13 tahun, ia merelakan nyawanya demi menjalankan perintah Allah.

Kalau anak sekarang, usia 13 tahun itu baru mulai SMP. Banyak yang masih labil, banyak yang masih manja, banyak yang masih belum mampu mengambil tanggung jawab. Ismail sungguh luar biasa.
Dalam Al Qur’an, Ismail dipuji Allah dengan delapan karakter:
Shalih, Sangat santun, Penyabar, Menepati janji, Memelihara shalat, Memerintahkan keluarga menjaga shalat, Menyerukan keluarga untuk beribadah, Berdakwah.

Bunda ingin kan punya anak seperti itu? Pasti ya.
Lalu bagaimana cara kita menghadirkan anak-anak seperti Ismail? Mungkin ada rasa skeptis, beliau kan Nabi. Mana bisa kita mencontohnya? Memang tidak bisa menyamainya persis. Tapi bukankah Allah memerintahkan kita untuk meneladani Nabi?

Kalaupun tidak persis Nabi Ismail, kita berharap anak-anak kita bisa menjadi Ismail zaman now. Anak-anak yang memiliki karakter seperti beliau.

Bagaimana caranya? Kita perlu belajar dari orangtua Ismail yang tidak lain adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Bunda Hajar. Di antaranya melalui 10 rahasia parenting Nabi Ibrahim.
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا
Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (QS. Maryam: 41)

Kita mulai dari Nabi Ibrahim.
Di Al Qur’an, nama Ibrahim disebutkan dalam 56 ayat. Bahkan ada satu surat yang dinamakan dengan Surat Ibrahim.
Dari 100 lebih ayat tentang Nabi Ibrahim dan hadits-hadits tentang beliau, tercatat ada 15 karakter utama beliau. Yang terkait erat dengan rahasia parenting ada 10.

Berikut ini 10 rahasia parenting Nabi Ibrahim:
1. Berdoa minta anak shalih sejak sebelum punya anak
Jauh-jauh hari sebelum punya anak, Nabi Ibrahim sudah berdoa meminta anak shalih. Doa ini perlu kita amalkan, khususnya yang ingin diberi Allah anak yang shalih.
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholih (QS. Ash Shaffat: 100)
Ini rahasia parenting Nabi Ibrahim yang pertama.

2. Memilih pasangan yang baik
Parenting itu sesungguhnya dimulai sejak memilih pasangan. Maka jika ingin anak yang shalih, pilihlah suami yang shalih, pilihlah istri yang shalihah.

Istri Nabi Ibrahim adalah wanita-wanita shalihah lagi mulia. Sarah, istri pertama beliau, adalah putri Raja Haran. Sejak sebelum bertemu Ibrahim ia telah mencela penyembahan berhala. Sedangkan Hajar yang nantinya melahirkan Ismail juga wanita berakhlak mulia, hadiah dari Raja Mesir sebagai pelayan Ibrahim dan kemudian atas permintaan Sarah dinikahi beliau.

Bagi yang belum menikah, pilihlah calon suami yang shalih, calon istri yang shalihah.
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ
Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. (QS. An Nur: 26)

Jika para Bunda sudah menikah, ya tidak perlu cari calon suami sholih. Kalaupun suaminya kurang sholih, doakan semoga menjadi lebih sholih.

3. Orientasi masa depan anak
Rahasia parenting Nabi Ibrahim yang ketiga adalah beliau memiliki orientasi masa depan anak yang sangat kuat.

John Calvin Thomas, seorang kolumnis AS, terkenal dengan quote-nya: “Politisi memikirkan pemilu yang akan datang, negarawan memikirkan generasi yang akan datang.”

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih hebat daripada negarawan. Karena beliau memikirkan generasi yang akan datang ketika Allah menjamin dirinya sebagai pemimpin sejarah.
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا ۖ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 124)

Kita bagaimana Bunda? Kadang nggak masih sibuk ingin karir kita naik, bisnis kita lancar, uang kita banyak. Sampai akhirnya tidak sempat memikirkan anak-anak. Sampai kadang anak-anak memprotes: “Ayah Bunda sibuk terus!”

Betapa banyak orangtua yang menyesal di masa tuanya karena ia terlalu sibuk dengan urusan dunianya lalu mendapati anaknya sudah nggak hormat sama dia, anak nggak taat sama dia, anak terpengaruh pergaulan bebas, narkoba. Na’udzu billah.

4. Menanamkan aqidah
Aqidah adalah pondasi. Pondasi karakter anak, pondasi keyakinannya, pondasi pola pikirnya, pondasi segalanya. Jika aqidah selamat (salimul aqidah), orangtua boleh lebih tenang. Separuh tugasnya telah selesai. Sebab imanlah yang menjadi kunci utama masuk surga.

Aqidah ini menjadi prioritas utama Nabi Ibrahim dalam mendidik putra-putranya.
وَوَصَّىٰ بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”(QS. Al-Baqarah: 132)

Bagaimana dengan kita Bunda? Kadang kita abai ya dalam masalah aqidah. Menganggapnya kurang penting. Menanamkan aqidah ini merupakan rahasia parenting Nabi Ibrahim yang keempat.

5. Menjadikan Kitab dan Hikmah sebagai panduan parenting
Rahasia parenting Nabi Ibrahim berikutnya adalah, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim dengan kitab dan hikmah. Dengan panduan keduanya, ia mendidik Ismail dan Ishaq.
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۖ فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا
ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. An-Nisa’: 54)

Jika kita ingin anak kita menjadi Ismail Zaman Now, kita harus lebih dekat dengan Al Quran dan hadits, yang dalam beberapa ayat disebut sebagai hikmah. Dari dua sumber utama itulah kita mengambil panduan.

Ilmu parenting modern bagus, mengambil ilmu dari Barat boleh, tapi jangan bertentangan dengan Al Quran. Misalkan ada teori “tidak boleh mengatakan ‘jangan’ kepada anak”. Mungkin dalam sebagian hal bisa diterapkan. Namun jika mutlak tidak boleh mengatakan “jangan” maka ia bertentangan dengan Al Quran yang mengajarkan bagaimana Luqman mendidik anaknya dengan mengatakan Ya bunayya laa tusyrik billah, wahai anakku jangan menyekutukan Allah.

6. Lembut Hati dan Penyantun
Rahasia parenting Nabi Ibrahim keenam, beliau disifati Allah dengan awwaahun haliim (sangat lembut hati lagi penyantun).
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(QS. At-Taubah: 114)

Dua karakter ini sangat dibutuhkan orangtua dalam mendidik anak-anak. Lembutlah pada anak-anak. Penuh kasih sayang. Tidak kasar, tidak membentak, tidak menghardik.

7. Menjadi Teladan bagi Anak-Anak
Ibrahim mencontohkan, untuk bisa menghadirkan anak sekualitas Ismail, orangtua harus memberikan teladan kepada anak-anaknya.

Satu keteladanan lebih berpengaruh bagi anak daripada 1000 kata-kata. Coba perhatikan ayah yang menyuruh anaknya sholat di masjid tapi dia sendiri tidak pergi ke masjid. Apakah anak mau? Seringnya malah membantah.

Tapi kalau orangtua sudah rapi, sudah wudhu, siap ke masjid, tanpa disuruh pun anak tertarik untuk ikut ke masjid.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِلَّهِ حَنِيفًا وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An-Nahl: 120)

8. Segera kembali kepada Allah
Rahasia parenting Nabi Ibrahim kedelapan adalah segera kembali kepada Allah.
Sekali lagi Allah menegaskan bahwa Ibrahim itu sangat lembut dan penyantun dalam Surat Hud.
إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَحَلِيمٌ أَوَّاهٌ مُنِيبٌ
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. Hud: 75)

Dalam ayat ini ditambah satu karakter lagi; suka kembali kepada Allah.
Kita sebagai orangtua, kadang khilaf dalam mendidik anak-anak. Segera kembali kepada Allah. Kadang kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan ilmu kita, ayo kembali kepada Allah. Kadang kita terlalu membanggakan diri saat anak-anak berprestasi, ayo kembali kepada Allah. Kadang kita merasa hampir putus asa saat anak-anak tidak sesuai dengan keinginan kita, ayo kembali kepada Allah.

9. Mentradisikan dialog dan mengajak anak musyawarah
Meskipun Nabi Ibrahim tahu bahwa perintah menyembelih Ismail itu dari Allah dan harus ditaati, beliau tetap mengajak anak dialog. Meminta pendapatnya.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kadang kita suka memaksakan pendapat ke anak nggak Bunda? Kadang terlontar “Kamu harus masuk sekolah ini ya” atau “Kamu harus pilih ekskul ini ya”. Kita perlu membiasakan dialog dengan anak. Agar tahu isi hati anak, agar ia paham dan agar ia bahagia. Sungguh berbeda patuh pada orangtua karena paham dengan patuh karena terpaksa.

10. Selalu menyertai anak dengan doa
Apa bedanya dengan doa pada poin pertama? Doa pada poin pertama itu perlu dipanjatkan sejak sebelum punya anak. Ia juga bersifat umum dan doanya pendek.

Cukupkah doa begitu? Tidak. Doa untuk anak harus terus menerus, sejak ia kecil hingga ia dewasa.
Dan inilah rahasianya mengapa Nabi Ibrahim yang demikian jauh terpisah jarak dari Ismail, belau berdua tetap memiliki hubungan hati. Ketika Ibrahim datang, Ismail tidak meragukan keshalihan ayahnya. Mengapa? Karena Nabi Ibrahim terus mendoakannya.

Doa Nabi Ibrahim untuk anaknya ini luar biasa panjang. Sebagiannya diabadikan Al Quran dalam surat Ibrahim ayat 35-41, hampir satu halaman mushaf. Padahal biasanya, doa para Nabi itu pendek-pendek. Doa Nabi Adam saat bertaubat setelah diturunkan ke bumi hanya satu baris. Doa Nabi Yunus saat ditelan ikan hanya satu baris. Namun doa Nabi Ibrahim untuk anaknya hampir satu halaman mushaf.

Sudahkah kita mendoakan anak-anak kita dengan doa yang sungguh-sungguh, khusyu’ dalam munajat yang panjang?

Lalu bagaimana dengan Bunda Hajar? Bunda Hajar juga memiliki kebaikan-kebaikan seperti suaminya. Mulai dari keyakinannya kepada Allah dan kekuatan tawakkalnya ketika ditinggalkan di Makkah berdua dengan bayi Ismail, sampai ketaatannya kepada Allah.

Peran besar Hajar adalah mendidik Ismail ketika terpisah jarak dari Ibrahim sesuai prinsip parenting Ibrahim tersebut. Ditambah menceritakan kebaikan-kebaikan Ibrahim pada Ismail sehingga meskipun tidak melihat langsung, Ismail bisa memvisualisasikan ayahnya yang luar biasa sehingga cinta dan hormat kepada beliau. Ia juga selalu merindukan ayahnya sehingga ketika pulang, disambutnya dengan penuh cinta dan penghormatan.

Demikian 10 Rahasia Parenting Nabi Ibrahim, juga bagaimana rahasia parenting Bunda Hajar. Semoga bermanfaat dan bisa kita amalkan sehingga hadirlah Ismail Zaman Now di tengah-tengah keluarga dan masyarakat kita.

[Ummi Liha/KeluargaCinta]

Monday, October 1, 2018

Cara Cerdas Menghukum Anak


Oleh:
Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa' (Pakar Parenting dari Kuwait)
Seorang ibu berkata: "Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 9 tahun dan yang kedua 6 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman (iqob) tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?".

Saya berkata: "Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?

Ibu tersebut menjawab: "Saya tidak paham, bagaimana itu?"

Saya jawab: "Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif".

Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul.

Kita juga bisa menggunakan Metode Memilih Hukuman.
Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari. Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.

Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: "Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!"

Saya katakan: "Kita harus membedakan antara ta'dib (mendidik) dengan ta'dzib (menyiksa)!".

Tujuan ta'dib adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran, pengawasan (mutaba'ah), dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini ta'dzib bukan ta'dib; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu. sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan (ta'dib) untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: "Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba".

Saya bilang: "Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya".

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode ta'dib Rasululllah shallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta'dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: "Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi".

Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses ta'dib.
Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah sebulan. Dia bertutur: " Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?"

Saya jawab: "Saya ambil dari metode Al-Qur'an dalam mendidik (ta'dib).
Allah _subhanahu wata'ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah".

Ibu berkata: "Jadi ini metode pendidikan Al-Qur'an?"

Saya jawab: "Betul, sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya 'metode memilih hukuman' yang telah dijelaskan".

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkan oleh:
Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban ISLAM
🌾🌸 Wadah Aspirasi Muslimah 🌸🌾