Thursday, September 13, 2018

Mengambil Hikmah dari Penyesalan


Suffering (Penyesalan)
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Bagi Anda yang merasa: hidup ini kok terasa sulit terus ya? Nggak henti-hentinya kesulitan datang silih berganti! Padahal saya sudah selalu patuh kepada Allah dan selalu berdoa! Kenapa? Kenapaaa? Bagi yang berpikir begitu, silakan simak apa yang dikatakan Prof. Jeffrey Lang.

Prof. Jeffrey Lang, mantan atheis yang kemudian menjadi mualaf, pernah menceritakan perjalanannya memeluk Islam. Dalam proses pencerahan itu ia menemukan bahwa Al-Qur’an selalu menekankan 3 hal penting untuk mendapat keimanan:
1. Intellect, kemampuan manusia untuk menggunakan akal pikiran.
2. Choice, kemampuan manusia untuk memilih mana yang benar dan yang salah.
3. Suffering, keadaan ketika manusia harus mengalami penderitaan di muka bumi.

Yang menarik adalah poin ketiga, yaitu Suffering (mengalami penderitaan). Prof. Lang mengatakan bahwa dalam hal Suffering ini Islam berbeda konsep dengan agama-agama lain. Ada agama lain yang menawarkan konsep penyelamatan (salvation), yaitu dengan cara Tuhan turun ke dunia untuk menebus dosa umatnya. Ada agama yang menawarkan latihan meditasi agar bisa melalui kesulitan tanpa mengalami rasa derita. Ada agama yang mengatakan bahwa suffering adalah hukuman buat manusia.

Namun Islam mengatakan lain, Al-Qur’an justru mengatakan bahwa manusia harus mengalami Suffering untuk mendapatkan iman. Silakan renungi ayat-ayat berikut dari sekian banyak ayat yang lain:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad [90]:4)
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Memang tidak ada Surga di dunia ini buat orang beriman, yang ada sebaliknya: jalan yang mendaki lagi sukar. Jalan yang mendaki lagi sukar ini menakutkan buat orang-orang yang tidak beriman sehingga mereka menjauhinya. Namun orang-orang beriman justru dengan rela hati menempuhnya.

Apa jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu menolong sesama saudara yang menderita. Itu artinya mengalahkan ego dan keserakahan untuk berbagi dengan orang lain. Itu artinya kita harus tengok kanan dan kiri serta melangkah ke tempat-tempat orang membutuhkan pertolongan.

Jadi, berhati-hatilah bila Anda sedang dimanja dengan kemudahan dan fasilitas. Jangan biarkan keluarga dan anak Anda ikut termanjakan. Sebab bila mereka ikut termanjakan, mereka tidak akan siap mengalami Suffering. Padahal manusia (beriman atau tidak) sudah ditakdirkan untuk pasti akan mengalami momen-momen Suffering di dunia ini.

Orangtua yang bijak akan mengajar anaknya bekerja keras dibanding memanjakan. Ayah dan Ibu yang bijak akan memilih untuk membiasakan anak sedikit bersabar dalam menahan keinginan sampai saatnya tiba, padahal mereka lebih dari mampu untuk mengabulkan semua permintaan anak seketika itu juga.
Ketika mengalami sedikit Suffering dalam sabar dan ketabahan itulah, aspek Intellect dan Choice anak berkembang. Ia akan mampu menajamkan logika untuk mencari jalan keluar. Ia akan mampu memilih kebaikan dibanding keburukan walaupun keburukan tampak sangat menggiurkan.
Allahu a’lam.
Salam Smart Parents!

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.