Thursday, September 20, 2018

Anak Susah Diperintah?


Capek Bersuaraoleh Wina Risman

Terkadang, ada kekesalan, keputus-asaan, keletihan dalam menjadi orang tua, terutama jika anak sudah mulai tidak mendengarkan. Disuruh harus berkali-kali, dan tidak bergerak walau satu sentipun. 'Sebentar' demi 'sebentar' terulang berkali-kali. Hingga akhirnya, setelah bermenit menit berlalu, atau bahkan berjam-jam, yang terjadi adalah emosi memuncak, kesabaran menipis. Oktaf nada pun naik tidak kira-kira, ketika anak tidak juga bergeming. Maka tangan mulai bermain. Entahlah itu mencubit, memukul, dan atau mengancam.

Hal ini lebih sering terjadi, jika salah seorang dari orang tua, merasa letih, lelah, banyak pekerjaan dan atau tidak mendapatkan bantuan terutama dari pasangannya.
Lebih sering daripada tidak, orang tua yang menyuruh terkadang sedang sibuk dengan gadget-nya. Mengharap anaknya “autopilot” langsung mengerjakan apa yang diperintahkan, saat itu juga. Ada juga yang sibuk menonton televisi, sambil mulutnya terus “berdzikir” mengingatkan anak akan apa yang perlu dilakukannya, tanpa ia berhenti satu menitpun untuk mengajak anak itu mengerjakan tugasnya.

Memang ada juga, waktu dimana orang tua super sibuk dengan pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kantornya, sehingga berharap si anak mampu membantu mereka dengan mengerjakan sendiri hal-hal yang simple yang ia biasa kerjakan sehari-harinya.

Action Speaks Louder Than Words
Tindakan bersuara lebih kencang dari hanya kata-kata.
Ketika kita mengalami keadaan seperti di atas, terlepas kita sedang istirahat, dating sama gadget, ngaso (red:istirahat), ngopi, mengerjakan presentasi, cuci piring atau membersihkan rumah yang hampir seperti kapal pecah.. BERHENTILAH!
Memang susah, tapi BERHENTILAH!
Stop menengking, meninggikan suara, atau bahkan mengancam!
Bangun, lalu tepuk pundak sang anak (terutama anak laki-laki), ajak dia melakukan apa yang kita perintahkan tadi, temani dan tunggui hingga ia mulai melakukannya.

Ini tidak selalu harus dilakukan, hanya pada saat-saat dimana anak sudah mulai tidak mendengarkan, dan kita mulai kehabisan kesabaran.
Metode ini efektif untuk mengurangi, marah-marah, kesal, nada tinggi dan mengancam.
Terus terang, INI TIDAK AKAN MUDAH.
Akan diperlukan i’tikad baik untuk merubah kebiasaan, tenaga untuk bangun dan berhenti sejenak dari apa yang sedang dilakukan, dan kesabaran seluas lautan..!!!

Tapi percayalah, jika dicoba, Insha Allah pasti ada perubahan.
Latihan tahan nafas dan kontrol emosi, belajar jadi lebih “rajin” lagi, dengan bangun dan berusaha menemani. Hal ini akan dilihat anak sebagai contoh, dibandingkan dengan hanya perintah. Terkadang, kita memerintah atau menyuruhpun tidak menengok sama sekali pada anak. Sibuk dengan apa yang kita lakukan, hingga yang terdengar terus menerus adalah ‘zikir’ suruhan saja.

Anak juga manusia, ada saatnya mereka malas luar biasa, dan terkadang malas mereka melebihi kita. Kenapa kita boleh tapi mereka tidak? Apakah karena mereka masih muda? Tidak memiliki banyak pekerjaan maupun tanggung jawab seperti kita? Sebetulnya kalau dipikir-pikir, cukuplah tanggung jawab mereka, sesuai dengan usianya.

Marilah menjadi lebih bijaksana, dengan mencontohkan dan bukan sekedar kata-kata. Merubah sesuatu itu tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Tinggalkan gadget itu sebentar, matikan televisinya. Berhenti sebentar dari mencuci piring, matikan kompornya. Ajak anak dengan baik pada apa yang harus diperbuatnya. Ditemani sekali-kali itu menyenangkan lho! Lihat perubahannya.

Selamat mencoba!

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.