Friday, September 28, 2018

Menjadi Orangtua Hebat


Let's share the goodness
Karena ikatan batin yang rusak dimasa kecil, ditandai salah dalam proses menyusui dimana ibu terlalu cepat menyapih atau menyusui lewat botol anak jarang dipeluk dan dibelai, Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya:

"Jika ASI seorang ibu berhenti sebelum anak berusia 2 tahun maka hak anak bermain dengan puting ibunya tidak boleh diredakan" .

Kalaupun ibu bekerja sehingga harus memeras ASI-nya, jangan mengandalkan ASI di botol sebab nantinya badan mereka bongsor tapi jiwanya kerdil, maka solusinya adalah ketika malam anak ditempelkan ke puting atau dada ibunya, sebab anak sampai usia 2 tahun butuh ibunya, Rasulullah pun pernah mempercepat sholatnya ketika mendengar bayi menangis, sehingga ijma' ulama "hukum membatalkan sholat sunnah untuk mendiamkan bayi menangis adalah boleh".

Ibu yang dekat dengan anak di masa kecilnya akan mempengaruhi kualitas hubungannya dengan anak ketika ia dewasa, saat muka ibunya berubah mereka akan sensitif "mama kenapa, aku salah ya?", sebaliknya anak yang tidak dekat dengan ibunya ketika muka ibunya berubah mungkn mereka malah meledek.

Karena peran yang tertukar
Tugas ibu sejatinya memberikan rasa nyaman sedangkan tugas ayah adalah menegakkan aturan. Misalnya ketika anak menangis karena dimarahi ayahnya sebab melanggar aturan, tugas ibunyalah yang membujuk anaknya "Sudah sayang, maksud papa baik. Itu tandanya papa sayang kamu". Jangan malah sebaliknya, karena ibunya yang rajin ikut kajian parenting ayahnya tidak, ibu yang selalu buat aturan "Nonton tivi paling lama 2 jam". Giliran ketika ayah datang anak merengek "Ayah, boleh nonton TV kan?", ayah jawab "Boleh". Nah, inilah yang membuat anak memusuhi ibunya. Oleh karenanya supaya  ini tidak terjadi, kembalikan tugas ibu sebagai pemberi rasa nyaman dan yang menjadi tugas Ayah adalah membuat aturan.

3 Skill Dasar
Ada 3 skill dasar yang mesti dimiliki seorang ibu agar anak merasa nyaman dan selalu rindu untuk pulang :
1. Memasak
Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu hal yang membuat anak ingin/rindu untuk pulang ke rumah adalah rindu masakan ibu.

2. Memijit
Setiap anak suka dipeluk dan disentuh sampai dewasa pun orang senang dipeluk dan disentuh, anak kalau sudah remaja jarang yang mau dipeluk dan dicium oleh ibunya. Makanya bujuk dengan pijitan, jika anak mau disentuh bagian punggung, leher dan telapak tangannya maka ia akan lancar bercerita. Makanya jangan sepelekan tugas tukang pijit sejatinya dia adalah konselor dan biasanya tau aib orang-orang yang dipijitnya karena ketika orang dipijit dia akan lancar bercerita. Ibu bisa memanfaatkan ini untuk lebih mengenal anaknya.

3. Mendengar
Salah satu kelemahan ibu adalah tidak sabar mendengar anaknya bicara/curhat. Ada anak yang baru saja cerita dengan ibunya tiba-tiba malas melanjutkan karena ibunya sudah buru-buru mengeluarkn ayat, dalil/menyanggah. Anak : "Bunda masa tadi ada yang godain aku"
Ibu : "Qolallahu ta'ala filqur'anil karim"
Belum jelas duduk permasalahannya sudah keburu menasehati hingga mungkin saja nasehatnya tidak tepat sasaran sehingga anak lebih senang curhat di media sosial. Menasehati anak memang tidak salah. Tetapi ketika mereka curhat, ibu wajib mendengar.

Masa krisis anak dimana ayah sangat berperan
- Awal sekolah, anak yang dekat dengan ayahnya akan mudah beradaptasi di sekolah dan lebih pede. Sebaliknya, anak yang tidak dekat dengan ayahnya akan susah beradaptasi di sekolah. Anak yang dibangunkan di pagi hari oleh ayahnya akan memiliki prestasi yang lebih baik.

- Menjelang pubertas ketika anak siap memasuki dunia remaja.

- Pubertas, terutama untuk anak wanita, anak yang dekat dengan ayahnya tidak akan mudah jatuh ke pelukan lelaki lain karena kebutuhan dasar wanita adalah ingin diperhatikan dan dicintai. Mengapa ada anak perempuan yang ketika ada lelaki yang merayunya dan mengungkapkan cinta dia akan mudah diikat hatinya dan menganggap lelaki ini luar biasa? Karena lisan ayahnya terlalu kaku mengungkapkan cinta kepadanya, seharusnya ayah tidak segan mengatakan "Duhai cintanya ayah, ketahuilah tidak ada satupun lelaki di dunia ini yang lebih mencintaimu kecuali ayah, kamu harus tahu itu".

- Persiapan nikah, anak yang tidak dekat dengan ayahnya akan bingung menentukan sosok jodoh yang tepat. Sebaliknya, ketika ayah menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya maka dia akan mencari sosok suami seperti ayahnya. "Tipe kamu seperti apa?, Seperti ayah". Kalaupun tidak dapat persis seperti sosok ayahnya minimal mau menerima calon yang dipilihkan ayahnya. Ayah yang tidak dekat dengan anaknya harus siap menerima calon menantu yang akan memisahkannya dari sang anak.

- 5 tahun pertama pernikahan, wanita yang menggugat cerai suaminya karena tidak punya sosok ayah sehingga ketika  disakiti suaminya akan cepat mengambil kesimpulan semua lelaki sama, semua lelaki brengsek. Sebaliknya wanita yang dekat dengan ayahnya akan cenderung mempertahankan pernikahannya karena menghargai ayahnya.

Bentuk cinta yang dibutuhkan anak
- Ucapan, "ayah/ibu sayang kamu," Islam sendiri mengajarkn bahwa cinta itu harus dinyatakan.

- Senyuman, anak akan merasa nyaman memandang wajah ayah ibunya yang suka senyum.

- Pelukan.

- Permainan bersama, anak harus merasa asyik ketika bermain dengan orang tuanya.

- Kehadiran orang tua di golden moment, yaitu ketika anak sedih (bandar narkoba suka mendekati anak yang lagi sedih), sakit, dan unjuk prestasi (menghapal Al Qur'an, baca puisi dan lain sebagainya) orang tua wajib hadir pada kondisi ini karena jika tidak anak bisa saja merasa tidak dicintai.

- Hadiah
Jangan berdasarkan momen. Misalnya ulang tahun bagi yang merayakan, karena anak akan merasa tidak istimewa. Sering-seringlah memberikan/mengirimkan hadiah mendadak. Jika mereka bertanya "mengapa?", katakanlah bahwa karena ayah/ibu sayang atau cinta kamu.

- Doa
Jangan bosan mendoakan anak karena kita tidak tahu diurutan keberapa ucapan orang tua akan masuk ke hati anak.


Demikianlah sedikit oleh-oleh yang bisa kami share dari seminar parenting "Mendidik Anak Setangguh Nabi Yusuf", semoga bermanfaat, boleh di share ke orang lain.


Pesan ini diteruskan oleh
www.muantapzaqiqah.blogspot.com 
Beberapa ejaan disesuaikan oleh
www.rumahbahagia.com

Thursday, September 27, 2018

30 Tahun Mendatang Anak Kita


Oleh: M. Fauzil Adhim
Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau gembleng mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30-40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan ummat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka..., ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.
Ingatlah hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.
“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta'ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.
Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

"اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"
“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar.

Monday, September 24, 2018

Kisah Handuk Basah di Atas Kasur


Seorang istri memiliki suami yang punya kebiasaan meletakan handuk basah begitu saja di atas kasur.
Si istri sering 'ngomel' pada suaminya. Suaminya tak berubah.
Capek marah-marah, si istri mulai ganti cara dengan menyindirnya.
“Bagus sekali ada handuk basah di tempat tidur..!!!” ujarnya dengan suara sinis.
Atau, “Kapan handuk bisa jalan sendiri ke jemuran....???”
Apakah suaminya berubah? No..!!!
Bahkan semakin sebel dengan si istri.
Akhirnya si istri merasa capek, marah sudah, menyindir sudah, tapi tak ada hasilnya.
Mengubah orang lain susah, apalagi untuk hal yang sudah jadi kebiasaan sejak kecil. Akhirnya ia mengubah pikirannya sendiri.

“Baiklah, handuk basah ini akan menjadi permadani di surga nanti. Makin banyak aku memindahkan handuk basah ke jemuran, makin banyak permadani indahku di surga.”
Setiap melihat handuk basah di kasur, si istri tersenyum dan bergegas menjemurnya. Perasaannya bahagia.
Apakah handuknya berubah? Tidak! Handuk basah tetap ada di kasur. Yang berubah cara pandang dirinya terhadap handuk basah tersebut.

Waktu berlalu, si istri kaget. Tak ada lagi handuk basah di kasurnya. Ia sudah lupa sejak kapan ia tak lagi melakukannya.
Rupanya melihat keikhlasan istrinya, sang suami tergerak untuk melakukannya sendiri. Inilah Games of Mind. Kadang ada hal yang sulit kita ubah pada orang lain. Jika ingin hasil yang lebih baik, maka ubahlah diri kita lebih dulu.

Selamat bermain-main dengan pikiran Anda sendiri. Bahagia, sedih, syukur, mengeluh, semua adalah tergantung diri kita. Kitalah yang memilih.

Sumber: Grup WhatsApp Parenting Islami

Saturday, September 22, 2018

Kembalikan Fungsi Ayah dalam Pengasuhan Anak


Ayah sebagai nakhoda bahtera keluarga, harus mempunyai rencana jangka pendek dan jangka panjang untuk menghadapi ujian hidup, bukan hanya untuk jaman sekarang tapi juga jaman masa depan yang akan dilalui oleh anak cucu kelak.
Ingatlah visi ayah para anbiya, Nabi Ibrahim, yang ketika dinyatakan lulus ujian dan mendapatkan pengakuan dari Allah, beliau teringat nasib anak cucu (dzuriyyat)nya dan menanyakan masa depan kepada Allah.
Dan lelaki itu adalah pemimpin, dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR Bukhari Muslim)
Banyak para ayah yang masih belum bisa mengatasi masalah Inner Child-nya sehingga kesulitan dalam merawat dan mendidik anak-anak. Bagaimana ia bisa berdamai dengan masalah yang dihadapi anak-anak, bila ia sendiri belum bisa mengatasi masalah yang ia hadapi, ia masih berorientasi dengan dirinya sendiri.
Pernahkah para ayah mengecek kapan pertama kali anak lelakinya mimpi basah ?
Pernahkan para ayah tahu kapan anak gadisnya pertama kali dapat menstruasi ?
Pernahkah para ayah bermain hujan-hujanan bersama si kecil ?
Pernahkan para ayah mengajarkan anak lelakinya mencuci motor ?
Pernahkah para ayah membawa anak gadisnya berjalan hanya berdua untuk jalan dan berbelanja ?
Pernahkan para ayah mengecek bacaan Alquran anak-anaknya ?
Pernahkan para ayah memberikan ilmu agama dirumah ?
Pernahkan para ayah mendampingi anak- anak belajar pelajaran sekolah ?
Para ayah sekarang sangat disibukkan dengan Gadget mulai dari bangun tidur sampai tidur.
Para ayah sekarang hanya memikirkan bagaimana mencari uang untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.
Para ayah sekarang berorientasi untuk terkenal di luar rumah di banding mendekatkan diri kepada anak-anak.

Sadarlah para ayah, krisis pengasuhan ayah yang terjadi pada jaman sekarang sangat berpengaruh pada perkembangan mental dan spiritual anak-anak. Pengasuhan anak wajib melibatkan ayah dan ibu karena anak-anak memerlukan figur keduanya.

Kembalilah segera ayah, dekati anak, curahkan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anak. Jangan sampai ada rasa penyesalan yang akan melanda bila waktu sudah berlalu dan anak bermasalah karena tidak ada peran ayah saat tumbuh kembang mereka.

Ayah hebat, ayah yang melibatkan diri dalam pengasuhan dan mendidik anak.
Selamatkan generasi bangsa dengan mengembalikan fungsi ayah sebagai pemimpin dan rumah tangga

Sahabatmu
@popiesusanty

Sumber : Grup Parenting Islami

Thursday, September 20, 2018

Anak Susah Diperintah?


Capek Bersuaraoleh Wina Risman

Terkadang, ada kekesalan, keputus-asaan, keletihan dalam menjadi orang tua, terutama jika anak sudah mulai tidak mendengarkan. Disuruh harus berkali-kali, dan tidak bergerak walau satu sentipun. 'Sebentar' demi 'sebentar' terulang berkali-kali. Hingga akhirnya, setelah bermenit menit berlalu, atau bahkan berjam-jam, yang terjadi adalah emosi memuncak, kesabaran menipis. Oktaf nada pun naik tidak kira-kira, ketika anak tidak juga bergeming. Maka tangan mulai bermain. Entahlah itu mencubit, memukul, dan atau mengancam.

Hal ini lebih sering terjadi, jika salah seorang dari orang tua, merasa letih, lelah, banyak pekerjaan dan atau tidak mendapatkan bantuan terutama dari pasangannya.
Lebih sering daripada tidak, orang tua yang menyuruh terkadang sedang sibuk dengan gadget-nya. Mengharap anaknya “autopilot” langsung mengerjakan apa yang diperintahkan, saat itu juga. Ada juga yang sibuk menonton televisi, sambil mulutnya terus “berdzikir” mengingatkan anak akan apa yang perlu dilakukannya, tanpa ia berhenti satu menitpun untuk mengajak anak itu mengerjakan tugasnya.

Memang ada juga, waktu dimana orang tua super sibuk dengan pekerjaan rumah ataupun pekerjaan kantornya, sehingga berharap si anak mampu membantu mereka dengan mengerjakan sendiri hal-hal yang simple yang ia biasa kerjakan sehari-harinya.

Action Speaks Louder Than Words
Tindakan bersuara lebih kencang dari hanya kata-kata.
Ketika kita mengalami keadaan seperti di atas, terlepas kita sedang istirahat, dating sama gadget, ngaso (red:istirahat), ngopi, mengerjakan presentasi, cuci piring atau membersihkan rumah yang hampir seperti kapal pecah.. BERHENTILAH!
Memang susah, tapi BERHENTILAH!
Stop menengking, meninggikan suara, atau bahkan mengancam!
Bangun, lalu tepuk pundak sang anak (terutama anak laki-laki), ajak dia melakukan apa yang kita perintahkan tadi, temani dan tunggui hingga ia mulai melakukannya.

Ini tidak selalu harus dilakukan, hanya pada saat-saat dimana anak sudah mulai tidak mendengarkan, dan kita mulai kehabisan kesabaran.
Metode ini efektif untuk mengurangi, marah-marah, kesal, nada tinggi dan mengancam.
Terus terang, INI TIDAK AKAN MUDAH.
Akan diperlukan i’tikad baik untuk merubah kebiasaan, tenaga untuk bangun dan berhenti sejenak dari apa yang sedang dilakukan, dan kesabaran seluas lautan..!!!

Tapi percayalah, jika dicoba, Insha Allah pasti ada perubahan.
Latihan tahan nafas dan kontrol emosi, belajar jadi lebih “rajin” lagi, dengan bangun dan berusaha menemani. Hal ini akan dilihat anak sebagai contoh, dibandingkan dengan hanya perintah. Terkadang, kita memerintah atau menyuruhpun tidak menengok sama sekali pada anak. Sibuk dengan apa yang kita lakukan, hingga yang terdengar terus menerus adalah ‘zikir’ suruhan saja.

Anak juga manusia, ada saatnya mereka malas luar biasa, dan terkadang malas mereka melebihi kita. Kenapa kita boleh tapi mereka tidak? Apakah karena mereka masih muda? Tidak memiliki banyak pekerjaan maupun tanggung jawab seperti kita? Sebetulnya kalau dipikir-pikir, cukuplah tanggung jawab mereka, sesuai dengan usianya.

Marilah menjadi lebih bijaksana, dengan mencontohkan dan bukan sekedar kata-kata. Merubah sesuatu itu tidak mudah. Tapi bukan berarti tidak bisa. Tinggalkan gadget itu sebentar, matikan televisinya. Berhenti sebentar dari mencuci piring, matikan kompornya. Ajak anak dengan baik pada apa yang harus diperbuatnya. Ditemani sekali-kali itu menyenangkan lho! Lihat perubahannya.

Selamat mencoba!

Wednesday, September 19, 2018

Anak-Anak Belum Tahu Kawan


oleh Okina Fitriani - Psikolog

Orang dewasa tahu, bahwa jika ada orang yang hafalannya banyak tetapi mulutnya mengomel,
mengumpat anak atau penuh ungkapan amarah, yang salah bukan kitab dan hafalannya, yang salah
jelas orangnya. Tapi anak-anak belum tahu kawan. Dia hanya sanggup berkata dalam hati, untuk
apa kalian perintahkan aku melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan oleh kalian yang
sikapnya begini padaku.

Orang dewasa tahu, bahwa jika orang yang rajin ibadah ritualnya tapi tangannya mudah melayang ke
tubuh kecil itu, bukan salah agamanya tapi orangnya, ya orang dewasa tahu itu. Tapi anak-anak tidak
tahu kawan. Yang ada dalam pikirannya, kalian bilang, jika aku rajin melakukan ibadah itu, akan
mencegah dari perilaku buruk. Tapi lihatlah perilaku kalian padaku.

Anak-anak tidak tahu kawan..
Anak-anak tidak tahu jika ada trauma di masa lalu kalian yang belum selesai, menyebabkan emosimu
tak terkendali, anak-anak tidak tahu bahwa ada nafsu dalam dada kalian untuk menjadikan mereka
sarana mewujudkan agenda pribadi dan trophy-trophy yang digincui dengan alasan demi masa
depan mereka.

Masa depan yang mana? Yang bisa dipertontonkan atau yang abadi?
Bukankah manusia akan dicela saat menyuruh tetapi tidak melakukan
Bukankah kelak yang akan dipersilahkan masuk dalam taman keabadian yang indah adalah jiwa-jiwa
yang tenang?

Anak-anak tidak tahu kawan..
Maka selesaikanlah, sembuhkanlah dirimu, berubahlah, carilah pertolongan sebagai
tanggungjawabmu atas rizki akal dan pikiran yang diberikan Tuhan kepadamu
Karena
Anak-anak tidak tahu kawan..
Mereka mungkin akan menjadi bagian dari rantai kesalahan ke generasi selanjutnya..
*renungan atas berbagai laporan dan kasus.. .

Tuesday, September 18, 2018

Ya Allah, Aku Lelah Jadi Ibu


By Kiki Barkiah
Ada yang pernah merasa seperti itu?
"Ini kerjaan kok ga beres-beres..."
"Tiap hari kok kaya gini terus..."
"Butuh libur, butuh piknik, butuh me-time, butuh rehat sejenaaak saja..."
"Kalo boleh lari pengen lari aja deh rasanya..."
"Seandainya ada tombol PAUSE untuk semua ini"

Pekerjaan rutinitas seorang Ibu nampak seakan sia-sia dan berulang. Begitu terus setiap hari. Tidak ada habisnya. Masih ingat kisah Siti Hajar? Ibunda Nabi Ismail 'alayhi salam ini berlari bolak balik dari Shofa ke Marwah sampai 7 kali. Berharap di padang gurun yang gersang itu barangkali ada air untuk bayinya yang sedang haus.

Ketemukah airnya? Tidak.

Tetapi lari-larinya Siti Hajar yang "sia-sia" itu ternyata menjadi asbab ridho-Nya Allah sehingga memancarlah air zamzam yang sampai sekarang tak pernah surut justru dari jejakan kaki bayi Ismail.
Sia-siakah yang dilakukan sang Ibu? Tidak sama sekali ternyata.

Pekerjaan keIBUan: menyusui, memandikan, ganti popok, menyuapi, and so on.. Memasak, menyapu, mengepel, mencuci, and so on buat yang tidak ada ART (Asisten Rumah Tangga).. Apalagi yang masih harus lembur pekerjaan kantor buat yang bekerja.

Semua tetek bengek itu seakan terlihat tidak gemerlap, tidak keren, tidak ngeksis... Seakan sia-sia, tidak ada hasil. Tapi yang berlelah-lelah itu, bisa jadi asbab ridho Allah...
Bisa jadi yang mengantarkan kita ke Jannah...

Tidak terlihat mulia dihadapan penduduk bumi tetapi bisa jadi membahana seantero 'penduduk langit'. Bukankah itu yang lebih penting?
Bukankah doa ibunda mustajab tanpa penghalang ke Allah?

Maka setiap pekerjaan keIBUan itu bisa jadi dzikrullah & doa:
Semoga setiap tetes susu yang mengalir ke bayi ini mengalir pula kesholihan..
Semoga yang memakai baju-baju yang kucuci ini selalu menjaga kehormatannya...
Semoga yang memakan hidangan ini diberi-Nya kesehatan...
Semoga setiap suapan nasi ini menjadikannya anak yang kuat...

Maka..
Mari buat malaikat Raqib sibuk luar biasa mencatat kebaikan-kebaikan yang kita upayakan.. Dan jangan sampai malaikat Atid bahkan membuka bukunya.
Allah sebaik-baiknya pemberi balasan.

Wallahu'alam.
Semoga menjadi pengingat, penyemangat.

-
Sumber : momi.okky

Friday, September 14, 2018

Mengatasi Batuk dan Pilek Bayi 0-6 Bulan


Mempunyai buah hati yang sehat, tentu menjadi harapan bagi setiap orang tua. Tapi kadang kala buah hati kita mengalami sedikit gangguan kesehatan, salah satunya adalah batuk dan pilek. Kebetulan saat artikel ini ditulis, anak kami yang masih berumur tiga bulan, beberapa minggu lalu mengalami pilek.

Dalam menangani bayi yang mengalami batuk dan pilek tidak boleh sembarangan. Setiap tahapan usianya memiliki perbedaan cara penanganannya. Misal, penanganan bapil pada anak usia 1 bulan akan berbeda penanganannya dengan anak usia 10 bulan, dan seterusnya. Kami akan sedikit sharing berkaitan dengan masalah batuk dan pilek pada bayi berdasarkan pengalaman pribadi dan hasil diskusi dengan forum ibu-ibu di grup WhatsApp. Berikut penjelasannya:
1. Perbanyak Memberikan ASI-nya
Menurut WHO, ASI merupakan sumber gizi terbaik untuk bayi. Sehingga, di dalam ASI sudah mengandung zat-zat yang dibutuhkan oleh bayi termasuk anti biotik untuk mengatyasi batuk dan pilek. Selain itu, disarankan untuk memperbaiki kualitas makan bagi ibu yang menyusui agar ASI juga berkualitas.

2. Menjemur bayi di matahari pagi sesering mungkin
Menjemur bayi merupakan salah satu aktivitas yang disarankan ketika mengalami batuk atau pilek. Menurut salah satu artikel di Alodokter.com, fungsi menjemur bayi adalah untuk menghasilkan vitamin D yang dapat membantu menyerap kalsium, membangun tulang, produksi insulin, dan mengatur sistem imunitas dan perkembangan sel. Selain itu, menjemur bayi juga dapat menghangatkan badan bayi sehingga akan membantu melegakan pilek.

Saat menjemur bayi usahakan difokuskan pada bagian punggung bayi sehingga konsentrasi panas yang dipancarkan matahari akan terpusat pada daerah punggung. Ini dilakukan agar paru-paru yang ada di sebalik punggung akan ikut terhangatkan. Jika ada lendir yang mengental di bagian paru-paru atau tenggorokan akan menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan. Dengan demikian, bapil pun akan mereda. :D

3. Hangatkan tubuh bayi
Cara ini dapat dilakukan dengan mengolesi seluruh badan dengan minyak telon/campur parutan bawang/MHS (Minyak Herbal Sinergi) HPAI sesering mungkin. Dapat juga ditambah dengan memijit terutama bagian dada, leher, tengkuk, punggung dan hidung bayi. Tentu hal ini harus dilakukan dengan pelan dan hati-hati, mengingat tubuh bayi masih belum sekuat orang dewasa. Dapat juga dengan mengoleskan balsem transpulmin bayi ke dada, punggung, dan leher bayi.

4. Usahakan suhu ruangan tidak terlalu dingin
Ruangan tempat bayi dapat dilembabkan dengan cara mengisi baskom dengan air mendidih (dapat sambil tetes minyak telon/Vicks Vaporub) letakkan di ujung kamar. Hati-hati jangan sampai terjangkau anak.

5. Pasang aromatheraphy khusus batuk dan pilek di kamar tidur anak
Dapat menggunakan Purekids Inhalant Decongestant Oil atau Essential Oil semacam YLO RC (khusus batuk dan pilek). Aroma yang di hasilkan diharapkan dapat membantu melegakan pernafasan anak.

6. Letakkan irisan/parutan bawang merah di sudut-sudut kamar/rumah
Cara ini mungkin masih jarang dilakukan oleh orang kebanyakan. Namun, menurut salah satu artikel di laman arbamedia.com, meletakkan irisan atau parutan bawang merah di sudut-sudut kamar atau rumah dapat membantu menyerap virus batuk dan pilek. Selain itu juga dapat menyerap racun dan polusi udara. Irisan bawang merah juga akan menghasilkan aroma segar yang dapat membantu melegakan pernafasan anak.

7. Rajin diuap
Langkah ini adalah cara melegakan pernafasan anak dengan cara manual. Adapun caranya ialah yang pertama, isi baskom dengan air panas. Kedua, campur air panas dengan beberapa tetesminyak kayu putih/vicks vaporub/garam/jeruk nipis. Ketiga, dekatkan bayi pada baskom perisi campuran air panas dan aroma terapi untuk menghirup uapnya. Jika disertai batuk, dapat sesekali pijat/ditepuk2 tengkuk/punggungnya. Hati-hati ya, jangan sampai bayi terkena air panasnya.

8. Kalau hidung mampet
Kalau kami dulu disarankan untuk memakai Purekids Inhalant Decongestant Oil yang cukup efektif untuk melegakan pilek dan hidung tersumbat. Usahakan bayi tidur dengan alas kepala yang agak tinggi. Atau dapat menggunakan vaporin bayi (dapat cari di apotek) dengan cara diteteskan pada baju depan bagian dada anak untuk membantu melegakan pernafasan bayi.

9. Usahakan selalu mandi air hangat
Memandikan bayi dengan air hangat akan mencegakh bayi mengalami kedinginan. Dengan begitu, kisah batuk dan pilek pada bayi pun tidak akan ada.
Semoga segera sehat ya bund, buah hatinya.

Nb : Kalau ayah ibunya juga batuk pilek, segera sembuhkan diri sendiri. Jangan lupa selalu memakai masker dekat anak dan sering ganti baju.

Referensi :
Rangkuman Diskusi Grup WhatsApp Ibu-Ibu Muda Sholihah
www.voaindonesia.com
www.alodokter.com
www.arbamedia.com

Thursday, September 13, 2018

Mengambil Hikmah dari Penyesalan


Suffering (Penyesalan)
Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Bagi Anda yang merasa: hidup ini kok terasa sulit terus ya? Nggak henti-hentinya kesulitan datang silih berganti! Padahal saya sudah selalu patuh kepada Allah dan selalu berdoa! Kenapa? Kenapaaa? Bagi yang berpikir begitu, silakan simak apa yang dikatakan Prof. Jeffrey Lang.

Prof. Jeffrey Lang, mantan atheis yang kemudian menjadi mualaf, pernah menceritakan perjalanannya memeluk Islam. Dalam proses pencerahan itu ia menemukan bahwa Al-Qur’an selalu menekankan 3 hal penting untuk mendapat keimanan:
1. Intellect, kemampuan manusia untuk menggunakan akal pikiran.
2. Choice, kemampuan manusia untuk memilih mana yang benar dan yang salah.
3. Suffering, keadaan ketika manusia harus mengalami penderitaan di muka bumi.

Yang menarik adalah poin ketiga, yaitu Suffering (mengalami penderitaan). Prof. Lang mengatakan bahwa dalam hal Suffering ini Islam berbeda konsep dengan agama-agama lain. Ada agama lain yang menawarkan konsep penyelamatan (salvation), yaitu dengan cara Tuhan turun ke dunia untuk menebus dosa umatnya. Ada agama yang menawarkan latihan meditasi agar bisa melalui kesulitan tanpa mengalami rasa derita. Ada agama yang mengatakan bahwa suffering adalah hukuman buat manusia.

Namun Islam mengatakan lain, Al-Qur’an justru mengatakan bahwa manusia harus mengalami Suffering untuk mendapatkan iman. Silakan renungi ayat-ayat berikut dari sekian banyak ayat yang lain:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS Al-Balad [90]:4)
“Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga Rasul dan orang-orang yang bersamanya berkata, ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS Al-Baqarah [2]: 214).

Memang tidak ada Surga di dunia ini buat orang beriman, yang ada sebaliknya: jalan yang mendaki lagi sukar. Jalan yang mendaki lagi sukar ini menakutkan buat orang-orang yang tidak beriman sehingga mereka menjauhinya. Namun orang-orang beriman justru dengan rela hati menempuhnya.

Apa jalan yang mendaki lagi sukar itu? Yaitu menolong sesama saudara yang menderita. Itu artinya mengalahkan ego dan keserakahan untuk berbagi dengan orang lain. Itu artinya kita harus tengok kanan dan kiri serta melangkah ke tempat-tempat orang membutuhkan pertolongan.

Jadi, berhati-hatilah bila Anda sedang dimanja dengan kemudahan dan fasilitas. Jangan biarkan keluarga dan anak Anda ikut termanjakan. Sebab bila mereka ikut termanjakan, mereka tidak akan siap mengalami Suffering. Padahal manusia (beriman atau tidak) sudah ditakdirkan untuk pasti akan mengalami momen-momen Suffering di dunia ini.

Orangtua yang bijak akan mengajar anaknya bekerja keras dibanding memanjakan. Ayah dan Ibu yang bijak akan memilih untuk membiasakan anak sedikit bersabar dalam menahan keinginan sampai saatnya tiba, padahal mereka lebih dari mampu untuk mengabulkan semua permintaan anak seketika itu juga.
Ketika mengalami sedikit Suffering dalam sabar dan ketabahan itulah, aspek Intellect dan Choice anak berkembang. Ia akan mampu menajamkan logika untuk mencari jalan keluar. Ia akan mampu memilih kebaikan dibanding keburukan walaupun keburukan tampak sangat menggiurkan.
Allahu a’lam.
Salam Smart Parents!

Sunday, September 2, 2018

Dahsyatnya Menyebut Nama Anak dalam Doa


Dr Fauzia Addabbus, seorang psikolog yang amat populer di Kuwait pernah menulis di Twitter tentang rahasia-rahasia doa seorang Ibu jika tiap malam ia mendoakan anak-anaknya, dan ternyata efek dari twitter itu telah mengubah jalan hidup banyak orang.

Isi twitter-nya sebagai berikut:
"...Wahai para ibu agar jangan engkau tidur tiap malam sebelum kau angkat kedua tanganmu sambil menyebut satu per satu nama anak-anakmu dan mengabarkan kepada-Nya bahwa engkau ridha atas mereka masing-masing."

Begini doanya:
اَللّٰهُمُّ اِنِّی اُشْهِدُكَ اَنِّی رَاضِيَۃٌ عَنْ اِبْنِی/اِبْنَتِی....تَمَامَ الرِّضَی وَكَمَالَ الرِّضَی وَمُنْتَهَی الرِّضَی فَاللّٰهُمَّ اَنْزِلْ رِضْوَانَكَ عَلَيْهِمْ بِرِضَائِى عَنْهُمْ
(Ya Allah aku bersaksi kepada-Mu bahwa aku ridha kepada anak-anakku (sebutkan satu persatu) dengan ridha paripurna, ridha yang sempurna dan ridha yang paling komplit. Maka turunkanlah ya Allah keridhaan-Mu kepada mereka demi ridhaku kepada mereka).

Testimoni kesaksian seorang ibu yang mendoakan anaknya
Seorang ibu mendoakan anak laki-lakinya yang berumur 22 tahun. Maka bercerita:
Sejak kelahiran anakku itu aku hidup dalam penderitaan karenanya. Dia tak pernah shalat dan bahkan jarang mandi, dia sering berdebat panjang denganku, dan tak jarang dia membentakku dan tak menghormatiku, walaupun sudah sering aku mendoakannya.
Maka ketika membaca twittermu aku berkata: "Mungkinkah omongan ini benar? Tampaknya masuk akal? Dan seterusnya...."
Dan akhirnya kuputuskan untuk mencoba mendoakan. Lalu setelah seminggu mulai nada suara putraku kepadaku melunak, dan pertama kali dalam hidupku aku tertidur dalam kedamaian. Dan kemudian kudapati putraku mandi, padahal aku tak menyuruhnya.
Minggu kedua dan aku terus mendoakannya sesuai anjuranmu, ia membukakan pintu untukku dan menyapaku "Apa kabar ibu?" dengan suara lembut yang tak pernah kudengar darinya sebelum itu.
Aku gembira tak terkira walaupun aku tak menunjukkan perasaanku kepadanya sama sekali. Empat jam kemudian aku menelponnya, dan ia menjawabku dengan nada yang berbeda dari biasanya: "Bu, aku di samping masjid dan aku baru akan shalat waktu Ibu menelponku."
Maka akupun tak mampu menahan tangisku, bagaimana mungkin ia yang tak pernah shalat bisa mulai shalat dan dengan lembut menanyaiku apa kabar? Tak sabar aku menanti kedatangannya dan segera kutanyai sejak kapan engkau mulai shalat?
Jawabnya, "Aku sendiri tak tahu Bu, waktu aku di dekat masjid mendadak hatiku tergerak untuk shalat."
Sejak itu kehidupanku berubah 180 derajat, dan anakku tak pernah lagi berteriak-teriak kepadaku dan sangat menghormatiku. Tak pernah aku mengalami kebahagiaan seperti ini walaupun aku sebelumnya sering hadir di majelis-majelis zikir dan pengajian-pengajian.
Doa Ibu itu ampuh!
Karena beratnya kehidupan sehari-hari seringkali seorang ibu melupakan doa untuk anak-anaknya, sering juga dia menganggap bahwa pusat-pusat bimbingan psikologi adalah jalan lebih baik untuk perkembangan anak-anaknya.

Padahal justru doa Ibu adalah jalan tersingkat untuk mencapai kebahagiaan anak-anaknya di dunia dan akhirat. Jangan pernah bilang: "Ah, anakku masih kecil, ngapain didoakan?"

Jadi doakan mereka mulai sekarang, dan jadilah orang yang bermurah hati dengan doa-doamu untuk mereka. Allah telah mengkaruniai kita para ibu sebagai wasilah bagi anak-anak kita dalam hubungan mereka dengan Allah melalui doa-doa kita untuk mereka.

Kita bisa melakukannya kapanpun kita mau, dan kita bisa mengetuk pintu-Nya kapanpun kita mau dan Allah tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur. Selamat berdoa.
Sumber :
www.ramadhan.inilah.com