Wednesday, August 15, 2018

Pusing Melatih Anak untuk Tidur?

Pernahkah merasakan sulitnya mengajak anak tidur meski sudah larut malam?
Pernahkah merasakan sulitnya membangunkan anak pada pagi harinya?
Atau mungkin, merasakan anak yang tidur pada malamnya tidak nyenyak?
Dan apa yang Anda rasakan dan lakukan ketika hal-hal seperti ini terjadi secara rutin kepada anak Anda?

Beberapa gambaran di atas mungkin pernah kita alami. Kita merasakan kewalahan hanya karena satu sisi dalam kehidupan anak kita, yaitu TIDUR. Belum lagi jika bicara tentang makan, tidak sedikit orangtua yang kewalahan tentang urusan makan, sampai-sampai harus mengejar anak untuk makan sampai berlari-lari ke playground, yang padahal hal seperti itu tidak terlalu perlu untuk dilakukan.
Sama halnya seperti makan, tidur juga adalah salah satu kebutuhan dasar bagi fisik anak kita. Maka, perkara dunia tidur ini, kita cukup untuk memahami sedikit perbedaan fisiologis antara kita orangtua dan anak kita, meminimalisir penghalang tidur, serta mengkondisikan suasana untuk tidur. Mari kita bahas poin ini satu persatu.

PERBEDAAN FISIOLOGIS ANAK DAN ORTU
Tidur, seperti yang sudah kita bahas di atas, adalah kebutuhan dasar semua manusia, termasuk anak kita. Ada sebuah harmoni indah yang Allah ciptakan di dalam tubuh kita, dengan kondisi alam semesta. Pernah gak sesekali kita penasaran, kenapa secara umum, kita tuh aktivitas utama gak pada malam hari, lalu tidur panjangnya pada siang hari? Naah, harmoni ciptaan Allah ini yang bekerja disini, harmoni antara pergantian siang dan malam, dan perubahan hormon yang ada dalam tubuh kita. Mari kita intip sejenak sebagai salah satu cara kita untuk mensyukuri nikmat-Nya.

Sederhananya gini, salah satu hormon penting penyebab manusia ngantuk itu adalah adanya hormon yang namanya MELATONIN. Hormon ini dikeluarkan oleh otak, tepatnya bagian otak namanya Supraciasmatic Nuclei, atau SCN aja biar gampang diingat. SCN ini mengeluarkan melatonin ketika tubuh tidak mendapatkan/minim rangsangan cahayanya.

Sebaliknya pada siang hari, matahari bersinar cerah, tubuh kita terpapar cahaya, maka pembentukan melatonin ini terhambat. Ini kenapa yang sebabkan kita bisa optimal beraktivitas setiap hari.
Naah, normalnya seperti demikian. Namun, tentu beda sama anak-anak kita.

Coba bayangkan, bayi yg masih dari dalam rahim, siang-malam di dalam rahim bagi anak tidak terlalu kentara bedanya kan?.

Maka, pada bayi baru lahir, mekanisme ini belum berjalan dengan baik. Sehingga tidur dan bangunnya 'seenaknya' saja, dan ini normal.

Ditambah, berbicara bayi, ukuran perutnya masih kecil, ASI yang disedot itu tercerna sempurna sekitar 1.5 jam, maka bangun malam berkali2 adalah hal yang normal baginya. Proses pengeluaran hormon melatonin pada bayi ini, kira-kira akan matang pada usia 1-2 tahun.

Oleh karena itu, pada usia-usia awal, kitalah sebagai orangtuanya perlu untuk me-manage ekspektasi kita serta melatih keikhlasan kita terutama jika anak 'tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam', hal ini normal.

Hal ini menjadi masalah biasanya ketika kita punya ekspektasi kuat bahwa anak itu normalnya 'sleep all day long'. Naah, ekspektasi yang tidak kesampaian ini bisa bikin kita sebagai orangtua stress sehingga kurang tidur, atau kurang tidur menjadi stress?

Tapi disini, kuncinya adalah manage ekspektasi dan melatih keikhlasan kita, tak lupa support dari pasangan dan atau mertua (jika tinggal masih dgn mertua/ortu), akan sangat membantu di sini.

MEMINIMALISIR PENGHALANG TIDUR
Ada sekian banyak penghalang tidur, namun di zaman sekarang, penghalang tidur paling modern adalah GADGET. Yes, gadget, Anda gak salah baca.

Masih inget kan tentang peran cahaya yang kita terima itu menghambat hormon melatonin?
Nah, disini bekerjanya. Screen Time itu menghambat melatonin. Gak hanya dari gadget, namun juga dari TV juga demikian.

Kalau kita masih ingat pelajaran spektrum cahaya ketika dulu SMP atau SMA, ada singkatan 'Mejikuhibiniu' kan? Naah ini nih spektrum warna. Dari merah berurut sampai ke ungu, makin tinggi energinya. Dengan kata lain, cahaya merah itu memiliki energi paling rendah.

Apa hubungannya?
Radiasi dari screen, serta lampu LED adalah sumber-sumber cahaya yang berenergi tinggi, dan ini menghambat hormon melatonin itu.
Maka, disarankan, 3 jam sebelum tidur sudah tidak ada screen-time sama sekali bagi anak-anak kita (termasuk kita sih kalau bisa, hehehe), dan lampu mati.
Adapun kalau takut dengan gelap, mungkin bisa dipakai juga sumber-sumber cahaya berenergi rendah, seperti lilin (balik ke jaman old hehe ), atau lampu tidur warna merah yg agak remang-remang, bukan lampu merah kelap kelip ala disko ya.

MENGKONDISIKAN ANAK UNTUK TIDUR
Nah, satu hal penting yang perlu diperhatikan ketika anak hendak tidur adalah kesiapan PSIKOLOGIS nya. Hal ini yang gak kalah penting, gimana caranya membuat anak tidur dengan suasana yang HAPPY, bukan stressful. Karena di satu sisi, stress bikin susah tidur.

Meski, di satu sisi lainnya, ada juga manusia bertipe yang ketika stress, menjadikan tidur sebagai relieve-nya, namun apa iya setiap hari kita memilih menjadi sumber stress anak sebelum tidur? Ngeri loh Ayah Bunda, karena di satu sisi, fungsi tidur itu tidak hanya untuk istirahat saja, namun juga proses mengkristalisasi setiap memori kejadian yang didapat dalam satu hari itu. Sederhananya, jika ketika bangun, kita men-download file dari apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan, tidur adalah proses meng-edit file-file tersebut mejadi satu file memori yang spesial. Kebayang kan apa yang terjadi jika memori yang ter-spesialisasi dalam benak anak-anak kita adalah sisi-sisi 'kejam' kita?
Naah, makaa kondisikanlah anak sebelum tidur dengan cara-cara yang fun.

Mari sambungkan dengan apa yang sudah kita dapat dari poin kedua barusan, tentang anjuran no screening time 3 jam sebelum tidur. Asumsinya, bagi kita yang muslim, bada maghrib sudah tiada screen menyala. Dan kita bisa men-setting sebuah aktivitas dari bada maghrib sampai sebelum tidur dengan aktivitas2 yang minim aktivitas fisiknya, seperti main lego, baca buku, baca iqro, menyanyi bersama, dll. Ada banyak kan aktivitas yang bukan aktivitas fisik menantang? Naah ini diutamakan. Lakukan secara fun.

Jika ketiga hal ini dilakukan dan kita konsisten melakukannya dari hari ini juga sampai bertahun-tahun ke depan, insyaAllah, ngebangunin anak untuk sholat subuh pun bisa banget dipermudah. Kita bangun gak usah sambil teriak-teriak, tapi dengan penuh kelembutan, insyaAllah hal-hal ini sangat mungkin terjadi.

Selamat mencoba


Originally created by :
Ikhsanun Kamil Pratama &
Foezi Citra Cuaca Elmart
@canunkamil & @fufuelmart
-Marriage Trainer & Couple Writer-
Penulis 15 Buku Duet Tema Pernikahan, Keluarga dan Buku Anak.

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.