Wednesday, August 15, 2018

Kaidah Mendidik Anak dengan Memberi Hadiah (Reward) dan Hukuman (Punishment)


Bismillah
Hadiah dan hukuman merupakan salah satu faktor eksternal yang bisa memotivasi anak melakukan kebajikan.
Pada dasarnya yang akan lebih memotivasi anak melakukan kebajikan adalah faktor internal yaitu kesadaran diri.
Untuk menumbuhkan kesadaran diri tersebut dibutuhkan faktor eksternal, salah satunya dengan memberi hadiah dan hukuman.
Namun jika hadiah dan hukuman diberikan tanpa kaidah/rambu-rambu maka efek tidak seperti yang diharapkan/tidak efektif.
Faktor eksternal tersebut ibarat obat ada aturan dan dosisnya, jika kurang tidak sembuh dan jika lebih bisa mematikan.

๐ŸŽ๐ŸšฆRambu-rambu Memberi Hadiah agar efektif :
1. Sesuaikan dosisnya.
*Hadiah dan hukuman tidak bisa dipukul rata, karena kondisi masing-masing anak berbeda.
* Ada anak yang penurut maka dosisnya tidak perlu tinggi. Ada anak yang sangat sulit diatur maka dosisnya perlu ditambah.
* Ada orang tua yang selalu menyalahkan guru di sekolah, padahal katanya mereka sudah bayar mahal. Sekarang ukuran baik atau tidak baik sekolah adalah murah atau mahalnya biaya sekolah.
Padahal yang harus bertanggung jawab tetap adalah orang tua. Disini diperlukan kerjasama orang tua dan guru.

Seharusnya yang paling paham kondisi anak adalah orang tua, seberapa dosis yang diperlukan untuk memberi hadiah dan hukuman.
Yang perlu orang tua/guru perhatikan adalah kepribadian atau karakter anak yang kita didik, apakah :
1⃣ Mudah
2⃣ Agak sulit
3⃣ Sulit
4⃣ Super sulit

2. Harus ada batasnya.
* Faktor eksternal diperlukan untuk menumbuhkan faktor internal yaitu kesadaran diri.
* Ada saatnya kita tidak tergantung kepada hadiah dan hukuman. Jadi ada saatnya kita menggunakan hadiah/hukuman, ada saatnya tidak.
* Harus ada saatnya kita memberhentikan. Kalau tidak maka berbahaya, karena anak akan ketergantungan, yaitu dia tidak akan melakukan kebajikan jika tidak ada stimulusnya.
* Batasan ini perlu disampaikan kepada anak sedini mungkin. Agar pada saat di diberhentikan maka anak tidak protes.
* Utk menghentikan hal tersebut tentu butuh perjuangan dan ketegasan orang tua. Contoh ucapan kepada anak agar menuruti dan memahami tentang batasan hadiah :
"Nak, jika selesai hafal surat An Naba', Abi janji beliin tas. Namun Nak, sesungguhnya tas ini adalah sekedar hadiah. Namun cobalah kamu pikirkan pahala dari setiap ayat yang kamu hafalkan..."
Kita ajak anak hitung2an tentang pahala dari kebajikan. Kita ajak hitung huruf, kemudian dikalikan 10, dst. Ditekankan lebih berharganya pahala di sisi Allah, yang akan memberikan syafaat di akhirat kelak. Pelan-pelan tumbuhkan kesadaran terus menerus sejak dini.

3. Hadiah tidak identik dengan materi
* Image hadiah adalah materi. Padahal hadiah terbaik adalah perhatian. Bukan hal ini berarti mengabaikan hadiah berbentuk materi. Namun perhatian lebih utama.
* Perhatian bisa diwujudkan dalam bentuk :
๐ŸŽ Kata-kata, seperti "Masyaa Allah, Alhamdulillah, kamu baik sekali..."
"Masyaa Allah bagus sekali gambarmu"
* Kita harus mengapresiasi setiap kebajikan. Bisa jadi kata-kata ini lebih diingat oleh anak.
๐Ÿ“š๐Ÿ“š
Contoh Shahih Bukhari oleh Imam Bukhari, sebuah kitab paling shahih setelah Al Qur'an.
Yang memotivasi Imam Bukhari setelah ijin dari Allah, adalah kata2 positif dari gurunya yaitu Imam Ishaq bin Rohaweh.
"Andaikan ada diantara kalian yang menyempatkan diri mengumpulkan hadist-hadits yang shahih dalam satu kitab..."
Ucapan tersebut langsung masuk ke dalam relung hati Imam Bukhari dan beliau langsung menulis saat itu. Setiap menulis satu hadits maka beliau kumpulkan sanad dan kriteria hadist shahih yg sangat tinggi, lalu shalat istikharah di Raudah, mohon petunjuk kepada Allah apakah hadits tsb benar-benar shahih. Padahal ada ribuan hadits di dalamnya. Masyaa Allah luar biasa perjuangan beliau Rahimahullah....๐ŸŒพ๐ŸŒป
Imam Syafi'i ketika menulis kitab fikih beliau Ar Risalah, dimana setiap ulama yg menuliskan kitab Ushul fikih tdk bisa berlepas dari kitab Ar risalah tersebut, yang fenomenal ini, pun karena motivasi kata-kata guru beliau. Beliau apabila setiap selesai menulis maka akan mengoreksi, sampai 60 kali koreksi. Masyaa Allah....๐ŸŒพ๐ŸŒป

Maka jangan pernah mengabaikan kata-kata positif➕
๐ŸŽ Isyarat fisik (body language). Seperti pelukan hangat, elusan sayang di kepala anak, kecupan hangat di kening anak, senyum bangga, acungan jempol๐Ÿ‘๐Ÿป๐Ÿ’
Abu Hurairah radiallahu anhu berkata :
ู‚َุจَّู„َ ุงู„ู†َّุจِู‰ّ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ْุญَุณَู†َ ุจْู†َ ุนَู„ِู‰ٍّ ، ูˆَุนِู†ْุฏَู‡ُ ุงู„ุฃู‚ْุฑَุนُ ุจْู†ُ ุญَุงุจِุณٍ ุงู„ุชَّู…ِูŠู…ِู‰ُّ ุฌَุงู„ِุณًุง ، ูَู‚َุงู„َ ุงู„ุฃู‚ْุฑَุนُ : ุฅِู†َّ ู„ِู‰ ุนَุดَุฑَุฉً ู…ِู†َ ุงู„ْูˆَู„َุฏِ ู…َุง ู‚َุจَّู„ْุชُ ู…ِู†ْู‡ُู…ْ ุฃَุญَุฏًุง ، ูَู†َุธَุฑَ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ุฑَุณُูˆู„ُ ุงู„ู„َّู‡ِ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…، ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ : ู…َู†ْ ู„ุง ูŠَุฑْุญَู…ُ ู„ุง ูŠُุฑْุญَู…ُ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencium Hasan bin ‘Ali, dan di sisi Nabi ada Al-Aqro’ bin Haabis At-Tamimiy yang sedang duduk. Maka Al-Aqro’ berkata, “Aku punya 10 orang anak, tidak seorangpun dari mereka yang pernah kucium”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallampun melihat kepada Al-‘Aqro’ lalu beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak merahmati/menyayangi maka ia tidak akan dirahmati”
(HR Al-Bukhari dan Muslim)

Lakukan hal seperti ketika anak pulang dari shalat jama'ah di masjid, disambut dengan ucapan "Maasyaa Allah, dst...๐Ÿ’

Ketika seorang anak selesai menghafal Al Qur'an maka pujilah dia...๐Ÿ’
Apabila memberi hadiah berbentuk materi uang, waspadalah. Harus diiringi dgn penyuluhan yang cukup bagaimana memanfaatkan uang dgn bijak. Jangan sampai anak berpikir bahwa semua bisa diselesaikan dengan uang. Diarahkan utk menabung, sedekah, memberi teman yang kekurangan, membeli barang yang berharga dan bermanfaat. Sehingga jika anak membeli barang maka dia akan menjaganya karena perjuangannya mengumpulkan uang๐Ÿ’ฐ.

4. Musyawarahkan kesepakatannya
*Penting membuat kesepakatan tentang hadiah yang akan diberikan. Jika akan memberi hadiah, ajaklah anak bermusyawarah. Pada saat itulah sebenarnya kita melatih anak untuk mengambil keputusan agar anak mempunyai prinsip/pendirian dalam hidupnya.

Contoh kalimat :
"Nak, jika kamu sudah selesai menghafal Juz Amma, kamu mau hadiah apa ?"
Pada saat anak-anak meminta sesuatu yang kurang baik misalnya, di situlah peran orang tua untuk mengarahkan anak memilih hadiah yang bermanfaat. Kita jelaskan konsekuensi, manfaat, dan mudharatnya.
Harus diiringi semangat utk mendidik anak sebaik-baiknya, salah satunya dengan diskusi, sampai dengan sepakat tentang hadiah yang cocok dengan orang tua dan yang diinginkan anak.
๐Ÿ”ฅ๐Ÿšง Kaidah/Rambu-rambu memberi hukuman :

1. Proporsionalkan antara hukuman dengan hadiah
* Artinya seimbangkan hukuman dengan hadiah, tidak harus sama. Di dalam Islam, kelembutan dan kekerasan porsinya berbeda, yang lebih dominan adalah kelembutan.
* Seharusnya karena hadiah identik dengan kelembutan, dan hukuman identik dengan kekerasan. Maka hadiah harus lebih dominan daripada hukuman๐ŸŽ
* Orang tua saat ini akan berkomentar justru pada saat anak melakukan kesalahan dan tidak sering mengapresiasikan kebaikan yang dilakukan.
Hal tersebut tidak proporsional dan menjadikan hukuman lebih dominan, anak akan mencari perhatian dengan melakukan kesalahan agar mendapat perhatian org tuanya.
* Dgn mengapresiasikan kebaikan maka anak akan melakukan terus menerus untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.

2. Berikan kepercayaan dulu baru hukuman
* Ketika anak melakukan kesalahan maka org tua akan berkomentar, ada yang positif dan negatif.
* Komentar yang positif adalah komentar yang mengandung unsur kepercayaan. Sedangkan komentar yang negatif adalah komentar yang pedas, memojokkan, mengungkit-ungkit kesalahan anak-anak yang telah lalu.
➕ Contoh komentar positif :
"Nak, kamu blm mandi ? Ibu yakin kok kamu bisa memperkirakan waktumu sendiri. Kamu punya waktu 15 menit sebelum adzan Maghrib, coba kamu perkirakan cukup atau tidak"
➖ Contoh komentar negatif :
"Sudah mau Maghrib kok belum mandi juga. Setiap hari pasti begini, kapan kamu bisa atur waktu ???!!!๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ"
Lihatlah perbedaannya.
Jika dilakukan terus menerus, maka anak akan mempersepsikan diri seperti yang divoniskan tersebut.
* Jika anak diberikan kepercayaan maka akan muncul motivasi sehingga terpacu merealisasikan kepercayaan tersebut. Efeknya adalah selain motivasi kesadaran dan kepercayaan diri melakukan, juga akan muncul rasa penghargaan dan rasa sayang kepada ibu/bapaknya๐ŸŒน

3. Standarkan pemberian hukuman kepada perilaku
* Standar dibangun pada penilaian akan perilaku anak, bukan pelakunya.
Dari Abu Hurairah Radhiallahu 'anhu diriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Setiap anak dilahirkan dalam fitrahnya. Keduanya orang tuanya yang menjadikannya sebagai Yahudi, Nashrani atau Majusi.."
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada setiap kali anak bersalah, maka yakinkan anak mempunyai fitrah, maka perbaiki perilakunya, jangan memvonis pelakunya. Karena anak-anak masih pada fitrahnya.
* Kalau anak kecil melakukan kesalahan berulang-ulang maka harusnya mendapat toleransi yang lebih besar daripada orang dewasa, karena akalnya belum sempurna.

4. Hukumlah tanpa emosi
* Tujuan hukuman memberi efek jera agar anak sadar. Setiap amal jika niat baik mudah-mudahan hasilnya juga baik. Setiap perbuatan jika niatnya jelek, maka hasil juga akan jelek.
* Niat org tua yang menghukum karena dorongan emosi melampiaskan kemarahannya, biasanya melahirkan perasaan dendam pada anak.
* Saat ini mereka masih lemah, mungkin saja hukuman maksimal yang diberikan orang tua akan dituruti. Namun lihatlah pada saat dia telah kuat dan kita lemah karena telah tua⛔
Dalam hadits disampaikan jika sedang marah maka diamlah (semuanya diam baik lisan dan perbuatan).
Karena ketika orang sedang marah atau emosi maka apa yang dikeluarkan tidak terkontrol๐Ÿ’ฅ๐Ÿ’ฅ
Ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad,
ูˆَ ุฅِุฐَุง ุบَุถِุจَ ุฃَุญَุฏُูƒُู…ْ ูَู„ْูŠَุณْูƒُุชْ
“Jika salah satu di antara kamu marah, diamlah"
(HR. Ahmad, 1: 239)
* Berilah hukuman kepada anak ketika kondisi emosi kita sedang stabil. Termasuk kita perhatikan menstabilkan kondisi emosi anak kita terlebih dahulu. Pada dasarnya anak pun sudah merasa bersalah. Jika cukup dengan nasihat maka hukuman tidak terlalu perlu.

5. Sepakati dulu hukumannya.
* Jangan sampai anak kaget dengan hukuman. Anak juga harus diberi pemahaman tentang kesalahannya.
* Selanjutnya kita diskusikan dengan anak, klasifikasikan kesalahan dan hukumannya, ringan, sedang, atau berat.
* Buatlah aturan yang spesifik. Orang tua harus tegas, pada saat telah disepakati maka konsekuen dalam melaksanakan.

6. Berikan hukuman secara bertahap
* Tahapan hukuman antara lain sbb :
a. Pengabaian dengan kata-kata (mendiamkan).
* Tergantung level kesalahannya. Pertama kali bisa dilakukan dengan cara mendiamkan. Tujuannya adalah membuat anak tidak nyaman. Kalau sudah cukup, berhentilah jangan sampai over dosis.
b. Pengabaian dengan ruangan (dikurung di kamar).
* Lihat kondisi dan isi ruangan. Hukuman dilakukan dengan proporsional. Jangan terlalu lama, di ruangan gelap, atau penuh mainan dll.
c. Hukuman fisik.
* Jika sudah tidak mempan dengan pengabaian, maka bisa diberikan hukuman fisik sesuai levelnya dan tahapnya.
Harus diingat, hukuman tidak identik dengan hukuman fisik. Seperti juga hadiah tidak identik dengan uang.
* Anak-anak sudah bisa diberikan hukuman sejak anak tersebut telah mengetahui apa yang benar dan yang salah.

Wallahu a'lam bisshawab.
Semoga bermanfaat dan Allah mudahkan kita mendidik anak-anak menjadi shalih dan shalihah๐ŸŒพ๐ŸŒป

๐Ÿ“๐ŸŒป⭐๐ŸŽ๐Ÿ“๐ŸŒป๐ŸŽ⭐๐Ÿ“
Catatan Seri Kajian Parenting
๐Ÿ“‡ Kaidah Mendidik Anak dengan Memberi Hadiah (Reward) dan Hukuman (Punishment)
๐Ÿ‘คUstadz Abdullah Zaen, Lc.,M.A.
๐Ÿ“… Sabtu, 28 Juli 2018
๐Ÿ•ฐ Pukul 09.30-11.30
๐Ÿ•Œ Masjid Ash Shaff, Emerald, Bintaro
__________
๐Ÿ“ Ummu Sabiq

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.