Monday, December 31, 2018

Bubur Daging 4 Bintang (7 Bulan)

By Tisa Felicia M.


Bahan : 
Daging sapi (blender) 
Buncis
Wortel (parut)
Brokoli (cincang)
Daun bawang (cincang)
Bawang bombay (cincang)
Bawang putih (cincang)
Tahu (cincang)
Daun salam
Nasi
Kaldu daging sapi 

Cara membuat : 
1. Masukkan kaldu, nasi, daging dan daun salam masak hingga kaldu mulai meresap
2. Masukkan bawang bombay, baput, tahu dan daun bawang
3. Tambahkan buncis cincang, brokoli dan parutan wortel tambahkan sedikit kaldu lagi masak hingga matang
4. Ambil secukupnya (2sdm)bejek2 d atas saringan kawat, kerok yg berada d bagian bawah saringan kemuadian campurkan sisa saringan yg msh berada d dlm/d atas saringan kawat (yg sudah agak lembut tapi sulit kluar dri saringan)
5. Sajikan

*Gambar hanya ilustrasi

Sunday, December 30, 2018

Hal-Hal Kecil Tapi Efeknya Besar untuk Anak


Ada hal-hal kecil yangg terkadang belum kita lakukan dalam keluarga namun efeknya besar untuk karakter dan sikap anak-anak ke depan. Contohnya seperti apa ya? Mari kita simak yang satu ini. Semoga bermanfaat.

Jadi ceritanya saya baru selesai mengikuti pelatihan untuk menangani adiksi pornografi minggu lalu. Dari banyak hal yang kita pelajari, salah satunya adalah kami kembali diingatkan bahwa otak menyerap kata2 positif lebih baik & lebih cepat daripada kata2 negatif. Orang dewasa aja begitu apalagi anak2. Salah satu hal baru dan menarik adalah tentang kata 'coba' . Selama ini, kita smua berpikir bahwa kata 'coba' adlh hal yg positif, tp ternyata di pelatihan itu kita tidak disarankan untuk menggunakan kata 'coba', karena kata 'coba' bisa mengakibatkan kemungkinan gagal, maka lebih baik menggunakan kata 'bisa' untuk memperkecil peluang kegagalan.

Banyak sekali dalam keseharian pengasuhan, kita menggunakan kata-kata negatif pada anak-anak. Walau seringkali orang tua mengakunya tidak dilakukan dengan sengaja namun hal tersebut tetap saja terjadi. Kata-kata negatif yang keluar dengan sengaja, biasanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan variasi kosakata yang dimiliki oleh orang tua dalam mengasuh, juga karena kata-kata negatif itu yang dulu mereka dapatkan dalam pengasuhan mereka dulu, oleh orangtua mereka masing-masing. Apalagi kalau anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu diasuh oleh asisten rumah tangga.Wis lah!

Kepercayaan diri memang terbentuk dari bahasa yang kita pakai dalam mengasuh anak kita sehari-hari, seperti misalnya mengatakan 'Kamu juga bisa kok, adik aja bisa, masa kalah sama adiknya?'. Kesannya memotivasi, tapi ternyata membandingkan. Dan membandingkan itu merusak bukan saja yang dibandingkan, tapi juga si pembanding. 'Jangan dilempar mainannya! Kalau rusak, Mama nggak beliin lagi lho!'. Padahal nantinya dibeliin. Ancaman pepesan kosong seperti ini membuat anak bukan hanya bisa minder karena terus diancam, tapi juga tidak takut lagi terhadap ancaman lain, serta meniru mengancam orang di kemudian hari.

Jadi orang tua sering sekali kontradiktif, di satu sisi ingin punya anak percaya diri, tapi disisi lain mereka terus-menerus menggunakan bahasa negatif dalam pengasuhannya sehari- hari. Mengasuhnya setiap hari, tapi belajar pengasuhannya sekali-kali, jadinya ya begini.

Jadi saya menghimbau untuk berlatih merubah kosakata dalam percakapan pada anak. Daripada bilang:

'Bisa diam nggak?!'

Coba tanya

'Apakah kamu bisa menggunakan suara yang sedikit lebih pelan?'

atau daripada:

'Berantakan banget sih!!'

kita ubah menjadi:

'Wah kayaknya lagi asyik main nih, tapi sekarang waktunya tidur. Gimana ya caranya biar ruang tamunya bisa rapi lagi?'

daripada:

'Itu nggak terlalu susah kok! Coba dulu...'

diubah menjadi:

'Ayah tahu kamu bisa melakukan hal-hal yang sulit, termasuk ini'

Lihat bagaimana saya menyisipkan kata "bisa" dalam setiap contoh. Memang diperlukan ekstra tenaga, waktu, latihan dan tentunya ilmu untuk terus menjadi ibu dan ayah yang lebih baik. Tapi dengan dititipkannya makhluk-makhluk kecil ini di dalam pelukan kita, tampaknya itu tugas utama dari Allah yang berdampak bahkan sampai kita tiada. Mengasuh memang susah, tapi sy\urga tidak murah. Seperti kata Bob Marley, anything that's amazing won't be easy, and if it's easy, it wont be amazing. Parenting is hard. If it's easy, then you're doing it wrong.

Teman-teman saya sudah mencoba perubahan dalam pemilihan kosakata ini, langsung melihat perubahan positif pada anak-anak mereka dalam hal kepercayaan terhadap kemampuan diri, Masy Allah! Kalau mereka bisa, Anda pasti juga bisa. Mari mengubah kata-kata kita sehari-hari agar dapat membentuk anak-anak dengan kekokohan jiwa yang lebih baik lagi.

You can change your world by changing your words. - Joel Osteen

#sarrarisman
#jika dirasa manfaat, tidak perlu izin untuk membagikan artikel ini.

Sumber : Grup Parenting Islami

Saturday, December 29, 2018

MPASI Daging Ayam Negeri (Potong), Amankah?



Ayah dan Bunda, kami ingin sedikit berbagi pengalaman tentang MPASI berupa daging ayam negeri atau biasa disebut daging ayam potong. Saat tulisan ini dibuat, umur anak kami hampir masuk 7 bulan, masa-masa diberikan makanan pendamping ASI (MPASI).

Suatu saat, kami berencana memberi asupan protein hewani kepada anak kami. Salah satu opsi yang kami pilih adalah daging ayam. Nah, kemudian kami belikan daging ayam di dekat rumah kami. Alhasil kami membelikan daging ayam negeri.

Tiba-tiba muncul pertanyaan, amankah daging ayam negeri jika diberikan kepada si kecil yang masih bayi? Kemudian kami coba cari artikel di internet tentang hal tersebut. Ketemulah salah satu artikel dari kompas.com (artikelnya kami share di postingan yang lain) yang intinnya boleh-boleh saja, tapi jangan keseringan. Walau bagaimanapun ayam kampung lebih alamiah daripada ayam negeri. Sehingga disarankan sebisa mungkin tetap memilih ayam kampung.

Salah satu kendala jika memilih ayam kampung adalah mencari yang sudah dipotong-potong per bagian, karena kebanyakan pedagang menjualnya utuh per ekor. Kalau terkendala biaya, maka harus “gerilya” mencari daging ayam kampung. Daging ayam kampung tentu harganya lebih mahal, bisa berkali-kali lipat dibandingkan dengan daging ayam negeri. Sesekali boleh lah, untuk membelikan daging ayam kampung buat si kecil. Mau lebih hemat? Bisa mencoba memelihara sendiri ayam kampung di rumah.

Demikian, semoga bermanfaat.

Friday, December 28, 2018

Untuk Bayi, Pilihlah Ayam Kampung


Kompas.com - Daging ayam menjadi salah satu favorit para ibu sebagai campuran makanan pendamping ASI. Akan tetapi, sebaiknya Anda memilih ayam kampung, bukan ayam negeri. Pasalnya meski dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.

"Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya," kata dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO.

Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. "Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja," lanjut Dadang.

Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. "Tapi jangan terlalu sering, ya," pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja.

Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi. Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. "Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi," tutur Dadang.

Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.

"Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi," terang Dadang.

Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.

Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. "Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja." Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur.

Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. "Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam." Tapi jangan lupa, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.

Sumber : kompas.com

Nugget Tahu Sehat (9 Bulan)



by Ummi Nisak

Bahan :
☀​  1 bungkus Tahu Sutera Kongkee non salt
☀​  6 sendok makan tepung terigu (disini saya pakai tepung ladang lima yg gluten free)
☀​  1 wortel ukuran kecil
☀​  1 kentang ukuran sedang
☀​  1 siung bawang putih
☀​  2 siung bawang merah
☀​  5 lembar daun seledri
☀​  2 butir telur ayam kampung
☀​  100 ml kaldu homemade (bisa kaldu ayam, daging, atau jamur)
☀​  1 butir telur ayam kampung (untuk celupan)
☀​  tepung roti (untuk baluran)

Cara Membuat :
1. Blender semua bahan kecuali telur,  tepung terigu, &tepung panir
2. Campurkan 2 butir telur & tepung terigu
3. Masukkan Loyang (Loyang dilapisi plastik atau aluminium foil)
4. Setelah matang, dinginkan, baru potong-potong
5. Potongan nugget tahu di celupkan ke kocokan telur (1 butir), kemudian balurkan dalam
tepung panir
6. Masukkan kulkas supaya agak mengeras
7. Masak dengan minyak kelapa/minyak sayur/evoo/eloo
8. Sajikan

Sumber : WAG MPASI GIM

Thursday, December 27, 2018

Kisah Nabi Adam AS


Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah SWT dari tanah. Allah SWT menyempurnakannya sebagai makhluk yang paling sempurna dan mulia. Saat Allah SWT meminta para malaikat untuk bersujud kepadanya para malaikatpun bersujud, kecuali iblis yang mendurhakai perintah Allah SWT karena merasa dirinya lebih mulia dari Adam AS.

Di surga Allah SWT menciptakan Hawa untuk mendampingi Adam. Keduanya bebas makan minum di dalamnya, Allah SWT menggoda Adam supaya melanggar larangan Allah SWT. Akhirnya mereka terbujuk rayuan iblis dan berusaha mendekati pohon tersebut, maka lepaslah pakaian dan terbukalah aurat mereka.

Mereka segera menyadari keselahannya dan segera memohon ampunan Allah SWT. Allah SWT mengampuni keduanya, tetapi tetap mendapat hukuman yaitu turun ke bumi di tempat berbeda. Begitu pula iblis/syetan juga diturunkan di bumi dan berjanji akan menggoda anak cucu Adam sampai kiamat nanti.

Bertahun-tahun kemudian Adam dan Hawa bertemu di jabal rahmah padang Arofah. Keduanya bersama kembali sebagai suami istri dan dikaruniai anak kembar (laki-laki dan perempuan) tiap kelahirannya. Allah SWT mengangkat Nabi Adam AS sebagai Nabi dan Rosul serta manusia dijadikan khalifah di bumi. Nabi Adam meninggal dalam usia 1000 tahun.


Sumber Gambar : bhclip.com
Sumber Tulisan : Buku Pengetahuan Islam Anak Muslim

Monday, December 24, 2018

Bubur Daging Saus Bolognese (7 Bulan)

by Mama Atha



Bahan : 
Daging cincang 
Buncis Tomat Wortel (parut) 
Daun seledri (cincang) 
Bawang bombay (cincang) 
Bawang putih (cincang) 
Daun jeruk Sereh (geprek) 
Beras Putih

Cara membuat : 
1. Masak beras dengan daun jeruk hingga menjadi bubur, atur tekstur dan simpan diwadah kedap udara (sisihkan) - pisahkan menjadi 3 porsi
2. Rebus Tomat hingga empuk, kupas kulitnya dan saring (sisihkan) 
3. Kukus daging cincang dg sereh sampai stgh matang (sisihkan)
4. Tumis bombay, bawang putih hingga harum, masukkan daging tambahkan air rebusan tomat hingga empuk 
5. Tambahkan parutan wortel, buncis cincang, daun seledri dan daun jeruk tambahkan air saringan tomat masak hingga matang (atur tekstur) - pisah menjadi 3 porsi makan 
6. Sajikan bubur dg daging bumbu bolognese dg parutan keju di atasnya. 

Note : karbo sayur protein bs divariasikan tergantung selera

Sumber : WAG MPASI GIM

Ibu untuk Anak Kita


by Ustadz Fauzil Adhim

Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang  tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim....

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak atau belum ada dalam diri kita.

Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi...

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.
Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, insya-Allah ia akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki energi yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya... ya... ya..., cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

Tuesday, December 18, 2018

Tips dari Ust. Budi Ashari untuk Para Pendidik di Rumah



1. Ayah dan ibu harus mempunyai amal shalih pilihan yang rutin. Baca Alquran, di depan anak, qiyamul lail (sering titipkan anak kepada Allah, dengan penjagaan-Nya insya Allah kita akan tenteram, berinfak di jalan Allah. Harus ada amal yang menjadi unggulan kita.

2. Ayah dan ibu boleh memilih amal unggulan. Ibu membacakan kisah para sahabat, ayah mengajak anak-anak ke masjid. Ayah hebat dalam amal tertentu, ibu hebat di amal yang lain.

3. Berdoalah dengan menyebut amal tersebut sebagai tawassul agar Allah menjaga anak-anak kita.

4. Kalau syahwat mendesak-desak untuk mengambil harta yang tidak halal, maka ingatlah anak-anak. Harta tidak halal hanya melahirkan anak-anak yang rusak.

Untuk melahirkan generasi yang shalih dan hebat harus dengan harta yang halal!

Sumber bacaan : Inspirasi dari Rumah Cahaya

Saturday, December 8, 2018

Mempersiapkan Generasi Aqil Baligh (Bagian 2)


Untuk menjalani Prinsip Prinsip di atas maka berikut adalah beberapa aktifitas yang dapat dimasukkan ke dalam program pendidikan generasi AqilBaligh.
Dalam pembinaan Pemuda di Masjid, maka peran komunitas harus terlibat secara penuh termasuk para orangtua Jama'ah Masjid.
1. Mencari nafkah
  • Ingatkan jauh-jauh hari : saat baligh, kamu harus menghidupi diri sendiri
  • Sekali lagi : belajar tega
  • Jangan penuhi 100 % permintaan
  • Berbisnis mulai dari rumah
  • Sharing pekerjaan pada anak
  • Mulai dari mencari uang jajan
2. Latihan berorganisasi
  • Berorganisasi adalah berkehidupan
  • Organisasi : manajemen, kerjasama, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dsb.
  • Mulai dari mengorganisir rumah
  • Menjadi EO acara keluarga
  • OMIS : Organisasi Murid Intra Sekolah
3. Pendidikan yang berani dan tega
  • Jaman memang sudah berubah, namun berubah lebih keras
  • Di luar sana makin tak aman, namun anak jangan disembunyikan
  • Mewariskan jalan sukses, bukan hasil sukses
  • Hadirkan si Raja Tega
4. Membangun Tanggungjawab
  • Anak tak selemah yang dibayangkan
  • Consequential learning
  • Tangan mencencang – bahu memikul
  • “Membalas” perlakuan
  • Merasakan (sebagian) akibat dari perbuatan
  • Berikan kebebasan
  • Serahkan amanah dan tanggungjawab
5. Memecahkan masalah
  • Anak bukan makhluk bodoh
  • Jangan sembunyikan masalah
  • Saling berbagi masalah
  • Menekan percepatan baligh
  • Bawa masalah kehidupan ke rumah
  • Rajinlah berdiskusi
  • Ajarkan problem solving

*) Dirangkum oleh Harry Santoso, dengan beberapa penyesuaian

Friday, December 7, 2018

Mempersiapkan Generasi Aqil Baligh (Bagian 1)


Berikut adalah prinsip dan asumsi asumsi untuk mendidik generasi Aqil Baligh yang menjadi landasan penyusunan Kurikulum Pendidikan generasi Aqil Baligh, menurut ustadz Adriano Rusfi:
Pendidikan Aqil Baligh ini mulai intensif ketika anak berusia 10-12 tahun sampai usia 15-19 tahun, namun perlahan merawat fitrah ketika usia dini. Umumnya kita menggegas ketika usia dini sehingga banyak fitrah yang rusak, lalu sibuk memperbaikinya ketika menjelang AqilBaligh.
Prinsip Pendidikan Generasi AqilBaligh:
1. Anak adalah manusia aqil-baligh dan mukallaf
  • Anak berhak mengambil keputusan sendiri atas dirinya
  • Anak bertanggung jawab atas perilaku sadar dan bebasnya
  • Anak berhak memiliki ruang pribadi (privacy)
  • Anak telah terkena hukum-hukum sosial dan syariah
2.Allah telah menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna, mulia, dan berdaya
  • Anak harus diberikan kepercayaan untuk mengatasi masalahnya sendiri
  • Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang bermoral dan mencintai kebenaran
  • Anak harus dipercaya sebagai makhluk yang memiliki kelengkapan dasar yang memadai dalam menjalani kehidupan
3.Allah telah menjadikan kehidupan ini sempurna dan mudah, dan tak akan membebani hambaNya kecuali sesuai dengan kadar kesanggupannya
  • Harus diyakini bahwa tak ada aspek kehidupan yang terlampau sulit untuk dijalani oleh Anak
  • Harus diyakini bahwa tak ada tantangan, tekanan, dan cobaan hidup yang terlampau berat untuk diatasi Anak.
  • Harus diyakini bahwa kehidupan itu sendiri telah menyediakan fasilitas yang cukup untuk menjalaninya.
4.Kesuksesan di dunia merupakan salah satu indikator kesuksesan di akhirat
  • Anak harus dirangsang untuk membangun ambisi kehidupan yang maksimal dan realistis, di genggaman tangan, bukan di dalam hati
  • Anak harus memiliki perencanaan hidup yang matang sesuai dengan bakat dan kapasitasnya
  • Anak harus memiliki kinerja yang optimal sesuai standard kuantitas, kualitas dan waktu.
5. Allah itu hidup, berdiri, dan mengurusi makhlukNya
  • Harus diyakini bahwa Allah tetap terlibat dalam memberikan pertolongan kepada manusia, khususnya Anak, dalam memikul beban kehidupan.
  • Harus diyakini bahwa Allah telah memberikan bekal khusus kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi tantangan-tantangan kehidupan yang khas, sesuai dengan ruang dan waktu yang dihadapi
6.Kehidupan adalah guru yang terbaik
  • Anak harus diberikan kesempatan seluas mungkin untuk menjalani dan belajar dari kehidupan.
  • Anak perlu dilibatkan secara optimal dalam permasalahan-permasalahan kehidupan di lingkungannya.
  • Perlu disediakan sebuah model kehidupan yang realistis sebagai wahana pelatihan dan pembelajaran hidup nyata bagi Anak.
7. Allah telah menjadikan kehidupan ini sebagai ladang, permainan, dan cobaan
  • Anak harus dikembangkan untuk menjadi manusia yang aktif dan produktif
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang menggembirakan.
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima dan menjalani permasalahan dan cobaan hidup secara alami
8. Keterlibatan dalam realita kehidupan di dunia dengan segala konsekwensinya merupakan prasyarat keimanan dan surga
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk mengalami dan merasakan hukum-hukum kehidupan secara wajar.
  • Anak harus dihadapkan pada realita kehidupan yang terjadi pada ruang dan waktu kehidupannya.
  • Anak harus diberikan kesempatan untuk menerima ujian-ujian kehidupan, baik material, maupun mental

Bersambung
*) Dirangkum oleh Harry Santoso, dengan beberapa penyesuaian

Friday, November 23, 2018

Tips Makanan Pendamping ASI


Materi Dasar MPASI
Sekapur sirih MPASI (REVISI)
by Lintang
๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ๐Ÿฝ
MP ASI ada yang harus diperhatikan : AFATVAH

A: Age, pengelompokan usia bayi
F: Frekuensi  pemberian MP ASI
A: Amount, porsi sekali makan
T: Tekstur makanan
V: Variasi bahan makan
A: Aktif responsif, tidak kaku, baca respon anak, libatkan anak dalam proses belajar makan
H: Hygiene, kebersihan saat persiapan (masak) dan makan

Bahas satu-satu ya..

๐Ÿ’—AGE
Dibagi 4 kelompok usia:
๐Ÿ’—6 bulan/awal masa MP ASI
๐Ÿ’—6-9 bulan
๐Ÿ’—9-12 bulan
๐Ÿ’—12-24 bulan
-------------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š-----------
FREKUENSI, PORSI, TEKSTUR
Frekuensi makan/cemilan, Amount (porsi) dan Tekstur makannya berbeda-beda di tiap kelompok usia.Tapi, untuk Variasi, Aktif responsif dan Higienitas sama ya..

๐Ÿ’— FREKUENSI
๐Ÿ˜€ 6 bulan awal MPASI (1-2 minggu) : 2-3x makan
๐Ÿ˜€ 6-9 : 4x makan
2x makan besar + 2 snack
3x makan besar + 1 snack
๐Ÿ˜€ 9-12 : 5x makan
3x makan besar + 2 snack
4x makan besar + 1 snack
๐Ÿ˜€ >12 bln = 9-12 bulan
Ini biar gampang ngingetnya

๐Ÿ’— AMOUNT / PORSI
๐Ÿ˜€ 6 bln awal MPASI: 1-2 sdm
๐Ÿ˜€ 6-9 bln: Mulai dari 2-3 sdm bertahap ditingkatkan hingga 125ml
๐Ÿ˜€ 9-12 bln: Mulai dari 125 ml, bertahap ditingkatkan hingga 250ml
๐Ÿ˜€ >12 bln: 250ml ++

๐Ÿ’— TEKSTUR
Awal MPASI 6 bulan sampai 9 bulan dimulai dengan bubur lumat yang kental. Tidak terlalu cair. Cara ngeceknya: saat sendok dimiringkan, bubur tidak langsung jatuh.
Kalo terlalu cair, artinya terlalu banyak air ๐Ÿ‘‰ nutrisi kurang padat. Padahal lambung bayi masih keciil... Jadi makanan yang masuk harus efektif.
Perbedaan tekstur 6-9 bulan: bahan makanan lumat. Kukus/rebus, lalu saring dengan saringan kawat. Ambil ampas yang nempel di belakang saringan.
๐Ÿ˜€ 9-10 bln: Makanan ditumbuk/dienyet2, tidak perlu disaring lagi
๐Ÿ˜€ 11-12 bln: Cincang kasar
๐Ÿ˜€ >12 bln: Tekstur sama dengan dewasa
------------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š-------------

๐Ÿ’—VARIASI
Nah.. yang suka bingung soal variasi. Apa aja yang bisa diberikan ke bayi? Semua udah bisa dicobakan ๐Ÿ˜Š
Biar selalu inget, ada 4 bintang
⭐⭐⭐⭐
⭐ Bahan makanan pokok: Nasi, bihun, singkong, ketan, ubi, kentang, oat, pasta, dll
⭐ Lauk hewani/Fe hewani: Ikan, ayam, daging, telur, udang, ati, dll
⭐ Kacang2an/lauk nabati: Tahu, tempe, kacang tanah, kacang merah, kacang kedelai, kacang  ijo, edamame, dll
⭐ Sayur/ Buah: Bayam, wortel, kacang panjang, brokoli, pakcoy, sawi, labu siam, dll. Pepaya, mangga, jambu, nanas, pisang, alpukat, dll
➕ Tambahan: Minyak sayur, margarin, butter, yodium, keju, susu dan turunannya, dll.
Komposisi masing2 bahan
4⭐ ini sebaiknya ada di setiap waktu makan... Karena tidak ada makanan "dewa" yang memenuhi semua nutrisi yang dibutuhkan anak, sebaiknya bahan makanan divariasikan setiap hari.
Jadi, walaupun bayem, ati, wortel bagus... bukan berarti harus dikasih tiap hari ๐Ÿ˜€.
Coba berbagai bahan makanan... Biar perbendaharaan rasa anak semakin kaya.

-----------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š--------------

๐Ÿ’— AKTIF RESPONSIF
Lalu soal aktif responsif, ini maksudnya, MPASI ini bukan sekadar memasukkan nutrisi ke tubuh anak. Lebih dari itu, anak juga diajak untuk BELAJAR MAKAN, belajar mengenal rasa, belajar memegang makanannya sendiri, belajar perbedaan tekstur antara tahu yang empuk dengan wortel yang renyah, belajar mengenali rasa lapar dan kenyang.
Jadi buatlah kegiatan makan yang menyenangkan. Baca respon anak. Misal anak terlihat ogah-ogahan, rewel, ngantuk, jangan paksakan makan. Lebih baik geser waktu makannya. JIka anak tidak mau makanan yang disajikan, kenali penyebabnya, bujuk anak untuk mau makan, usahakan makan bersama dalam keluarga.

---------------๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š---------------

๐Ÿ’— HYGIENE
Perhatikan kebersihan saat mulai masak. Membersihkan bahan makanan. Menggunakan talenan berbeda antara daging mentah dengan bahan makanan yang langsung makan.
Jangan lupa cuci tangan saat mau menyuapi makan dan juga tangan anak.
=========☆☆☆☆=======
Gitu.. Jadi MPASI ini mudah.. tidak perlu bingung menu apa buat bayi.
Gampangnya, saat mau masak untuk keluarga di rumah. Pastikan menunya memenuhi 4⭐
(4 bintang tidak hanya berlaku untuk bayi, tapi juga Pedoman Gizi Seimbang /PGS untuk dewasa). Masak seperti biasa. Sebelum diberikan garam/gula dan cabe, sisihkan untuk bayi. Olah lagi sesuai dengan teksturnya (saring/blender/cincang).

Sumber :
FP: Tips Menyusui, A-Z ASI dan Menyusui
Twitter: @tipsmenyusui
IG: @tipsmenyusui
Web: www.menyusui.info

Thursday, November 22, 2018

Mengatasi Anak yang Mudah Marah


Marah merupakan hal naluriah seorang manusia, begitu juga bagi anak-anak. Menurut ilmu psikologi, marah merupakan perubahan emosi terjadi karena suatu penyebab. Seperti kekecewaan, agresi lahiriah atau pengekangan diri. Jika dilihat dari kebiasaan penyebab anak marah adalah karena merasa terkekang. Tidak boleh terlalu banyak bermain, tidak boleh terlalu berisik di dalam ruangan, tidak boleh membeli sesuatu yang ia inginkan, dan masih banyak lagi. Mungkin sebuah pengekangan adalah maksud baik bagi orang tua dalam mendidik, agar tumbuh secara lebih teratur. Dan bagi anak marah adalah hal yang naluriah, wajar terjadi.

Tapi ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat anak ayah-bunda sering marah. Jelaskan kepada anak bahwa ia boleh marah atau kesal, tetapi tidak boleh berlebihan.

Hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa anak kadang hanya meniru apa yang dilihatnya. .
Anda dan kita semua sebagai orangtua harus mampu mengendalikan marah apalagi di hadapan anak-anak. Hal ini bisa menjadi “inspirasi” bagi anak atau anak akan mengikuti apa yang orangtua lakukan. Jika anak melakukan kesalahan maka maafkan dan beri nasihat dengan bijak.

Dalam Alquran Allah berfirman,
"…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan." (QS.Ali ‘Imrรขn: 134).

Nabi memerintahkan orang yang sedang marah untuk melakukan berbagai hal yang dapat menahan dan meredakan amarahnya. Dan beliau memuji orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.

Sumber : www.percikaniman.id

Sunday, November 11, 2018

Tips Bahagia Ala Aa Gym


Siapa sih yang gak kenal dengan kyai kondang Abdullah Gymnastiar atau yang lebih akrab di sapa dengan Aa’ Gym. Pagi tadi selepas subuh tak sengaja mendengar dan menyimak kajian beliau di salah satu stasiun TV. Menurut beliau, yang namanya bahagia itu tipsnya hanya ada satu, apakah itu??
Bahagia adalah ketika kita bertaqwa dan beriman kepada Sang Pencipta yaitu Allah swt yang Maha segalanya, kurang lebih begitu ungkap beliau saat ditanya oleh salah satu jamaah yang hadir.
Beliau menuturkan, jika kita ingin hidup bahagia maka hal yang harus dilakukan adalah mentaati segala perintah Allah swt. Segala perintah yang ditetapkan oleh Allah swt untuk umat manusia sesungguhnya akan kembali kepada manusia itu sendiri atau semuanya untuk dan demi kebaikan manusia sendiri. Sebab, pada dasarnya Allah tidaklah butuh untuk kita taati, melainkan kitalah yang butuh untuk mentaati perintah Allah. Jika kita renungkan, semua apa-apa yang Allah perintahkan untuk kita adalah untuk kebaikan kita. Kita sajalah yang terkadang masih merasa angkuh untuk tidak mau mengakuinya atau hati ini telah tertutup.

Kunci bahagia yang lain ialah selalu bersyukur dan pasrah kepada-Nya.
Bersyukur dengan apa apa yang telah ditetapkan-Nya untuk kita. Dengan selalu bersyukur, maka hati ini akan tenang dan tidak mudah gelisah. Syukur atas ketentuannya juga akan membuat hati kita selalu terbuka akan adanya hikmah dibalik setiap peristiwa yang terjadi sehingga pikiran kita akan selalu mengarah ke hal postif alias positive thinking. Berfikiran selalu positif pun akan membuat aura diri menjadi cerah dan menyejukkan jika dipandang orang sehingga akan menebarkan kebahagiaan bagi diri sendiri maupun orang lain yang melihat.

Selanjutnya adalah pasrah. Pasrah berarti menyerahkan segala sesuatu yang terjadi pada kita hanya kepada Allah semata. Allah telah memberikan ketetapan-Nya kepada setiap makhluk ciptaan-Nya dengan seksama dan pastilah tiada yang meleset. Pasrah disini maksudnya bukan berarti kita berdiam diri dengan keadaan yang telah terjadi tanpa melakukan apapun, melainkan tetap ada tindakan atau reaksi terhadap suatu peristiwa yang terjadi namun tetap berfikir positif sehingga hati pun tetap terjaga dari keburukan.

Selain itu, Aa’ juga memberikan Rumus Bahagia yaitu “me-“ dan “di-“. Maksudnya, ketika kita berinteraksi dengan orang lain maka rumus yang kita pakai adalah “me-“ bukan “di-“ seperti misal lebih sering memberi bukan diberi, lebih suka memuji bukan dipuji, mengasihi bukan dikasihi, dan lain sebagainya. Jika hal ini kita lakukan, insyaAllah kebahagiaan akan kita rasakan dan kita dapatkan setiap saat. Namun, jika kita berinteraksi kepada Allah maka yang harus dilakukan adalah kebalikannya yaitu kita menggunakan rumus “di-“ yaitu mengharap pertolongan Allah dan mengharap balasan hanya dari Allah, misal memohon untuk di-kasihi, mengharap diberi rahmat, diberi karunia, ditolong Allah dalam segala keaadaan, dan lain sebaginya.

Tips selanjutnya ialah jangan memberikan kebahagiaan kepada orang dengan cara yang tidak diridhoi oleh Allah, misal ingin memberikan kebahagiaan kepada keluarga dari uang hasil curian atau yang lain, membuat bahagia saudara dengan membuat orang lain menderita. Hal ini sangat tidak dianjurkan karena kebahagiaan yang didapat tidaklah nyata melainkan hanya semu. Misal saja, kita memberikan hadiah kepada seseorang dari hasil mencuri, maka ketika nanti ketahuan maka seorang yang kita beri hadiah akan dikira penadah atau yang tadinya merasa bahagia akan menjadi membenci kita. Atau jika kita bermaksud membahagiakan seseorang dengan membuat sengsara orang lain maka hal ini dapat dikatakan sebagai mendzolimi orang. Padahal mendzolimi sesama merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah, sehingga yang terjadi adalah kita akan dihukum oleh Allah baik secara langsung maupun tidak langsung. Minimal pelakunya tidak akan merasa tentram hidupnya yang berarti kebahagiaan itu sirna seketika.

So, sesungguhnya bahagia itu mudah dan murah asalkan kita selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah sehingga syukur dan pasrah pun mudah dilakukan. Maka marilah mulai saat ini kita belajar untuk bahagia. Tips terakhir dari Aa’ untuk berbuat kebaikan ialah 3M (mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini).

Demikian tips bahagia yang dapat mimin bagi. Wallahua’lam bishawab.
Kebenaran hanya datang dari Allah, kesalahan datangnya dari diri saya yang masih belajar ini.

Friday, November 9, 2018

Tujuan Pendidikan



Oleh: Kak Eka Wardhana, Rumah Pensil Publisher

Ayah dan Bunda, apa jawaban kita bila anak kita bertanya: Apa sih tujuan aku belajar bertahun-tahun di sekolah: 2 tahun di Taman Kanak-Kanak, 6 tahun di Sekolah Dasar, 3 tahun di SMP, 3 tahun di SMU dan 4 tahun di Perguruan tinggi, 18 tahun belajar formal, belum lagi bila ditambah bertahun-tahun lagi mengejar gelar master dan doktoral? Untuk mencapai apa aku bersusah payah belajar seperti itu?

Kebanyakan kita akan menjawab, “Agar kamu menjadi pintar, Nak.”

Sudah tepatkah jawaban itu? Bila ingin tahu jawabannya simak kisah berikut ini ya:

Suatu hari di masa yang lalu, seorang orientalis berjalan melintasi gurun-gurun Afrika Utara. Ia bukan orang biasa di masyarakat barat, tetapi seorang bangsawan bergelar “Count”. Namanya Count Henry du Casterie, orang Perancis. Semua orang mengenalnya sebagai penganut Katholik yang tekun.

Apa sih orientalis itu? Orientalis adalah orang non muslim yang mengkaji dan meneliti aqidah, syariat, bahasa dan peradaban Islam dengan maksud membut keraguan terhadap agama ini. Jadi sudah terbayangkan, apa yang dilakukannya di Afrika Utara, tempat negeri-negeri Muslim berada? Tentu saja sedang melakukan pekerjaannya sebagai orientalis.

Sebagai orang asing, Count Henry du Casterie tentu tidak bisa menjelajah gurun pasir sendirian. Makanya ia menggaji beberapa orang pembantu dan pemandu dari penduduk setempat. Para asisten ini adalah orang-orang muslim.

Perjalanan masih jauh dan belum waktunya beristirahat, namun saat shalat tiba. Salah seorang muslim di rombongan itu yang tampaknya dituakan oleh yang lain berkata, “Sudah tiba waktu shalat, mari berhenti dan shalat.”

Tentu saja Count Henry terkejut, harga dirinya sedikit tersinggung karena ia merasa dirinyalah bos dalam rombongan ini. Maka ia pun memberikan protes spontan, “Hei, apa yang kalian lakukan? Aku tak memberi perintah untuk berhenti!”

Orang muslim yang dituakan itu menjawab, “Benar, tetapi Tuhan kami memberi perintah kepada kami untuk menghadap-Nya sejenak...”

Count Henry du Casterie hendak membuka mulut untuk membantah, tetapi saat itu ia teringat, “Aku ini seorang ilmuwan yang mempelajari agama dan budaya mereka, kenapa aku harus memaksakan kehendakku? Lagi pula aku juga seorang penganut agama, sama seperti mereka...”

Maka terpaksalah sejak itu dan selama perjalanan belum selesai, Sang Bangsawan Perancis harus mengalah dan berhenti sejenak setiap kali waktu shalat tiba. Kelak dalam bukunya, ia menulis, “Meski mereka anak buahku, tetapi aku harus bersabar menunggu mereka shalat karena saat ini mereka lepas dari perintahku. Betapa kecilnya aku di hadapan orang yang sedang menyembah Tuhannya....”

Memang benar, pendidikan bertujuan mengasah akal agar jadi pintar, tetapi apa gunanya akal yang pintar dan ilmu yang banyak bila akhirnya tidak mengantarkan pemiliknya kembali kepada Tuhan? Count Henry mengalami hal itu, betapapun pintarnya dirinya, ia tahu bahwa ia tak ada apa-apa di hadapan orang-orang yang sedang shalat.

Bahkan Prof. Huizinga, seorang filsuf bangsa Belanda berkata, “Tujuan setiap peradaban haruslah menuju Akhirat. Peradaban yang tidak menuju Akhirat, lebih baik dimusnahkan saja.”

Tujuan menajamkan akal terangkum dalam kutipan ayat Al-Qur’an ini: “Yu’minuuna billaahi wa bil yaumil aakhiri (Beriman kepada Allah dan pada hari Kemudian).”

Tujuan pendidikan sejati adalah “Ma’rifatullah” (Mengenali Allah). Inilah yang dimaksud Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam saat Beliau bersabda, “Akal itu terbagi pada tiga bagian: sepertiga untuk mengenal Allah, sepertiga untuk taat kepada Allah dan sepertiga lagi untuk sabar (dapat menahan hati) dari maksiat kepada Allah.”

Jadi, bila kita ditanya anak kita, “Ayah/Ibu, untuk apa sih aku harus belajar bertahun-tahun sampai meraih gelar sarjana?”

Jawabannya adalah: “Agar kamu pada akhirnya akan mengenal Tuhanmu dan mempersiapkan bekal untuk kembali kepada-Nya.”

Thursday, November 8, 2018

Pendidikan Anak Berbasis Fitrah


Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Pendidikan berbasis fitrah / Fitrah Based Education (FBE) pada dasarnya adalah mendidik anak sesuai dengan fitrah yang dimiliki. Sehingga sejatinya tugas orangtua dalam mendidik anak sangatlah sederhana, yaitu memelihara fitrah anak. Apa itu fitrah? Fitrah adalah apa yang menjadi kejadian atau bawaan manusia sejak lahir. Pengertian fitrah secara sistematik berhubungan dengan hal penciptaan (bawaan) sesuatu sebagai bagian dari potensi yang dimiliki. Ada empat fitrah utama yang diperhatikan dalam penerapan FBE, yaitu fitrah keimanan, fitrah belajar, fitrah bakat dan fitrah seksualitas.

1. Fitrah Keimanan
Fitrah keimanan meliputi fitrah beragama, fitrah bertuhan, fitrah kesucian, fitrah “malu”, fitrah “harga diri”, fitrah spiritual, fitrah berakhlak dan fitrah moral. Masa keemasan fitrah ini adalah pada usia 0-7 tahun. Pada usia tersebut anak berada pada masa dimana imajinasi dan abstraksi berada pada puncaknya, alam bawah sadar masih terbuka lebar , sehingga imaji tentang Allah, tentang Rasulullah, tentang kebajikan mudah dibangkitkan pada usia ini. Tetapi tidak menggunakan metode doktrinisasi, melainkan melalui kisah inspiratif tentang gairah kemuliaan budi pekerti, semangat kepahlawan maupun rasa persaudaraan sesama manusia.

2. Fitrah Belajar
Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat. Usia emas fitrah belajar berada pada usia 7-12 tahun. Usia 7-12 tahun secara perkembangan anak berada pada masa dimana otak kanan dan otak kiri sudah tumbuh seimbang, ego sentris telah berkembang menuju sosiosentris sehingga mulai terbuka pada eksplorasi dunia luar. Perkembangan indera sensori sudah tumbuh dengan sempurna.

3. Fitrah Bakat
Setiap anak adalah unik, mereka memiliki sifat bawaan masing-masing. Sifat bawaan yang unik ini berkaitan dengan keperibadian karena sifatnya melekat dan menjadi karakter kinerja. Kepribadian yang produktif inilah yang disebut dengan bakat. Fitrah bakat mencapai puncak keemasan pada usia 10-14 tahun. Secara fitrah perkembangan usia 10-14 tahun anak berada pada masa menjelang dewasa.

4. Fitrah Seksualitas
Fitrah seksualitas adalah bagaimana seseorang berpikir, merasa dan bersikap sesuai dengan fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati. Pendidikan fitrah seksualitas tentu berbeda dengan pendidikan seks. Tujuan pendidikan fitrah seksualitas ini adalah membuat anak mengetahui identitas seksualnya, anak mampu berperan sesuai dengan identitasnya dan membuat anak mampu melindungi dirinya dari kejahatan seksual.

Sumber : @parenting_islam.id

Wednesday, November 7, 2018

Doa Untuk Ibu Hamil



Banyak metode yang digunakan dalam menjaga kesehatan janin selama kehamilan. Seperti olahraga untuk ibu hamil, mengatur pola makan yang disarankan oleh ahli medis berfungsi dalam kelangsungan janin dan mempersiapkan persalinan. Selain sang ibu harus menjaga kesehatannya, akan lebih sempurna jika sang ibu pun lebih banyak dengan doa-doa pada masa selama kehamilan atau mempersiapkan persalinan.. 

Sebagaimana Isteri `Imran adalah ibu Maryam, yaitu Hannah binti Faqudz. Muhammad bin Ishaq berkata: “Hannah binti Faqudz adalah seorang wanita yang tidak pernah hamil. Suatu hari ia melihat seekor burung memberi makan anak-anaknya, maka ia pun ingin mendapatkan anak. Lalu ia berdo’a kepada Allah agar memberinya seorang anak. Dan Allah pun mengabulkan do’a-nya. Setelah suaminya melakukan hubungan badan dengannya, maka ia pun hamil.

Setelah benar-benar hamil, ia bernadzar agar anaknya menjadi anak yang tulus beribadah dan khusus untuk beribadah, berkhidmah ke Baitul Maqdis seraya berucap: Rabbi innii nadzaartu laka maa fii bath-nii muharraran fataqabbal minnii innaka antas samii’ul ‘aliim (“Ya Rabb-ku, sesungguhnya aku bernadzar kepada-Mu anak yang dalam kandunganku ini menjadi hamba yang shalih dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nadzar) itu dariku. Sesungguhnya Engkau Yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui.”) Yakni Maha mendengar do’a yang kupanjatkan dan Maha mengetahui niatku. Dan ia belum mengetahui anak yang berada di dalam kandungannya itu, laki-laki atau perempuan. (lihat Surah Ali Imran 35-36)

Berdoa adalah senjata untuk menggapai harapan. Apalagi sang istri yang ingin hamil dan sang ibu yg ingin mendapatkan anak yang shalih dan berbakti kepada orangtua. Selain itu juga kiat dalam membentuk sang buah hati dengan membacakan ayat suci al-Quran dan membiasakan dalam perilaku kesehariannya (sang ibu dan ayah) dengan beradab Islam.

Semoga bermanfaat..

Sumber : @parenting_islam.id (dengan beberapa penyesuaian)

Monday, November 5, 2018

Bolehkah Menghukum Anak?


Dunia pendidikan kita hari ini benar benar sedang kebingungan. Selain itu keadaannya juga mengkhawatirkan. Di mana konsep menghukum anak di bawah umur, SD-SMP terdengar menakutkan.

Amerika sebagai negara adikuasa telah memegang kendali pendidikan di negara kita. Setelah di masa lalunya dunia barat sengaja memperlakukan anak-anak seperti binatang dan budak dengan cara kasarnya. Akhirnya saat ini bermunculan konsep konsep pendidikan yang terbilang lembut.

Namun pendidikan Islam tidak memiliki masa kelam. Dari dulu hingga sekarang konsep Islam tidak pernah berubah walaupun terjadi pergantian zaman dan keadaan. Masalahnya ada pada diri kita. Keyakinan yang telah bergeser membuat hasil pendidikan kita berubah sangat jauh dengan hasil pendidikan Islam di masa kebesarannya.

Sampai-sampai memunculkan konsep larangan memukul pada anak. Atau lebih parah lagi ada konsep "Jangan Berkata Jangan". Hal itu bertentangan dengan Al-Qur'an. Dalam Islam, berkata "Jangan" itu diperbolehkan. Saat Luqman berkata kepada anaknya.
.
ูˆَุฅِุฐْ ู‚َุงู„َ ู„ُู‚ْู…َุงู†ُ ู„ِุงุจْู†ِู‡ِ ูˆَู‡ُูˆَ ูŠَุนِุธُู‡ُ ูŠَุง ุจُู†َูŠَّ ู„َุง ุชُุดْุฑِูƒْ ุจِุงู„ู„َّู‡ِ ۖ ุฅِู†َّ ุงู„ุดِّุฑْูƒَ ู„َุธُู„ْู…ٌ ุนَุธِูŠู…ٌ

"Dan ingatlah ketika Luqman berkata sama anaknya, di waktu ia memberi nasihat kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu adalah benar-benar kezaliman yang besar". (Qs.Luqman:13)

Maka, "Tujuan dari hukuman pendidikan Islam adalah memberikan arahan dan perbaikan. Bukan balas dendam dan penguasaan diri. Untuk itulah harus diperhatikan kebiasaan anak dan karakternya sebelum menghukumnya. Memotivasi anak untuk berusaha memahami dan memperbaiki kesalahannya. kemudian kesalahan tersebut dimaafkan setelah diperbaiki."

Sumber : @parenting_islam.id .

Friday, November 2, 2018

4 Cara Mendidik Anak Supaya Mendengar Perintah Anda!


Berbagai teori cara mendidik anak sudah Anda terapkan, tetapi perintah Anda sering tidak digubris. Anda tidak sendiri.
Problem ini sepertinya menjadi masalah utama orang tua jaman sekarang. Jangan biarkan ini terjadi terus menerus, karena anak akan manja dan merasa semua keinginannya harus dipenuhi. Lalu, harus bagaimana cara mendidik anak agar mereka mau mendengar perintah Anda?

1. Dengarkan Mereka

Meski Anda memberi perintah, bukan berarti Anda tidak mendengar keluhan mereka. Mereka mungkin capek belajar, sedang tidak enak hati dengan suasana sekolah, misalnya, atau masalah apa saja yang mereka alami.
Mau mendengarkan, adalah kunci dari cara mendidik anak yang baik. Jika Anda menunjukkan sikap mau mendengar keluhan mereka, atau menangkap kesan bahwa mereka sedang kesal dengan masalah mereka, maka mereka pun akan mendengar perintah Anda.

2. Panggil Nama Mereka

Teriakan tidak pernah menjadi cara mendidik anak yang disarankan karena hanya akan membangkitkan emosi. Anda pun tidak ingin diteriakin oleh bos hanya karena Anda diminta melakukan hal sepele, kan?
Pastikan Anda memanggil nama mereka, di mana mereka bermain. Saat yang dipanggil menoleh dan memerhatikan Anda, katakan apa yang Anda mau dari mereka.

3. Tatapan Mata

Tatapan mata memiliki kekuatan untuk menunjukkan perasaan. Saat orang tua menatap mata anak, maka anak akan melihat bahwa orang tua mereka memberi perhatian, bukan amarah.
Dengan menatap mata anak, Anda paham apakah mereka benar-benar mendengar atau cuek dengan perintah Anda. Dengan menatap mata anak, Anda menunjukkan bahwa Anda peduli dengan mereka dan mendengar apa yang mereka rasakan.

4. Introspeksi diri

Terkadang orang tua lupa bahwa mereka pun sering ingkar janji. Dari semua teori cara mendidik anak, introspeksi diri sering terabaikan oleh orang tua. Bagaimana mungkin anak akan mendengar perintah orang tua, jika sang orang tua kerap tidak konsisten dengan ucapannya?
Kata-kata kita pun tidak sakti lagi. Kita sering memarahi anak karena melakukan suatu hal yang sebenarnya sering kita lakukan sendiri. Ini yang benar-benar harus diperhatikan orang tua dalam mengaplikasikan ragam teori cara mendidik anak.

Sumber : id.theasianparent.com

Wednesday, October 31, 2018

Menumbuhkan Keimanan Anak Lewat Kegiatan Sehari-hari (Usia 0-7 Tahun)



Sebelum kita dilahirkan ke bumi, kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb kita. Sebagaimana yang tercantum di dalam surat Al-A'raaf: 172.

"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi"

Inilah yang sudah Allah berikan di dalam fitrah keimanan setiap bayi yang lahir. Tugas orangtua untuk menumbuhkan benihnya agar tumbuh dengan paripurna. 

Menumbuhkan fitrah keimanan pada anak bukan hanya sekedar mengajari anak shalat, mengaji dan puasa. Lebih dari itu. Dan yang paling utama adalah menumbuhkan kecintaan anak kepada Rabb.

Bagian menumbuhkan kecintaan anak terhadap Rabb seringkali terlawati begitu saja. Padahal banyak cara dan mudah saja untuk menumbuhkannya lewat kegiatan sehari. Yang paling mudah adalah dengan mengajari anak membaca basmalah dan hamdalah ketika akan memulai dan mengakhiri pekerjaan.

Kegiatan apa saja yang bisa orangtua lakukan:

Usia 1 tahun:
1. Ketika mengajari anak sebuah kosakata baru, selalu tambahkan "Allah".
"Nak, ini pohon ciptaan Allah"

2. Mau makan, katakan:
"Nak, ini makanannya rezeki dari Allah. Yuk sebelum makan ucap bismillah"


Usia 2 tahun:
1. Ajak anak untuk selalu bertasbih.
Ketika sedang berjalan kaki bersama anak, ajak anak bertasbih, subhanallah subhanallah subhanallah.
Ini mengajari anak untuk mengisi waktu dengan mengingat Allah.

2. Biasakan anak menyebut kalimat thoyyibah.
Mengajarkan anak kalimat thoyyibah secara tidak langsung kita membiasakan anak untuk berkata yang baik dan menjauhkan dari perkataan yang sia-sia.

3. Ketika anak menginginkan sesuatu, ajari berdoa.
"Nak, kita berdoa dulu yah, agar Allah berkenan memberikan kita rezeki berupa roti".
Mengajari anak untuk selalu berdoa kepada Allah itu seperti kita mengajarkan anak sebuah harapan. Agar anak tak mudah putus asa.


Usia 3+ tahun:
1. Ajak anak untuk berdzikir di perjalanan. Jika jalanan menanjak, ucapkan takbir. Jika jalanan menurun maka bertasbih.
Ketika anak naik tangga, "Nak, kita mau naik tangga. Ayo sambil takbir. Allahu Akbar. Allahu Akbar".
Kebayangkam perjalanan itu menyenangkan, tidak sia-sia, mengingat Allah, insya Allah bernilai ibadah.

2. Ketika anak mulai belajar tentang dunia lebih luas lagi selalu kaitkan dengan Allah dan Al Quran.
Anak belajar tentang awan. Ajak anak buka Al Quran. Cari ayat tentang awan. Jelaskan kepada anak.
Ingat, biasakan ketika anak bertanya sesuatu maka ambillah Al Quran sebagai acuan. Al Quran bukan ensiklopedia. Kenapa? Agar anak terbiasa dan tertanam bahwa semua persoalan hidup dan apa yang ingin diketahui anak ada jawabannya di dalam Al Quran. 

3. Kenalkan kasih sayang Allah. Buat anak sadar bahwa kasih sayang Allah padanya begitu dekat.
Jelaskan keistimewaan dan kesempurnaan penciptaan tubuh dan pancaindra anak.

4. Ajari anak tentang surga dan penghuni surga.
Sudahkah kita mengajari anak tentang karakteristik penghuni surga pada anak?
Beritahu anak, bahwa penghuni surga gemar melakukan kebaikan, berbicara lembut, beramal shalih, dan lain-lain.
Kadang kita menginginkan anak masuk surga tapi kita lupa memberitahu anak seperti apa penghuni surga itu. 

5. Jadikan alam sekitar anak sebagai laboratorium untuk mengenal Allah.
Ketika melihat tumbuhan. Jelaskan pada anak bagaimana Allah menumbuhkan tumbuhan. Katakan pula bahwa buah adalah rezeki yang Allah turunkan untuk manusia, dan sebagainya.

Menumbuhkan keimanan anak seperti membangun sebuah pondasi rumah. Tak nampak dari luar, tapi sungguh ia penyangga bagian lainnya. Butuh waktu dan proses yang lama agar menjadi pondasi yang kuat. Jika pondasinya kurang pas maka ubah lagi bangun lagi sampai bisa dibuat bagian rumah lainnya.

Jangan pernah menyerah, jangan pernah putus asa dan merasa sia-sia ketika menumbuhkan keimanan untuk anak. Memang memerlukan pengorbanan orangtua. Tapi bukankah balasannya berupa doa anak shalih dan surga? Setimpal.

Materi ini disadur dari buku "Setetes Iman Untuk Ananda" (diedit beberapa ejaan oleh RumahBahagia.com)

Thursday, October 25, 2018

Pengembangan Rasa Percaya Diri dan Tanggung Jawab Dalam Diri Anak



Anak-anak sekarang ini adalah pemimpin hari esok. Karena itu, harus dipersiapkan dan dilatih mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang nantinya akan mereka lakukan.

Hal itu bisa direalisasikan dalam diri anak melalui pembinaan rasa percaya diri, penghargaan jati dirinya, dan diberikan kepada anak kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya dan apa yang terbetik dalam pikirannya, serta diberikan kepadanya dorongan agar mengerjakan urusannya sendiri, bahkan ditugasi dengan pekejaan rumah tangga yang sesuai untuknya. Misalnya, disuruh untuk membeli beberapa keperluan rumah dari warung terdekat; anak perempuan diberi tugas mencuci piring dan gelas atau mengasuh adik. Pemberian tugas kepada anak ini bertahap sedikit demi sedikit sehingga mereka terbiasa mengemban tanggung jawab dan melaksanakan tugas yang sesuai bagi mereka.

Termasuk pemberian tanggung jawab kepada anak, ia harus menanggung resiko perbuatan yang dilakukannya. Maka diajarkan kepada anak bahwa ia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya serta dituntut untuk memperbaiki apa yang telah dirusaknya dan meminta maaf atas kesalahannya.

Seorang anak jika terdidik untuk percaya diri akan mampu mengemban tanggung jawab yang besar.

Sumber :
Team Mawaddah Center

Sunday, October 14, 2018

Mengajarkan Anak Mengenal Allah


Percakapan Marwan dan Umm Marwan

Marwan : “Ummi ada teman Marwan bertanya , bagaimana Allah (tuhan) muncul? kenapa tuhan ada dengan sendirinya?”

Umm Marwan : “Apakah Marwan beriman(percaya) kepada yang ghoib dan percaya Allah ada?”

Marwan : “Iya Ummi, Marwan beriman kepada Allah dan yang ghoib”.

Umm Marwan : “Dalam surah Albaqarah ayat 2-3 disebutkan bahwa landasan agama Islam ialah percaya kepada yang ghaib:

"Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa ,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib , yang mendirikan shalat , dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka".

Umm Marwan : "Apakah boleh kita membayangkan bentuk Allah, tangan Allah?”

Marwan : “Tidak boleh karena nanti akan menjadi mushrik”.

Umm Marwan : “Betul sekali tidak boleh membayangkan Allah serupa dengan dengan makhluknya seperti dalam surah Assyura ayat 11: Artinya, "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia".

Adapun sifat Allah diantaranya adalah :

Alhayyu (yang maha hidup) , Alqoyyum(Berdiri dengan sendirinya), Albaaqii (Yang Maha Kekal), Alwaahiid(Yang Maha Tunggal), dan Al Ahad (Yang Maha Esa).

Allah muncul dengan sendirinya tanpa sebab, dan juga tidak ada penyebab kemunculan, kalau Allah ada ayah dan ibu tidak ada bedanya dengan Marwan, kalau Allah ada penyebab munculnya berarti penyebabnya akan disembah karena lebih berkuasa dari Allah. Karena itu Allah ada dengan sendirinya karena dia maha kuasa..

Marwan : "Bagaimana kita mengenal Allah?”

Umm Marwan : “Dari Alquran, Allah mengenalkan diri Nya di surah Thoha ayat 14:
Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakan shalat untuk mengingat Aku”.

“Dimana Allah?”

Marwan : “Bersemayam di Arsh (langit)”.

Umm Marwan : “Betul sekali Marwan,”Sesungguhnya tuhan kamu adalah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi lalu bersemayam DI ATAS ‘ARSY”. (QS. Al-A‘raf: 54).

Tapi ada ayat lainnya yang menyatakan :
1.Ayat yang mengatakan Allah dekat.
“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu.” ( Al-Baqarah: 186)

2. Ayat yang mengatakan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada .
Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Hadid: 4)

3. Ayat yang mengatakan Allah lebih dekat dari urat leher.
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qoof: 16)

“Apa makna firman Allah,“Dan Allah bersama kamu di mana saja kamu berada ?

Beliau menjawab di “Kitab Itsbat Sifatil ‘Uluw karangan Abdullah Ahmad bin Qudaamah“, yang dimaksud dengan kebersamaan tersebut adalah ilmu Allah. Allah mengetahui yang ghoib dan yang nampak. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu yang nampak dan yang tersembunyi. Namun Rabb kita tetap menetap tinggi di atas ‘Arsy, tanpa dibatasi dengan ruang, tanpa dibatasi dengan bentuk. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Kursi-Nya pun meliputi langit dan bumi.”

Bagaimana kita mengenal kekuasan Allah?”

Marwan : “Melihat ciptaan Allah dengan melihat diri kita, Matahari , bulan, bumi, Langit, hewan hewan dan tumbuhan”.

Umm Marwan : “Ahsanta betul , bila ingin lebih mengenal Allah, maka fahamilah Alquran didalamnyalah kita akan lebih mengenalnya”.

Terima kasih kepada admin yang telah mengizinkan tulisan ini di posting.

Sumber: FB Umm Marwan (dengan beberapa penyesuaian)

Saturday, October 13, 2018

10 Rahasia Parenting Nabi ibrahim.



Bagaimana menghadirkan anak seperti Nabi Ismail ‘alaihis salam? Ayah Bunda perlu belajar dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Bunda Hajar. Ini 10 Rahasia Parenting Nabi Ibrahim.

Ayah Bunda yang baik hatinya, setiap orangtua pasti ingin memiliki anak seperti Nabi Ismail ‘alaihis salam. Yang shalih, patuh pada orangtua dan penuh karakter mulia. Bayangkan, di usianya yang masih 13 tahun, ia merelakan nyawanya demi menjalankan perintah Allah.

Kalau anak sekarang, usia 13 tahun itu baru mulai SMP. Banyak yang masih labil, banyak yang masih manja, banyak yang masih belum mampu mengambil tanggung jawab. Ismail sungguh luar biasa.
Dalam Al Qur’an, Ismail dipuji Allah dengan delapan karakter:
Shalih, Sangat santun, Penyabar, Menepati janji, Memelihara shalat, Memerintahkan keluarga menjaga shalat, Menyerukan keluarga untuk beribadah, Berdakwah.

Bunda ingin kan punya anak seperti itu? Pasti ya.
Lalu bagaimana cara kita menghadirkan anak-anak seperti Ismail? Mungkin ada rasa skeptis, beliau kan Nabi. Mana bisa kita mencontohnya? Memang tidak bisa menyamainya persis. Tapi bukankah Allah memerintahkan kita untuk meneladani Nabi?

Kalaupun tidak persis Nabi Ismail, kita berharap anak-anak kita bisa menjadi Ismail zaman now. Anak-anak yang memiliki karakter seperti beliau.

Bagaimana caranya? Kita perlu belajar dari orangtua Ismail yang tidak lain adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Bunda Hajar. Di antaranya melalui 10 rahasia parenting Nabi Ibrahim.
ูˆَุงุฐْูƒُุฑْ ูِูŠ ุงู„ْูƒِุชَุงุจِ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ۚ ุฅِู†َّู‡ُ ูƒَุงู†َ ุตِุฏِّูŠู‚ًุง ู†َุจِูŠًّุง
Ceritakanlah (Hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al Kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. (QS. Maryam: 41)

Kita mulai dari Nabi Ibrahim.
Di Al Qur’an, nama Ibrahim disebutkan dalam 56 ayat. Bahkan ada satu surat yang dinamakan dengan Surat Ibrahim.
Dari 100 lebih ayat tentang Nabi Ibrahim dan hadits-hadits tentang beliau, tercatat ada 15 karakter utama beliau. Yang terkait erat dengan rahasia parenting ada 10.

Berikut ini 10 rahasia parenting Nabi Ibrahim:
1. Berdoa minta anak shalih sejak sebelum punya anak
Jauh-jauh hari sebelum punya anak, Nabi Ibrahim sudah berdoa meminta anak shalih. Doa ini perlu kita amalkan, khususnya yang ingin diberi Allah anak yang shalih.
ุฑَุจِّ ู‡َุจْ ู„ِูŠ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุงู„ِุญِูŠู†َ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang sholih (QS. Ash Shaffat: 100)
Ini rahasia parenting Nabi Ibrahim yang pertama.

2. Memilih pasangan yang baik
Parenting itu sesungguhnya dimulai sejak memilih pasangan. Maka jika ingin anak yang shalih, pilihlah suami yang shalih, pilihlah istri yang shalihah.

Istri Nabi Ibrahim adalah wanita-wanita shalihah lagi mulia. Sarah, istri pertama beliau, adalah putri Raja Haran. Sejak sebelum bertemu Ibrahim ia telah mencela penyembahan berhala. Sedangkan Hajar yang nantinya melahirkan Ismail juga wanita berakhlak mulia, hadiah dari Raja Mesir sebagai pelayan Ibrahim dan kemudian atas permintaan Sarah dinikahi beliau.

Bagi yang belum menikah, pilihlah calon suami yang shalih, calon istri yang shalihah.
ุงู„ْุฎَุจِูŠุซَุงุชُ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠุซِูŠู†َ ูˆَุงู„ْุฎَุจِูŠุซُูˆู†َ ู„ِู„ْุฎَุจِูŠุซَุงุชِ ูˆَุงู„ุทَّูŠِّุจَุงุชُ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจِูŠู†َ ูˆَุงู„ุทَّูŠِّุจُูˆู†َ ู„ِู„ุทَّูŠِّุจَุงุชِ
Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula. (QS. An Nur: 26)

Jika para Bunda sudah menikah, ya tidak perlu cari calon suami sholih. Kalaupun suaminya kurang sholih, doakan semoga menjadi lebih sholih.

3. Orientasi masa depan anak
Rahasia parenting Nabi Ibrahim yang ketiga adalah beliau memiliki orientasi masa depan anak yang sangat kuat.

John Calvin Thomas, seorang kolumnis AS, terkenal dengan quote-nya: “Politisi memikirkan pemilu yang akan datang, negarawan memikirkan generasi yang akan datang.”

Nabi Ibrahim ‘alaihis salam lebih hebat daripada negarawan. Karena beliau memikirkan generasi yang akan datang ketika Allah menjamin dirinya sebagai pemimpin sejarah.
ูˆَุฅِุฐِ ุงุจْุชَู„َู‰ٰ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ุฑَุจُّู‡ُ ุจِูƒَู„ِู…َุงุชٍ ูَุฃَุชَู…َّู‡ُู†َّ ۖ ู‚َุงู„َ ุฅِู†ِّูŠ ุฌَุงุนِู„ُูƒَ ู„ِู„ู†َّุงุณِ ุฅِู…َุงู…ًุง ۖ ู‚َุงู„َ ูˆَู…ِู†ْ ุฐُุฑِّูŠَّุชِูŠ ۖ ู‚َุงู„َ ู„َุง ูŠَู†َุงู„ُ ุนَู‡ْุฏِูŠ ุงู„ุธَّุงู„ِู…ِูŠู†َ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah: 124)

Kita bagaimana Bunda? Kadang nggak masih sibuk ingin karir kita naik, bisnis kita lancar, uang kita banyak. Sampai akhirnya tidak sempat memikirkan anak-anak. Sampai kadang anak-anak memprotes: “Ayah Bunda sibuk terus!”

Betapa banyak orangtua yang menyesal di masa tuanya karena ia terlalu sibuk dengan urusan dunianya lalu mendapati anaknya sudah nggak hormat sama dia, anak nggak taat sama dia, anak terpengaruh pergaulan bebas, narkoba. Na’udzu billah.

4. Menanamkan aqidah
Aqidah adalah pondasi. Pondasi karakter anak, pondasi keyakinannya, pondasi pola pikirnya, pondasi segalanya. Jika aqidah selamat (salimul aqidah), orangtua boleh lebih tenang. Separuh tugasnya telah selesai. Sebab imanlah yang menjadi kunci utama masuk surga.

Aqidah ini menjadi prioritas utama Nabi Ibrahim dalam mendidik putra-putranya.
ูˆَูˆَุตَّู‰ٰ ุจِู‡َุง ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…ُ ุจَู†ِูŠู‡ِ ูˆَูŠَุนْู‚ُูˆุจُ ูŠَุง ุจَู†ِูŠَّ ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ุงุตْุทَูَู‰ٰ ู„َูƒُู…ُ ุงู„ุฏِّูŠู†َ ูَู„َุง ุชَู…ُูˆุชُู†َّ ุฅِู„َّุง ูˆَุฃَู†ْุชُู…ْ ู…ُุณْู„ِู…ُูˆู†َ
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”(QS. Al-Baqarah: 132)

Bagaimana dengan kita Bunda? Kadang kita abai ya dalam masalah aqidah. Menganggapnya kurang penting. Menanamkan aqidah ini merupakan rahasia parenting Nabi Ibrahim yang keempat.

5. Menjadikan Kitab dan Hikmah sebagai panduan parenting
Rahasia parenting Nabi Ibrahim berikutnya adalah, Allah menganugerahi Nabi Ibrahim dengan kitab dan hikmah. Dengan panduan keduanya, ia mendidik Ismail dan Ishaq.
ุฃَู…ْ ูŠَุญْุณُุฏُูˆู†َ ุงู„ู†َّุงุณَ ุนَู„َู‰ٰ ู…َุง ุขุชَุงู‡ُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†ْ ูَุถْู„ِู‡ِ ۖ ูَู‚َุฏْ ุขุชَูŠْู†َุง ุขู„َ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ุงู„ْูƒِุชَุงุจَ ูˆَุงู„ْุญِูƒْู…َุฉَ ูˆَุขุชَูŠْู†َุงู‡ُู…ْ ู…ُู„ْูƒًุง ุนَุธِูŠู…ًุง
ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah telah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. An-Nisa’: 54)

Jika kita ingin anak kita menjadi Ismail Zaman Now, kita harus lebih dekat dengan Al Quran dan hadits, yang dalam beberapa ayat disebut sebagai hikmah. Dari dua sumber utama itulah kita mengambil panduan.

Ilmu parenting modern bagus, mengambil ilmu dari Barat boleh, tapi jangan bertentangan dengan Al Quran. Misalkan ada teori “tidak boleh mengatakan ‘jangan’ kepada anak”. Mungkin dalam sebagian hal bisa diterapkan. Namun jika mutlak tidak boleh mengatakan “jangan” maka ia bertentangan dengan Al Quran yang mengajarkan bagaimana Luqman mendidik anaknya dengan mengatakan Ya bunayya laa tusyrik billah, wahai anakku jangan menyekutukan Allah.

6. Lembut Hati dan Penyantun
Rahasia parenting Nabi Ibrahim keenam, beliau disifati Allah dengan awwaahun haliim (sangat lembut hati lagi penyantun).
ุฅِู†َّ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ู„َุฃَูˆَّุงู‡ٌ ุญَู„ِูŠู…ٌ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.(QS. At-Taubah: 114)

Dua karakter ini sangat dibutuhkan orangtua dalam mendidik anak-anak. Lembutlah pada anak-anak. Penuh kasih sayang. Tidak kasar, tidak membentak, tidak menghardik.

7. Menjadi Teladan bagi Anak-Anak
Ibrahim mencontohkan, untuk bisa menghadirkan anak sekualitas Ismail, orangtua harus memberikan teladan kepada anak-anaknya.

Satu keteladanan lebih berpengaruh bagi anak daripada 1000 kata-kata. Coba perhatikan ayah yang menyuruh anaknya sholat di masjid tapi dia sendiri tidak pergi ke masjid. Apakah anak mau? Seringnya malah membantah.

Tapi kalau orangtua sudah rapi, sudah wudhu, siap ke masjid, tanpa disuruh pun anak tertarik untuk ikut ke masjid.
ุฅِู†َّ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ูƒَุงู†َ ุฃُู…َّุฉً ู‚َุงู†ِุชًุง ู„ِู„َّู‡ِ ุญَู†ِูŠูًุง ูˆَู„َู…ْ ูŠَูƒُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุดْุฑِูƒِูŠู†َ
Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan) (QS. An-Nahl: 120)

8. Segera kembali kepada Allah
Rahasia parenting Nabi Ibrahim kedelapan adalah segera kembali kepada Allah.
Sekali lagi Allah menegaskan bahwa Ibrahim itu sangat lembut dan penyantun dalam Surat Hud.
ุฅِู†َّ ุฅِุจْุฑَุงู‡ِูŠู…َ ู„َุญَู„ِูŠู…ٌ ุฃَูˆَّุงู‡ٌ ู…ُู†ِูŠุจٌ
Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi penghiba dan suka kembali kepada Allah. (QS. Hud: 75)

Dalam ayat ini ditambah satu karakter lagi; suka kembali kepada Allah.
Kita sebagai orangtua, kadang khilaf dalam mendidik anak-anak. Segera kembali kepada Allah. Kadang kita terlalu menggantungkan diri pada kemampuan dan ilmu kita, ayo kembali kepada Allah. Kadang kita terlalu membanggakan diri saat anak-anak berprestasi, ayo kembali kepada Allah. Kadang kita merasa hampir putus asa saat anak-anak tidak sesuai dengan keinginan kita, ayo kembali kepada Allah.

9. Mentradisikan dialog dan mengajak anak musyawarah
Meskipun Nabi Ibrahim tahu bahwa perintah menyembelih Ismail itu dari Allah dan harus ditaati, beliau tetap mengajak anak dialog. Meminta pendapatnya.
ูَู„َู…َّุง ุจَู„َุบَ ู…َุนَู‡ُ ุงู„ุณَّุนْูŠَ ู‚َุงู„َ ูŠَุง ุจُู†َูŠَّ ุฅِู†ِّูŠ ุฃَุฑَู‰ٰ ูِูŠ ุงู„ْู…َู†َุงู…ِ ุฃَู†ِّูŠ ุฃَุฐْุจَุญُูƒَ ูَุงู†ْุธُุฑْ ู…َุงุฐَุง ุชَุฑَู‰ٰ ۚ ู‚َุงู„َ ูŠَุง ุฃَุจَุชِ ุงูْุนَู„ْ ู…َุง ุชُุคْู…َุฑُ ۖ ุณَุชَุฌِุฏُู†ِูŠ ุฅِู†ْ ุดَุงุกَ ุงู„ู„َّู‡ُ ู…ِู†َ ุงู„ุตَّุงุจِุฑِูŠู†َ
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Kadang kita suka memaksakan pendapat ke anak nggak Bunda? Kadang terlontar “Kamu harus masuk sekolah ini ya” atau “Kamu harus pilih ekskul ini ya”. Kita perlu membiasakan dialog dengan anak. Agar tahu isi hati anak, agar ia paham dan agar ia bahagia. Sungguh berbeda patuh pada orangtua karena paham dengan patuh karena terpaksa.

10. Selalu menyertai anak dengan doa
Apa bedanya dengan doa pada poin pertama? Doa pada poin pertama itu perlu dipanjatkan sejak sebelum punya anak. Ia juga bersifat umum dan doanya pendek.

Cukupkah doa begitu? Tidak. Doa untuk anak harus terus menerus, sejak ia kecil hingga ia dewasa.
Dan inilah rahasianya mengapa Nabi Ibrahim yang demikian jauh terpisah jarak dari Ismail, belau berdua tetap memiliki hubungan hati. Ketika Ibrahim datang, Ismail tidak meragukan keshalihan ayahnya. Mengapa? Karena Nabi Ibrahim terus mendoakannya.

Doa Nabi Ibrahim untuk anaknya ini luar biasa panjang. Sebagiannya diabadikan Al Quran dalam surat Ibrahim ayat 35-41, hampir satu halaman mushaf. Padahal biasanya, doa para Nabi itu pendek-pendek. Doa Nabi Adam saat bertaubat setelah diturunkan ke bumi hanya satu baris. Doa Nabi Yunus saat ditelan ikan hanya satu baris. Namun doa Nabi Ibrahim untuk anaknya hampir satu halaman mushaf.

Sudahkah kita mendoakan anak-anak kita dengan doa yang sungguh-sungguh, khusyu’ dalam munajat yang panjang?

Lalu bagaimana dengan Bunda Hajar? Bunda Hajar juga memiliki kebaikan-kebaikan seperti suaminya. Mulai dari keyakinannya kepada Allah dan kekuatan tawakkalnya ketika ditinggalkan di Makkah berdua dengan bayi Ismail, sampai ketaatannya kepada Allah.

Peran besar Hajar adalah mendidik Ismail ketika terpisah jarak dari Ibrahim sesuai prinsip parenting Ibrahim tersebut. Ditambah menceritakan kebaikan-kebaikan Ibrahim pada Ismail sehingga meskipun tidak melihat langsung, Ismail bisa memvisualisasikan ayahnya yang luar biasa sehingga cinta dan hormat kepada beliau. Ia juga selalu merindukan ayahnya sehingga ketika pulang, disambutnya dengan penuh cinta dan penghormatan.

Demikian 10 Rahasia Parenting Nabi Ibrahim, juga bagaimana rahasia parenting Bunda Hajar. Semoga bermanfaat dan bisa kita amalkan sehingga hadirlah Ismail Zaman Now di tengah-tengah keluarga dan masyarakat kita.

[Ummi Liha/KeluargaCinta]

Monday, October 1, 2018

Cara Cerdas Menghukum Anak


Oleh:
Dr. Jasim Muhammad Al-Muthawwa' (Pakar Parenting dari Kuwait)
Seorang ibu berkata: "Saya memiliki dua orang anak, pertama berusia 9 tahun dan yang kedua 6 tahun, saya bosan terlalu sering menghukum mereka karena hukuman (iqob) tidak ada manfaatnya, kira-kira apa yg harus aku lakukan?".

Saya berkata: "Apakah anda sudah mencoba metode memilih hukuman?

Ibu tersebut menjawab: "Saya tidak paham, bagaimana itu?"

Saya jawab: "Sebelum saya jelaskan metode ini, ada sebuah kaidah penting dalam meluruskan perilaku anak yang harus kita sepakati, bahwa setiap jenjang usia anak memiliki metode pendidikan tertentu. Semakin besar anak akan membutuhkan berbagai metode dalam berinteraksi dengannya. Namun, anda akan mendapati bahwa metode memilih hukuman cocok untuk semua usia dan memberikan hasil yang positif".

Sebelum menerapkan metode ini kita harus memastikan, apakah anak melakukan kesalahan karena tidak tahu (tanpa sengaja), jika kondisinya seperti ini tidak perlu dihukum namun cukup diingatkan kesalahannya.

Tetapi jika kesalahannya diulangi atau melakukannya dengan sengaja, kita bisa menghukumnya dengan banyak cara diantaranya tidak memberinya hak-hak istimewa, memarahinya dengan syarat bukan sebagai pelampiasan( balas dendam) dan jangan memukul.

Kita juga bisa menggunakan Metode Memilih Hukuman.
Idenya begini, kita meminta anak duduk merenung, dan memikirkan tiga jenis hukuman yang diusulkan kepada kita seperti: tidak diberi uang jajan, tidak boleh bermain ke rumah temannya selama seminggu, atau tidak boleh menggunakan handphone selama sehari. Kemudian kita pilih salah satu untuk kita jatuhkan padanya.

Ketika tiga hukuman tidak sesuai dengan keinginan orang tua, contohnya: tidur, atau diam selama satu jam atau merapikan kamar, maka kita minta dia untuk mencari lagi tiga hukuman lain.

Ibu ini menyela: "Tapi kadang hukuman-hukuman yang diusulkan tersebut tidak memberi efek/tidak membuat anak sadar juga!"

Saya katakan: "Kita harus membedakan antara ta'dib (mendidik) dengan ta'dzib (menyiksa)!".

Tujuan ta'dib adalah meluruskan perilaku yang salah pada anak dan ini butuh kesabaran, pengawasan (mutaba'ah), dialog dan nasehat yang terus-menerus.

Sedangkan berteriak didepan anak atau memukulnya dengan keras, ini ta'dzib bukan ta'dib; karena kita menghukum anak tidak sesuai dengan kadar kesalahan yang dilakukan tapi berlebihan, sebab disertai dengan marah. Disebabkan kita banyak tekanan hidup lalu kita lampiaskan kepada anak dan anak jadi korban. Kemudian kita menyesal setelah menghukum mereka atas ketergesaan kita.

Kemudian saya berkata: Saya tambahkan hal penting, ketika anda berkata kepada anak anda: Masuk kamar, merenung dan dan pikirlah tiga jenis hukuman dan saya pilihkan satu untukmu. sikap seperti ini adalah merupakan pendidikan (ta'dib) untuk sendirinya karena ada dialog batin dengan dirinya, antara anak yang melakukan kesalahan dengan dirinya. Ini merupakan tindakan yang baik untuk meluruskan perilaku anak dan memperbaiki kesalahan yg telah diperbuat.

Si Ibu berkata: "Demi Allah, ide yang bagus, saya akan coba".

Saya bilang: "Saya sendiri telah mencobanya, bermanfaat dan berhasil. Banyak juga keluarga yang mencoba menerapkannya dan ampuh juga hasilnya".

Karena ketika anak memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Maka sesungguhnya kita telah menjadikannya berperang dengan kesalahannya, bukan ketegangan dengan orang tuanya, disamping kita bisa menjaga ikatan cinta orang tua dengan anak.

Selain itu kita telah menghormati pribadi anak dan menjaga kemanusiaannya tanpa menghina ataupun merendahkannya.

Siapa yang merenungkan metode ta'dib Rasululllah shallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang melakukan kesalahan maka akan didapati bahwa beliau menta'dib dengan menghormati, menghargai dan tidak merendahkannya.

Kita menemukannya dalam kisah wanita Ghamidiyah yang berzina dan minta di rajam, salah seorang sahabat mencelanya lalu Rasulullah bersabda: "Sungguh dia telah bertaubat, andai (taubatnya) dibagikan dengan penduduk madinah, niscaya mencukupi".

Sikap menghormati pelaku kesalahan harus tetap ada selama dalam proses ta'dib.
Si ibu tadi pergi dan kembali lagi setelah sebulan. Dia bertutur: " Metode ini benar-benar ampuh diterapkan pada anak-anak saya, sekarang saya jarang emosi, dan mereka memilih hukuman sendiri dan melaksanakannya. Saya berterima kasih atas ide ini, tapi saya mau bertanya dari mana anda mendapatkan metode cemerlang ini?"

Saya jawab: "Saya ambil dari metode Al-Qur'an dalam mendidik (ta'dib).
Allah _subhanahu wata'ala_memberikan tiga pilihan hukuman kepada orang yang melakukan dosa dan kesalahan, seperti kafarat bagi orang yang menggauli istrinya disiang hari bulan Ramadhan, kafarat sumpah dan kafarat lainnya, yaitu: memerdekakan budak, atau puasa atau memberikan sedekah. Syariat Islam memberikan tiga pilihan bagi pelaku kesalahan ini. Metode mendidik yang sangat indah".

Ibu berkata: "Jadi ini metode pendidikan Al-Qur'an?"

Saya jawab: "Betul, sesungguhnya Al-Qur'an dan As-Sunnah memiliki banyak metode pendidikan yang luar biasa dalam meluruskan perilaku manusia, baik anak kecil maupun orang dewasa; karena Allah yang menciptakan jiwa-jiwa dan Dia lebih tahu apa yang pantas dan metode apa yg cocok bagi jiwa-jiwa tersebut. Metode mendidik sangat banyak diantaranya 'metode memilih hukuman' yang telah dijelaskan".

Lalu si ibu tadi pergi dalam keadaan bahagia memperbaiki anak-anaknya dan bertambah cinta pada rumahnya.

Diterjemahkan oleh:
Ust. Achmad Fadhail Husni, Lc.
Pusat Peradaban ISLAM
๐ŸŒพ๐ŸŒธ Wadah Aspirasi Muslimah ๐ŸŒธ๐ŸŒพ