Monday, July 15, 2019

Tugas Langit = Amal Shalih Yang Allah Ridhai


By. Ust. Harry Santosa

Kita hadir di dunia bukanlah kebetulan, namun ada Tugas Langit yang harus kita temukan dan tuntaskan selama di dunia. Sesungguhnya bukan hanya manusia biasa, para Nabi alaihumusalaam pun termasuk Nabi Muhammad SAW mendapatkan Tugas Langitnya masing masing yaitu Misi Kenabian.

Bagaimana jika kita gagal menemukan dan menyelesaikan Tugas Langit kita? Itu menurut arRumi, ibarat seorang Raja menyuruh kita ke sebuah negeri dengan membawa Tugas, lalu di negeri itu kita melakukan seratus pekerjaan namun melupakan Tugas dari Raja, maka dipastikan ketika kembali kepada Raja itu, kemungkinan besar kita akan terkena murka.

Begitupula Allah SWT, menghadirkan kita ke dunia bukan kebetulan, tetapi dengan membawa tugas langit untuk ditemukan dan dituntaskan selama hidup di dunia. Bisa jadi amal shalih kita banyak, namun itu bukan amal shalih yang Allah tugaskan sehingga Allah menjadi tidak ridha.

Pandangan ini berlaku untuk diri kita dalam menjalani kehidupan, juga dalam mendidik anak-anak kita agar mengantarkan diri mereka untuk menjemput tugas langitnya atau misi hidupnya atau dalam fitrah based education disebut dengan menjemput takdir peran peradabannya sesuai fitrahnya.

Karenanya kita semua, meminta minimal 17 kali dalam sehari, jalan yang lurus (shirothol mustaqiem), para mufasir mengatakan sebagai jalan yang cepat dan lapang untuk menuju Allah SWT. Maka mari temukan tugas langit ini, dan jangan pernah kembali ke Allah tanpa menunaikan Tugas Langit ini.

Amal Shalih yang Berlainan

Ada dalam alQuran, QS alFathir ayat 47, digambarkan bahwa ada penghuni neraka berteriak meminta kembali ke dunia untuk melakukan "Amal Shalih yang berlainan" dengan yang pernah dilakukan selama di dunia.

Ini tersirat bahwa selama di dunia mereka beramal shalih namun bukan amal shalih yang Allah maksudkan atau yang berlainan dari tugas yang ditentukan baginya.

Lalu Allah mengatakan, bukankah telah diberikan waktu yang cukup selama di dunia. Para mufasir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan "waktu yang cukup" adalah usia 40 tahun.

Batas Akhir, Usia 40 tahun

Mengapa 40 tahun? Karena Rasulullah SAW mengatakan bahwa usia ummatku berkisar antara 60 dan 70 tahun. Dengan demikian pada usia 40 tahun hidup kita tinggal sepertiga lagi sisanya. Melewati usia 40 tahun, kegalauan seolah mereda tetapi sebenarnya tidak, mereka  menjalani kehidupan hanya rutinitas menunggu kematian, di bawah permukaan sesungguhnya semakin tak bahagia dan tak menentu orientasinya. Sepertiga akhir kehidupan Mukmin seharusnya adalah pacuan amal eksponensial menuju syurganya dengan tugas langitnya itu.

Itulah mengapa kegalauan terjadi pada rentang usia sebelum 40 tahun, sebagai cara Allah berbicara kepada kita, untuk segera memaknai kehidupan dan menemukan amal shalih yang Allah ridhai atau Misi Hidup, dan puncak kegalauannya terjadi pada jelang usia 40 tahun.

Amal Shalih yang Allah Ridhai

Karenanya rentang menemukan Tugas Langit atau Misi Hidup dimulai pada usia 15, lalu usia 40 tahun sebagai batas akhirnya.

AlQuran berbicara tentang usia 40 tahun di QS alAhqaf 46 ayat 15, Allah SWT berwasiat kepada kita untuk berbuat baik pada kedua orangtua, lalu menyuruh kita berdoa meminta dibimbing, dikuatkan, dimotivasi, didorong dan seterusnya untuk melakukan 3 hal, mensyukuri nikmat pada diri dan orangtua, meminta amal shalih yang Allah ridhai, dan memperbaiki diri untuk keturunan kita.

Sampai disini kita bisa memahami bahwa Amal Shalih yang Allah ridhai sesungguhnya adalah tugas langit kita atau misi hidup kita.

Lalu Apa Ukurannya bahwa kita telah menemukan Tugas Langit kita sebagai Amal Shalih yang Allah Ridhai?

Ukurannya adalah kepuasan jiwa atau jiwa yang mencapai ketenangan (Ithminan) karena menjadikan orientasi seluruh amalnya untuk langit, untuk menyeru kebenaran, untuk menolong agama Allah, untuk memberi manfaat sebesar besar bagi ummat dengan semua kompetensi dan aset (jiwa dan harta) yang kita miliki, bukan cuma untuk mencari uang dan mengejar kesenangan sesaat.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ﴿٢٧﴾ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً﴿٢٨﴾فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya! Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku! [QS Al-Fajr 89:27-30]

#fitrahbasededucation
#fitrahbasedlife

Sumber : Kulgram Milenial Parenting

Thursday, July 4, 2019

Mengenal Pendidikan Berbasis Fitrah - Ustadz Harry Santosa


Introduction of Fitrah based Education

Oleh : Ustadz Harry Santosa

Allah SWT menciptakan manusia dimulai dari menyempurnakan jasad manusia sejak dari saripati tanah, lalu menjadi mani bertemu dengan telur, menjadi nutfah, alaqoh, mudghoh dan seterusnya lalu sampai 40 hari yang ketiga di dalam rahiem dan menjadi sempurna. Kemudian ketika sempurna itulah ditiupkan ruh oleh Allah SWT. Pertemuan jasad dan ruh inilah yang disebut dengan jiwa (nafs).

Ketika manusia telah memiliki jiwa, maka Allah meminta persaksian wa asyhadhum anfusihim, "alastu bi robbikum?" Qoluu balaa syahidna, bukankah Aku Robb kalian? benar ya Allah, kami bersaksi (QS 7:172)

Inilah peristiwa persaksian atau syahadah Rubbubiyatullah di alam rahiem atau alam ruh. Sesunguhnya manusia sejak sebelum lahir telah diinstalasi fitrah, dalam hal ini fitrah keimanan.  Fitrah inilah sesungguhnya yang merupakan inner guidance yang Allah persiapkan untuk mengenal Allah, melakukan hal-hal kebaikan dan menerima outer guidance yaitu Kitabullah.

Maka manusia lahir bukan seperti kertas kosong atau kertas putih atau kosongan atau tabula rasa seperti pendapat John Locke, namun manusia telah di-install berbagai kebaikan bawaan (innate goodness) sejak sebelum dilahirkan. Manusia dilahirkan suci maksudnya bukan tanpa potensi, justru manusia lahir membawa berbagai potensi kebaikan.

Maka kita diminta utk tetap pada fitrah Allah, tidak merubahnya atau tidak menyimpangkannya.
tetaplah pada fitrah Allah, yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah, itulah agama yang kokoh tegak, namun kebanyakan manusia tidak mengetahuinya (QS 30:30)

Konsep dan keyakinan bahwa manusia lahir dengan membawa Fitrah ini sesungguhnya kelak mempengaruhi bagaimana kita berfikir, cara pandang, cara merasa dan cara bersikap pada diri kita, anak-anak kita, maupun masyarakat manusia secara keseluruhan.

Misalnya, pandangan bahwa anak lahir seperti kertas kosong, akan membuat kita berusaha menjejalkan berbagai hal kepada anak-anak kita. Begitupula pandangan bahwa anak lahir dengan membawa dosa atau keburukan, akan membuat kita pesimis dan serba cemas.

Maka Rasulullah SAW menguatkan diri kita sebagai orangtua agar rileks dan optimis bahwa anak sudah lahir dengan membawa kebaikan berupa fitrah, jangan banyak intervensi, jangan banyak menjejalkan (too much teaching), jangan lebay namun jangan lalai.

Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah, orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi (al-Hadits)

Perhatikan bahwa Nabi SAW tidak mengatakan orangtuanyalah yang merubahnya menjadi Islam, karena sejak lahir anak-anak kita sudah Islam, sudah membawa kebaikan, tak perlu lebay dan lalai. Sementara untuk menjadi Yahudi atau Nasrani atau Majusi perlu upaya dan program.

Ibarat membeli Gadget, sudah diinstal OS dan aplikasi-aplikasi yang baik, tinggal diaktivasi saja, tak perlu dan jangan banyak mengisi atau meng-install aplikasi yang aneh-aneh, nanti hang atau kena virus dan sebagainya.

Seorang Ulama mengatakan dalam bukunya:
Allahlah sesungguhnya Murobby (pendidik) sejati bagi anak anak kita, karena Allahlah alKholiq, Sang Pencipta, yang telah menciptakan manusia dengan membawa fitrah fitrahnya. Allah jualah yang telah menyediakan jalan agar fitrah itu tumbuh berkembang sesuai tahapannya. Dan Allah jualah yang menetapkan Syariah atau Kitabullah, untuk memandu fitrah itu agar tumbuh indah, sempurna dan berbahagia. Maka Wahai pendidik, wahai orangtua, jangan lebay dan jangan lalai, ikuti saja fitrah itu (just follow the fitrah), pandulah dengan Kitabullah maka ia akan menjadi seperti yang Allah kehendaki.

Jadi mendidik fitrah itu bukan mengikuti maunya negara (ijasah, UN dll), atau mengikuti maunya orangtua (obsesi), namun mengikuti maunya Allah.

Fitrah itu ibarat benih, kita adalah petaninya, yang tidak boleh tergesa, rusuh, menggegas, semaunya dll tetapi mengikuti agenda dan kurikulum Allah, yaitu syukur dan shabar mengobservasi pola tumbuh kembangnya, pola keunikannya, membersamai dari hari ke hari, menerimanya apa adanya dengan penuh cinta dan telaten dan seterusnya, sehingga benih itu tumbuh menjadi pohon yang baik, yang akarnya menghunjam ke tanah, batangnya kokoh menjulang ke langit, daunnya rimbun meneduhkan siapapun di bawahnya, bunga dan buahnya lebat sehingga menjadi berkah dan rahmat bagi semesta.

Banyak orangtua hari ini yang gagal paham tentang fitrah, mereka tidak mensyukuri fitrah sehingga banyak gelisah, galau obsesif, banding-bandingin anak dengan anak lain, tidak sabaran, tergesa ingin anak segera sholeh dengan menggegas sesuatu yang belum saatnya dan tak sesuai fitrahnya.

Bayangkan apabila benih baru meretas menjadi pohon yang kecil dengan beberapa helai daun, akar dan batangnya masih lemah dan rentah, lalu ingin segera berbuah, disiram dan dipupuk banyak-banyak, maka sudah pasti akarnya akan membusuk dan mati.

Begitupula para orangtua hari ini, banyak merusak fitrah anak anaknya karena obsesi ingin mencetak anak sholeh semaunya dengan target-target yang menggegas tanpa melihat pola keunikan fitrah anak termasuk fitrah perkembangannya walhasil kita jumpai berbagai penyimpangan fitrah seperti malas sholat, tak bergairah pada agamanya walau mampu hafal ilmu agama, tak bergairah pada ilmu tak punya aktifitas produktif atas bakatnya, melambai atau tomboy bahkan gejala LGBT, peragu atau egois, mager alias males gerak, suka membully atau mudah dibully dan seterusnya.

Maka sesungguhnya mendidik fitrah itu bukan banyak menjejalkan, drilling, membiasakan mekanistik, over stimulus, over conditioning dan lain-lain ( outside in ), tetapi lebih banyak membangkitkan, menumbuhkan, menyadarkan, mempesonakan, menggairahkan (inside out)

Pendidikan berbasis fitrah misinya adalah mengantarkan anak anak kita generasi peradaban (jailul hadhoriyah) dari fitrahnya kepada peran peradaban (daurul hadhoriyah) terbaiknya dengan semulia mulia adab.

Bagaimana Mendidik sesuai Fitrah
1. Lakukan Tazkiyatunnafs (mu'ahadah, muroqobah, muhasabah, muaqobah, mujahadah)
2. Bangun Keyakinan
3. Pahami Framework FBE
4. Pahami teknik merancang kegiatan sesuai fitrah
5. Pahami teknik Observasi Fitrah dan membuat jurnal kegiatan/portfolio anak
6. Mulai dari kegiatan yang sederhana sehari hari namun dirancang.
7. Temukan bahagia dan meminta banyak pertolongan kepada Allah ketika menjalankannya

Membangun Keyakinan
1. Yakinlah, bahwa setiap anak sudah membawa kebaikan berupa fitrahnya, sehingga tugas kita bukan banyak mengajarkan atau banyak intervensi yang melelahkan, namun lebih banyak membersamai

2. Yakinlah, jika mensyukuri fitrah, maka Allah akan permudah segalanya. Jika ingin shabar dalam mendidik, banyaklah mensyukuri fitrah ananda

3. Yakinlah Allah tidak pasif tetapi aktif, Dia tegak berdiri, tidak mengantuk dan tidak tidur. Mintalah kepada Allah agar senantiasa membantu kita menumbuhkan fitrah ananda

4. Yakinlah bahwa dalam diri Ayah Bunda juga ada fitrah, yang Allah juga instal agar menjadi ayah dan ibu yang baik. Maka sambutlah fitrah keayahbundaan kita.

5. Yakinlah bahwa dengan menumbuhkan fitrah anak-anak kita, maka fitrah kita juga akan tumbuh indah paripurna.

6. Yakinlah bahwa setiap anak sudah punya jalan fitrahnya masing masing, optimislah dan rilekslah, tak perlu lebay, lalai, panik apalagi galau. Allah akan sediakan jalannya, sepanjang kita senantiasa mengikuti fitrah anak-anak kita.

7. Yakinlah, tiada anak yang nakal dan jahat, karena fitrah itu kebaikan semata. Kenakalan sesungguhnya adalah jeritan hati krn ada fitrah yg terhambat atau potensi fitrah yang belum nampak buahnya.

8. Yakinlah bahwa jika ananda tumbuh fitrahnya dengan baik sehingga menjadi peran peradaban maka Allah akan curahkan rezekinya.

9. Yakinlah, ananda akan mudah menerima Kitabullah apabila fitrahnya tumbuh baik. Ibnu Taimiyah menyebut fitrah dalam diri manusia sebagai fitrah algharizah sementara beliau menyebut Kitabullah sebagai fitrah almunzalah. Artinya, fitrah dan kitabullah keduanya cahaya dari Allah sehingga compatible.

10. Yakinlah bahwa jika tahapannya benar, maka buahnya dan adabnya juga benar

deraskan maknamu
bukan tinggikan suara
karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga
bukan petir dan guruhnya

Semoga bermanfaat.
Jazakumullah atas perhatiannya, mohon maaf jika ada tulisan yang tak berkenan.

Sumber : Ringkasan Kulgram Milenial Parenting (dengan beberapa penyesuaian)

Wednesday, July 3, 2019

CV Ustadz Harry Santosa


Identitas Diri:
Nama : Harry Santosa, S.Si.
TTL : Jakarta, 18 January 1969 M / 10 Syawal 1388H
Status : Ayah dari 5 anak, suami dari 1 istri
Suku : Sunda Ciamis

Bidang:
Integrator pemikiran pendidikan
Knowledge Management expert consultant
Program Management expert consultant
Penulis Buku Fitrah based Education dan Fitrah based Life

Aktifitas terkait pendidikan:
Founder dan research Fitrah based Family Life Coaching - 2018 - sekarang
Pembicara dan fasilitator Workshop FBE 2014 - sekarang
Co founder dan SME HEbAT Community 2014
Perintis Perkuliahan FBE 2012 - sekarang
Dewan Penasehat Save Street Child 2014
Konsultan Pertamina Soccer School 2011
Pendiri Millennial Learning Center 2009
Trainer Knowledge Management for Edu 2009 - 2010
Pendiri Sekolah Alam Depok 2004
Pendiri Aulade Kids Center 2001
Komunitas Sekolah Alam Ciganjur 2000
Ketua Bintal TPKK 1999 - 2004
Dosen tamu dan tak tetap di berbagai PT 1990 - 2014
Ketua bidang Pendidikan Yayasan Bina Anak Indonesi 2005
Ketua Senat Mahasiswa FMIPA UI Bidang Riset dan Pendidikan 1991
Pengajar Matematika Bimbel Nurul Fikir 1988 - 1998

Monday, July 1, 2019

Paket Combo


Sebagai orang tua di dunia yang serba tergesa-gesa dan instant, orang tua cenderung menyukai paket 'combo'.
Semua sekaligus. Ajak satu, ajak semua. Sekalian beres. Keluar sekeluarga, pilih tempat makan bareng, belanja sebentar. Sudah.

Combo

Padahal kita tahu, setiap anak adalah pertemuan unik antara satu sel telur yang mempunyai gen tertentu dan sperma yang khas. Oleh sebab itu, terciptalah seorang anak, yang walau kembar sekalipun, distinktif. Berbeda. Mempunyai keunikan masing-masing. Hal tersebut, bukan melulu perlu dihapuskan dengan membandingkannya dengan saudaranya yang lain; tuh lihat! Kakak aja, waktu seusiamu, sudah bisa puasa sampai sore. Adik sudah tidak nangis lagi, dsb.

Tapi justru, keunikan dan keisitimewaan tersebut perlu sesekali di 'highlight', dihargai. Caranya?

Waduh, gak akan mudah ya. Terutama buat ibu yang beranak 3 atau lebih. Full time mom, yang sedang mengais-ngais waktu untuk bisa 'me-time' barang 30 menit aja.

Tapi kan gak ada yang gak mungkin?
Bisa kalau kita mau. Iya kan?

Cara simple, ajaklah masing-masing anak dating sendiri-sendiri dengan masing-masing orang tua.

Wah..Kapan waktunya? Berapa biayanya?

Percayalah, ada waktunya, dan gak besar biayanya. Coba dulu, kalau sudah coba, kan baru tahu?

Terkadang, ketika sudah pergi berdua saja sama anak itu, baru kita tahu, ternyata kita juga sangaat teramat menikmatinya! Bahkan bisa menjadi me-time yang sangat berkualitas. Karena kita gak harus melayani semua anak. Hanya kita dan dia. Daann, ternyata, bahagia itu sederhana. Sesederhana makan es krim cone yang ada di salah satu fastfood ternama di mall terdekat.

Ada juga 'discovery' bahwa ada anak yang suka makannya nyicil-nyicil, takut makanan yang enak habis, walau sudah kita persilahkan pesan lagi. Ada juga anak yang ternyata suka mencampur antara makan ikan dan sesuap oreo es krim kesukaannya. Salah? gak kan? Kita aja yang gregetan lihatnya.

Itulah tujuannya mengajak masing masing anak dating berdua saja. Pastikan Ada waktu berdua sama ibunya aja, dan ayahnya saja. Tentunya semuanya gak mesti di satu weekend, tapi bisa dibagi-bagi...

Then what?

Enjoy the uniqueness of each and every child

-Wina Risman-

Saturday, June 29, 2019

Rasulullah dan Anak-anak


Jika kita ingin mencari teladan bagaimana menghadapi anak-anak, maka jawabannya adalah Rasulullah. Beliau adalah sebaik-baiknya teladan manusia, tak kecuali sebagai teladan dalam berhadapan dengan anak-anak. Rasulullah merupakan panutan paling utama ketika menghadapi dan berinteraksi dengan anak-anak.

Rasulullah, dalam interaksinya dengan anak-anak selalu mencontohkan kesabaran dan tidak mudah marah. Maka, malulah kita jika dalam menghadapi anak-anak sering tidak sabar sedangkan Rasulullah tidaklah mencontohkan demikian.

Rasulullah sangat menyayangi anak kecil dan menghargainya sebagai individu yang memiliki hati. Hal inilah yang menjadikan Rasulullah sangat mengedepankan sikap lemah lembut dan sabar jika berhadapan dengan anak-anak. Sikap lemah lembut adalah fondasi utama yang diperlukan saat mendampingi tumbuh kembang anak-anak. Dalam mendidik anak, tentu kita memahami bahwa anak-anak memiliki karakter, pola pikir dan keunikan yang berbeda dengan kita, orang tua. Meskipun demikian, terkadang tingkah polah anak-anak sering kali menguji kesabaran, menguras emosi dan energi kita yang jika tidak dihadapi dengan tenang dapat mendatangkan amarah.

Rasulullah sendiri telah mencontohkan kepada kita bagaimana memahami anak dan kepolosan mereka dalam memandang dunia ini. Diriwayatkan dari Syaddad Ra, bahwa suatu ketika Rasulullah datang ke Masjid untuk shalat Isya, Dzuhur, atau Ashar sambil membawa salah satu cucunya, Hasan atau Husein. Lalu, Rasulullah maju ke depan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya kemudian Rasulullah memulai shalat dengan mengucap takbiratul ihram. Ketika sujud, Rasulullah bersujud sangat lama dan tidak seperti biasanya, maka Syaddad Ra diam-diam mengangkat kepalanya untuk melihat kejadian itu.

Syaddad Ra pun kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, "Wahai Rasulullah, baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami mengira telah terjadi sesuatu atau baginda sedang menerima Wahyu."

Rasulullah menjawab, "Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, tadi cucuku mengendaraiku, dan aku tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya."

(HR. Nasa'i dan Hakim)

By : Enny Star
Sumber : ISLAMIC MONTESSORI, Zahra Zahira, 2019

Wednesday, June 26, 2019

Kumpulan Quote Parenting #1


"Ketika aku melampiaskan amarah pada anak-anak, aku khawatir itu yang terakhir mereka ingat."

Ustadz Felix Siauw

Pendidikan Anak di Tangan Orang Tua


"Kamu nggak wajib pintar nak, tapi kamu wajib punya akhlak dan adab untuk hidupmu"

Kalimat-kalimat "Kasian tu anaknya sekolah di swasta" atau "Ah sekolahnya ngga favorit" sudah lama kami abaikan dan tebal kuping dengan kalimat tersebut.

Bagi kami yang notebene adalah seorang guru. Sejak anak masih kecil-kecil sudah memiliki prinsip bahwa pendidikan tidak bergantung pada dimana dia disekolahkan. Tapi pendidikan utama adalah kembali ke rumah dan kami sebagai orang tuanya lah yang bertanggung-jawab mendidik dan mengajar mereka. Sebab kelak kami-lah yang akan ditanya di akhirat tentang anak-anak kami. Bukan gurunya, kepala sekolah atau wali kelasnya.

Anak-anak kebetulan telah kami uji coba sekolah di sekolah negeri, setengah negeri dan sekolah swasta. Masing-masing sekolah selalu ada plus dan minusnya alias tidak ada sekolah yang sempurna.

Ya ujung-ujungnya konsep mendidik mereka kembali ke tangan kita sebagai orang tua. Apa yang mereka dapat di sekolah jika positif ya alhamdulillah. Jika negatif maka harus kita perbaiki di rumah dan menguatkan mereka.

Sebisa mungkin sebaiknya kita hindari intervensi pola didik gurunya kecuali dalam hal-hal yang membahayakan misalnya kasus bullying yang berulang di sekolah. Ketika anak masuk sekolah maka percayakanlah mereka pada institusi sekolah yang sudah kita teliti baik-baik.

Pendidikan anak sebaiknya adalah mengedepankan masalah akhlak. Jaman sekarang anak yang berakhlak lambat laun mulai berkurang jumlahnya. Sudah banyak contoh anak yang pintar & sekolah di sekolah favorit tapi gagal dalam hal akhlak atau adab.

"Mencetak anak pintar itu penting tapi mencetak anak yang berakhlak jauh lebih penting."

Sebab saat kita tua, kita tak memerlukan anak-anak yang nilainya excellent. Kita tak memerlukan anak-anak yang mendapat penghargaan ini dan itu. Kita tak memerlukan anak-anak yang hartanya melimpah.

Tapi kita perlu anak yang bisa merawat kita kala sakit. Memandikan jenazah kita. Menyolatkan kita. Menggotong dan mengantarkan kita ke liang lahat. Mendoakan dan menjaga keluarga sepeninggal kita.

Kita memerlukan anak-anak yang peduli dan berakhlak pada orang tua dan keluarganya.

Jangan terlalu sibuk dengan sekolah favorit ya pak bu. Pikirkan bagaimana nanti anak kita setelah kita tiada

#mutiaraqolbu

Sumber : catatanamanda.com

Tuesday, June 25, 2019

Ayah dan Raport Anak

Akhir pekan ini ada satu event penting di seluruh Indonesia yaitu pembagian laporan pendidikan anak (raport). Beberapa tahun lalu sebuah foto viral di medsos menggambarkan seorang ayah, yang juga menjabat sebagai gubernur waktu itu mengambil raport anaknya sendiri di sebuah SMA negeri. Saya tidak akan membahas latar belakang gubernur yang saya hormati tersebut apalagi dari sisi politik, bukan pula kerelaan bapak gubernur tersebut untuk antri mengambil raport, tetapi ketika saya perhatikan foto pembagian raport tersebut, sangat memprihatinkan bahwa pak gubernur adalah satu-satunya bapak-bapak di antara ibu-ibu yang antri ambil raport .

Walaupun mungkin foto kegiatan pak gubernur tidak bisa di generalisir tapi paling tidak pemandangan seperti itu lazim terlihat di banyak sekolah di Indonesia, kemana bapak-bapak yang lain? Kurang pentingkah laporan pendidikan anak-anak? Guru-guru sudah mendidik anak-anak setiap hari kerja sepanjang semester, tidak kah seharusnya bapak-bapak sebagai kepala keluarga yang diamanahi Allah untuk paling tidak hadir dua kali setahun?

Saya teringat cerita seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal yaitu Umar bin Abdil Aziz, yang secara nasab adalah cucu Umar Ibn Khattab Radhiyallahu anhu, yang sangat memeperhatikan pengasuhan dan pendidikan anak-anaknya, sehingga di samping meluangkan waktunya untuk langsung mendidik anak-anaknya setiap hari beliau juga secara constant berkomunikasi dengan pengajar anak-anak nya.

Sebagaimana sudah dicontohkan dengan baik di atas, insya Allah bapak-bapak yang tidak sempat mengambil raportnya semester ini, bisa menyempatkan diri semester atau bahkan caturwulan depan.

@faisalsundani

#Fatherhood #TarbiyahPubertas

Sumber : Fb Grup Parenting with Rumah Keluarga Risma

Thursday, June 20, 2019

Hikmah di Balik Pendidikan Orang Tua kepada Anak


Seorang anak tidak suka tinggal di rumah, karena Ayah dan Ibunya selalu ‘ngomel’; ia tak suka bila Ayahnya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini. . .

"Nak, kalau keluar kamar matikan kipas anginnya."

“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton.

“Simpan pena di tempatnya, yang jatuh ke kolong meja ”

Tiap hari dia harus ta'at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja. . .

“Dalam hati dia berkata: "Begitu  mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri. Tidak akan ada lagi omelan Ibu dan Ayah," begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, Ayahnya berpesan:
“Nak, jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu. Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri. . .” Ayahnya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara.

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang. Meskipun pintunya terbuka, grendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel. Dia geser grendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah. Tapi ada air mengalir dari selang dan tidak ada seorang pun disekitar situ. Air meluap ke jalan setapak. Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area Resepsionis. Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi. Peringatan Ayahnya terngiang di telinganya: "Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu!" Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.
Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan "Selamat Datang". Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong,
Terdengar suara kipas angin, Dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong.

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain. Sehingga tidak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, Dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis.

Sesampainya di depan meja,  pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata "Kapan Anda bisa mulai bekerja ?"

Dia terkejut dan berpikir, "Apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?" Dia bingung.

"Apa yang Anda pikirkan?" tanya sang Boss lalu melanjutkan: "Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini."
Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.
Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut. Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon.

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yang dilakukannya ketika melihat  grendel di pintu, selang air yang mengalir, keset "Selamat Datang" yang terbalik, kipas atau lampu yang tak perlu.

Anda satu-satunya yang melakukan. Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda ”

Hatinya terharu, dia ingat Ayahnya. Dia yang selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan Ibu dan Ayahnya. Kini dia  menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yang ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya. Kekesalan dan kemarahan pada Ayahnya seketika sirna.

"Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang Manajer, maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini."

Ayah, ma'afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kepada Ayahnya, dia akan ajak Ayahnya melihat tempat kerjanya. Dia pulang ke rumah dengan bahagia.

Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah demi kebaikan anak-anak itu sendiri, untuk menyiapkan masa depan yang baik!

"Batu karang tidak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tidak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya".

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur.

Tetapi Ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya.

Ayah dan Ibu adalah pahlawan
yang kasih sayangnya, seperti layaknya guru yang mendampingi anak didiknya sepanjang kehidupan..

Perlakukanlah orang tua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan..

Semoga Bermanfaat 🙏

Sumber : Grup WA Anonim

Wednesday, June 19, 2019

Tips Agar Tidak Menjadi Orang yang Rugi


Berikut adalah beberapa tips agar kita tidak menjadi orang yang rugi :

1.Hilangkan kebiasaan menunda-nunda

Perbuatan suka menunda tidaklah baik, namun bila menunda suatu pekerjaan untuk melakukan ibadah wajib kepada Allah seperti shalat, maka hal tersebut diperbolehkan. Dalam Sya’ir Arab disebutkan : “Janganlah engkau menunda-nunda amalan hari ini hingga besok. Seandainya besok itu tiba, mungkin saja engkau akan kehilangan.”

Jangan sering menunda-nunda sesuatu, terlebih jika hal yang ditunda adalah dalam perihal ibadah dan amalan baik lainnya, karena dikhawatirkan umur kita tidak sampai pada detik berikutnya. Kematian bisa datang kapan saja, bahkan dalam hitungan detik. Tidak ada yang tahu kapan Allah akan memanggil hambanya kembali, oleh karena itu sebaiknya jangan menunda-nunda sesuatu yang merupakan amalan baik, terlebih amalan yang merupakan ibadah.

2.Dahulukan yang wajib
Allah menyukai orang-orang yang senantiasa bertakwa kepadanya, dan ketakwaan tersebut berada pada perbuatan yang diwajibkan dan diharamkan oleh Allah. Dan untuk menjadi orang yang tidak merugi, alangkah baiknya jika kita mendahulukan apa yang menjadi kewajiban bagi kita sebagai umat muslim. Apabila amalan-amalan yang wajib telah terpenuhi, barulah kita boleh mengerjakan amalan-amalan sunnah dan mubah lainnya yang dapat mendatangkan kebaikan bagi kita.

3.Selesaikan pekerjaan tepat waktu
Jika kita memiliki sebuah pekerjaan yang waktu penyelesaiannya dapat diselesaikan pada saat itu juga, maka akan lebih baik apabila pekerjaan tersebut diselesaikan tepat waktu, dan tidak mengulur-ulur waktu penyelesaiannya.

4.Buat batasan waktu
Untuk mengatur waktu yang ada agar tidak sia-sia, maka sebaiknya buat batasan waktu pada setiap kegiatang yang dilakukan. Misalnya : tidur dari jam sekian hingga jam sekian, belajar berapa jam dalam sehari dan pada jam berapa saja, dan lain sebagainya.

5.Meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda : “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat.” (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits tersebut, bagi seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Misalnya : menonton tv secara berlebihan, bermain ponsel seharian, tidur seharian, dan lain-lainnya. Kebiasaan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat tersebut sebaiknya dikurangi dan dihilangkan karena masih ada banyak hal bermanfaat lainnya yang dapat kita lakukan.

6.Membuat jadwal kegiatan
Agar waktu yang kita miliki dapat berguna dan terisi dengan hal yang bermanfaat, ada baiknya jika kita membuat daftar kegiatan tentang apa saja yang harus kita lakukan setiap hari.

Kurangi bersantai-santai
Allah akan memberikan manusia hasil kehidupan berdasarkan pada usaha hambanya. Apabila ia berusaha dengan keras dan giat, maka Allah akan memberikan hasil yang setimpal dengan perbuatannya. Namun apabila seseorang hanny bersantai-santai sepanjang waktu yang dia miliki, maka orang tersebut akan mendapatkan hasil yang sesuai dengan usahanya.

7.Jangan terjebak dalam masa lalu
Seseorang yang tidak ingin waktunya sia-sia, maka ia harus terus berjalan kedepan dan tidak terjebak pada masa lalunya.

Belajar fokus pada sesuatu
Apabila seseorang mempunyai banyak target dalam hidupnya, maka ia haruslah fokus pada satu hal dahulu, agar apa yang telah didapatkannya tidak terlepas dan waktu yang dia miliki tidak terbuang sia-sia.

8.Niatkan berubah menjadi yang lebih baik
Untuk menjadi orang yang dapat mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya maka yang paling pertama adalah adanya niat dari orang tersebut. Apabila tidak ada niat dan keinginan untuk berubah, maka bagaimana bisa orang tersebut mengatur waktunya dan menjalankannnya dengan bermanfaat.

Jadi, sebagai muslim yang baik kita haruslah senantiasa mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya agar kelak kita tidak menjadi orang yang merugi. Karena sesungguhnya, orang yang merugi dapat kehilangan kesempatan untuk menempati surga milik Allah SWT.

Sumber : Dari Pesan Grup WhatsApp Parenting Islami